
Alicia Aurora Atmadja adalah namaku. Aku anak satu-satunya keluarga Atmadja. Ibuku adalah Alifah Putri Rahardjo, dan ayahku adalah Raden Aditya Atmadja. Ibu memberi nama yang indah ini karena ibu sangat suka dengan aurora borealis di Kanada. Aku memiliki tinggi 170cm, dengan kulit putih, rambut cokelat yang pendek, mata yang bulat, hidung mancung seperti ayah adalah andalanku. Aku tidak suka berdandan, dan hobiku melukis. Aku sering bergaul dengan laki-laki karena kupikir lebih mudah bergaul dengan laki-laki dibanding perempuan. Aku murid sekolah tinggi swasta di ibukota. Yaitu high scope global school. Sekolah dengan penghuni anak-anak keluarga kaya dan anak pejabat pemerintahan. Yaa tahun ini aku kelas XI. Setelah liburan semester yang panjang, aku bersemangat untuk kembali ke sekolah.
Aku duduk sambil mendengarkan lagu kesukaanku di dalam kelas memakai earphone lalu tiba-tiba..
"Alicia..! " clara memanggilku dan menepak pundakku membuyarkan lamunan tentang Ginza. Cowok populer di kelas.
"Iyaaa. Kenapa kamu baru datang, ra? " Tanyaku penasaran.
"Yaa, kamu tahu kan.. Ibukota identik dengan macet dan aku sering terlambat karena rambut panjangku yang bergelombang harus ditata rapih. Aku malu kalau nanti bertemu Ginza".
Clara Shinta Wibowo sangat cantik dengan rambut hitam panjang bergelombang, alis yang rapih, bulu mata yang panjang dan pipi merona. Tingginya sekitar 160cm.
"Whaaat?? " sambil teriak dan melotot aku bertanya, "Apa hubungan kamu dan Ginza sampai kamu begitu terobsesi dengannya ? "
"Alicia sayang, perempuan mana yang tidak tertarik dengan wajah Ginza yang ganteng?? " Celoteh Clara.
"Hai sayang, kamu sudah datang daritadi ya? " Ginza duduk di sebelah clara. Mereka tampak begitu mesra dan Clara merangkul manja.
"Al, maaf ya. Kamu pasti terkejut? Kami sudah jadian. Semalam, tepatnya di club house pelangi tempat favorit kita. Ginza menyatakan perasaannya dan aku tidak menyangka. Aku sangat senang, Al! " Dengan mata berbinar penuh semangat Clara menjelaskan padaku.
"Congrats ya, untuk kalian berdua. Semoga bahagia selalu! " jawabku
Dddaaaaadddaaa diiiiiidiiii duuuuu.. Suara bel masuk. Kelaspun dibuka dengan materi awal matematika. Clara dan Ginza bergegas duduk berdampingan. Hufttt, lagi-lagi aku kalah cepat dengan Clara. Dia adalah salah satu sahabat terbaikku, selain Erisa. Meskipun aku patah hati, aku senang melihat Clara tersenyum bahagia.
Kreeekk kreekkk.. Handphoneku bergetar sesaat karena menerima pesan.
"Anakku sayang, pulang sekolah nanti ibu tidak ada di rumah ya. Kamu setelah sekolah langsung pulang. Hati-hati di jalan. I love you" Itulah isi pesan ibuku. Hufftt.. "
"Sendirian lagi di rumah! " pikirku
Setelah bel istirahat berbunyi. Aku menoleh pada bangku kosong di sebelahku. Itu adalah tempat duduk Erisa. Lalu aku dan Clara langsung beranjak ke kantin yang terletak di lantai paling bawah. Di sudut koridor bawah dekat ruang dewan sekolah ada papan pengumuman dari organisasi sekolah.
"Ra, kita lihat papan pengumuman yuuk! "
"Tapi sebentar saja ya. Perutku sudah lapar niih, Al.. " Akhirnya kamipun menuju ke sana. Dan..
***PENGUMUMAN PEMENANG KOMPETISI MENGGAMBAR TAHUN INI:
ERISA AYUWARDHANI
DEVIAN SYAHPUTRI
ANITA CHAIRUNNISA
PUTRA WICAKSANA
ANGGUN DEWI
SELAMAT KEPADA PEMENANG. SEGERA HUBUNGI PIHAK OSIS UNTUK HADIAHNYA. TERIMAKASIH. SALAM OSIS*
"Wow, Erisa juara 1" Teriak kami berdua.
Kami sangat senang karena Erisa adalah sahabat kami yang sangat ingin menjadi salah satu staf majalah sekolah bagian design gambar.
"Setelah makan, kita cari Erisa yu, Al? " Ajak Clara.
