
Saat aku sedang menyantap makan siang bersama ayah dan ibuku,tiba-tiba dikejutkan dengan suara teriakan dari luar rumah,mendengar itu sontak kami bertiga beranjak dari meja makan dan bergegas keluar rumah ingin memastikan apa yang terjadi…
“*Kebakaran...!!,kebakaran…!!,*api ada api …,*tolong ada kebakaran….,*cepat telepon blangwir telepon pemadam…,*air mana air?!”, riuh suara dan teriakan warga sekitar panik.
Ternyata terjadi kebakaran di rumah tentangga yang jaraknya hanya cuma empat rumah dari letak rumahku,terlihat api telah membesar dalam sekejap menyambar dan merambat ke rumah yang ada di sebelahnya,melihat api yang semakin membesar dengan kepulan asap hitam yang membungbung tinggi…,aku yang tak ingin rumahku menjadi sasaran amukan si jago merah berikutnya lantas berinisiatif membantu membawa air dengan ember untuk memadamkan api tersebut….
“Endo kamu mau kemana?”,Tanya ayahku.
“Aku mau bantuin warga padamkan apinya yah”
“Yaudah …,tapi kamu hati-hati” ; “Baik Yah…”,lalu aku pergi bergabung dengan yang lainnya untuk memadamkan api.
“ Bu Desi…,barang berharga atau surat-surat berharga sudah diamankan?”,Tanya tetangga kepada ibuku.
“Belum”,jawab ibuku singkat.
“Ikh..mending buruan diamankan bu…,tuh lihat apinya makin besar…,nanti kalau apinya merambat sampai ke rumah bu Desi gimana?.ucap tetanggaku memberi saran.
“Iya juga ya?,yaudah kalau begitu saya juga mau mengamankan barang-barang saya dulu…,Yah…! ayah…sini cepet bantuin ibu...,kita selamatkan barang-barang terutama sertifikat rumah dan surat-surat berharga lainnya”
Setelah beberapa ember air kuangkut dan menyiramkannya namun api tak kunjung padam,ditambah lagi cuaca saat itu sangat menyengat karena teriknya sinar matahari membuat si jago merah dengan mudah melahap bangunan rumah tetanggaku tersebut sedangkan mobil pemadam kebakaran belum juga datang membuat semua orang semakin panik dan ketakukan,dalam keadaanku yang juga sedang panik sekaligus bingung mau berbuat apa lagi aku baru ingat bahwa aku memiliki kemampuan mengendalikan api,namun setelah di pikir-pikir lagi jikalau aku menggunakan kemampuan tersebut akan terlihat mencolok dan orang akan mengetahuinya,aku pun mengurungkan niat tersebut,aku pun kembali memutar otak…
“Hmmmm…Aha…!!,aku kan bisa mengendalikan cuaca…”,dalam benakku.
Aku langsung mencari tempat yang sepi,ku fokuskan pikiran dengan kedua tangan menadah ke atas,saat itu aku memikirkan dan meminta hujan turun….,pada saat itu juga #BYURR!! hujan deras pun turun lalu mengguyur kobaran api dan akhirnya api pun padam…
“*Horeeee…..,*Alhamdulillah akhirnya apinya padam,*Terima kasih tuhan…engkau telah memberikan berkahmu,*hujan adalah berkah*”,sorak sorai warga komplek tak lama kemudian mobil blangwir atau pemadam kebakaran tiba….
“Huuuuu….!!,telat…telat!!,Om Telat Om..!!”,seru warga kepada petugas pemadam kebakaran.
Setelah api padam cuaca di sekitar lingkungan komplek tempatku tinggal kembali normal seperti sediakala dengan terik panas matahari yang begitu menyengat,rasa lelah mulai menghinggapi tubuh ini mungkin karena habis ngangkut banyak ember berisikan air untuk memadamkan api tadi,akhirnya aku memutuskan untuk istirahat alias tidur siang…
Sore hari sekitar pukul 15:30 matahari masih memancarkan sinar panasnya,aku yang baru saja bangun dari tidur siang bergegas ke kamar mandi,sehabis mandi dan berpakaian aku keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan sore,ketika aku sedang berjalan kaki sambil mendengarkan musik dengan memakai earphone,*berada dipelukanmu…. mengajarkanku …apa artinya kenyamanan….kesempurnaan cinta…* bunyi ringtone ponselku dari dalam saku…
“Halo Bee…”
“Kamu hari ini gak ngampus?”
“Iya nih tadi pagi aku dibeg……di bengkel..maksudnya motorku lagi di bengkel?”,jawabku namun spontan aku meralat kata dibegal menjadi di bengkel karena aku tak ingin Nesya mengetahuinya.
“Ikhhh..kamu gitu…butut butut gitu juga motor kesayangan aku tau…”
“Kesayangan sih kesayangan tap….”
“Udah ah gak usah bahas lagi”,timpalku memotong omongan Nesya.
“Terus sekarang kamu lagi dimana?,lagi ngapain?”,Tanya Nesya.
“Aku lagi jalan kaki mau refreshing ke Taman Hutan Kota”
“Yaudah tungguin aku disana, aku sekarang mau nyusul nih”
“Iya aku tungguin”,ucapku sembari mengakhiri panggilan telepon dari Nesya.
Sesampainya di Taman hutan kota aku mencari tempat duduk yang tersedia di taman itu,seperti biasa aku mencari tempat duduk atau bangku favoritku yang letaknya berada di pojokan taman dengan di penuhi pohon rindang menjadikan tempat itu sangat teduh dan tak terlalu banyak lalu lalang orang…mungkin karena posisinya di pojokan,kebetulan bangku itu kosong tak ada orang yang duduk disana,aku pun duduk dibangku tersebut,bangku yang sempat membuat aku ketiduran kemarin…,kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul 16:15 sambil mendengarkan alunan musik menggunakan earphone aku menunggu Nesya. Sekitar setengah jam aku menunggu akhirnya Nesya datang…
“Kok lama banget sih?”,tanyaku.
“Iya tadi jalanan macet parah”
“Oh,gimana tadi di kampus….ada yang nanyain aku gak?”
“Ya ada” ; “Siapa?” ; “Ya biasa…siapa lagi kalau bukan pak kumis tebal”
“Ohh..emang dia Tanya-tanya apa?”
“Ikh…! kepo banget deh kamu…”
“Yaiyalah…kepo pisan”
“Yaa gitu…cuma nanya kenapa gak masuk,kenapa gak kasih kabar”
“Ohh….gitu doang?” ; “Ya terus mau gimana lagi?”
“Ya kirain nanya apalagi gitu” ; “Enggak,cuma itu aja”