
“Tidak, tidak usah meminta maaf begitu,kalian tidak salah dan kedatangan kalian tidak mengangguku sama sekali,malah paman sangat senang kalian sering berkunjung kemari”,ujar Semarang.
“Ini paman aku bawakan makanan untuk sarapan”,ucap Ra Bali menyodorkan tangan dan memberikan kantong yang berisi makanan tersebut.
“Apa Raden..?,makanan ?,buat paman?,ini tidak salah?”,Semarang yang setengah tak percaya menerima kantong makanan itu.
“Tapi ada apa ini..??,paman benar-benar heran ini…,kalian sudah mengunjungiku pagi-pagi …lantas sekarang memberikan makanan untukku…ini benar-benar diluar kebiasaan kalian”,ucap Semarang mengernyitkan keningnya.
“Iya aku dan kak Bali cuma ingin kasih kejutan saja ke paman”,jelas Ra Bintan.
“Paman tidak suka kejutan kami ya?”,Tanya Ra Bali.
“Oh..suka suka,aku sangat berterima kasih kalian berdua sudah memperhatikan dan peduli kepadaku”ucap Semarang terharu.
“Sama-sama paman,kami berdua juga senang dekat dengan paman karena paman sudah kita anggap ayah kedua bagi kami”ujar Ra Bali.
“Oh ya lekas dimakan makanannya paman nanti keburu basi loh”,suruh Ra Bintan.
Tanpa curiga dengan lahap Semarang pun langsung menyantap makanan yang dibawakan oleh Ra Bali dan Ra Bintan jadi-jadian itu.
[Beberapa saat setelah Ra Bali dan Ra Bintan palsu pergi meninggalkan gerbang istana menuju Gapura]
Ra Bali dan Ra Bintan asli tiba dengan menunggangi hewan khas Kawaratu melewati gerbang istana..
“Kenapa kembali lagi Raden?,Ada yang ketinggalan ya Raden…??”,Tanya Papua.
“Maksud kamu apa Papua?”,Ra Bali Balik bertanya.
“Maksud hamba….??maksud hamba hanya bertanya Raden…, kenapa Raden Bali dan Raden Bintan kembali lagi ke istana…bukankah baru beberapa menit yang lalu Raden bilang mau pergi ke Gapura menemui tuan Semarang?”,jelas Papua.
“Kami berdua pergi ke Gapura…??,kamu jangan mengada-ngada..!!,kami baru saja pulang setelah semalaman berburu di hutan,tuh lihat hasil buruan kami..!!”,tegas Ra Bali sambil menunjukan beberapa hewan hasil buruannya.
“Ampun Raden ampun…hamba tidak mengada-ngada…sungguh Raden hamba tidak berbohong,kalau tidak percaya Raden bisa tanya yang lainnya”,ucap Papua merasa cemas.
“Apa yang kau lihat sosok tadi begitu mirip dengan kami berdua?”,Tanya Ra Bali penasaran
“Sosok…?,Iya Iya amat sangat mirip Raden 100% sama persis,cuma beda tunggangan saja”,jawab Papua kebingungan.
“Jenis apa yang ditunggangi sosok kami tadi”,Tanya Ra Bali mulai mengintrogasi hal aneh tersebut.
Mengetahui ada yang tidak beres Ra Bali dan Ra Bintan langsung berputar arah bergegas menuju Gapura…,dengan menunggangi Bromo lalu melaju kencang …(Bromo adalah jenis hewan Kawaratu berupa Banteng bertanduk satu yang lazim digunakan sebagai tungangan),dalam waktu singkat mereka berdua telah sampai di Gapura dan betapa terkejutnya mereka mendapati tubuh Semarang yang tergeletak di samping dua sosok yang menyerupai mereka berdua yang tak lain adalah Ra Java & Ra Jaya…
“Siapa kalian?!.apa yang kalian perbuat pada paman kami?!,Tanya Ra Bali membentak.
“Maafkan kami kak,sungguh kami tidak tahu akan seperti ini jadinya”,jawab Ra Java dalam sekejap ia dan Ra Jaya kembali ke wujud aslinya.
“Ternyata kalian…!!,kurang ajar !,******** kalian…!!”,tak banyak bicara lagi Ra Bali dan Ra Bintan langsung menyerang adik-adiknya itu,perkelahian antara keempat Raden bersaudara pun terjadi.namun pertarungan tak berlangsung lama karena dengan kekuatan tak sebanding Ra Bali dan Ra Bintan yang jauh lebih sakti membuat Ra Java dan Ra Jaya kewalahan dan akhirnya menyerah, mereka berdua pun memohon ampun mengakui perbuatannya itu atas tekanan Ra Toba,Ra Bali yang sudah terlanjur marah meringkus kedua adiknya tersebut lantas menghampiri Semarang yang sudah tergeletak tak berdaya…
“Paman….bangun paman…!!,paman…bangun..”,Ra Bali berusaha membangunkan Semarang.
"Java..!!,apa yang kau lakukan kepada paman Semarang”,Tanya Ra Bali ke Ra Java yang berada tak jauh dengan kondisi tangan dan kaki terikat.
“Sungguh aku tidak tau…,aku hanya memberikan makanan yang dititipkan kak Toba kepadaku lalu tiba-tiba paman Semarang langsung tak sadarkan diri setelah memakannya”,jawab Ra Java.
“Iya kak Bali tolong ampuni kami ..kami tidak berniat melakukan ini…kami hanya menjalankan perintah yang sebenarnya tidak ingin kami lakukan,tolong lepaskan kami”,sahut Ra Jaya memelas.
“Mungkin makanan itu sudah ditaburi racun”,terka Ra Bintan.
“Iya aku juga berpikir demikian,tapi kita tak bisa berbuat apa-apa tanpa mengetahui jenis racun apa yang telah ditelan paman”,ujar Ra Bali.
“Mungkin sebaiknya kita membawa paman ke istana”,saran Ra Bintan.
“Lalu siapa yang menjaga Gapura?,terlalu riskan bila Gapura ditinggalkan tanpa ada yang menjaga”,ujar Ra Bali.
“Kalau begitu aku saja yang tinggal disini …kak Bali segeralah bawa paman ke istana”,ucap Ra Bintan kembali memberi saran.
“Ya sudah,kamu jaga disini dan awasi mereka berdua sampai aku kembali”,timpal Ra Bali menyetujui saran Ra Bintan.
Ra Bali pun bergegas membawa Semarang yang masih tak sadarkan diri menuju istana namun di tengah perjalanan kondisi Semarang semakin kritis karena racun sudah terlanjur menjalar ke seluruh aliran darahnya hingga nyawanya tak tertolong lagi, akhirnya Semarang menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Ra Bali…..
Dengan perasaan yang bercampur aduk antara marah,sedih ,penyesalan dan rasa bersalah atas kematian sang paman tercinta Ra Bali memangku jenazah Semarang masuk ke istana dan membawanya kehadapan Madura,sontak seisi istana terkejut dan seakan tak percaya dengan kematian Semarang sang penjaga Gapura tersebut.
“Apa yang terjadi dengan pamanmu Bali?”,tanya Madura.
“Paman Semarang telah tiada ayahanda,beliau telah dibunuh”,jawab Ra Bali sambil terisak.