
"Bisakah kita mengganti bisnis menjadi sesungguhnya?" mata Raka saat ini memancarkan keseriusannya.
Pipi Ara tanpa disadarinya bersemu merah, dan Raka mengetahuinya, bahwa gadis didepannya itu, sebenarnya juga mencintainya, tapi dia masih terhalang dengan masa lalunya.
Tapi Ara tiba-tiba merasakan keraguan pada dirinya, "Sudahlah Raka, jangan menggodaku, aku..."
"Apakah aku terlihat bercanda sekarang? Aku serius Ara. Sudah lama aku ingin mengatakan perasaanku. Aku tau ketakutanmu, tapi aku bisa gila bila memikirkanmu akan pergi dengan laki-laki lain selain diriku."
"Terimakasih atas perasaanmu, tapi jujur aku masih takut. Dan Andra adalah sahabatku, sudah bertahun tahun kami bersama, dan tidak pernah ada perasaan apapun seperti yang kamu khawatirkan."
"Dia menyukaimu Ara, dari sorot matanya saat melihatmu di galeri waktu itu, aku tau. Karena aku juga laki-laki yang sedang jatuh cinta padamu."
"Bisakah kita membahas ini lain kali? Sungguh aku akan tertinggal pesawat." Ara beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi.
"Aku akan menunggu jawabanmu. Dan kuyakinkan aku serius."
"Kamu tidak akan mampu menanggung masa laluku, Raka. Begitu gelap." Ara merendahkan nada bicaranya, ada kesedihan dibalik suaranya.
"Bila kamu merasa sudah bisa mengatakan padaku tentang masa lalumu, disitu aku akan mendengarkanmu dan akan selalu mempercayaimu." Raka mengakhiri kalimatnya dan keluar dari kamar Ara.
30 menit kemudian, Ara sudah siap dengan segala keperluan dan koper kecilnya. Dia bersiap untuk turun kelantai bawah.
"Aku akan mengantarmu, dan langsung keperusahaan setelah itu." Raka menyodorkan tangannya dan mengambil koper yang dibawa Ara.
Saat mereka berjalan menuju garasi mobil, Raka tiba-tiba menarik tangan Ara dan membalik badannya menghadapnya, dan memeluknya.
"Raka?"
"Aku harus pergi, aku sudah janji kepada Andra?"
"Bolehkah aku memelukmu?"
"Kamu sekarang sedang melakukannya bukan?" Raka yang menyadarinya kebodohannya tertawa kecil saat melihat tubuh Ara sudah melekat dengannya.
"Kalau menciummu?" tanya Raka ragu.
"Bisa kita coba, dan kita lihat bagaimana reaksi tubuhku terhadapmu." Ara mulai mau membuka hatinya untuk Raka, dan muncul senyum bahagia disudut bibir Raka.
Untuk sesaat mereka saling berpandangan tanpa melepaskan pelukan, sesaat kemudian Raka mendaratkan kecupannya ke kening Ara. Gadis itu memejamkan matanya dan memastikan apa yang dirasakan hatinya.
Saat Raka melepaskan kecupannya, dengan lembut dia mendaratkan ciumannya dibibir ranum Ara. Dengan lembut Raka ******* bibir gadis itu. Dan ternyata tidak ada penolakan dari diri Ara. Hati Raka dipenuhi rasa bahagia karena dia memastikan bahwa Ara saat ini hanya untuknya.
Ara memiringkan kepalanya dan mengimbangi gerakan Raka yang beralih dari kiri kekanan. Untuk beberapa menit bibir kedua insan itu saling bertautan. Sampai Ara mendorong pelan badan Raka.
"Raka, aku mohon hentikan." Ara berusaha mengambil nafas dengan susah payah.
"Maafkan aku, Ra. Aku tak bisa menghentikannya. Aku begitu bahagia mengetahui kenyataan dirimu menerimaku." Raka mengecup singkat kening Ara lagi.
"Sekarang kamu sudah tahu, bisakah kita berangkat?"
"Tidak adakah yang ingin kamu ucapkan padaku?" tanya Raka dan disertai gelengan dari kepala Ara.
Raka kecewa tidak mendapatkan kalimat yang di inginkannya keluar dari mulut gadis cantik itu. Tapi rasa kecewanya tidak bisa berlarut-larut, karena Ara dan temannya harus terbang pukul 09.30, dan ini sudah pukul 08.00. Mereka harus bergegas kebandara.