NATURA Son Of Earth

NATURA Son Of Earth
Jauh sebelum bumi tercipta #7



Pagi yang cerah….. mentari PANON STAR menyinari wajah Ra Bali dengan cahayanya yang menembus melalui celah jendela kamarnya (Panon Star adalah bintang yang menerangi Kawaratu dan beberapa kerajaan di Alian layaknya Matahari yang menyinari Bumi),merasakan silau ia pun terbangun dari tidurnya yang nyenyak …masih dalam setengah sadar ia berjalan menuju jendela lalu membukanya kemudian ia menghela nafas dalam-dalam menghirup udara sejuk pagi hari,tiba-tiba mata yang masih sedikit sayu tertuju pada sesosok orang dengan gerak gerik mencurigakan,ingin melihatnya lebih jelas..ia pun mengucek kedua matanya…,sadar ada yang tidak beres Ra Bali bergegas menghampiri sosok tersebut,setelah dekat dengan sosok orang mencurigakan tersebut…Ra Bali terkejut mengetahui ternyata sosok itu adalah Samarinda yang sedang terburu-buru pergi meninggalkan istana,Ra Bali pun bertanya-tanya dalam benaknya “mengapa Samarinda meninggalkan istana di pagi hari karena sepengetahuannya hari ini Ra Toba tak ada agenda pergi kemana pun jadi kenapa ia harus pergi dengan cara sembunyi-sembunyi?”,dengan di penuhi rasa curiga lalu diam-diam Ra Bali membuntuti Samarinda…namun di tengah jalan ia kehilangan jejak,Samarinda menghilang begitu cepat dari pandangannya,dengan perasaan kesal Ra Bali kembali ke istana menemui adiknya Ra Bintan lalu ia menceritakan apa yang baru saja terjadi….


“Bintan…kau mau dengar apa yang baru saja aku alami?”,ucap Ra Bali.


“Iya kak Bali…emang apa yang baru saja kakak alami?”,Tanya Ra Bintan


“Ternyata dugaanmu benar”,ujar Ra Bali.


“Dugaan yang mana kak?”,Tanya Ra Bintan bingung.


“Dugaan itu loh…dugaan kau mengenai aura gelap Samarinda”,jawab Ra Bali.


“Oh yaa?!,memang apa yang terjadi?”,ucap Ra Bintan kembali menanyakan.


“Baru saja aku melihat wanita itu pergi dari istana dengan gerak gerik mencurigakan…ya sembunyi-sembunyi gitu deh,padahal hari ini kak Toba tak ada agenda kemana pun…aneh kan kalau dia pergi?,lalu aku mengikutinya…tapi sayang aku kehilangan jejak… jadi aku belum tau dia pergi kemana”,terang Ra Bali.


“Berarti kita sekarang harus waspada dan sebelum hal yang tidak diinginkan menimpa kerajaan ini secepatnya kita harus mencari tahu siapakah wanita itu sebenarnya dan apa yang ingin dia rencanakan”,ujar Ra Bintan.


Ra Bali dan Ra Bintan terus memantau setiap gerak-gerik Samarinda,membuntuti kemana pun dia pergi,menguping apa saja yang dia bicarakan dan semua yang dia lakukan tak luput dari pengawasan kedua Raden tersebut,suatu ketika mereka berdua memergoki Samarinda pergi menyelinap meninggalkan istana lalu mengikutinya,kali ini mereka lebih fokus karena tidak ingin kehilangan jejak lagi,Samarinda yang sampai ditempat yang ia tuju kemudian menggunakan kekuatannya dibantu dengan senjata pusaka sejenis keris miliknya,ia menggerakan tangan kirinya yang memegang senjata pusaka tersebut…seketika energi yang tersalurkan melalui tangannya itu membentuk suatu lingkaran adalah gerbang portal menuju tempat lain lalu Samarinda memasuki portal tersebut dan dalam sekejap portal itu menghilang,melihat itu Ra Bali dan Ra Bintan terkejut sekaligus merasa kesal karena kembali kehilangan jejak.


