My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
PANTAI



Jakarta, Indonesia


Kediaman keluarga Clara


Setelah merampungkan tugasnya di Malibu, Sean membawa pulang Clara ke Indonesia.


"Ra, kita sudah sampai. "


"Ya. Terimakasih telah mengantarkan aku pulang. "


"Hal seperti ini sudah seharusnya kulakukan untuk pacarku! " Sean tersenyum jahil ke arahnya.


"Huh! " Clara mendengus kesal.


Clara berjalan masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Sean.


"Tolong bawa semua barang nona Clara ke kamarnya dan rapihkan! " Perintah Pak Randi.


"Baik, tuan. " Jawab seorang pelayan.


Clara duduk melepaskan mantel yang ia kenakan.


"Sini aku bantu! " Sean menawarkan diri untuk membantu Clara.


"Tidak usah! " Jawabnya ketus.


"Haha, kau sungguh lucu jika sedang marah. " Lagi dan lagi, Sean menggoda Clara.


Meskipun sudah berkali-kali Clara menanggapi Sean dengan jutek, namun Sean sama sekali tidak pernah memasukan kata-kata kasar Clara ke dalam hatinya dan bahkan karena sikap juteknya itulah yang membuat Sean sangat menyukai gadis itu.


Naomi sejak tadi berdiri mematung melihat-lihat kediaman Clara yang sangat besar seperti istana raja.


"Wow! Rumah ini sangat besar dan indah! " Naomi berkata dengan pelan.


"Apakah kau takut tersesat di rumah sebesar ini? " Tanya seorang pelayan wanita paruh baya.


"Oh? Maaf. Saya hanya tidak pernah memasuki rumah semewah ini. "


"Saya adalah kepala pelayan. Panggil saya Greta. "


"Halo kepala pelayan Greta! " Naomi membungkuk memberi salam. "Saya adalah Naomi. "


Sean berjalan menghampiri mereka yang sedang berbincang.


"Kau disini rupanya? " Sean memandang Naomi.


"Ya. Ada apa, tuan? " Tanya Naomi.


"Saya sedang menjelaskan peraturan di rumah ini, tuan! " Jelas Greta.


"Oh? Saya ingin memberitahumu, bahwa Naomi ini adalah pelayan saya yang khusus saya pekerjakan untuk melayani nona Clara. " Sean menatap tajam ke arah Greta. "Apakah kau mengerti bahwa Naomi bekerja di bawah perintahku bukan perintahmu? "


"Baik, tuan. " Greta segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Tuan, apakah ini pertanda baik? "


"Tenang saja. Kau harus terus berada di sisi Clara! "


"Ya, tuan. "


"Sekarang ikut saya! "


Naomi berjalan di belakang Sean. Mereka menghampiri pak Randi yang sedang berada bersama Clara di ruang tengah.


"Pak Randi? " Sapa Sean. "Saya ingin berbicara sebentar! "


"Silahkan, tuan. "


"Ra, kamu tidak keberatan kan jika Naomi tinggal bersama denganmu di sini? " Tanya Sean. "Hanya dia yang tahu tentang kondisimu. "


"Maaf, nona. Saya pikir, tuan Sean benar! Anda butuh seseorang untuk selalu menemani anda. " Pak Randi setuju dengan perkataan Sean.


"Baiklah, biarkan dia tinggal bersamaku! Panggilkan Greta ke sini! "


"Baik, nona. " Jawab pak Randi.


Pak Randi segera pergi ke belakang untuk mencari Greta.


"Terimakasih, nona. " Ujar Naomi.


"Kelak, kau akan terus ikut denganku kemanapun aku pergi. " Ucap Clara.


"Baik, nona. "


"Ra, Naomi ini menguasai tiga bahasa dunia, selain bahasa Inggris tentunya. Yaitu bahasa mandarin, bahasa Indonesia, dan bahasa Jerman. "


"Benarkah? Ternyata kau sangat pintar! " Puji Clara dengan mata berbinar.


