
Ditengah nafasnya yang terengah-engah, Raka menghentikan kegiatannya dan menuju ke sisi tembok lainnya, memukul tembok itu sekerasnya.
Ara menyadari jika Raka menjauh darinya, dengan isak tangisnya, ia langsung berlari menuju ranjang dan menarik selimut, melilitkannya keseluruh tubuhnya.
"Kenapa??? Kenapa dia bisa dan aku tidak!!!"
"Apa maksudmu, Raka?"
"Kenapa dia bisa menjamahmu, dan aku tidak? Bukankah katamu kamu mencintaiku?" Raka membalik badannya dan menatap Ara yang ketakutan dari jauh.
"Katakan dengan jelas apa maksudmu!" bentak Ara.
"Bukankah ibumu seorang *******, hah? Dan ayahmu yang menjualnya kepada pria lain. Tak heran kamu memiliki darah seorang *******. Sehingga bisa melakukannya dengan siapapun. Tapi kenapa aku tidak bisa, kenapa??? Jangan sok suci didepanku!"
Ara tercengang dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut orang yang dicintainya. Mulutnya tak bisa berkata apa-apa, dan air matanya mengalir bertambah deras.
"Apa yang tak bisa kuberikan sedangkan dia bisa? Uang? Berlian? Semuanya bisa aku berikan, Ara."
"Simpan tangisanmu itu, sayang." Raka mendekat dan menyeka air mata yang menetes diwajah Ara.
"Kenapa tak mau mencobanya denganku?" kali ini suaranya dbuat setenang mungkin. "Aku yakin tubuhmu sedari kecil sudah merasakan keperkasaan berbagai laki-laki lain, makanya kamu tidak ingin menikah. Betul bukan?" Raka melanjutkan tuduhannya.
"Apakah kamu sudah terpuaskan dengan milik Andra? Dan tidak mau mencobanya milikku? Aku pastikan kamu akan menjerit kenikmatan lebih dari apa yang pria brengsek itu berikan padamu." kali ini Raka mulai menaikkan kembali nada bicaranya.
"Jika kamu menganggapku sebagai perempuan kotor seperti yang kamu ucapkan padaku..." Ara sekuat tenaga menahan deras air matanya, "Lalu, lakukan apa yang kamu inginkan malam ini."
Raka tersenyum sengit di ujung bibirnya, "Tentu saja sayang, perempuan kotor memang seharusnya tidak boleh berpura-pura suci."
Dengan nafsu yang sudah terkumpul di ubun-ubun, Raka melangsungkan serangannya. Dengan kasar dia menyetubuhi Ara. Terasa sempit saat ia memasukkan kejantannya kedalam tubuh Ara, tapi dia sudah tidak menyadari apapun, karena sudah terjebak nafsu dan emosi. Sedangkan Ara terus menangis didalam diamnya, dan menahan segala rasa sakit dan perih yang ditimbulkan dari perbuatan Raka yang kasar.
Dalam semalam, Raka berkali-kali menguasai tubuh Ara, tak perduli dengan kondisi Ara, dia terus melepaskan emosi dan nafsunya ke badan Ara. Sampai pagi menjelang, Ara tergeletak lemas di atas kasurnya. Hanya selimut yang membalut badannya.
"Dimana Ara?" tanya Andra saat melihat Raka membukakan pintu.
"Bukannya dirimu sudah terbang ke Jakarta semalam?"
"Aku memutuskan untuk tinggal karena Ara tak mengabariku. Setelah pertemuan kita terakhir, aku mengkhawatirkannya."
"Dimana dia?" tanya Andra ulang.
"Dia sedang dikasurnya, lihatlah baik-baik." Raka membuka pintu lebar-lebar sehingga Andra bisa melihat kedalam.
Saat Andra mengetahui Ara terbaring dengan wajah pucat, dia langsung menghampirinya.
"Ara?? Bangunlah, apa yang terjadi?" Andra mengangkat kepala Ara berusaha membangunkannya.
"Dia hanya kelelahan setelah bercinta denganku." Raka menyombongkan kesalahan terbesarnya.
"Andra..." panggilnya dengan suara serak. "Tolong bawa aku keluar, aku tak pantas berada dikamar ini." tangis Ara mulai pecah kembali.
"Ada apa, Ara. Kenapa kamu berkata seperti itu?" Andra begitu khawatir dengan keadaan Ara.
"Aku perempuan kotor, Ndra. Tak pantas bersanding dengan pria manapun." tangis Ara semakin deras, dengan suara lemahnya. Andra terkejut Ara mengucapkan kalimat itu kembali setelah beberapa tahun tak terdengar ditelinganya.
"Dia benar, Ndra. Perempuan kotor seperti dia tak pantas berada dikamar ini, bersamaku. Suatu kehormatan baginya sudah menikahi pria sepertiku dan merasakan bagaimana kehebatanku."
Emosi Andra tak terbendung lagi setelah mendengar kalimat Raka, dia meletakkan kepala Ara pelan-pelan, dan brak...brak... Tinju Andra langsung melayang bebas kemuka Raka beberapa kali.
"Dari awal harusnya aku lebih menentang Ara saat dia mengatakan akan menikah dengan pria brengsek sepertimu."