
“Mengapa kalian berhenti?!,terus saja berkelahi”,sindir Madura.
Tak seorang pun menjawab sindiran sang Suhu tersebut semuanya terdiam dan tertunduk,kemudian Suhu Madura memerintahkan semua putra-putranya hadir di aula istana untuk mendengarkan penjelasan mereka atas apa yang terjadi.
“Wahai putra-putraku mengapa kalian berkelahi?,kalian ini bersaudara tak seharusnya melakukan hal seperti itu,membuat malu kerajaan!!”ujar Madura.
“Terutama kau Ra Toba,kau ini anak tertua sekaligus panglima perang kerajaan ini… seharusnya kamu menjadi suri tauladan bagi adik-adikmu dan memberi contoh yang baik bukan malah membuat rusuh dengan memporak porandakan seisi istana..!!?,sambung Madura lagi.
“Maafkan hamba paduka…hamba mengaku bersalah..hamba terbawa emosi melihat Ra Bali yang ingin menampar Samarinda”,jawab Ra Toba.
“Apa betul demikian Ra Bali?”,Tanya Madura memastikan.
“Mohon ampun paduka,benar…tapi hamba mempunyai alasan sampai melakukan hal itu paduka,hamba menduga dia membawa niat jahat dan akan berdambak buruk bagi kerajaan ini karena hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri.. dia melakukan sesuatu yang tidak wajar”,ujar Ra Bali.
“Apa yang kau maksud sesuatu tidak wajar?”,Tanya Madura.
“Dia membuat dan memasuki portal untuk berpindah kelain tempat,sedangkan kita tahu bahwa yang bisa melakukan itu hanya keturunan Suhu kerajaan.”,jawab Ra Bali.
“Kalau hanya itu tak perlu keturunan Suhu kerajaan saja yang bisa…semua para Agan di kerajaan ini juga bisa membuat gerbang teleportal seperti itu apabila mereka tekun mempelajarinya,lalu apalagi bukti yang kamu dapat dan bisakah kamu sebutkan niat jahat apa yang akan dilakukan gadis itu?”,jelas Madura dan mencoba kembali bertanya,
“Maaf paduka…untuk saat ini hamba belum mendapatkan bukti lagi dan hamba belum tahu apa niatnya karena…”,belum selesai Ra Bali menjawab.
“Cukup..!!,jadi kamu belum punya bukti kuat?,kamu jangan bertindak gegabah …janganlah membesar-besarkan sesuatu yang masih dalam dasar asas praduga”,timpal Madura tegas.
“Mohon ampun paduka..,hamba berjanji tak akan mengulanginya lagi”,ucap Ra Bali.
“Aku maafkan..tapi kamu harus meminta maaf kepada kakakmu dan Samarinda”,ujar Madura.
“Baik paduka...hamba akan meminta maaf”,jawab Ra Bali.
Ra Bali dan Ra Bintan yang tak bisa menolak perintah Suhu lalu meminta maaf kepada Samarinda walau dalam benaknya ia tak merasa bersalah karena ia yakin akan adanya niat jahat dalam diri Samarinda.
Setelah itu Suhu Madura memanggil kelima putranya untuk berkumpul di ruang pertemuan….
“Ra Toba,Ra Bali,Ra Bintan,Ra Java dan Ra Jaya…ingatlah kalian semua adalah putra mahkota….putra kerajaan…jangan pernah sekali pun bertindak sembrono,janganlah mengikuti hawa nafsu,emosi dan amarah…gunakan lebih banyak akal pikiran dari pada otot kalian karena keutuhan,kejayaan dan nama baik kerajaan ini ada ditangan kalian sang generasi penerus….bersatu kita teguh bercerai kita runtuh…!!”,ucap Madura berapi-api.
Mendengarkan wejangan sang suhu tersebut kelima Raden lalu bersimpuh dan berjanji untuk menuruti nasehat yang diberikan sang Suhu itu.
"Sembah sujudku kepada yang mulia ayahanda",ucap Samarinda yang menghadap Suhu Kawadomas.
"berdirilah",perintah Kutai.
"Apa yang ingin kau sampaikan?",tanya Kutai.
"Begini yang mulia...sepertinya rencana kita sudah mulai tercium oleh Ra Bali dan Ra Bintan, hamba takut karena mereka berdua rencana yang sudah kita susun selama ini dan hampir berhasil akan gagal",jawab Samarinda.
"Hmmm..sudah kuduga kedua Raden itu akan menjadi penghalang rencana kita",ujar Kutai.
"Lantas apa yang harus hamba lakukan?",tanya Samarinda.
" Secepatnya kau harus menghasut Ra Toba untuk segera menaklukan Semarang sebelum kedua Raden itu benar-benar mengetahui rencana kita.",jawab Kutai.
"Baiklah yang mulia hamba siap melaksanakan perintah",ucap Samarinda.
"Ingat jangan sampai gagal dan membuatku kecewa",tegas Kutai.
"Hamba tak akan mengecewakan yang mulia...nyawa hamba sebagai taruhannya",ucap Samarinda.
Samarinda diam-diam berkunjung ke kerajaan Kawadomas untuk memberi informasi kepada Kutai dengan menggunakan gerbang portal.
Ternyata Samarinda adalah putri tunggal Kutai sang Suhu Kawadomas yang sebenarnya bernama Manokwari,ia diutus oleh sang ayah untuk menyusup ke kerajaan Kawaratu dengan bekerja sebagai guru dan penasihat Ra Toba rencana itu dimulai saat Kutai menyamar menjadi orang kepatihan Kawaratu lantas ia berusaha menyarankan dan membujuk Suhu Maluku agar Ra Toba memiliki seorang guru pribadi ,tanpa dicurigai sedikit pun oleh Maluku Kutai mengutus putrinya tersebut.
"Dari mana saja kamu?",tanya Ra Bali yang kebetulan melihat Samarinda baru saja datang dan masuk melalui pintu belakang istana.
"Oh itu Raden saya ba..baru dari ..maksud saya...saya habis berkunjung ke rumah teman kebetulan tidak jauh dari sini",jawab Samarinda terkejut.
"Alasan...!!,cepat atau lambat aku akan tahu siapa kamu yang sebenarnya Samarinda",sinis Ra Bali sambil berlalu pergi.
"Awas kau Bali... lihat saja pembalasanku nanti",timpal Samarinda dalam hati.
Samarinda yang baru saja datang setelah diam-diam pergi menghadap Kutai langsung menemui Ra Toba kemudian ia membujuknya untuk segera menyerang Semarang sesuai arahan Suhu Kutai tadi.
"Kekasihku... sudah waktunya kamu menjadi Suhu kerajaan ini,karena aku khawatir kedua adikmu itu jadi batu penghalang yang bisa membuatmu gagal menjadi Suhu yang kau dambakan selama ini",ucap Samarinda menghasut.