Naomi yang tersipu malu berkata, "Terimakasih atas pujian nona. Saya masih harus banyak belajar agar tidak membuat nona malu. "


"Haha, bukan aku. Tapi lakukanlah semua ini untuk dirimu! "


"Hah? Apa ini? Benar seperti yang tuan Sean katakan, bahwa nona Clara sangat baik hati dan rendah diri. " Naomi terkagum dengan sifat Clara. "Nona? "


"Ya, ada apa? "


"Saya sangat mengagumi anda! "


"Haha, terimakasih Noami. "


Sean tersenyum mendengar kekaguman Naomi pada Clara. "Aku tahu kau berhati malaikat, Ra! " Ucapnya dalam hati.


Tap tap tap. Suara langkah kaki yang sepertinya milik pak Randi dan Greta.


"Salam, nona. Apakah anda mencari saya? "


"Ya, saya ingin memperkenalkan.. " Clara bagkit dari duduknya dan menunjuk Naomi yang berdiri di depannya. "Dia adalah Naomi. Sama seperti kalian, tolong perlakukan dia dengan baik. Selain sebagai pelayan pribadiku, dia juga seorang tamu di sini. Karena mengingat bahwa dia adalah pelayan yang Sean bawakan untukku! "


"Saya mengerti, nona! "


"Kalau begitu ajak dia berkenalan dengan Handerson dan para pelayan lainnya. Juga siapkan makan malam untuknya! "


"Ya, nona. Kami permisi. "


Belum sempat melangkah Clara kembali memanggil Greta.


"Oh iya, Greta! "


"Ada apa, nona? "


"Siapkan kamar untuk Naomi. Letak kamarnya jangan terlalu jauh dariku! "


"Baik. "


Mereka berdua kembali berjalan menuju ke arah belakang.


"Apakah kau berasal dari Amerika? " Tanya Greta pada Naomi.


"Benar, nyonya. " Jawab Naomi.


"Tidak! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Cukup panggil namaku saja! "


"Tapi.. Tapi..?? "


"Semua pelayan yang berada di sini juga memanggilku seperti itu! "


"Benarkah? Saya takut terlihat tidak sopan. "


"Benar, itu sudah menjadi kebiasaan kami. "


Sampailah mereka di sebuah kamar. Dindingnya berwarna pastel dengan tempat tidur berukuran single dan lemari baju dengan tiga pintu berwarna senada dengan tempat tidurnya.


"Wow! "


"Apakah kau puas dengan kamar ini? "


"Ya, sangat puas! "


"Kalau begitu kau bisa tinggal di kamar ini! "


"Saya tidak pernah memiliki kamar sebesar ini, nyonya! "


"Haha, kau memanggil saya seperti itu lagi! "


"Oups! " Naomi menutup mulutnya spontan. "Maaf, saya hanya belum terbiasa. "


"Ya sudah. Mulai saat ini, kau harus terbiasa memanggilku dengan nama saja. Oke? "


"Baik, nyonya.. Ehhh Greta! " Wajah Naomi merah merona menahan malu.


"Kau bereskan barangmu dulu. Setelah itu, pergilah cari saya di ruang belakang untuk bertemu dengan Handerson. "


"Baik, nyonya! "


Greta meninggalkan Naomi sendirian di kamarnya. Dan Naomi sibuk membereskan semua barang yang dia bawa.


Clara, Sean dan Pak Randi masih mengobrol di ruang tengah.


"Apakah kau akan menghadiri rapat pemegang saham itu, Sean? " Tanya Clara khawatir.


"Benar!" Sean menjawab dengan datar lalu mengalihkan pandangan ke pak Randi, "Saya harap pak Randi bisa menjaga Clara dengan baik selama rapat berlangsung karena menurut pantauan dari mata-mata pihak kita, keadaan keluarga Atmadja tidak stabil dan Nikko akan menjadi liar jika keinginannya tidak terpenuhi! "


"Ya? Begitukah sifatnya? " Tanya Clara heran.


