My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Terjebak



Mildtown resort room 999


Tuan muda Nikko sudah menunggu di dalam kamar. Ya, menunggu kedatangan pengawal keluarga Atmadja yang membawa Sarah.


"Malik, kenapa mereka datang begitu lama? Apakah rencanamu gagal? Saya sudah tidak sabar! "


"Tidak, tuan. Rencana saya tidak pernah gagal. Saya memilih kamar ini karena letaknya yang sangat bagus. Selain terletak di pojok koridor, pemandangannya dari atas sini juga sangat menarik. Kamar ini tidak terjangkau kamera cctv. Itulah kelemahan resort ini. Saya telah mempelajarinya selama dua hari ini, tuan muda. "


"Bagus, kau sangat pintar. Saya selalu mengandalkanmu, Malik! "


Klik klik klik.. Ceklekk..


Suara pintu terbuka. Tiga orang pengawal masuk.


"Maaf tuan muda, kami terlambat dari waktu yang telah ditentukan. Itu dikarenakan kami harus mengalihkan perhatian. " Kata salah satu pengawal menjelaskan.


"Apa yang terjadi? " Tanya tuan muda Nikko


"Tuan muda Winarta mencari kekasihnya ini. Kami terpaksa membawa nona Sarah bersembunyi terlebih dahulu. " Jawab Ferry.


"Maksudmu Ginza? " Tanya tuan Malik.


"Ya, tuan. "


"Baiklah, kalian boleh pergi. " Ucap tuan muda Nikko. "Malik, kau berjaga dengan beberapa anak buahmu agak jauh dari kamar ini. Saya tidak ingin orang lain menaruh curiga! "


"Siap, tuan. "


Setelah mereka semua pergi, tuan muda Nikko menatap Sarah dengan penuh gairah. Yaa, gairah tuan muda Nikko begitu sulit dihadapi. Tuan Nikko melepas satu persatu pakaian Sarah. Karena Sarah memakai gaun dengan belahan dada yang rendah, membuat Nikko begitu mudah melepaskannya.


"Aku telah lama menunggumu, Sarah. Kau harus tahu bahwa aku tidak suka menunggu! " Tuan muda Nikko berbicara pada Sarah yang masih belum sadarkan diri akibat pengaruh dari obat bius yang dicampurkan ke dalan minuman itu. "Aku ingin tahu, apakah kau masih bersih atau tidak! Jika kau masih bersih, aku akan menyukaimu. Namun jika sebaliknya, bersiaplah menerima konsekuensinya! "


Di alam bawah sadar, Sarah bermimpi... "Gelap. Sangat gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Dan aku tidak bisa bernafas. Rasanya pengap. Dadaku sesak. Kenapa seluruh tubuhku terasa sakit? Kepalaku masih saja pusing. Aku tidak bisa bergerak. Apa yang berada di atas tubuhku ini? Mengapa begitu berat? Ohh, aku merasa goyah! "


"Mm... "


"Siapa yang mencium bibirku dengan kasar seperti ini? " Sarah setengah sadar bertanya-tanya dalam hatinya. "Bukankah tadi aku masih berada di ballroom dan belum bertemu dengan Ginza? Lalu siapa orang yang bersamaku? Tepatnya yang berada di atasku? Dari aromanya, dia bukanlah Ginza! "


"Meski kau bukan gadis yang bersih, tapi tak apa-apa. Menurutlah kau, Sarah! " Tuan muda Nikko berbisik sambil menjilat telinga Sarah.


"Suara siapakah ini?" Sarah resah.


Sarah berusaha membuka matanya. Meski berat, dia tetap berusaha. Sarahpun mencoba berontak, tapi tidak kuat melawan tenaga yang begitu kuat. "Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang bersamaku. Karena keadaan gelap gulita, aku hanya bisa pasrah. Dia menggenggam kuat kedua tanganku dan menindihku. Aku terlalu lemah untuk melawan! " Gumamnya dalam hati.


"Apa kau sudah sadar? " Tanya tuan muda Nikko. "Jangan mencoba untuk melawanku atau keluargamu akan kuhabisi! " Tuan muda Nikko mengancam Sarah.


"Si.. Siapa.. Siapa kau? Beraninya menyentuhku! " Sarah bertanya dengan ketakutan.


