
Jakarta, Indonesia
Four Season Apartment
Sarah melirik jam dinding di kamarnya yang menunjuk ke angka 6. "Hah? Jam enam pagi? " Sarah melotot ke arah tuan muda Nikko.
Sarah sudah menunggu lama kepulangan tuan muda Nikko. Dan hari yang ditunggupun akhirnya tiba. Namun, tubuhnya terasa sangat sakit akibat lelah melayani nafsu tuan muda Nikko yang seakan tidak pernah merasa puas. Ya, saat tuan muda Nikko berkata di sofa besar yang berada di ruang tengah tadi malam, "Ini akan menjadi malam yang panjang! "
"Ternyata benar! Empat jam nonstop, aku melayani lelaki penuh nafsu ini! " Celoteh Sarah ke lelaki yang sedang tidur tanpa busana di sampingnya.
"Nikko? " Panggil Sarah.
"Hmm? Apa kau sudah puas memandangiku? "
"Ah? " Sarah membulatkan matanya. "Sial! Aku pikir dia masih tertidur." Pikir Sarah. "Apakah kau tidak ke kantor? "
"Ya, aku ada meeting pagi ini! "
"Lalu? Mengapa kau tidak bangun dan bersiap ke kantor? "
"Aku bisa menunda meeting pagi ini! " Tuan muda Nikko tetap tidak beranjak dari tempatnya. "Bahkan kau tidak menginginkan kehadiranku? " Tuan muda Nikko berkata dalam hati.
"Kenapa? "
"Aku hanya ingin memejamkan mataku sebentar sebelum memulai hari ini! "
"Aku bahkan tidak mengerti apa yang dia bicarakan! " Sarah berkata lirih.
Srek. Srek. Sarah bangkit dan memakai piyama tidurnya yang berserakan di lantai.
"Hah? " Sarah terkejut karena piyama terbaru yang dia beli dirobek oleh tuan muda Nikko.
"Ada apa? " Tanya tuan muda Nikko sambil turun dari tempat tidur.
"Mengapa kebiasaan lamamu tidak hilang? " Sarah berkata sambil menunjukan piyama miliknya yang robek.
"Apa? " Tuan muda Nikko melihat ke arah piyama tersebut. "Itu hanya hal kecil. Jangan dibesar-besarkan! Belilah yang baru dengan uangku! Kau bisa membeli apapun yang kau mau dengan uangku! "
"Huh! Sifat aslinya keluar. " Gerutu Sarah dalam hati. Sarah tidak berani berdebat lagi dengan tuan muda Nikko karena takut nyawa ayahnya akan terancam. Dia hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya.
Tuan muda Nikko segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan Sarah segera menyiapkan segala keperluan tuan muda Nikko.
"Hm, setelan jas warna hitam pekat yang keren dan dasi yang cocok untuk Nikko. Ini akan sangat keren saat dipakai olehnya! " Sarah tersenyum manis saat menyiapkan keperluan untuk tuan muda Nikko.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka. Tuan muda Nikko keluar hanya dengan memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya dan terlihat air masih menetes di pundaknya.
"Gluk. Gluk. " Sarah menelan air ludahnya mencoba menahan setiap pesona yang ditebarkan oleh tuan muda Nikko.
"Ada apa? Mengapa kau melihatku seperti itu? " Tanya tuan muda Nikko.
"Ah, tidak. " Sarah segera berpaling dari tatapan tuan muda Nikko.
"Apakah bajuku sudah siap? "
"Ya. " Sarah segera keluar dari kamar.