"Benar. Kita harus waspada dan jangan terjerumus dengan beribu-ribu tipuan miliknya. "


Mereka terdiam. "Apakah situasinya begitu parah? " Akhirnya Clara angkat bicara.


"Saya hanya berjaga-jaga. Dia pasti membalaskan dendamnya setelah apa yang kita lakukan terhadap Dido! "


"Anda benar, tuan Sean. Menurut sifat yang dimiliki oleh tuan Nikko, dia tidak akan berdiam diri setelah mengetahui salah satu anak buahnya mati di tangan kita, meskipun kita tidak membunuhnya tapi dia mati di tempat kita! " Pak Randi mengutarakan opininya.


"Oh, oke. Cukup sampai di sini pembahasannya. Saya ingin istirahat di kamar. " Clara akhirnya kelelahan.


"Baiklah, nona. " Jawab pak Randi.


"Ayo, kuantar kau ke kamar! " Ajak Sean.


Tangan Sean menangkap kedua tangan Clara yang hampir terjatuh.


"Ups! " Dengan cepat Clara berpegangan pada Sean.


"Apakah kau baik-baik saja? "


"Ya! " Sahutnya.


"Ayo kupapah kau berjalan ke kamar! "


"Tidak usah! "


"Oh, mungkin kau ingin kugendong! "


Tanpa meminta jawaban dari Clara, Sean langsung menggendong Clara di dadanya.


"Apa-apaan kau? " Clara membentaknya.


"Pegangan erat atau kau akan terjatuh! "


"Turunkan aku! Kau membuatku malu! " Teriak Clara yang disambut senyum dari para pelayannya.


"Maaf ya, kalian harus melihat nona kalian yang sedang bermanja-manja padaku! " Sean berkata pada semua pelayan yang sedang memperhatikan mereka.


"Tuan muda, berbaik hatilah anda pada nona kami! "


"Nona, sepertinya tuan Sean sangat mencintai anda! "


Para pelayan itu mencoba menggoda Clara dan Sean.


"Heiiii kauuu! " Clara menunjuk salah satu pelayan yang menggodanya itu. "Apakah kau tidak menginginkan gajimu bulan ini? "


"Ampuuun, nona! " Pelayan itu membungkukkan badannya.


"Saya akan memotong gaji kalian semua bulan ini! " Teriak Clara.


"Sebaiknya kalian pergi. Jangan tersinggung dengan ucapan nona kalian. Dia sedang menutupi rasa malunya! Haha.. " Sean tertawa.


"Kau benar-benar membuatku malu! " Clara memukul bahu Sean.


"Aduh! " Sean mengeluh kesakitan. "Kita berdua bisa terjatuh jika kau tidak berhenti memukulku! "


Clara terdiam dan menatap Sean dengan dingin.


"Tunjukan padaku, dimana letak kamarmu! "


"Huh! Setelah sampai di atas, belok ke sebelah kiri dan ruangan pertama itulah kamar tidurku! "


"Oke, gadis manjaku! "


"Bukankah jalanmu sangat cepat? Mengapa sekarang kau berjalan lama sekali hanya menaiki beberapa anak tangga! "


"Heiiii! Kau memang terlihat imut tapi setelah kugendong, kau lebih berat dari yang kubayangkan! " Keluh Sean.


"Aku tidak memintamu untuk menggendongku! "


"Ya, benar. Akulah yang ingin menggendongmu dan itu karena kau adalah pacarku! "


"Berhenti menyebutku seorang pacar! "


"Oh, Baiklah kau bukan pacarku tapi kau adalah tunanganku! Ingat itu! "


"Seaaaannnn! " Teriak Clara.


"Tidak perlu berteriak. Jarak antara kita sangat dekat, untuk apa kau berteriak sekencang itu! "


Kediaman Tuan Adit


Tuan Adit duduk terdiam di ruang kerjanya. Beliau sedang melihat-lihat album foto keluarga. Di album itu terdapat foto masa kecil Alicia dan juga Nikko.