Tuan muda Nikko menahan kedua tangan Sarah dengan kuat ke atas bantal. Tubuh Sarah yang lemah terbaring tanpa mengenakan sehelai benangpun. "Kau memang gadis nakal. Siapa saja yang pernah bersama denganmu? " Tanya tuan muda Nikko mengejeknya.


"Lepaskan! Lepaskan aku! " Sarah berontak tapi sia-sia.


"Menyerah dan menurutlah padaku! Sebab jika tidak, kau takkan bisa bertemu dengan ayah kebanggaanmu lagi! "


Sarahpun kehabisan tenaga dan tertidur. Tuan muda Nikko segera menelepon tuan Malik.


"Ya, tuan. Ada apa? "


"Siapkan satu stel pakaian wanita yang cocok untuk Sarah! " Perintah tuan muda Nikko. "Antarkan besok pagi. "


"Baik, tuan muda. "


Setelah menutup teleponnya, tuan muda Nikko tertidur di samping Sarah sambil memeluknya.


California, Amerika


Villa keluarga Alicia Atmadja


Aku sangat lelah hari ini. Setelah menyelesaikan beberapa tugas sekolah, aku merebahkan diriku di sofa sambil melihat acara berita hari ini di televisi.


"Para pemirsa, malam ini adalah grand opening resort milik keluarga Alexander. Yaitu Mildtown resort. Dimana tuan muda William mendesain, mendirikan dan mengembangkannya dengan kemampuannya sendiri. Mari kita berbincang dengan tuan muda William! " Wartawan itu akan mewawancarai William.


"Selamat malam, tuan muda William! "


"Ya, selamat malam. "


"Bagaimana perasaan anda malam ini? Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa malam ini adalah malam yang sangat spesial untuk anda. "


"Ya, benar. Malam ini saya membagikan kebahagiaan saya untuk kalian semua. Karena resort saya malam ini resmi dibuka. Semoga kalian puas dengan pelayanan yang kami tawarkan. " Tuan muda William menjelaskan kepada para wartawan.


"Kalau kami boleh tahu,apa motivasi anda bisa sesukses ini di usia yang begitu sangat muda? "


"Haa.. Haa.. Motivasi saya adalah untuk selalu ingin menguasai bisnis seperti kakek dan ayah saya. Khususnya bisnis internasional. Namun, resort ini saya persembahkan untuk wanita yang sangat saya cintai. " Mata tuan muda William berbinar dan terpancar harapan besar untuk segera bertemu dengan Alicia.


"Woww, anda begitu romantis, tuan muda. Siapakah gerangan wanita cantik yang beruntung itu? "


"Hmm, akan tiba saatnya bagi kami untuk tampil di depan publik. "


"Huhh, sangat menyebalkan! " Entah perasaan apa yang datang padaku. Aku merasa kesal mendengarkan William bicara seperti itu. "Dia melupakan janjinya padaku. Ya, seharusnya aku tidak percaya begitu saja dan menggantungkan harapanku padanya! " Ucapku.


Aku mematikan televisi dan beranjak pergi ke kamarku untuk tidur. "Besok adalah pameran lukisanku yang pertama di sekolah. Semoga semua orang menyukainya! "


Clover Hills, Indonesia


"Anda telah bekerja keras, tuan. Silahkan beristirahat. "


"Ya, kalian boleh pergi! "


William sangat lelah. Dia segera menyegarkan dirinya dengan air hangat. Setelah selesai, dia berdiri di luar balkon vilanya. Tangannya memegang sebuah rokok favoritnya. Sambil menghisap, dia mulai merasa kesepian.


"Seandainya aku bisa menghentikan waktu saat itu, aku akan memelukmu lebih erat dan lama. Dan takkan kubiarkan Leo merebutmu dariku, Alicia! " Tuan muda William memejamkan matanya. Menahan rasa sedih dan air mata yang akan jatuh. Hatinya sakit mengingat kejadian di pesta itu.


"Al, aku berharap kau melihat berita tentang diriku. Aku ingin kau tahu, bahwa wanita cantik yang spesial itu adalah dirimu! "


Tuan muda William menghembuskan asap rokoknya. Menarik nafas dalam-dalam dan mulai mengatur otaknya agar tersinkron dengan keadaan. Dia melihat ke sekitarnya. "Sungguh besar vilaku jika hanya aku sendiri yang tinggal. Sangat menyenangkan memiliki beberapa anak dari rahimmu, Al! Setelah aku lulus, aku akan sukses dan menyusulmu ke sana! Jagalah hatimu, Al! " Tuan muda William berbicara pada dirinya sendiri. Dia yakin, bahwa Tuhan merestuinya bersama Alicia. Hanya butuh beberapa langkah lagi hingga aku menyelesaikan sekolahku.


