ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
KEHIDUPAN



"Bagaimana dengan pekerjaanmu kemarin?"


"Semuanya lancar. Baik-baik saja. Jadi kita ke Bali?" tanya Raka memastikan.


"Apa kamu yakin, Mas? Pekerjaanmu bukankah sangat padat?"


"Aku ingin berlibur denganmu. Oh iya, ada titipan dari mama."


"Mama? Kemarin bertemu?"


"Iya. Mama juga pemegang saham diperusahaanku menggantikan papa. Jadi bukan hal aneh bila sering bertemu mama dikantor."


"Lalu, mana titipannya?" Ara memajukan kedua tangannya meminta sesuatu.


"Bukan barang, sayang." Raka terkekeh melihat Ara yang bersemangat menginginkan hadiahnya.


"Lalu, apa!" Ara merajuk sekarang.


"Sini aku bisikin." Ara mendekatkan telinganya, "Kata mama, dia ingin cepat punya cucu banyak biar tidak kesepian."


"Apa???" Buru-buru Ara menarik wajahnya.


"Kenapa wajahmu kecewa? Apa yang kamu inginkan, akan aku belikan semuanya untukmu."


"Betulkah?" Ara memastikan ucapan suaminya dan tanganya ditarik Raka hingga ia terduduk dipangkuan Raka.


"Tentu, sayang. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta hak ku terlebih dulu."


"Iihhh....Mas Raka. Lepasin!" Ara ingin kabur tapi tak mampu melawan tenaga Raka yang erat memeganginya.


Dan disanalah mereka bercinta dan merengguh puncak kenikmatan bersama. Masih dengan televisi yang menyala, kedua insan itu tak perduli lagi dengan waktu yang terus saja berjalan. Walau disiang bolong, tak menghentikan Raka untuk melancarkan aksinya.


***


"Bagaimana, apa sudah siap?"


"Sudah, Mas. Akhirnya bisa ke Bali lagi bertemu mama dan papa."


"Apa kamu tak merindukan lainnya?" tanya Raka saat mereka memasukkan koper kedalam bagasi mobil.


"Andra?" Raka mengangguk mendengar jawaban dari Ara.


"Tentu saja aku merindukannya." kedua mata Raka sudah melotot, "Tapi aku tak bisa menemuinya." ucap Ara sedih.


"Memangnya kemana dia?"


"Karena dia membatalkan pameran lukisannya beberapa bulan lalu, kemarin dia memutuskan untuk kembali lagi ke New York."


"Kenapa dia tidak menetap disini? Bukankah orang tuanya sudah mulai menua." Raka mengencangkan sabuk pengaman yang dipakai Ara.


"Dari dulu memang begitulah Andra. Dia merasa di sana lebih bebas dalam mengekspresikaan semua karyanya. Dan mama papa, mereka memahami jiwa bebas anak laki-laki sematawayangnya itu."


"Baguslah kalau dia tidak ada."


"Sudahlah, jangan cemburu lagi. Aku hanya mencintaimu." Ara menggenggam tangan Raka, lalu menciumnya.


"Oke. Jangan mengganggu saat menyetir. Atau aku akan membelokkan mobil ini kehotel terdekat dan kita akan reschedule jadwal penerbangan kita."


Ara dan Raka tertawa bahagia. Kehidupan mereka beberapa bulan ini nyaris sempurna. Tidak.ada pertengkaran besar dalam kehidupan pernikahan mereka.


"Aku sungguh menyukai suasana di Bali, entah kenapa terasa berbeda." ucap Ara saat mereka menuju ke rumah Pak Suryawan.


"Kalau dibandingkan dengan Jakarta, memang sangat jauh."


"Besok aku akan menjadi pemandu wisatamu disini. Percayakan padaku."


"Aku sudah pernah kesini, Ara. Jangan membuatku seoalah-olah orang dari dalam hutan yang tak pernah melihat dunia luar."


Ara terkekeh mendengar pembelaan Raka. "Iya, maaf. Besok aku akan disampingmu saja, menemanimu kemanapun kamu pergi."


"Isteri yang baik." Raka mengusap kepala Ara.


"Tentu."


Hanya butuh beberapa menit saja perjalanan dari bandara ke rumah orang tua Ara. Mereka disambut dengan hangat dirumah keluarga Suryawan. Terutama papa yang sudah bisa menerima Raka dengan baik, karena tahu ketulusan anak menantunya itu.


"Ayo...ayo, kalian istirahat dulu." ajak Pak Suryawan.


"Pa, terimakasih untuk yang kemarin." ucap Raka tulus.


"Tak perlu berterimakasih, itu memang tugas orang tua untuk menjaga anak-anaknya."


"Terimakasih untuk apa?" Ara tiba-tiba maju kedepan menghampiri Raka dan papanya yang berjalan beriringan.


"Terimakasih karena sudah mau menerimaku dirumah ini." jelas Raka.


"Ooohhh."


Raka dan Pak Suryawan saling bertukar pandang. Mereka bersyukur Ara tak mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.


"Sudah, istirahatlah kalian. Nanti kalau makan malam sudah siap, bibi akan memanggil kalian." terang mama.


"Terimakasih, Ma, Pa. Kami istirahat dulu ya."


Ara dan Raka naik kelantai atas meninggalkan pak Suryawan dan Isterinya yang memutuskan untuk duduk ditaman belakang.


"Untung saja ya, Pa. Raka bertindak cepat untuk menghubungi kita waktu itu. Kalau tidak, mungkin saja kita tidak akan melihat senyum Ara saat ini."


"Itu yang membuat papa berubah pikiran terhadap Raka, Ma."


"Kita sangat bersyukur anak-anak kita menjalani hidup yang bahagia. Mama juga berharap, Andra bisa melupakan Ara dan mencari seseorang untuk mengisi kekosongan hatinya."


"Mama juga tahu?" tanya Pak Suryawan.


"Tentu saja, Pa. Siapa yang tidak menyadari perasaan sejelas itu. Hanya saja mama tidak mau ikut campur dengan urusan mereka. Karena ini tentang hati. Mama tidak mau ada yang tersakiti. Maka dari itu, mama hanya diam."


"Biarlah takdir mereka yang menentukan hidup mereka masing-masing. Karena hidup dengan saling mencintai itu merupakan anugerah. Seperti papa yang mencintai mama." ucap papa dan sukses membuat mama malu.


"Ih, papa. Sudah tua masih saja ngegombal. Malu sama anak-anak kalau mereka dengar."


Pak Suryawan tertawa terbahak-bahak, "Sekali-kali perlu, Ma. Biar kita lebih romantis. Siapa tahu Ara dapat adik." goda Pak Suryawan.


"Hust...udah ndk cocok lagi gendong anak, Pa. Cocoknya kita gendong cucu."


"Betul, betul. Semoga mereka berdua cepat dikaruniai momongan ya ma."


Kedua orang tua Ara melanjutkan obrolan mereka ditemani teh hangat dan camilan ringan dari bibi. Mereka berdua merasa bahagia, dihari tua mereka, selalu diliputi rasa cinta dan kasih sayang dari anak-anak maupun pasangan hidup.