ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
BEGITU MANIS



"Ada yang kamu inginkan hari ini, sayang?"


"Aku hanya ingin istirahat, Raka. Badanku rasanya hancur lebur."


"Aku bisa memijitmu." Raka menawarkan jasanya.


"Jangan sentuh aku. Kalau tidak, hormonmu yang bermasalah itu akan membuatku semakin lelah."


"Aku sedih mendengarnya." Raka menunjukkan wajah sedihnya.


Ara tertawa melihat tingkah laku suaminya. Raka sungguh menyukai bermanja-manja dengan istrinya. Pria berusia 32 tahun itu layaknya seperti remaja yang baru dimabuk cinta.


"Kalau begitu aku akan menemanimu saja diatas tempat tidur hari ini." kata Raka.


"Bergeserlah, jangan menempel padaku, Ka. Rambutku masih basah." pinta Ara.


"Kamu tahu apa yang kusukai baru-baru ini?"


"Apa itu?"


"Aku suka melihat rambutmu basah dipagi hari. Aku ingin melihatnya setiap pagi, jadi . . ."


"Jadi aku akan keramas setiap pagi tanpa harus melakukan pekerjaan berat seperti tadi malam." sahut Ara.


"Bukankah kamu begitu kejam kepada suamimu?"


"Ayolah, Raka. Jangan seperti ini terus didepanku. Merinding rasanya setiap kali aku melihatmu bermanja kepadaku."


"Maka dari itu, aku akan sering-sering melakukannya. Karena hanya padamu, sifatku yang satu ini kutunjukkan." Raka memeluk mesra istrinya.


"Emmm....apa tawaranmu tadi masih berlaku?"


"Apa? Kita lakukan lagi?"goda Raka.


"Dasar kamu, aku ingin sesuatu. Perutku lapar, bisakah kita memesan sesuatu makanan?"


"Tentu, sayang. Apa yang ingin kamu makan?"


"Aku ingin gulai kambing 2 porsi dan sate kambing 20 tusuk. Dan lainnya sesuai seleramu."


"Berapa orang yang kamu beri makan dengan tubuhmu itu?"


Ara memicingkan matanya kepada Raka, dia merasa pria didepannya sungguh tidak peka kenapa dia sampai merasakan kelelahan yang begitu hebat. Ara ingin mengembalikan tenaganya dengan dua makanan favoritnya.


"Baiklah...baiklah...aku tidak akan bertanya. Aku mengerti. Aku pesankan ya." kata Raka selanjutnya.


Raka mengirimkan pesan singkat via whatsapp kepada Bagas untuk memesankan makanan yang Ara pesan. Raka ingin memesankan makanan dari restaurant yang dulu pernah mereka datangi untuk makan makanan serba berbahan daging kambing itu, tapi tempat mereka tidak termasuk dalam aplikasi online, alhasil Bagaslah yang bertugas untuk memesankan dan mengantarkannya kerumah.


"Sayang?"


"Hhmmm..." jawab Ara sekenanya karena dia fokus melihat beberapa foto rangkaian bunga kiriman Dewi.


"Bukankah umurmu tahun ini 27 tahun?"


"Betul. Ada masalah?"


"Bukankah aku jauh lebih tua darimu?" tanya Raka lagi.


"Pasti. Kamu saat ini kalau aku tidak salah ingat, 32 tahun." Ara masih terfokus dengan tabletnya.


"Bukankah kasar jika kamu memanggilku dengan nama? Bukankah lebih baik memanggilku 'mas' atau 'ayah' sekalian persiapan jika kita punya anak."


Ara menghentikan aktivitas dengan tabletnya. Dia sekarang memalingkan wajahnya menghadap Raka.


"Apa kamu ingin cepat punya anak?" tanya Ara penasaran.


Ara tersenyum melihat Raka bersemangat membicarakan anak-anak yang akan mereka miliki dimasa depan.


"Ok. Itu bisa kita urus sambil berjalan. Jangan terlalu terburu-buru. Dan untuk panggilan, bisakah kita seperti ini saja? Aku sudah terbiasa."