Kediaman keluarga Anan Hermadi


"Ra, bagaimana keseruan acara grand opening resort milik William? " Erisa bertanya.


"Wahh, acaranya sangat menarik. "


"Bagaimana dengan Ginza? "


"Ris, rencanaku gagal. Ginza tidak bertemu dengan Sarah. Entah kemana perginya Sarah. Dan Ginza tetap bersamaku sampai akhir acara. "


"Oh, ya? Tenang saja, Ra. Suatu saat kau pasti akan mendapatkan kesempatan lagi untuk menjebak Ginza! " Erisa menenangkan Clara. "Inget Ra, slowly but sure! "


"Terimakasih, Ris. Kau selalu menenangkan hatiku! "


Setelah mereka berbincang di saluran telepon, Erisa menutup teleponnya.


"Sungguh, aku merasa kesepian tanpa Alicia. Kuharap, dia selalu baik-baik saja. " Erisa membuka notebooknya. Dia akan mencoba mengirimkan email lagi ke Alicia. "Semoga kali ini berhasil." Erisa berharap dalam hatinya.


Mildtown resort room 999


Cahaya matahari pagi yang hangat masuk melalui jendela, menyilaukan mata Sarah. Dia telah tersadar dengan keadaan selimut menutupi tubuhnya. Sarah menarik selimut itu. Membukanya dan dia mendapatkan dirinya tidak memakai apapun. "Ahhh, tangan siapa ini?" Tanyanya dalam hati. Sebuah tangan memegang erat pinggangku.


"Selamat pagi, nona Sarah. Apakah tidurmu nyenyak? "


"Haahhh.. " Sarah menutup mulutnya. "Siapa kau? "


"Kau tidak mengenalku? Tak apalah. Meski aku sangat tersinggung. Tapi ayahmu sangat mengenalku! "


"Kau adalah tuan muda yang menyuruh pelayan mengantarkanku segelas minuman. Apakah dugaanku benar? "


Tuan muda Nikko bangun, dan berada di atas Sarah. Sambil menekankan tangannya, dia mengangkat dagu Sarah dan mencium bibirnya.


"Bibirmu masih terasa manis meski telah berkali-kali kucium! Sama seperti kenangan manis yang kita lakukan semalam. Bukan begitu, tuan putri Sarah Dharmasetya? "


"Dengarkan baik-baik! " Suara tuan muda Nikko tampak menusuk hati Sarah. Sangat kasar. Dengan tatapan tajam, tuan muda Nikko berkata "aku adalah tuan muda keluarga Atmadja! Ingatlah aku jika lain waktu kita bertemu lagi! "


"Tuan muda Atmadja? Lalu apa hubunganmu dengan Alicia? "


"Kau mengenal Alicia rupanya! Oh, ya.. Kalau aku tidak salah ingat, kau adalah teman sekelasnya kan? " Tuan muda Nikko bangun dari tempat tidurnya dan segera mandi.


"Alicia? Apakah dia kakaknya Alicia? Setahuku, Alicia tidak memiliki seorang kakak laki-laki. " Sarah berpikir keras mengingat tentang Alicia. "Duuh, kepalaku masih terasa pusing. Yaa ampuun, pakaianku.."


Sarah memungut pakaiannya yang sobek berserakan di lantai. Diapun mencari ponselnya. Sambil mencari, dia menemukan sebuah foto yang tergeletak di meja samping tempat tidur. "Foto siapakah ini? Apakah gadis kecil ini adalah Alicia? Dan apakah anak laki-laki kecil ini adalah pria kasar yang aneh itu?" Lagi-lagi Sarah memikirkan sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Dimanakah ponselku? Hahh, tubuhku! Ohh tidaaakk! Bagaimana caraku nanti menjelaskan pada Ginza saat dia melihat bekas merah-merah ini? " Sarah membenci dirinya sendiri yang percaya begitu saja pada orang asing. "Aku terlalu terpesona pada pandangan pertama tuan muda keluarga Atmadja ini. Aku sangat takut jika ayah tahu! "


Brakkk.. Pintu kamar mandi terbuka. Tuan muda Nikko keluar dengan masih mengenakan handuknya.


