
“Ra Bali …?,apa itu?,atau siapakah Ra Bali?”,tanya Umayah yang semakin bingung dibuatnya memotong ucapan Khamar
“Ra Bali, dia adalah salah satu putraku yang membantuku menyelamatkan Kerajaan dengan mempertahankan kedelapan Pusaka Kora agar tidak jatuh ketangan yang salah”,jawab Khamar
“Lalu apa yang terjadi dengan dia?”,Umayah kembali bertanya
“Jasad Ra Bali hancur,lalu jiwanya terlempar jauh menembus ruang dan waktu, melintasi antar galaksi yang ada di jagat raya ini bersama kedelapan Pusaka tersebut setelah kami berdua melakukan jurus Ragajagat, mungkin jiwanya bernasib sama dengan yang ku alami…,terdampar dan terjebak seperti halnya yang terjadi pada diriku sekarang ini”,ucap Khamar kembali menjawab pertanyaaan Umayah
Lalu Khamar berpikir kembali pada ucapannya tadi yang disela dengan pertanyaan Umayah….
“Mungkinkah Ra Bali mempunyai Pusaka Natura?,karena sepengetahuanku.., adikku Semarang yang memiliki Pusaka tersebut?,atau jangan-jangan Semarang sempat memberikan Pusaka itu kepada Ra Bali sebelum ia wafat?”,ucap Khamar bertanya tanya seolah berbicara dengan dirinya sendiri
“Kalau memang yang terjadi benar seperti itu…,mungkin jiwa Ra Bali juga terdampar atau terjebak disini…!,di planet ini..?!,maka sebab itulah Santeta gagal menghancurkan planet ini…,karena Natura menciptakan kembali kehidupan diduniamu ini Umayah”,sambung Khamar mencoba menerangkan.
Mendengar hal tersebut Umayah hanya menatap Khamar dengan wajah melongo…
“Serius…ucapanmu itu membuat kepalaku hampir meledak…!!,dan menghamburkan semua isinya karena apa yang terjadi padaku belakang ini…,cerita itu…,ucapanmu…,semua diluar nalar akal sehatku dan juga keyakinanku”,ucap Umayah sambil menggaruk garuk kepalanya kemudian menghela nafasnya dalam-dalam
“Percaya,tidak percaya itu adalah hak mu Umayah,tapi inilah kenyataannya”,timpal Khamar dengan tatapan serius
Khamar pun melanjutkan ucapan yang ada dipikirannya itu…
“Tapi rasanya tidak mungkin kami berdua tiba dalam waktu yang bersamaan,aku sudah mencoba menggunakan jurus Telepati tapi tak ada yang menjawab,mungkin karena aku sempat terjebak didalam dimensi tanpa ruang dan waktu,jadi kemungkinan keberadaan aku dan Ra Bali terpisah oleh rentang waktu,dan ada dua kemungkinan…,waktu keberadaan ku jauh lebih awal atau jauh lebih lambat dari masa keberadaan Putraku tersebut”,ujar Khamar dan berhenti sejenak untuk berpikir, lalu melanjutkannya…
“Jika aku datang lebih lambat…?,mungkin…,ya mungkin aku tak akan berada disini…,sebab Santeta tak akan tinggal diam melihat dunia ini baik-baik saja…?,pastinya ia akan terus mencoba membinasakan Planet ini untuk merebut Pusaka Kora sebagai tujuannya”
“Bagaimana jika putramu Ra Bali sudah mengalahkan Santeta?,dan membuat duniaku tak jadi binasa seperti sekarang ini”,ujar Umayah
“Itu mustahil,jika memang benar ia berhasil menghancurkan Santeta maka hancur pula Planet Bumi ini”
“Mengapa bisa seperti itu?”
“Selain sukar dihancurkan…,Santeta kini telah menjadi satu hal yang tak terpisahkan dari Planetmu ini yang juga merupakan wadah dari Pusaka Kora,dengan kata lain Santeta telah menyatu dengan Bumi,kecuali…”
“Kecuali apa?”, “Kecuali Ra Bali melakukan salah satu jurus pamungkas yaitu jurus Ragajagat…,dan itu mustahil dilakukan,sepengetahuanku Ragajagat hanya bisa dilakukan oleh jiwa raga bangsaku yaitu kaum Agan,sedangkan Ra Bali yang mungkin ada di bumi ini hanya jiwanya saja…,karena raganya telah hancur saat melakukan Ragajagat sebelumnya, dengan demikian cuma ada satu kemungkinan yaitu diriku datang lebih awal”,jelas Khamar
“Umayah,di Planetmu ini… apakah ada sesuatu yang bisa menyampaikan pesanku untuk Ra Bali yang ada dimasa mendatang?”tanya Khamar
“Hmmm…maksudmu pesan untuk masa depan?”
“Benar, aku ingin membuat pesan untuk Ra Bali,memberinya peringatan,memberi tahu tentang Santeta dan cara menghadapinya,mungkin dengan memberikan semua pengetahuanku akan membantunya kelak”,terang Khamar
“Memangnya kalau di kerajaanmu mengirim pesan untuk seseorang dimasa depan seperti apa?”,tanya Umayah penasaran
“Di kerajaanku melakukan hal seperti itu bisa dengan wangsit,yaitu jurus yang mengirimkan pesan melalui gelombang energi,lalu gelombang tersebut menyebar keseluruh penjuru kerajaan bagaikan udara,lalu pada saatnya… gelombang yang berisikan pesan tersebut akan terserap kepada orang yang dituju melalui mimpi,namun berbeda dengan di duniamu ini,aku tidak bisa melakukannya”,jawab Khamar menjelaskan
“Waw!,menakjubkan…hal yang tak pernah terbayang dikepalaku sebelumnya. mungkin cara di duniaku untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menulis sebuah buku”,ujar Umayah
“Menulis Buku?”