"Kau mau kemana? "
"Ke dapur menyiapkan sarapan untukmu! "
"Tidak. Kemarilah dan bantu aku berpakaian! "
"Hah? Tapi aku tidak tahu cara mengikat dasi! "
"Apakah kau tidak belajar bagaimana cara menyenangkan hati seorang pria? "
"Apakah mengikat dasi juga merupakan salah satu cara menyenangkan hati seorang pria? "
"Tentu, selain permainan ranjang. "
Sarah tersenyum simpul, "Ya. Aku akan belajar apapun untuk mengikuti keinginanmu dan juga untuk menyenangkan hatimu! "
"Haha, jadilah penurut dan keluargamu akan aman berada di genggamanku! " Tuan muda Nikko tertawa puas. "Pergilah dan siapkan sarapan untukku! "
"Ya. " Sarah segera meninggalkan tuan muda Nikko di kamar dan pergi menuruni tangga menuju dapur.
Dengan cepat, dia mengoleskan selai coklat ke roti yang telah disiapkan kemudian memanggangnya dan tidak lupa membuatkan susu hangat untuk tuan muda Nikko. Setelah semua selesai, Sarah menata meja makan.
Tak tak tak. Suara sepatu tuan muda Nikko terdengar sedang menuruni tangga.
"Apakah sarapanku sudah siap? "
"Ya, roti panggang selai coklat dan susu hangat siap untuk disantap. "
"Haha, kuberi kau waktu dua hari untuk belajar bagaimana cara menyenangkan hatiku! " Tuan muda Nikko berkata sambil menyantap sarapan miliknya.
"Hah? " Sarah terperanjat kaget. "Oke. "
Tuan muda Nikko segera menghabisi sarapannya dan kemudian pamit pergi ke kantor.
"Jangan menungguku! Aku akan sibuk beberapa hari ke depan! "
"Nikko? " Panggil Sarah dengan manja. "Bolehkah aku meneruskan pekerjaanku? "
"Pekerjaan? Ada apa? " Tuan muda Nikko mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.
"Aku ingin memiliki uang sendiri. Aku takut jika kau mencampakan aku suatu saat nanti dan aku terbiasa bergantung padamu juga terbiasa hidup mewah darimu! "
"Itu tidak akan terjadi jika ayahmu dan dirimu selalu memuaskan aku! " Tuan muda Nikko menatap tajam Sarah. "Jangan berpikir untuk pergi dan menghindari takdirmu sebagai wanita simpananku! Akupun sudah berbaik hati untuk membiarkanmu mengikuti home Schooling, bukan? "
"Ya, benar. "
"Ingatlah akan statusmu saat ini! Dan aku juga sudah membayar semua pinalti pekerjaanmu. Kau sudah bukan bagian dari Pt TEN ENTERTAINMENT lagi! "
Tuan muda Nikko pergi meninggalkan Sarah dengan emosi yang masih meledak-ledak. Wajah Sarah memerah menahan tangis karena perlakuan kasar tuan muda Nikko padanya.
"Apalah dayaku sekarang? Aku hanya bisa menuruti kemauan lelaki bejat itu karena keluargaku berada di bawah kekuasaannya! " Sarah menangis dalam kesendiriannya.
Mountainview, California
Sore ini, nona Alicia sedang belajar berjalan dengan bertahap di ruang perawatannya. Tap tap tap.
"Saya sudah lelah, dokter! " Ucapku pada dokter Wang.
"Baiklah, nona. Latihan hari ini, cukup sampai di sini. '
"Ya. "
"Saya akan pergi meminta pelayan menyiapkan sup kacang merah untuk anda. "
"Baik, dokter. Terimakasih. " Ucapku pada dokter Wang.
Dokter Wang pergi dari ruang perawatan. Keringatku bercucuran deras membasahi baju.
"Saya akan memijit kaki anda, nona. " Ujar Chris.
"Oke. Tolong buatkan teh kesukaanku! "
"Ya, nona. Tunggulah sebentar. "
Chris berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh pesananku. Sambil menunggu Chris, aku mencoba menghubungi Nikko yang sedang berada di Indonesia.
Tut tut tut.
"Mengapa dia tidak mengangkat teleponku? " Aku menjadi penasaran dibuatnya.
Tap tap tap. Suara langkah kaki Chris.
"Silahkan nikmati teh anda, nona!"
