NATURA Son Of Earth

NATURA Son Of Earth
Kekuatan Endo #10



“Belum…,mau aku hubungin?”


“Jangan..!!,jangan dulu,takutnya mereka panik,aku gak mau membuat mereka khawatir”


“Tapi Do…?” ; “Udah gak usah…nanti aja aku yang kasih tau mereka kalau kondisi aku udah agak mendingan”


“Ya terserah kamu aja lah”


Aku dan Nesya tiba di rumah sakit kemudian aku di bawa ke UGD,setelah pemeriksaan #JRENGG!! dokter berkata aku hanya luka ringan dengan sedikit lebam di wajah…


“Serius dok aku gak apa-apa?”


“Iya gak ada yang salah dan fatal kok…,malah sekarang kamu sudah bisa pulang”


Aku pun kini merasa kaki ku bisa digerakan lalu keluar dari ruang UGD dengan berjalan…


“Dodo..!,kamu….?”,ucap Nesya terkejut dan heran melihatku sudah bisa berjalan.


“Waduh..!,gimana nih bisa-bisa Nesya curiga kalau tahu aku sudah bisa berjalan,aku juga baru tau kali ini kalau aku punya kemampuan bisa sembuh dengan cepat”,dalam benakku.


“Iya nih aku udah bisa jalan..tapi masih pincang sih”,ujarku beralasan.


“Bagaimana bisa?,bukannya tulang kaki kamu patah?”


“Oh itu…ternyata gak patah kok ..setelah dokter periksa tadi ternyata cuma keseleo”,aku beralasan lagi.


“Sudahlah Bee jangan dibahas lagi,yang penting sekarang aku gak apa-apa kan?”lanjutku.


“Jadi sekarang kamu sudah diperbolehkan pulang?”


“Yups…ayo kita pulang”.


Sesampainya di rumah…namun tak ada siapa-siapa,penasaran aku telepon ibuku…ternyata ibu dan ayahku sedang berkunjung dan menginap di rumah pamanku yang berada di Kota Tua.


Aku yang sendirian di rumah memutuskan untuk diam di dalam kamar sambil rebahan karena hari sudah larut malam juga jadi aku ingin langsung tidur “huffsss…hari ini hari yang melelahkan”,namun setelah beberapa menit kemudian aku tak kunjung bisa tidur, sepertinya mataku ini sulit dipejamkan…mungkin aku masih dibuat penasaran tentang suara siapakah gerangan yang memangil-manggil namaku dengan sebutan Kakak Ra Bali waktu peristiwa sore tadi?,sepertinya aku tidak asing lagi dengan suaranya…


***


[ KAWARATU ]


“Sembah sujudku paduka Suhu,ibunda hanya ingin menyampaikan kondisi terkini kerajaan kita”,Maluku melapor kepada anaknya Ra Toba yang sekarang sudah diangkat menjadi seorang Suhu kerajaan Kawaratu.


“Benar Paduka,semakin hari kondisi kerajaan semakin memburuk,kerajaan kita sudah tidak bisa lagi menghasilkan bahan makanan,sudah tak ada lagi hasil tambang,bencana alam dimana-mana…menyebabkan banyak para kaum mu tewas,kerajaan ini sedang sekarat Paduka…kita butuh pusaka 8 kora itu segera,kalau tidak…?,entahlah aku tak berani membayangkannya”,jelas Maluku.


“Lantas apa yang harus ku perbuat?,bagaimana caranya aku mendapatkan pusaka tersebut?,seperti yang kita tahu sudah 4 tahun lebih pusaka itu terlontar dan entah dimana keberadaannya,sudah lebih dari 4 tahun pula aku menjadi Suhu di kerajaan yang sekarat ini..!!” .(rentang perbedaan waktu 1 tahun di galaksi Alian setara 1 miliyar tahun di galaksi Bimasakti).


“Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini,kita hanya bisa berharap Suhu Kutai berhasil membawa kembali ke-8 Kora tersebut”,timpal Samarinda yang tiba-tiba datang.


“Lalu..?,kita pasrah begitu saja?!,tanpa berbuat apa-apa?”,ujar Ra Toba.


“Memang apa yang mau Paduka perbuat selain hanya bisa pasrah?”,Tanya Maluku.


“Ibunda tahu kan kalau Madura adalah seorang Suhu Jagat?”


“Iya Ibunda tahu itu,tapi setelah ayahandamu itu melakukan Ragajagat dan menghilang lebih dari setahun maka otomatis jabatan itu lepas dan digantikan ke orang lain”.


“Jangan kau sebut lagi Madura sebagai ayahandaku!!”,bentak Ra Toba.


“Baik Paduka….,saya memohon maaf dan tidak akan mengulanginya lagi”


“Jadi,siapa pewaris jabatan Suhu Jagat setelah Madura?”,Tanya Ra Toba.


“Ibunda sempat mendengar Suhu Jagat sekarang ini dijabat oleh SUMATRA,tapi ibunda tidak tahu siapa dan dari mana dia”


“Untuk apa paduka menanyakan tentang Suhu Jagat?”,Tanya Samarinda menyambung pembicaraan.


“Karena hanya Suhu Jagat yang kemungkinan tahu akan keberadaan ke-8 Kora”


“Pernah aku dengar dari temanku yang bekerja di SODARA bahwa Sumatra adalah seorang Suhu dari kerajaan TAMBORA”,jelas Samarinda.


“Dimana letak kordinat kerajaan itu?,beritahu aku….,aku akan segera kesana”.


***


[Bumi pukul 08:12, 8 Juni 2016]


“Sial aku telat lagi,udah kemarin bolos..waduhh gawat nih”,sambil bergegas ke ruangan kelas.


Saat ku sedang berlari menuju ruang kelas tepatnya ketika aku baru sampai di persimpangan dalam kampus yang menghubungkan pintu masuk kampus dengan ruangan khusus dosen menuju jalan arah kelasku,aku melihat Pak Mijan keluar dari ruangannya…sialnya dia juga sedang berjalan menuju arah kelas yang otomatis aku akan terpergok muka dengannya,aku berusaha sebisa mungkin berusaha sembunyi agar dosenku tersebut tidak melihatku namun sayang tak ada tempat untuk bersembunyi disana,aku pun berhenti melangkah lalu bersandar mepet tembok sambil menutupi wajahku dengan tas ,dalam benakku saat itu hanya bisa berharap semoga dia tak melihat dan tak mengenaliku walau itu tidak mungkin kecuali aku bisa menjadi invisible man,langkah demi langkah Pak Mijan berjalan ke arahku….ia terus melangkah sampai akhirnya ia berjalan tepat di sampingku mungkin sebentar lagi ia akan menegurku….dag dig dug suara jantungku berdegup kencang...namun….#JRENGG!!,Pak Mijan berlalu begitu saja terus berjalan menuju arah kelas tanpa melirik sedikit pun ke arahku atau bisa dibilang sepertinya ia tak melihat keberadaanku..what happen?!,tak mau memikirkan hal itu dulu…aku langsung berlari memotong jalur agar aku sampai di kelas duluan sebelum Pak Mijan sampai…hufffsss akhirnya aku duluan yang sampai ruang kelas lalu disusul kedatangan Pak Mijan beberapa detik kemudian…