Keesokan harinya Samarinda yang sudah kembali ada di istana disambangi oleh kedua kakak beradik Ra Bali dan Ra Bintan,kemudian mereka berdua mengintrogasinya.


“Samarinda..”,panggil Ra Bali.


“Iya Raden”,sahut Samarinda lantas membungkuk memberi hormat.


“Bisakah kau meluangkan waktu sejenak?,aku ingin menanyakan sesuatu?”,Tanya Ra Bali.


“Silahkan Raden,apa yang mau Raden tanyakan?”,jawab Samarinda.


“Begini…aku dan bintan merasakan sesuatu yang tidak beres dengan dirimu,kami curiga kamu merencanakan sesuatu yang tidak baik”,Tegas Ra Bali.


“Maksud Raden…?,Raden menuduh saya orang jahat?,mengapa Raden sampai hati berpikiran demikian?”,ucap Samarinda terheran-heran.


“Saya tidak pergi kemana-mana Raden…saya selalu disini”,jawab Samarinda.


“Jangan bohong!!kalau bukan kau …lalu siapa lagi.?!,aku lihat dengan mata kepalaku sendiri..!!”,Bentak Ra Bali kembali dengan mata menatap tajam kearah Samarinda.


Mendengar suara gaduh didalam istana Ra Toba bergegas menghampiri ingin mengetahui apa yang sedang terjadi…


“Ada apa ini??”,Tanya Ra Toba.


“Begini kak aku dan Bintan merasakan sesuatu yang mencurigakan ,sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu yang dapat merugikan Kerajaan”,jawab Ra Bali.


“Lancangnya kalian..!! seenaknya menuduh guruku yang tidak-tidak!!”,bentak Ra Toba.


“Maafkan kami kak..,tapi aku dan Bintan telah membuktikannya sendiri,dia pergi keluar istana kemudian dia masuk gerbang portal yang telah dibuatnya”,ujar Ra Bali


“Iya kak,kemarin kan kakak sendiri yang bilang bahwa seharian akan ada di istana,lalu apa yang dia lakukan dengan pergi diam-diam?”,timpal Ra Bintan.


“Dinda benarkah apa yang mereka tuduhkan?”,Tanya Ra Toba.


“Tidak,aku tak pergi kemana-kemana,terserah Raden mau percaya atau tidak”,jawab Samarinda.


“Bohong..!! kak dia berbohong”,sanggah Ra Bali.


“Sudah cukup..!!”,bentak Ra Toba.


“Kalian berdua jangan mengada-ngada,aku lebih percaya Samarinda”,sambung Ra Toba lagi.


Dengan emosi yang memuncak Ra Bali yang muak atas jawaban bohong yang dikatakan Samarinda ia lantas mendekatinya dan berkata…


“Jawab dengan jujur siapa kau sebenarnya….!!”,bentak Ra Bali dengan mengangkat tangan yang siap menampar Samarinda,Ra Toba yang berada disamping Samarinda dengan reflek menghalau ayunan tangan Ra Bali yang hendak menampar kekasihnya itu lalu memegang tangan Ra Bali….”Berani-beraninya kau memukul seorang wanita”,ucap Ra Toba langsung memukul wajah Ra Bali,tak terima itu ia pun membalas dan balik memukul Ra Toba,perkelahian pun tak terelakan…,Ra Bintan yang berniat memisahkan perkelahian itu tiba-tiba diserang oleh Samarinda,duel perkelahian terjadi seketika istana menjadi gaduh…belum cukup sampai disitu datanglah si kembar Ra Java dan Ra Jaya,mereka berdua yang tadinya bingung harus berpihak kepada siapa …sampai teringat akan ancaman Ra Toba tempo hari akhirnya memutuskan untuk membela Ra Toba dengan demikian Ra Bali dan Ra Bintan dikeroyok oleh 4 orang,para Raden yang berkelahi membuat seisi istana porak poranda dan tanpa mereka sadari sang Suhu sudah berdiri tegak bertolak pinggang dihadapan mereka,tahu akan kehadiran sang Suhu seketika mereka berhenti berkelahi dan dengan serentak langsung bersimpuh dihadapan sang Suhu.