"Terimakasih. "
Srup sruup. Aku meminum teh buatannya. "Kau sungguh pandai meracik teh! " Pujiku.
"Terimakasih, nona. Dulu, saya selalu membuatkan teh untuk ibu saya. "
"Lalu? Dimana ibumu berada sekarang? "
"Ibu saya sudah lama tiada, nona. Tepatnya setahun yang lalu. " Chris menjelaskan padaku sambil memijit kakiku.
"Oh, maafkan saya. "
"Tidak apa-apa, nona. Karena kebaikan hati tuan muda Nikko, ibu saya sempat dirawat di rumah sakit hingga Tuhan mengambilnya. Namun karena penyakitnya kanker otaknya yang sudah stadium akhir, itulah mengapa beliau tidak tertolong. " Chris terlihat sedih saat bercerita tentang ibunya.
"Kau beruntung, Chris. Sedangkan saya, tidak mengingat apapun tentang kedua orangtua,apalagi ibu. " Aku menundukan kepala dengan lesu.
"Maafkan saya, nona. Saya tidak bisa membantu anda karena saya juga tidak mengetahui keluarga anda. "
"Benarkah? Setidaknya kau pasti tahu nama kedua orangtua saya? "
"Mm, mengenai hal itu silahkan nona bertanya kepada tuan muda Nikko! "
Di luar pintu ruang perawatan, nona Dylon mendengar pembicaraan mereka. Ya, lima menit yang lalu, nona Dylon ingin masuk ke dalam ruangan itu. Namun langkahnya terhenti karena dia mendengar pembicaraan yang serius itu.
Tok tok tok. Nona Dylon mengetuk pintu.
"Nona, apakah anda sudah selesai? "
"Ya. Ada apa? "
"Dokter Fa memberitahu saya bahwa anda harus segera mengisi perut anda dan meminum obat! "
"Oke. "
"Apakah nona tidak memakai kursi roda lagi? " Tanya nona Dylon.
"Tidak. " Jawab Chris.
"Mengapa? Apakah kaki nona akan baik-baik saja? "
"Ya, syaraf kakinya perlu penyesuaian untuk menapakan kakinya di lantai. Oleh sebab itu, nona diperkenanlan untuk berlatih berjalan dengan pelan. "
"Oh, jadi maksudmu adalah peregangan otot kakinya sudah mulai membaik? "
"Ya, bisa dikatakan demikian. "
"Syukurlah. Saya senang mendengarnya, nona. "
Aku tidak menjawab perkataan nona Dylon karena aku sedang menahan rasa sakit di kakiku. Tapi karena keyakinan para dokter yang merawatku berkata bahwa aku pasti akan sembuh, maka aku selalu percaya diri.
Kami telah sampai di ruang makan yang berada di lantai satu. Seorang pelayan langsung melayaniku.
"Silahkan duduk, nona. " Dengan sigap pelayan pria itu menyiapkan kursi untukku.
Makanan sudah siap di atas meja makan. Aku segera makan dengan ditemani oleh nona Dylon, dan Chris pergi ke ruang cctv untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Silahkan dinikmati sup anda, nona! " Kata seorang pelayan wanita. "Selagi hangat." Tambahnya sambil menatapku.
Aku hanya tersenyum kecil dan tidak menjawab perkataan pelayan itu.
"Bagaimana perasaan anda nona? " Tanya nona Dylon. "Apakah begitu melelahkan belajar berjalan? "
"Tidak. Saya sangat menikmati prosesnya! "
"Benarkah? "
"Mm.. " Aku menganggukan kepala pelan.
"Kalau begitu bolehkah saya selalu menemani nona kemanapun nona pergi? "
"Kau jangan mengganggu selera makanku! "
Nona Dylon terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut nona Alicia. "Bersabarlah, Dylon! Kau harus terus bersabar demi tuan muda William! " nona Dylon menyemangati dirinya sendiri.
