
“Kalau penyakitnya hanya amnesia biasa atau sementara,mungkin dalam beberapa hari kemudian dia akan mulai ingat siapa dirinya,tapi…kalau dia mengidap amnesia permanen atau lebih parah…,saya tak bisa berbuat banyak dia akan lupa semua ingatannya ,bahkan ia akan lupa jatidirinya untuk selamanya”, jelas Tabib menerangkan
“Lalu apa yang aku harus lakukan Tuan Tabib?”,tanya Umayah sedikit panik
“Sebaiknya kamu beri tahu orangtuanya dan jelaskan kondisi yang dialaminya”
“Tapi Tuan…kedua Orangtuanya telah meninggal beberapa bulan yang lalu,mereka terbunuh pada saat melakukan perlawanan kemudian tentara jepang mengurung kedua Orangtuanya didalam rumah dan membakarnya hidup hidup, maka karena itu dia memutuskan menjadi Prajurit Pejuang untuk membalas kematian Orangtuanya tersebut,jadi….sekarang dia sendirian dan tak punya tempat tinggal”,jelas Umayah
“Hmmm..jadi begitu ceritanya…sungguh miris…,malang sekali dia,baiklah kalau begitu saya masih harus mengurusi pasien lain,sekarang dia menjadi tanggung jawabmu….apapun keputusan yang kamu buat saya dukung itu”,ujar Tabib
“Baiklah Tuan…aku akan merawatnya sendiri sampai ia pulih, terimakasih”
Sore hari selepas Umayah pulang dari tempat ia bekerja sebagai Perawat sukarelawan di Pondok Tabib tersebut, ia memutuskan membawa Khamar menuju tempat kediamannya untuk sementara tinggal bersamanya, kebetulan Umayah adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh pamannya,namun beberapa minggu belakangan ini sang paman tak kunjung pulang, dan menurut kabar warga sekitar sang paman telah diculik oleh tentara jepang guna dijadikan pekerja paksa.
“Silahkan masuk,untuk saat ini kamu boleh tinggal disini”,pinta Umayah dengan menatap kekasihnya tersebut dan memberi senyuman tulus
“Terimakasih…,kau tinggal sendirian disini?”,tanya Khamar
“Iya sekarang aku tinggal sendirian setelah pamankuu…..ah sudahlah..ohya kamu bisa membersihkan dirimu dulu…kamu kotor sekali,dan ini…gunakanlah… ini pakaian pamanku sepertinya muat untuk kamu kenakan”
Setelah Khamar membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang diberikan Umayah lalu ia duduk disalah satu kursi yang ada diruangan tersebut
“Hmmm..cocok juga kamu memakai baju itu…oh iya mungkin sedari tadi kamu belum makan…ini aku buatkan Nasi Goreng…dimakan ya..”,ucap Umayah menawarkan makanan yang baru saja dibuatnya dan meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja tepat didepan posisi Khamar yang tengah duduk
“Terimakasih banyak”,ucap Khamar tanpa menunggu lama langsung menyantap nasi goreng tesebut
“Khamar…apa kamu benar benar tidak ingat siapa kamu?,atau mengingat aku ini yang adalah kekasihmu?”, tanya Umayah
“Kau masih menganggap saya ini mengalami penyakit hilang ingatan?”,jawab Khamar yang mulutnya masih dipenuhi nasi…
“Ya kalau kamu tidak hilang ingatan bagaimana mungkin kamu tidak kenal siapa aku..!, bahkan siapa dirimu sendiri?!”
“Entahlah… sangat sulit bagi saya menceritakan semua ini kepadamu”
“Maksudmu sulit bagaimana?”,tanya Umayah sedikit kesal
“Baiklah akan saya ceritakan sejelas jelasnya yang mungkin akan membuatmu sedikit mengerti”,ucap Khamar menyudahi santapannya lalu mulai bercerita….
Mendengar penjelasan Khamar… Umayah terperangah hanya bisa menggeleng gelengkan kepala seolah masih tidak percaya akan cerita tersebut
“Kau harus menerima kenyataan bahwa kekasihmu itu telah tiada,kini yang tampak dihadapanmu hanyalah raganya sedangkan jiwanya telah pergi dan sekarang berganti dengan jiwaku “,jelas Khamar yang ternyata adalah Madura
“Tidak..!,tidak mungkin…,bagaimana itu bisa terjadi…?!”,bantah Umayah yang matanya mulai berkaca kaca
“Di Kerajaanku hal seperti itu biasa terjadi,seperti yang kau katakan bahwa kekasihmu ini menjadi seorang Prajurit Pejuang dan ikut suatu peperangan…,mungkin saat itu ia telah tewas dalam peperangan tersebut terkena suatu ledakan…,dan akhirnya jiwaku yang menggantikan raga ini….pantas saja!,pada saat terbangun tubuhku terkubur didalam puing puing reruntuhan”
“Jika kau masih meragukan cerita tersebut…,lihatlah ini..!”,tegas Madura lalu mengambil sebuah garpu yang ada di atas piring nasi goreng yang baru saja ia makan,tanpa aba-aba ia langsung menancapkan garpu tersebut ketelapak tangannya…#JLEB…!! seketika darahnya menetes lalu ia mengepalkan tangannya…,lantas dalam sekejap ia membuka kepalan tangannya kembali…dan #JRENGGG…luka tusukan ditelapak tangannya itu sudah hilang tak berbekas…
Menyaksikan itu Umayah mulai percaya kemudian tertunduk lalu menangis berlinang air mata meratapi seakan tak menerima kenyataan bahwa semua orang yang ia cintai kini telah tiada…
“Apakah aku boleh memelukmu…?,maksudku aku ingin memeluk tubuh kekasihku yang sekarang adalah ragamu..,mungkin sebelum tewas ia ingin aku peluk….hiks..hiks”,lirih Umayah meminta sambil terisak
“Silahkan…peluklah dia mungkin akan mengurangi kesedihanmu”,jawab Madura lalu Umayah memeluk erat tubuh kekasihnya tersebut”
Malam semakin larut…Madura yang terjebak dalam tubuh Khamar masih terpaku duduk di kursi yang sama,ia sedang memikirkan sesuatu…
“Kamu belum tidur?”,tanya Umayah
“Belum,saya tak bisa tidur”,jawab Madura tanpa ekpresi diwajahnya
“Oh ya..aku sebaiknya memanggilmu apa…?,ya seperti kenyataannya kamu bukan kekasihku lagi…maksudku jiwamu”
“Kau boleh memanggilku nama kekasihmu ,mungkin dengan itu akan membuatmu nyaman dan tidak canggung”
“Baiklah mulai saat ini aku akan memanggilmu Khamar,terimakasih”,ujar Umayah tersenyum
“ Dan jika tidak keberatan…bisa tidak kamu menyesuaikan gaya bicaramu?,ya maksudku seperti….tidak terlalu formal…maksudku…jangan gunakan kata ‘saya’ , ‘anda’ dan ‘kau’ begitu…cukup aku kamu aja…ya supaya kamu tidak terlihat kaku”,pinta Umayah dengan sedikit ragu
“Oh begitu…baik akan saya…maksudku..baiklah akan aku usahakan”,jawab Khamar tersenyum kecil
“Terimakasih”,ucap Umayah senang mendengar jawaban tersebut