
Beberapa hari Raka tidak datang kekantor dan berfokus untuk menemani Ara dirumah. Tapi pekerjaannya tidak pernah ia tinggalkan, ia selalu terhubung dengan Bagas, membahas segala sesuatunya. Dan apabila terdapat agenda rapat dengan client, dia akan melakukan panggilan video jarak jauh. Itu semua dilakukan untuk melihat dan memastikan secara langsung perkembangan Ara sebelum dokter memutuskan apakah Ara sudah bisa menghentikan mengkonsumsi obatnya.
Dokter Ara yang ada di Bali terhubung dengan dokter spesialis kejiwaan yang ada di Jakarta, itu karena tidak memungkinkan Ara harus kembali lagi ke Bali karena pekerjaan Raka yang begitu padat dari rumah.
"Bagaimana kondisimu hari ini?" Raka mengusap kepala Ara yang sedang duduk bersandar di bahunya.
"Aku baik-baik saja. Aku lebih mengkhawatirkanmu karena kurang istirahat."
"Aku tidak apa-apa, kamu tak perlu khawatir. Apakah masih belum terbukti dengan staminaku setiap malam?" goda Raka.
Ara mencubit lengan Raka karena ucapannya. Sebenarnya Ara tahu bahwa suaminya sangat lelah, apalagi pasti sampai larut malam Raka keluar dari ruang kerjanya. Tapi hal itu semua tak menyurutkan Raka untuk meminta jatahnya. Hanya saja tak seperti biasanya yang sampai berkali-kali dalam semalam. Setelah mereka bercinta, Raka akan langsung tertidur pulas dengan memeluk Ara.
"Besok bisa mengantarku menemui Dr. Farhan?" tanya Ara.
"Tentu saja, sayang. Semua waktuku milikmu." Raka mengecup kening Ara.
"Tidurlah dulu, ini sudah larut malam. Aku akan melanjutkan pekerjaanku diruang kerjaku." tambah Raka.
"Aku tidur dulu ya, selesaikan semuanya jangan terlalu malam. Aku tak mau kamu sakit. Aku menunggumu dikamar." Ara mengecup bibir Raka sekilas.
Ara berjalan masuk kedalam kamarnya, dan Raka bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju keruangan kerjanya. Raka masih tetap bekerja walau dia berada di ruang keluarga, itu karena dia ingin menemani istrinya untuk menonton televisi.
Kringg...kringg...
"Ya, hallo, Gas?"
"Pak, besok ada rapat direksi mendadak."
"Ada hal besar apa?"
"Mmm...itu pak. Para pemegang saham mengetahui masa lalu Bu Ara. Mereka sudah ramai sejak sore ini, Pak. Mereka mengkhawatirkan nama baik perusahaan. Menurut mereka, harga saham mereka akan berpengaruh karena hal ini." jelas Bagas.
"Memangnya ada apa dengan masa lalu Ara? Mereka tidak berkaitan dengan ini semua. Berani-beraninya mereka membawa Ara sampai seperti ini!" Raka menggebrak mejanya dengan keras. Dia marah karena kehidupan istrinya harus terusik oleh orang-orang yang mengincar posisinya.
"Jangan sampai Ara tahu tentang hal ini, Gas."
"Baik pak."
Raka berfikir keras bagaimana caranya agar Ara tidak mengetahui hal ini. Cepat atau lambat pasti salah satu dari musuhnya akan menemui Ara. Raka khawatir istrinya itu akan depresi kembali. Dia tak mau Ara menderita lagi. Raka sudah berjanji akan melindungi Ara dari bahaya apapun yang mengintainya.
Raka merasa lelah dan memasuki kamarnya, disana orang yang dicintainya sedang tertidur lelap.
"Sudah mau tidur?" Ara terbangun saat Raka naik keatas tempat tidur.
"Tidak apa-apa. Tidurlah, kamu pasti lelah." ucap Ara lalu ia memeluk suaminya dan tertidur dalam pelukan Raka.
***
"Ada apa, Mas? Apa tidurmu tak nyenyak?"
"Tidak, tidurku nyenyak. Jangan khawatir akan hal itu." Raka mencoba menenangkan.
"Tapi wajahmu begitu pucat. Kita periksa setelah kunjunganku dengan Dr. Farhan hari ini."
"Sudah, sayang. Kamu tidak perlu khawatir lagi. Aku hanya perlu tidur lagi nanti siang setelah kita pergi ke rumah sakit. Makanlah sarapanmu dengan tenang."
Ara melanjutkan sarapannya, dia merasa heran dengan sikap suaminya sejak semalam. Biasanya walaupun Raka sangat lelah dengan pekerjaannya, dia tetap meminta jatahnya sebelum tidur. Tapi semalam dia langsung tertidur disebelah Ara dan juga pagi ini, wajahnya begitu pucat seperti ada beban pikiran yang berat.
"Kamu tidak ada rencana untuk menemui mama dan papa, dan berlibur ke bali? Aku akan mengantarmu."
"Bukannya kita tidak bisa kesana dan pada akhirnya kita harus menemui Dr. Farhan di Jakarta."
"Mungkin aku perlu sedikit berlibur juga, rasanya sangat penat dengan semua pekerjaan."
"Kamu yakin, Mas?"
"Tentu. Kita bisa berangkat besok. Aku hari ini akan kekantor sebentar."
"Aku ikut ya, Mas. Sangat bosan dirumah."
"Jangan!" bentak Raka yang membuat Ara terkejut.
"Apa aku membuat kesalahan, Mas?" mata Ara mulai berkaca-kaca karena baru pertama kali ini Raka membentaknya, walaupun Raka tidak sengaja melakukannya.
"Maafkan aku." Raka mengahampiri Ara dan memeluknya. "Aku tak bermaksud membentakmu, sungguh. Aku tak sengaja melakukan itu." jelas Raka dan Ara mengangguk dalam pelukan.
"Bagaimana kalau aku antar ke galeri? Kamu bisa bertemu dengan Dewi dan lainnya."
"Tentu. Terimakasih, Mas." senyum Ara mengembang.
"Selesaikan makanmu, ayo kita ke rumah sakit sekarang untuk membuat janji."
Ara menyelesaikan acara makan paginya dan bersiap untuk menemui dokter yang telah ditunjuk.