"Maafkan saya, nona! "
Aku malas menjawabnya lagi. Aku sudah cukup lelah dan aku juga sudah cukup sabar menghadapi wanita sialan itu yang terus menerus mengikutiku.
"Panggilkan Chris! Setelah selesai makan, aku ingin ke ruang belajar! " Aku berkata kepada seorang pelayan wanita yang berdiri di belakangku.
"Ya, nona. Saya akan memanggilnya! "
Pelayan wanita itu pergi ke belakang, tempat dimana ruang cctv berada.
Tok tok tok.
"Tuan Chris, bolehkah saya masuk? " Tanya pelayan wanita itu.
Ceklek. Pintu segera terbuka.
"Ada apa? " Tanya Chris terheran.
"Nona Alicia memanggil anda. Nona ingin pergi ke ruang belajar dengan ditemani anda. "
"Baiklah, saya akan segera ke sana."
"Baik. Saya akan pergi duluan, tuan. "
Pelayan wanita itu pergi setelah mendengar jawaban dari Chris. Lalu Chris masuk ke dalam ruang cctv untuk memberi perintah kepada bawahannya.
"Saya akan menemani nona ke ruang belajarnya. Kau tetap awasi nona Dylon dan jangan tinggalkan ruangan ini! " Perintah Chris kepada Bert.
"Baik, tuan. "
"Saya melihat kemampuanmu begitu berbeda dengan yang lain. Mata tajammu mampu melihat segala macam situasi yang saya yakin tidak semua orangpun mampu. " Jelas Chris sangat menyukai cara kerja Bert. "Saya akan melaporkan kepada tuan Malik tentang dirimu dan beliau akan mempromosikan keahlianmu kepada tuan muda Nikko. "
"Saya sangat senang, tuan. Terimakasih untuk pujian anda dan juga kepercayaan yang anda berikan kepada saya. "
"Ya, saya membagi beban ini untukmu. Karena beban saya terlalu banyak dan saya memerlukan seorang ahli seperti dirimu! "
"Saya mengerti, tuan. "
Chris segera beranjak keluar dari ruang cctv untuk memenuhi panggilan nona Alicia.
Aster Village, Inggris
Tuan muda William sedang sibuk menyelesaikan dokumen-dokumen penting yang masih bertumpuk di mejanya. Salah satu dokumen yang sedang ia tangani adalah proyek jembatan besi di kanada sebagai pertukaran saham dengan calon ayah mertuanya, yaitu tuan Adit.
Brak. Tuan muda William membanting dokumen itu dengan kasar ke atas mejanya. Dahinya berkeringat karena menahan emosi dan wajahnya memerah karena sekujur tubuhnya bergetar saat melihat dokumen itu terlintas bayangan Alicia muncul di benaknya.
"Aaargghh! "
Cinta tidak pernah salah! Mungkin cinta datang tidak tepat pada waktunya. Namun karena cinta,kita bisa mempertahankan keistimewaan aura kehadiran orang yang kita cintai dimanapun dia berada!
"Kau tidak akan mengerti sampai kau mengingatku, Al! " Tuan muda William geram saat teringat ucapan tuan Santo di telepon tiga hari yang lalu.
***************
Flashback Tiga Hari Yang Lalu
Malam itu, tuan Santo menelepon untuk memberikan kabar yang ia dapatkan dari nona Dylon. Kabar tentang progres Alicia.
"Selamat malam, tuan muda. Apakah saya mengganggu istirahat malam anda? "
"Apa ada sesuatu yang mendesak? " Tanya tuan muda William.
"Bukan sesuatu yang mendesak, tuan. Melainkan sesuatu hal yang sudah anda tunggu. "
"Katakan! "
"Pagi ini, nona Dylon menelepon saya untuk memberikan progres pekerjaannya. " Tuan Santo berhenti sejenak mengatur nafasnya. "Saya juga tidak sanggup berbicara tentang hal ini kepada anda, tuan. " Suaranya terdengar samar.