"Hufttt.. " Tuan Adit menarik nafas panjang dan memijit ringan dahinya. "Apa yang harus kulakukan? " Beliau bertanya pada dirinya sendiri.


Tok tok tok. Pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang.


"Tuan? " Suara paman Kenan terdengar.


"Masuklah! "


Ceklek. Pintu itu terbuka. Munculah sosok paman Kenan.


"Apakah kehadiran saya mengganggu anda, tuan? "


"Tidak, masuklah! "


Paman Kenan masuk dan segera menutup pintu.


"Apa yang sedang anda lakukan, tuan? Semua sudah siap. Mengapa anda belum berangkat juga ke rapat pemegang saham? "


"Ya, sebentar lagi. " Jawabnya sambil membolak-balikan album foto tersebut. "Saya merindukan mereka. Lebih tepatnya, saya merindukan saat-saat dimana mereka masih kecil dan belum mengerti kejamnya dunia ini! "


"Apakah anda membenci Nikko dengan apa yang telah dia lakukan kepada keluarga anda, tuan? "


"Tidak! "


Tuan Adit mengepalkan kedua tangannya dan menatap paman Kenan, "Yoga telah mendidik dengan cara yang salah dan Nikko terjerumus ke dalam jalan yang salah pula! "


"Saya tahu itu, tuan. "


"Apakah kau sudah menghubungi pengacara keluarga? "


"Sudah. Beliau sudah siap! "


"Bagus. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan jika saya berada di ujung jalan?"


"Ya, tuan. Saya berharap anda berhasil melalui semuanya! "


"Ya, sayapun berharap demikian. " Tuan Adit kembali menatap paman Kenan. "Kau sudah setia pada keluarga ini bertahun-tahun dan kau pasti tahu perasaan saya saat ini! "


Dengan mata berkaca-kaca, tuan Adit tidak bisa mengungkapkan isi hatinya dengan mudah.


"Tuan, ingatlah! Tuhan akan selalu bersama anda. Dan mohon ingat nona menunggu anda untuk menjemputnya! "


Air mata tuan Adit akhirnya terjatuh. Beliau menangis dengan terisak. Dadanya penuh dengan emosi yang selama ini selalu ditutupinya dengan rapat.


"Demi Tuhan, saya akan menukarkan seluruh harta yang saya punya untuk bisa mendapatkan Alicia kembali jika itu keinginan Nikko! "


Tak terasa air mata paman Kenan juga mengalir membasahi pipinya yang sudah terdapat garis-garis halus. Dan beliaupun memiliki perasaan yang sama seperti tuan Adit. "Saya merasa bersalah tidak bisa menjaga nona dengan baik! "


"Paman, terimakasih untuk kesetiaan yang kau berikan selama ini! Semua kendali di rumah ini atas namamu! "


"Apa maksud anda, tuan? "


"Sampai tiba saatnya Alicia kembali, semua kendali berada di tanganmu! "


Tuan Adit menghapus air matanya dan bangkit dari kursinya.


"Apakah anda ingin berangkat sekarang, tuan? "


"Ya! Aku harus menghadapi kenyataan ini! "


Tuan Adit melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya. Mobil sudah menunggu di depan rumahnya.


Brak. Pintu mobil tertutup.


"Semoga anda berhasil, tuan. " Ucap paman Kenan.


Faiz yang sedang melihat dari kejauhan, segera melaporkan kepada tuan Malik.


Tut tut tut. Sambungan telepon itu terhubung.


"Ya? "


"Tuan, baru saja tuan Adit berangkat menuju kantor hanya dengan ditemani oleh supir. "


"Baiklah. "


"Apa yang selanjutnya harus saya kerjakan?"


"Tunggu instruksi dari tuan muda Nikko! "


"Baik. "


Setelah selesai berbicara dengan tuan Malik melalui sambungan telepon, Faiz segera masuk ke dalam kediaman keluarga tuan Adit.