“Ya!,menulis sebuah buku…, cara itu yang paling memungkinkan dimasa kini.,ya memang harus aku akui, cara tersebut masih sangat primitif,berbeda jauh tertinggal dibandingkan dengan kerajaanmu’
“Apakah Ra Bali dimasa mendatang akan tahu setelah aku menulis buku?”
“Hmmm iya mungkin,semakin banyak yang membaca buku yang kamu tulis semakin banyak pula yang tahu cerita tersebut…,dengan begitu mereka akan membicarakannya dan menyebar luas dari mulut ke mulut,contohnya ada peradaban kuno di bumi ini yang meninggalkan sebuah prasasti atau sebuah cerita yang ditulis disebuah bongkahan batu besar,dan dengan prasasti tersebutlah orang yang hidup dizaman sekarang jadi tahu tentang kisah peradaban tersebut”terang Umayah
“Jadi sebenarnya aku harus menulis di buku atau di batu?”,tanya Khamar dengan polos
“Wekkk!..,ya di bukulah Mar..masa di batu…?,sekarang udah bukan zamannya lagi nulis di batu hufffsss…”,jawab Umayah sambil menepuk jidad
“Ohya kamu tidak apa-apa aku tinggal?”
“Memang kamu mau pergi kemana?”
“Aku harus ke Pondok Tabib”
“Oh…,baiklah kamu pergi saja,aku bisa tinggal sendiri”
Setelah Umayah pergi ke Pondok Tabib untuk menjalani aktifitasnya sebagai seorang perawat,Khamar mulai menulis ceritanya sebagai tujuan memberi pesan wasiat kepada putranya tersebut.
Hari demi hari telah berlalu…, disaat bersamaan dengan Khamar yang sedang menulis bukunya,Umayah juga mengajarkan Khamar beberapa hal yang ada di dunianya terutama hal hal yang ada di Jawabarat hingga beberapa minggu kemudian…
Khamar telah menyelesaikan buku tulisannya tersebut
“Umayah aku sudah menyelesaikannya,sekarang aku harus bagaimana?”
“Hmmm…kamu harus menaruh buku itu disuatu tempat khusus untuk penyimpanan buku-buku bacaan,tempat dimana didatangi banyak orang yang ingin sekedar membaca”
“Apa nama tempat itu?”, “Tempat itu namanya perpustakaan”
“Baiklah,tunggu apa lagi...,antar aku kesana untuk menaruh buku ini”,pinta Khamar
“Hah!,sekarang?”, “Iya sekarang,memangnya kenapa?”
“Kamu tau tidak perpustakaan itu ada dimana?”
“Memangnya dimana?,pasti tidak jauhkan dari sini kan?”
“He’em…memang tidak jauh dari sini,yaaa kira-kira 2 hari untuk sampai sana dengan menggunakan transportasi dan butuh 8 hari jika jalan kaki”,ucap Umayah sambil tepuk jidad
“Wekk!,ternyata jauh ya?!,hehe”,ujar Khamar merasa malu
“Ya begitulah…,perpustakaan tersebut ada di STOVIA yang ada di Batavia setahu aku cuma itu tempat terdekat”
“Stovia..?”, “Ya…,Stovia adalah nama sekolah tenaga medis dan vaksin yang didirikan oleh pemerintahan kolonial Belanda. beberapa tahun yang lalu pamanku pernah membawaku dan menyekolahkanku disana,makanya sekarang aku jadi seorang Perawat”.
Keesokan harinya….
Khamar dan Umayah sedang mempersiapkan bekal dan semua kebutuhan untuk diperjalanan.
“Umayah…,apa kamu benar benar tidak keberatan untuk mengantarkanku?,jika kamu berat hati,kamu tak perlu melakukannya,biar aku saja yang pergi…mungkin aku bisa bertanya tanya kepada warga disepanjang perjalanan”
“Tak sedikit pun aku merasa berat hati,malahan aku sangat senang bisa mengantarmu,karena aku merasa ikut andil dalam menyelamatkan dunia ini”,ujar Umayah bersemangat
“Oh ya…,aku jadi kepikiran tentang ucapanmu tempo hari”,ucap Khamar
“Kamu kepikiran ucapanku?,ucapanku yang mana?”
“Ucapan kamu tentang aksi yang aku lakukan terhadap para Nipong…,bahwa mereka sangat senang serta memberi mereka sebuah harapan”
“Ohh…terus memangnya kenapa?”
“Ya ‘sebuah harapan’ kata itu yang selalu terngiang ngiang dikepalaku,dan sekarang aku sudah membuat keputusan..,kita berangkat ke Batavia dengan berjalan kaki tanpa menggunakan transportasi”
“Apa..?!!,jalan kaki?”
“Betul,aku ingin menikmati setiap langkah perjalanan ini,sekalian melihat situasi perkampungan yang akan kita lewati nanti,apabila ada sesuatu yang tidak beres disana atau penindasan Nipong terhadap para warga, kita lawan mereka…,kita berikan para warga …sebuah harapan”.