"Apa yang kau lakukan? " Tuan muda Nikko bertanya dengan nada emosi. "Ini tempatku. Jangan berbuat macam-macam! "


"Aku hanya mencari ponselku. Dan juga kenapa kau merobek bajuku? "


Klik kliik kliiikkk.. Suara pintu kamar terbuka. Tuan Malik masuk membawakan baju wanita yang diminta oleh tuan muda Nikko.


"Maaf, tuan muda. Saya mengantar pesanan anda. "


"Berikanlah ke wanita rendahan ini! " Tuan muda Nikko menunjuk Sarah dengan marah.


"Apa ada hal lain lagi, tuan? "


"Mengenai rencana awal kita, bawakan segera jasad tuan Daya Dharmasetya setelah makan siang ini! "


"Apa maksudmu, tuan muda Atmadja? " Sarah berteriak pada Nikko.


"Pelankan suaramu, nona! Tuan muda Nikko tidak suka gadis yang kasar! "


"Oh, jadi nama tuanmu adalah Nikko. Kau adalah kakak dari Nikky kan?" Tanya Sarah. "Aku berteman dekat dengan Nikky. Kami juga merupakan teman sekelas. Kau pasti tahu itu. Dan mengenai ayahku, apa yang akan kau lakukan padanya? "


"Malik, kau pergilah dulu. Saya akan membereskan wanita ini terlebih dahulu! "


"Baik, tuan. "


Tuan Malik bergegas jalan ke luar kamar. Dengan cepat tuan muda Nikko melemparkan sebuah dokumen ke arah Sarah!


"Kau sudah tahu siapa aku, bukan? Bawalah itu dan suruh ayahmu menandatangani dokumennya. Jika tidak, ayahmu akan dalam bahaya. Dan jangan lupa, aku memiliki chip yang berisi video antara kau dan aku semalam. Kau tidak ingin kehilangan muka di depan publik, bukan? "


"Apakah tuan muda keluarga Atmadja akan merusak reputasi keluarganya sendiri? Aku tidak pernah takut dengan ancaman apapun! "


"Kau menantangku? " Tanya tuan muda Nikko dengan emosi. "Baiklah, akan kubuktikan kata-kataku! "


Tuan muda Nikko meraih ponselnya dari laci lemari dan segera menelepon Malik.


Tuutt.. Tuuuttt..


"Ya tuan muda, ada apa? "


"Bergerak sekarang! Bawa Gubernur dalam keadaan hidup! Kirim tiga orang ke kamar untuk membawa Sarah menuju lokasi! "


"Siap, tuan. "


Sambungan telepon terputus dan tuan muda Nikko menyuruh Sarah agar tidak menyesal.


"Cepat pakai bajumu dan ikut aku menemui ayahmu! Aku ingin melihat drama antara ayah dan anak gadisnya! " Tuan muda Nikko selesai memakai bajunya dan menyuruh Sarah untuk memakai baju yang baru dibawakan oleh tuan Malik.


"Sebaiknya kau jangan menyesal! Dan jangan pernah menemui adikku lagi! " Ancam tuan muda Nikko.


Jalan Darmaga raya


"Tuan, kemanakah kita akan pergi? Hari masih siang, tapi mengapa kau terburu-buru? " Tanya Helena sekretaris tuan Daya Dharmasetya.


"Tidak apa-apa! Kau kembalilah ke kantor lebih dulu. Aku ada urusan mendadak. "


"Baik, tuan. Hubungi aku jika anda memerlukan bantuan. "


Brakk. Nona Helena turun dari mobil pak Daya Dharmasetya dan memanggil taksi untuk mengantarkannya kembali ke kantor Gubernur.


Setelah menurunkan nona Selina di pinggir jalan raya Darmaga, pak Daya segera melaju dengan cepat menuju gedung tua bekas pabrik tembako di pinggir kota.


Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam perjalanan, akhirnya beliau sampai di tempat tujuan.


Ciiittt. Suara ban mobil berdecit berhenti di parkiran. Beliau keluar dan seseorang menghampirinya.