"Katakanlah! "
"Nona Dylon melaporkan pada saya bahwa nona Alicia mengalami amnesia karena saat terjatuh kepalanya terbentur dengan keras. "
"Apaaaaa??? " Tuan muda William sangat terpukul mendengar berita buruk itu. "Lalu? "
"Ya, nona terjatuh di kamar mandi sesaat setelah meminum susu yang telah dibubuhkan racun oleh seseorang! "
"Alicia keracunan untuk yang kedua kalinya? Bagaimana bisa?? Racun apa yang telah dimasukan ke dalam susunya? " Suara tuan muda William terdengar sangat panik.
"Racun sempurna polonium, tuan. "
"Apaaaa? Siapa orang yang berani memberikan Alicia racun mematikan seperti itu? "
"Kami sudah menemukan pelakunya dan dia adalah seorang wanita! "
"Saya tidak peduli dengan jenis kelaminnya. Saya hanya peduli untuk segera menghabisi nyawanya! "
"Hmm? " Tuan Santo tidak sanggup lagi berbicara dengan seorang tuan muda yang sangat emosional seperti William. "Wanita keji itu bernama Pingkan dan dia berasal dari Indonesia. " Tuan Santo tahu bahwa kini tuan mudanya sedang tersulut api kemarahan yang tak terbendung.
"Apakah Nikko tahu hal ini? "
"Ya, tuan. Yang saya tahu, tuan Nikko telah menghabisi semua keluarga pelaku tersebut."
"Saya tidak habis pikir, mengapa Nikko memelihara wanita iblis seperti dia! "
"Lalu apa rencana anda, tuan? "
"Seberapa parahkah amnesia yang diderita oleh Alicia? "
"Saya tidak yakin, tuan. " Tuan Santo berkata penuh keraguan.
"Ada apa? "
"Menurut pengawasan nona Dylon, seharusnya amnesia yang diderita oleh nona Alicia akan pulih dalam waktu cepat karena tidak ada indikasi parah yang berkepanjangan. Namun belakangan ini, nona Dylon mulai curiga dengan kedua dokter yang menangani nona Alicia. "
"Mencurigai kedua dokter itu? "
"Ya! Tapi nona Dylon belum tahu pasti. Dia sedang mencoba membantu mengembalikan ingatan nona Alicia dengan perlahan. "
"Jika Dylon memerlukan bantuan, katakan saja. Saya akan memikirkan cara untuk membawa Alicia pergi dari kediaman Nikko. Apalagi di saat seperti ini, merupakan peluang emas yang dapat saya manfaatkan dengan baik. "
"Benar, tuan. Perhatian tuan Nikko sedang fokus pada rapat pemegang saham di Indonesia. "
"Baiklah, tunggu perintah saya selanjutnya. Katakan pada Dylon untuk tetap bersama Alicia. "
"Sebagai pendukung, nona Dylon telah mengirimkan denah lokasi kediaman tuan Nikko beserta dengan situasi keamanannya dan juga beberapa foto terkini nona Alicia. "
"Baiklah, saya akan mempelajarinya. "
Tuan muda William memutuskan sambungan telepon tersebut. Lalu memikirkan cara untuk menjemput Alicia.
***************
Kini, Tuan muda William sudah tidak bersemangat lagi untuk menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Diapun pergi ke jendela ruangannya dan membuka jendela itu. Dengan kasar, dia merogoh kantong celana hitamnya dan mengeluarkan sebatang rokok lalu dijepitkanlah rokok itu di sela-sela bibir kemudian dinyalakannya rokok itu. Tuan muda William menghembuskan rokok dengan pandangan kosong menatap ke luar jendela.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat ingin menggapaimu dan mendekapmu hingga matahari bosan melihat kita yang berdiam tenggelam dalam suasana penuh cinta!
Tuangkanlah di atas canvas lukisan tentang cerita cinta kita, Al!
Kembalikanlah memori itu padaku agar aku bisa memperjuangkan cintaku dan mengajarinya padamu arti cinta sesungguhnya!
I miss you, Alicia ..