
"Ara..."
Tubuhnya membatu seketika saat terdengar suara yang dikenalnya dari belakang. Ara tak berani memutar tubuhnya untuk melihat sosok dibelakangnya. Air matanya tanpa sadar menetes di pipinya. Isakan tangis yang pelan mulai terdengar.
Raka yang mendengar isakan tangis itu menjadi khawatir, "Bolehkah aku mendekat dan memelukmu?" tanya Raka hati-hati.
Ara hanya berdiri ditempat dari duduknya, masih dengak isak tangisnya. Raka menghampirinya secara perlahan, dan dengan lembut memeluknya dari belakang. Kini air mata itu bertambah deras mengalir karena kerinduannya selama ini.
"Tenanglah aku disini, dan kumohon maafkan aku atas segala....." belum selesai ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar dan nyeri yang hebat. Tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga dan brukk..... Tubuh Raka langsung roboh. Ara yang mengetahuinya langsung berteriak meminta tolong.
Andra dan perawat yang berada disana langsung berlari kearah Ara dan Raka berada. Ada salah satu perawat yang membawa brankar dorong dan menaikkan tubuh Raka keatasnya langsung membawanya keruang perawatan.
Infus ditangan dan obat dimasukkan ke selang infusnya sesuai aba-aba dari dokter setelah pemeriksaan singkat yang dilakukan.
"Bagaimana dok?" tanya Andra dengan Ara berada disebelahnya tak kalah khawatir.
"Pasien menderita demam tinggi, berada di 40 derajat saat ini demamnya. Kita lihat, kalau dalam beberapa jam demamnya tidak turun, kita harus memindahkannya kerumah sakit di kota." jelas dokter
"Pantas saja mukanya pucat sekali saat datang, dan terasa panas saat kami bersalaman tadi. Tapi jadwal kepulangan Ara, apakah bisa di urus hari ini?"
"Iya, bisa. Ara sudah jauh membaik dari beberapa minggu lalu. Dia sudah bisa mengontrol emosinya. Selamat ya Ara." dokter menjabat tangan Ara diikuti senyuman dari wajah cantik gadis itu.
"Bolehkah saya masuk dan menemaninya dok?" tanya Ara lembut.
Dokter mengijinkannya dan membuat isyarat untuk masuk ke ruangan. Ara berjalan perlahan meninggalkan Andra yang berdiri didepan. Dengan tenang dia duduk disebelah Raka. Dipandanginya wajah tenang Raka yang sedang tertidur, wajah yang selalu masuk kedalam mimpinya. Wajah yang membuatnya selalu menangis di awal depresinya dan menjadi yang selalu dirindukan saat kondisi Ara mulai membaik.
Disentuhnya dengan lembut wajah Raka, dia ingin menyatakan bahwa ini semua nyata. Pria yang dicintainya dan dirindukannya. Tubuhnya terasa sangat panas saat Ara menyentuhnya, ada kekhawatiran diraut wajah cantik itu.
"Sembuhlah, Raka. Aku merindukanmu." ucapnya didekat Raka.
Karena hari yang begitu melelahkan, Ara merasa mengantuk dan tertidur disamping Raka sambil terus menggenggam tangannya. Sedangkan Andra saat ini masih mengurus segala keperluannya agar bisa keluar dari rumah sakit itu.
Sudah dua jam berselang, perawat masuk untuk mengecek suhu badan Raka. Ia tersadar saat suster melakukan pengecekan, dan tersenyum saat tau Ara tertidur pulas disampingnya.
"Suhu badan bapak sudah turun sedikit pak, apa ada keluhan lainnya."tanya perawat.
"Ssstttt....jangan keras-keras suster, saya tidak mau dia terbangun. Dan saya baik-baik saja, terimakasih." suhu tubuh Raka sudah di 38 derajat, dan cairan infus serta obat yang diberikan sudah bisa membuatnya mendapatkan tenaga tambahan.
Saat perawat keluar dari ruangan, Raka dengan perlahan turun dari tempat tidurnya, dan mengangkat tubuh Ara untuk naik ke atas tempat tidur. Sedangkan dia duduk menggantikan posisinya Ara. Raka tersenyum lebar mendapati perempuan yang dicintainya sekarang sudah berada dalam jangkauannya, dan dia berjanji tak akan melepaskan Ara atau menyakitinya lagi. Dia akan melindunginya.