Ddaaaaaaa dddiiiiiiidiiiiii duuuuu..
Setelah berlari dari kantin menuju ruang kelas di lantai tiga, akhirnya aku dan Clara sampai di dalam kelas.
"Ra, kamu sama Ginza ada hubungan apa?" tanya Sarah dengan nada tidak suka.
"Aku dan Ginza adalah sepasang kekasih. Kami saling suka dan peduli satu sama lain" jawab Clara
"Kamu yakin, Ra? " tanya Reggina tidak percaya.
Reggina adalah sepupunya Sarah. Mereka selalu bersama dari kecil.
"Kalau kamu yakin Ginza peduli sama kamu, seharusnya Ginza juga peduli sama perasaan kamu."
"K.. Kamuu.. Apa.. " belum selesai bicara, Ginza dan pak guru Harry sudah datang. Dan dengan senyum manis memikat Ginza, akhirnya Clarapun menjadi tenang.
Kelaspun berakhir. Clara dan Ginza pulang bersama dan aku masih duduk menunggu Erisa datang. Karena Erisa sekarang menjadi staf redaksi majalah sekolah, iapun sangat sibuk. Jarang ada waktu untuk berkumpul.
"Alicia Aurora.. " sapa Erisa
"Eris, aku kangen" kami berpelukan.
"Aku juga sayang. Kemana Clara? "
"Clara pulang duluan sama Ginza. Selamat yaa untuk kemenangan kamu juara satu lomba menggambar"
"Terima kasih, Al. Tapi, kenapa kamu terlihat sedih? " tanya erisa.
Erisa adalah teman masa kecilku hingga sekarang. Dia paling pengertian dan juga tahu keadaan keluargaku. Erisa gadis yang kukagumi. Dengan wibawanya yang tenang, lembut, cantik, memiliki wajah yang manis, rambut sebahu yang tebal dan bibir yang tipis. Aku menganggap dia seperti saudariku.
"Eris, ibuku lagi-lagi pergi entah kemana. Ayahku pergi mengurus bisnis keluarga ke jepang untuk waktu yang lama. Dan aku sangat kesepian. Aku merasa seperti anak yang dibuang. Mereka tidak peduli padaku. Apakah memang mereka tidak menginginkan aku lagi? " akhirnya air mata mengalir juga membasahi pipiku.
"Sabar, Al. Kamu masih punya aku dan Clara. Kami selalu ada untukmu. Dan kalau kamu merasa sepi, kamu bisa menginap di rumahku. "
"kamu serius, ris? "
"iya, ayo kita pulang ke rumahku tapi kamu janji ya jangan sedih lagi. "
Kamipun pulang ke rumah Erisa yang memang rumahnya sangat sederhana namun penuh dengan kehangatan, penuh cinta ayah dan ibu, juga penuh canda tawa yang aku inginkan. Aku merasa diterima dikeluarga Erisa. Ayah, ibu dan adik laki-lakinya sangat menyayangiku seperti keluarga mereka sendiri. Tidak membedakan antara anak yang satu dengan yang lain.
"Om dan tante, terimakasih ya sudah menerimaku di rumah ini. Terimakasih atas kebaikan keluarga kalian" dengan nada sendu, aku mengucapkan rasa terimakasihku yang tulus kepada mereka.
"Jangan sungkan, Al. Karena kami berhutang budi pada keluarga Atmadja di masa lalu. Saat ibuku memerlukan perawatan medis yang lengkap, ayahmu dengan sigap menolong kami keluar dari zona bahaya" pak Anan ayahnya Erisa menjelaskan dengan detil. Sedangkan bu Hartanti adalah ibunya Erisa. Beliau sangat sedih mengenang masa lalu yang kelam itu. Meskipun nyawa sang nenek tidak tertolong akibat kelurangan darah dan golongan darah yang langka tentu sulit didapatkan.
"Sampai kapanpun kamu selalu kami terima di rumah ini. Dan kamu sudah dianggap seperti anak kandung kami sendiri. Bukankah seperti itu, bu? " tanya pak Anan kepada bu Hartanti.
"Betul pak. Sedetikpun, kita tidak akan pernah melupakan kebaikan pak raden" jawab bu Hartanti.
Setelah makan malam selesai, kami mengobrol di kamar Erisa. Kamarnya jauh dari kesan mewah. Namun, aku betah berada di kamar ini. Yaa Tuhan, terimakasih telah mengirimkan Erisa padaku..
Kreeekkk kreekkk..
Suara pesan di handphoneku bergetar lagi dan lagi. Ibuku yang mengirimkan pesan untuk segera pulang karena malam sudah sangat larut. Aku tidak membalas pesannya karena masih kesal dan bersiap untuk tidur.