Paman Kenan sedang memperhatikan gerak-gerik Faiz yang mencurigakan. Sejak kepergian paman Kenan ke kampung halamannya hari itu, beliau mendapatkan berbagai informasi dari beberapa pelayan lainnya tentang kelakukan Faiz yang menurut mereka tidak wajar, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hmm, bagaimana aku mengatasi ini? Semoga tuan Adit segera berhasil melawan mereka! " Paman Kenan berkata dengan pelan.


Mountainview, California


Ruang Belajar Alicia


Chris sedang menemaniku melukis di ruang belajar. Aku lebih memilih Chris yang sifatnya tenang daripada nona Dylon yang banyak bicara.


"Chris, apakah kau pernah merasakan kesepian? "


"Hah? " Chris kaget mendengarku bertanya seperti itu. "Apakah anda sedang kesepian, nona? "


"Mm, kadang aku merasa seperti itu di saat aku sedang sendirian. "


"Maka jangan biarkan diri anda larut dalam kesendirian! "


"Aku merasakan kekhawatiran dalam diriku tapi entah apa!"


"Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, nona?"


"Ah, tidak. Aku hanya ingin sedikit bercerita padamu, Chris! "


Aku tersenyum pada Chris. Karena aku tidak ingin dia curiga padaku lalu memberikan informasi kepada Nikko.


Bip bip bip. Suara ponsel Chris bergetar. Terdapat satu pesan yang masuk. Tertera nama Bert di layar ponselnya. Dan tidak lama kemudian, Chris bergegas pamit untuk kembali ke ruang kerjanya.


"Nona, maafkan saya. "


"Ada apa? "


"Bert menghubungi saya untuk segera ke ruang cctv. "


"Baiklah. Panggilkan nona Dylon kemari untuk menggantikanmu menemaniku! "


"Ya, nona. "


Chris pergi meninggalkanku dan aku kembali ke dalam lamunanku.


Tok tok tok. Pintu ruang belajarku terbuka.


"Nona? " Panggil nona Dylon. "Mengapa anda melukis sambil melamun? "


Aku tidak sadar akan kehadiran nona Dylon di depanku.


"Nona ? "


"Hah? " Aku tersentak kaget.


"Maafkan saya sudah membuat anda kaget! "


"Tidak! Saya yang tidak menyadari kehadiranmu! "


"Apakah anda tidak keberatan jika saya menemani anda melukis? "


"Oh, tidak. Tadi aku menyuruh Chris untuk memanggilmu. "


Hati nona Dylon tersenyum. "Tibalah saatnya aku mendekatkan diriku pada nona Alicia! " Senyuman nona Dylon semakin lebar. "Ya, nona. Saya akan menemani anda. "


Aku tidak menjawab. Aku terus fokus pada canvasku.


"Oh... " Nona Dylon menutup mulutnya terkejut.


"Ada apa? " Tanyaku.


"Lukisan anda sangat indah, nona. "


Aku sedang melukis sebuah pemandangan pantai. Dimana matahari tenggelam dengan indahnya. Pesona yang ditawarkan selalu membuat hatiku merasa damai yang tidak bisa kuartikan dengan kata-kata.


"Apakah anda sangat menyukai pantai, nona? "


"Mm, tidak. " Aku menggelengkan kepala.


"Saya kira anda melukis pantai karena ingin menghabiskan waktu untuk melihat sunset di sana! "


Aku terdiam. Hanya terdiam dan tidak mampu berkata apapun.


"Aku tidak ingat apapun tentang pantai. Yang tertinggal di dalam memoriku hanyalah seorang anak kecil perempuan yang sedang digendong oleh seorang anak kecil laki-laki yang usianya tidak berbeda jauh. " Aku menceritakan memoriku kepada nona Dylon dengan pandangan kosong lurus ke depan dan mata berkaca-kaca. "Tapi entah siapa kedua anak kecil itu! "


***Jangan lupa untuk tinggalkan jejak Like, Vote, dan comment ya, guys! Dan jangan lupa untuk jadikan favorit..


Thank youuu 💗💗💗


#salamembaca***