"Selamat datang, tuan Gubernur. Ini adalah kawasan kekuasaan kami. Silahkan angkat kedua tangan bapak untuk menjalankan prosedur pemeriksaan! " Anak buah tuan muda Nikko sangat teliti memeriksa pak Gubernur. "Silahkan bapak ikuti saya! Sebaiknya anda patuh jika ingin nyawa anak anda selamat!"


Flashback


Semalam, Nikko mengirimkan beberapa foto Sarah ke nomor pribadi pak Daya. Di foto itu Sarah tidak mengenakan apapun melainkan hanya ditutupi dengan selimut. Lalu tuan muda Nikko menekan beliau dengan ancaman akan membunuh Sarah jika beliau tidak datang hari ini ke lokasi yang telah ditentukan. Dan hanya perlu pergi sendirian. Karena khawatir akan keselamatan sang putri, akhirnya pak Daya mengikuti arahan Nikko.


Pak Daya terus berjalan mengikuti anak buah Nikko. Setelah masuk dari halaman belakang, mereka berjalan melewati sebuah sumur tua. Lalu belok kanan dan menuruni tangga ke lantai dasar dengan lampu remang-remang. Setelah melewati beberapa ruangan, sampailah pak Daya di ruangan paling belakang.


"Tuan, pak Gubernur sudah datang! " Kata Angga, anak buah tuan muda Nikko.


"Ohh, silahkan masuk bapak Gubernur yang terhormat! " Tuan muda Nikko menyapa Gubernur dengan disertai senyum liciknya.


"Tidak perlu basa basi! Dimanakah anakku? " Jawab pak Daya Dharmasetya.


"Haaa.. Haaa.. Lama tidak berjumpa. Tidak maukah anda duduk bersamaku sebentar? "


Pak Daya mengerutkan alisnya, "Cepattt katakan, dimana anakku? "


Plok plokk plokkk.. Nikko menepuk tangannya memberikan kode kepada anak buahnya.


"Ayaaaahhh...!! " Teriak Sarah.


"Pegang dia! Jangan biarkan dia lari ke arah pak Daya! " Tuan muda Nikko memberi peringatan.


"Ya tuan muda! "


"Mari kita buat kesepakatan. " Tuan muda Nikko membuka suara untuk mencairkan suasana. "Pertama-tama, pak gubernur harus membantu saya membebaskan lahan yang dimiliki oleh orang-orang yang berada di pihak lawan yaitu keluarga tuan Adit. "


"Kau mau melawan keluargamu sendiri?" Tanya Pak Daya


"Kau tidak bersedia?"tanya tuan muda Nikko. "Kau lebih rela kehilangan putrimu kah? "


"Oke oke!"


"Yang kedua, aku rasa kau tidak mendidik anakmu dengan baik! " Tuan muda Nikko menunjuk Sarah dengan kasar.


"Apa maksudmu? "


"Apakah kau sudah tahu bahwa anakmu tidak bersih? "


"Kau jangan memfitnah anakku! " Tuan Gubernur berteriak.


"Kau bisa menanyakan sendiri pada anakmu! "


Pak Daya memandangi putrinya dengan cemas. Beliau terlihat tidak mampu menahan rasa sakit karena penghinaan yang dilontarkan oleh tuan muda Nikko.


"Saya paling benci gadis yang tidak bersih. Tapi saya suka cara Sarah. Dia membuat saya puas berkali-kali. Meski saya tidak tahu berapa banyak laki-laki yang telah bersama dengannya! Tapi satu hal, saya ingin kau segera putus dengan Ginza dan menjadi wanita simpanan saya! "


"Tidaaakkk!! Ayah, aku tidak akan mau! "


"Keputusan ada padamu, Sarah. Bangkrut atau tidaknya perusahaan ayahmu, ada di tanganmu." Tuan muda Nikko memberi option pada Sarah.


"Hmm, dan yang ketiga saya ingin anda mempersulit izin untuk keluarga tuan Adit Atmadja! "


Tuan Malik segera memberikan kertas kontrak perjanjian tertulis antara pak Daya dan Nikko.


"Silahkan anda tandatangan di bawah ini dan cantumkan nama jelas anda! "


Urusan pak Daya dengan tuan muda Nikko akhirnya selesai. Pak Daya pergi meninggalkan ruangan. Dan mulai saat ini, Sarah menjadi wanita simpanan tuan muda Nikko dan tinggal bersama di apartemennya.