"Tidak...tidak...tidak boleh. Kamu terkesan tidak menghormati suamimu. Panggil saja aku Mas Raka. Cukup romantis panggilan itu."


"Sepenting itu kah?"


"Tentu. Kamu belum pernah memanggilku dengan sebutan apapun kecuali namaku."


"Baiklah, kita coba." Ara menatap wajah Raka. Dia tersipu malu setiap kali mulutnya akan mengeluarkan kalimat.


"Ayoooo, aku sudah tak sabar menunggu." rengek Raka.


"Mas Raka..." Ara menghentikan kalimatnya sejenak. "Aku mencintaimu."


Raka salah tingkah mendengar sapaan baru yang di ucapkan oleh istrinya. Dia senang sekali mereka sekarang begitu bahagia. Raka memeluk erat lagi tubuh Ara, dan mencium mesra bibirnya. Tangan nakalnya mulai bergerak kebawah, saat tangan Raka berhasil masuk kedalam kaos yang Ara kenakan ada gangguan yang datang.


Ting tong...ting tong...


"Sial! Siapa yang berani mengganggu. Kita biarkan saja dia diluar, ayo kita lanjutkan." Raka kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Mas, buka dulu siapa yang datang. Siapa tau mama." Ara mendorong Raka untuk turun dari tempat tidur.


Raka berjalan keluar dari kamarnya dengan kesal. Ara tersenyum melihatnya. Raka seperti anak kecil yang kehilangan lolipopnya. Setelah mengganti baju tertutup, dengan perlahan Ara mengikuti Raka untuk keluar kamar. Bagian intimnya masih terasa nyeri akibat ulah Raka. Perlahan dia berjalan berusaha senormal mungkin agar tidak dicurigai oleh tamu yang datang.


"Siapa, Mas?" tanya Ara saat sampai didepan kamar.


"Siang, Mbak Ara?"


"Bagas? Ada hal pentingkah yang mau disampaikan dengan Mas Raka?"


"Mas Raka?" tanya Bagas heran.


"Dia memintaku melakukannya." jawab Ara sedikit berbisik kepada Bagas.


"Ehemm...ehemm...kamu lupa dulu yang pernah aku katakan, Gas?"


"Ah, maaf pak. Saya lupa. Saya kesini hanya untuk mengantarkan makanan buat bu Ara."


"Ibuuuuuu?" Ara protes dengan panggilan barunya.


"Pak Raka mbak yang menyuruhku." bisik Bagas.


"Kalian sedekat itukah sampai berbisik didepanku?" Raka teriak dari dapur saat memindahkan makanan ke mangkuk.


"Kami tidak sedekat itu, Pak. Saya harus kembali keperusahaan. Tugas saya masih banyak yang harus saya kerjakan."


"Pergilah dari sini, mengganggu saja." bentak Raka.


"Pamit dulu pak, mbak Ara, ehh...bu Ara maksud saya." Bagas bergegas keluar rumah sebelum mendapati pimpinannya itu marah lagi kepadanya.


"Kamu cemburu kepadanya, Mas?" tanya Ara saat berjalan kemeja makan.


"Tentu. Tidak boleh ada laki-laki lain yang boleh dekat dengan dirimu."


"Tapi dia kesini atas permintaanmu, dan bukankah dia orang kepercayaanmu?"


"Tidak ada pengecualian. Nah ini makananmu." Raka menyodorkan satu mangkuk besar berisi dua porsi gulai kambing dan satu piring besar berisi dua puluh tusuk sate kambing. Dan dia membawa satu piring nasi goreng untuknya.


"Hanya nasi goreng?" tanya Ara.


"Tentu, tenagaku masih penuh. Kamu yang memerlukan tenaga ekstra untuk kegiatan kita selanjutnya setelah ini." jawab Raka yang membuat perempuan dihadapannya tersedak kuah gulai, karena sadar bahaya yang mengintai setelah acara makan mereka selesai.