My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Mountainview, California : Lantai 3



Kapal Pesiar Golden Love, Long Beach California


Sesuai jadwal rute kapal pesiar Golden Love yaitu Long Beach - Malibu. Clara menyempatkan diri untuk bersulang dengan Sean dan Brimma. Mereka tertawa ringan dan saling bertukar kabar. Karena setelah kelulusan, Sean dan Brimma mengikuti kemanapun William pergi. Mereka berdua berada di Universitas yang sama dengan William namun, mereka saat ini ditugaskan William untuk memimpin rapat tahunan di kapal pesiar Golden Love.


"Selamat bergabung untukmu, Ra! " ucap Brimma.


"Thanks, bro! "


"Bagaimana kabar kamu dan Erisa? " tanya Sean malu-malu.


"Kau belum bisa move on dari Erisa ya, Sean? " tanya Clara dengan menggoda.


"Ahh, aku hanya menjadi teman untuknya. " jawab Sean.


"Apakah di Inggris tidak ada wanita seperti dia? " lagi-lagi Clara menggoda Sean.


Sean tersipu malu, "Banyak wanita cantik di luar sana, tapi tidak ada yang kepribadiannya seperti Erisa. "


"Kejarlah! " Brimma memberi semangat kepada Sean sambil memukul bahunya.


"Haaahaaaa" Sean hanya tertawa.


"Lihat! Itu Dylon. Kau ingat perkataan William kan? " Brimma berkata dengan serius sambil memperhatikan Dylon yang sedang duduk bersama salah satu anggota.


"Ya, tentu. Kita harus terus memperhatikannya! " Sean memperingatkan.


"Ada apa dengan Dylon? " Clara bertanya.


"Yaahh, peraturan ketiga! " Jawab Sean.


"Oh, aku mengerti! " Clara mengerti apa yang diucapkan oleh kedua temannya itu.


"Ra, sebaiknya kau waspada. Jangan percaya pada siapapun kecuali kami berdua! " Sean memperjelas situasi terkini pada Clara.


"Ya, kau tahu posisimu kan? Kau berada di atas mereka. Kaulah bos mereka! " Brimma mengatakan dengan wajah serius.


"I know that! " jawab Clara singkat.


Dido tidak menyadari keberadaan Ricky yang telah memperhatikan gerak-geriknya. Pikiran Dido hanya terfokuskan pada Clara.


B Cyber itu telah merekam dan memotret kegiatan 'G&L The Darkness' malam ini. Hasilnya secara otomatis akan terkirim ke jaringan Nikko.


Mountainview, California


Bip bip bip.. Sinyal masuk ke jaringan 'Zero' milik Nikko. Para hacker langsung dengan cepat menyadap dan menyalin beberapa dokumen yang masuk.


"Tuan muda, silahkan lihat! "


"Apakah ini adalah data-data dari B cyber milik Dido? "


"Benar, tuan! "


"Oh, benar-benar bisa dihandalkan! "


"Tuan muda, apakah anda mengenal nona ini? " Andrew salah satu hacker terhebat bertanya pada Nikko.


"Ya, dia adalah salah satu teman dekat nona dan juga anak perempuan dari tuan Hubbert. Namanya Clara."


"Maksud anda adalah nona ini penerus tahta kerajaan Inggris? "


"Bisa dikatakan demikian. " jawab Nikko dengan yakin.


"Lalu, siapa dua laki-laki yang sedang bersama dengan nona Clara? "


"Mereka berdua adalah kaki tangan William! "


"Oh, rupanya mereka yang disebut Leopard! "


"Leopard? " Nikko bertanya balik kepada Andrew.


"Ya, seperti yang dikatakan mata-mata kita. Kaki tangan William terkenal dengan pribadi yang berani, ganas, kuat, dan cerdik. Oleh karena itu, mata-mata kita menyebutnya dengan julukan Leopard! "


"Saya kira, mereka terlalu tinggi memandang lawan! "


Nikko bergegas pergi dengan marah karena tersinggung dengan ucapan Andrew.


"Huftt, sepertinya aku sudah menyinggung perasaan tuan muda! " Andrew berkata dalam hatinya.


Nikko yang sedang kesal, bersandar pada dinding balkon lantai tiga yang tidak jauh dari ruang Jaringan Zero miliknya.


Aku melihat Nikko dari jendela kamar dan langsung beranjak pergi menemuinya.


Saat aku ingin masuk ke lift, tuan Malik memanggilku.


"Nona! " panggil tuan Malik.


"Ada apa? "


"Anda mau kemana? "


"Aku mau ke lantai tiga! "


"Jangan! Apakah anda lupa, bahwa tuan muda melarang anda ke sana! " tuan Malik mengingatkanku.


"Hmmm, kalau begitu aku mau jalan-jalan ke lantai satu saja. Tolong bukakan pintu lift nya! " dengan kesal aku masuk ke dalam lift.


"Baik, nona. Mohon anda berhati-hati! "


Klikk.. Pintu lift tertutup. Tikk.. Dan aku menekan nomor 3, yang artinya aku naik ke lantai 3. Akupun tersenyum dengan lebar.


Tuan Malik berdiam diri sejenak. Setelah mengetahui aku sedang mengerjainya, diapun lari menggunakan tangga darurat. Hosh.. Hosh.. "Apa yang akan terjadi jika tuan muda Nikko tahu, nona benar-benar membuat hidupku sulit! "


Setelah pintu lift terbuka, aku langsung lari ke arah Nikko dan memeluknya dari belakang. Bau asap rokok khasnya membuatku lebih mengenal dirinya.


"Hahh? Kk.. Kauuu? " Nikko berkata dengan terbata-bata.


"Apakah kau tidak mengenalku? " tanyaku.


