
“Oh gitu…bagus deh kalo gitu emang itu kesempatan langka jadi jangan sampai disiasiakan kapan lagi bisa magang di BMKG”,
“Kalau kamu udah dapet tempat magangnya?”tanya Nesya.
“Belum,aku masih bingung mau magang dimana”
“Hmm…kacian…sabar yaaa…mungkin kamu butuh wangsit untuk menentukan tempat magang yang tepat hahahaha”
“Idih..dikata aku ini kuncen apa pake nunggu wangsit segala huuuu”
Setelah lelah mengelilingi area kampus kami berdua pun kembali ke ruang kelas untuk melanjutkan mata pelajaran berikutnya.
[Bumi pukul 16:30, 6 Juni 2016]
“Bee….,mau bareng gak?”,ajakku kepada Nesya untuk pulang bareng.
“Yahhh..aku udah janji sama ….”
“Ningsih…??”,sahutku memotong perkataan Nesya.
“Hehe..kok kamu tau sih?”
“Udah dikasih wangsit tadi..hahaha *hahaha”,aku dan Nesya ngakak bareng.
“Yaudah aku pulang duluan ya…bye….”
Seperti biasa aku nyalain si kancil,panasin sebentar lalu cus….go home,namun perjalanan pulang kali ini adalah perjalanan pulang yang akan menjadi awal cerita kisahku yang bisa dibilang heroik,saat baru beberapa meter keluar dari area kampus,aku mendengar suara teriak…
“Tolong…tolong…”,teriak seperti orang meminta bantuan,mendengar itu aku memberhentikan motorku lalu mencari cari asal suara tersebut,ternyata suara teriakan minta tolong itu berasal dari sepasang burung kutilang yang sangkarnya jatuh tertiup oleh angin….
“Ada apa?,ada yang bisa aku bantu”,tanyaku kepada burung tersebut.
“Tolong…,sarangku terjatuh terhempas angin”,jawab burung kutilang betina
“Oh,baiklah akan aku bantu”,lalu aku mengambil sarang burung yang berisikan 2 butir telur untuk aku taruh kembali di sela-sela ranting pohon”
“Bagaimana kondisi telurku?”Tanya burung kutilang betina.
“Oh begitu…baik kalau begitu silahkan letakkan diranting yang menurutmu kuat”ujar burung kutilang jantan
“Aku taruh disini yah…disini lumayan kuat….,ok selesai…silahkan kamu erami lagi telurmu”
“Terimakasih banyak manusia…,entah apa yang terjadi pada telur kami jika kamu tak menolongku,mungkin aku akan gagal memiliki keturunan,sekali lagi kami berdua mengucapkan banyak terimakasih”ucap tulus burung kutilang jantan
“Iya sama-sama memang sudah seharusnya kita saling membantu sesama makhluk ciptaan tuhan”
“Tapi bagaimana kamu bisa mengerti bahasaku?,iya baru kali ini aku bicara dengan manusia ”Tanya kedua burung kutilang tersebut heran.
“Hmmmm…kebetulan aku punya kemampuan khusus sehingga aku bisa mengerti bahasa kalian,baiklah aku tinggal dulu yah”
Itulah awal kisah heroikku ..eh sebentar…kayaknya ini bukan awal deh….namun ini yang kedua kalinya setelah kisah penyelamatan seorang nenek dari penjambret…hehe maaf lupa, dan dari kejadian tersebutlah aku mulai terbiasa dan tidak canggung lagi untuk berkomunikasi dengan segala jenis hewan. aku pun melanjutkan perjalanan pulang namun lagi lagi saat ditengah perjalanan aku mendengar teriakan minta tolong…
“Tolong…tolong…”,teriak seseorang.
Seperti biasa aku langsung bergegas mencari sumber suara tersebut,ternyata kali ini bukan hanya aku saja yang mendengar suara teriakan itu tapi banyak orang juga mendengarnya,setelah aku dan yang lainnya mencari cari sumber teriak orang minta tolong tersebut tidak lama kemudian diketahui bahwa seorang ibu berada di tepi sungai sedang berusaha menolong anaknya yang terpeleset ke sungai dengan sebatang kayu yang ia sodorkan ke arah sang anak namun kayu tersebut terlalu pendek sehingga anak tersebut tak bisa menggapainya,sang ibu panik karena anaknya tidak bisa berenang dan hampir tenggelam dan hanyut terbawa derasnya arus sungai,mengetahui keadaan itu …entah apa yang terjadi aku yang bisa di bilang tidak mahir dalam berenang tiba-tiba saja memberanikan diri melompat…. #BYURRR aku nyebur ke sungai untuk menyelamatkan anak tersebut…kulihat dia sudah mulai tenggelam,aku yang saat itu menjadi lihai berenang lalu menyelam mencari anak tersebut,Amazing!! saat ku menyelam aku merasa aku bisa bernafas didalam air dan bisa bertahan selama mungkin,dengan gerakan lihai bagaikan ikan akhirnya aku dapat meraih tubuh anak tersebut lantas menariknya ketepian sungai…
“Anakku…bangun nak…bangun”,rintih si ibu sambil menggoyang-goyang tubuh anaknya yang tak sadarkan diri karena terlalu banyak air yang tertelan masuk ke dalam tubuhnya.
Aku pun berusaha membantu dengan menekan kedua tanganku lalu memompa-mompa bagian dada anak tersebut dengan maksud agar air yang ada di dalam tubuhnya bisa keluar,dan seketika aku merasakan air dalam tubuh anak tersebut mungkin kalau di ibaratkan seakan seperti merasakan benda logam saat memegang magnet,merasakan itu…aku mengurut dan menggerakan tanganku dari bagian perut ke arah mulut anak tersebut dan seketika pula air langsung keluar dari mulutnya kemudian dia tersadar,melihat itu sang ibu sangat senang dan langsung memeluk erat anaknya.
“Alhamdulillah ya allah”,lirih si ibu.
“Syukurlah…”,timpalku lalu dengan kondisi basah kuyup aku pergi untuk melanjutkan perjalanan pulang,namun baru saja melangkah si ibu tersebut memanggil…
“Mas..mas,terimakasih banyak telah menolong dan menyelamatkan anakku,entah apa jadinya kalau tadi gak ada Mas”,ucap si ibu
“Owh..iya bu sama-sama”
“Nama Mas nya siapa?”
“Saya Endo Bu” ; “Tinggal dimana?” ; “Saya tinggal di Tumaritis Road Estate”
“Owh Tumaritis…,kalau ibu tinggal disitu tuh,rumah yang warna hijau itu”,ujar ibu tersebut sambil menunjukan rumahnya.