
'Apartemen Raka'
"Bawa masuk semua barangmu, dan ini kamarmu." Raka menunjukkan satu ruangan kamar yang sudah ditata rapi dan didekor ulang.
"Haruskah kita tinggal bersama?" tanya Ara ragu.
"Walaupun ini hanya bisnis kita, tapi dimata orang kamu sekarang istriku. Benarkan kalau kita harus tinggal terpisah?"
"Yup, kamu benar. Tapi aku pasti belum bisa langsung melepaskan semua kebiasaanku saat berada dirumah. Jadi mohon pengertiannya."
"Buat dirimu senyaman mungkin, sekarang ini juga rumahmu. Aku tidak akan mengganggu privasimu. Anggap saja kita saudara jauh yang harus tinggal satu rumah."
Setelah obrolan singkat mereka, Ara melangkah masuk kedalam kamarnya. Kamarnya luas, nyaman, dengan interior yang mewah tapi tak terkesan berlebihan. Semua warna yang terpampang dikamarnya merupakan kamar yang lembut.
"Pintar juga dia mendekor kamarku." setelah mengamati kamar barunya, Ara langsung merebahkan badannya ke atas kasur empuknya. Berusaha menghilangkan segala lelah yang menumpuk beberapa hari ini. Belum lagi harus menjawab semua pertanyaan dari kerabat Raka yang penasaran dengan percintaan keduanya saat pesta berlangsung. Jelas saja mereka semua penasaran, tak pernah muncul kepublik tentang hubungan mereka, tapi tiba-tiba menikah.
Tanpa terasa mata Ara terpejam, masih menggunakan baju semula, belum membersihkan make up yang menempel di wajahnya. Gadis cantik itu terlelap dalam tidurnya.
***
Tek...tek...tek...
"Apa yang kamu lakukan pagi-pagi ini?" Raka keluar kamarnya karena merasa asing dengan suara yang berasal dari dapurnya.
"Ah...maaf. Aku pasti membangunkanmu. Aku harus membuat sarapan. Perutku lapar."
"Tak apa, aku juga terbiasa bangun pagi untuk berlari disekitar taman. Tapi hari ini aku lelah sekali. Kurasa aku akan cuti dulu sampai rapat direksi nanti."
"Duduklah dimeja makan, 10 menit lagi sarapan akan siap. Dan ini jus apel untukmu. Aku membuatnya dari apel yang ada dikulkas, tak apa kan kalau aku memakai bahan dari dalam kulkasmu." Ara menyodorkan satu gelas jus apel pada Raka.
"Pakai saja, toh aku juga tidak pernah memakainya. Hanya saja aku memang harus mengisi kulkas itu biar tidak kosong." Raka langsung meneguk habis isi gelas itu.
"Ternyata kamu gadis yang baik." tambah Raka.
"Apa?"
Sementara Ara memasak, Raka berkutat dengan tabletnya, ia masih mengecek pesan yang masuk kedalam emailnya. Sampai akhirnya ada sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok di atasnya mendarat keatas mejanya.
"Maaf hanya nasi goreng. Aku rasa nanti harus berbelanja bahan dapur, selain buah, hanya ada telur yang ada dikulkasmu."
"Ini sudah lebih dari cukup. Tapi aku masih belum menyangka sepenuhnya."
"Apa?" tanya Ara dengan masih tetap menyantap nasi goreng didepannya.
"Untuk orang yang habis membuat masalah denganku dan juga yang berkomitmen untuk tidak terikat pernikahan, pagi ini kamu cukup baik dengan segala hal. Jus dan nasi goreng ini contohnya."
Senyum Ara mengembang, "Pada dasarnya, aku bukanlah orang yang suka mencari masalah. Tapi kalau istirahatku diganggu dengan hal-hal yang aneh, aku cenderung mudah marah. Karena bagiku, istirahatku merupakan hal yang berharga."
"Apalagi sekarang kita sudah melakukan bisnis. Bisnis tetap harus dijalankan dengan baik sampai akhir. Karena kita sementara ini akan hidup bersama, tak baik kalau membuat kekacauan. Aku sudah katakan, waktu istirahatku itu, berharga."
"Lalu, malam itu, di Bandung, apa yang membuatmu marah kepadaku?" Raka penasaran.
"Kamu masih tak mengerti?" tanya Ara heran dibarengi dengan Raka mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu apa-apa.
"Ok, aku jelaskan. Malam itu kamar kita berdampingan, betul?"
"Yup, betul. Lalu?"
"Kamarku juga merupakan VIP, tapi entah kenapa suara desahan pasanganmu itu sampai terdengar samar kedalam kamarku."
"Desahan???"
"Betul. Sampai aku berfikir kalian sedang kejar target buat anak karena sampai 3 ronde nampaknya."
"Gila!!! Tak ada perempuan lain dikamarku kecuali..." Raka membuka lebar mulutnya, merasa tak percaya dengan apa yang diingatnya malam itu.