"Aku tentu sangat mengenalmu. Apa yang kau lakukan di sini? " Nikko memegang erat kedua tanganku yang berada di perutnya.


"Tidak bisakah kau berhenti merokok? "


"Oke, aku akan mematikan rokoknya! " Nikko melepas tanganku dan mematikan rokoknya tapi aku tetap memeluknya.


Tap tap tap. Suara kaki seseorang datang.


"Tuan... Tuan muda! " Tuan Malik memanggil Nikko dengan panik.


"Ya? " Nikko membalikan badannya menatap tuan Malik.


"Maafkan saya yang lengah dan akhirnya nona bisa sampai ke sini! "


"Aku hanya rindu padamu! Jangan salahkan tuan Malik! " aku merengek pada Nikko. Aku takut melihat dia marah.


"Haahaaa. " Nikko tertawa. "jika kau rindu padaku, kau bisa memberitahuku agar aku datang. "


"Tidak apa-apa. Aku hanya bosan. Aku ingin pergi ke sekolah. "


"Kau, pergilah! " Nikko menyuruh tuan Malik pergi.


"Saya permisi, tuan. "


Aku memasang wajah polos dan imut untuk merayu Nikko.


Nikko menatapku. "Sudahlah, Al. Kau membuat hatiku luluh! "


Nikko memelukku dengan erat.


"Kamu tahu, saat kamu kecil dulu.. Kamu selalu menggangguku? "


"Benarkah? Kenapa? "


"Karena kau nakal!" Nikko mencubit hidungku." Dan saat aku sedang belajar, kau memanggilku untuk menemanimu bermain! "


"Lalu? Apakah aku berhasil membujukmu untuk bermain denganku? "


"Ya, akupun bosan belajar dan pergi bermain denganmu. "


"Haaahaaaa... " Kami tertawa bersama. Perasaan diantara kami adalah perasaan saling memiliki satu sama lain.


Nikko semakin erat memelukku. Dan aku berpikir bahwa, "Aku merasa aman dan nyaman bersama Nikko. Aku selalu merasa jadi nomor satu di hatinya. Sekalipun, dia tidak pernah marah padaku. Sebenarnya siapa Nikko? Apakah perasaan cintaku memang miliknya? Aku harus mencari tahu."


"Mari kita masuk ke dalam. Angin malam tidak baik untukmu! "


Nikko menggandeng tanganku dengan lembut dan kami akhirnya masuk ke dalam vila.


"Apakah kau mau menemaniku menonton televisi? "


"Baiklah. Aku akan membawakan beberapa camilan dan susu hangat untukmu! "


"Kau memang yang terbaik, Tuan muda Nikko! " aku mengedipkan mataku padanya.


"Kau.. Jangan menggodaku terus, Al! Atau aku...?? "


"Atau apaa? "


"Atau aku akan memakanmu! "


"Ahhhh, tidaaak! Aku sangat takuuuttt! " Aku berlari kecil ke arah lift dan Nikko mengejarku.


"Nahhh, kau tertangkap! " Nikko menangkapku ke dalam dekapannya.


Di ujung koridor, Pingkan memperhatikan Nikko dan Alicia. Tapi mereka tidak menyadarinya. Rasa cemburu membuat Pingkan marah dan dendam pada Alicia. Diapun mengutuknya dalam hati. "Lihat saja. Aku lebih cantik darimu dan Nikko sudah berada di genggamanku. Aku akan membuatmu menderita dan Nikko akan membencimu! "


High Scope Global School, Indonesia


Reggina dan Nikky sedang duduk di kelas. Bel pulang sekolah telah berbunyi namun mereka tidak beranjak dari tempat duduknya. Ginza berjalan keluar kelas. Reggina mengejarnya.


"Ginza... "


Ginza terus berjalan dan tidak menoleh sedikitpun pada Reggina.


"Ginza, berhenti! "


Langkah kaki Ginza terhenti karena teriakan Reggina.


"Apa ada? "


"Apakah kau lupa padaku? "


Ginza menatapnya dalam-dalam, " Apa maumu? "


"Kau menghilang dan aku menghubungimu hampir setiap hari. Kau kemana saja? "


"Apakah kau lupa, siapa dirimu? Dan apa hakmu bertanya padaku? "


Nikky melihat mereka berdua dengan penasaran. "Ada apa diantara mereka! "


"Ginza, ayo kita bicara baik-baik! " Reggina berjalan mendekati Ginza.


Ginza menatap Reggina dengan sinis. "Berhentilah mencariku, Gin. Bahkan kaupun sudah tidak berguna lagi untukku! "


"Bukankah aku sudah melakukan apapun yang kau inginkan? "


"Ya.. Ya.. Dan cukup sampai di sini! "


Reggina termenung dengan sikap Ginza. Dia hanya bisa melihat Ginza pergi menjauh. Nikky berjalan menghampiri Reggina yang masih terpaku oleh Ginza.


"Gin.. Ginaaa! " panggil Nikky. "Regginaaaa... "


"Hah? Iya? Ada apa? " Reggina menjawab dengan tergagap karena kaget.


"Ayo kita pergi ke cafetaria dekat sekolah! " ajak Nikky.


"Oh, oke. " Reggina menyetujui.


Reginna berjalan berdampingan dengan Nikky. Reggina berpikir, " Apakah Nikky melihatku dengan Ginza tadi? Matilah aku! "


Mereka sampai di cafetaria yang terletak di ujung jalan dekat sekolah.


"Huhh, sungguh melelahkan hari ini. Banyak sekali mata pelajaran yang tidak kumengerti. " ucap Nikky.


"Jika kau mau, aku akan mengajarkan kepadamu! " Reggina memberanikan diri untuk mengajarkan Nikky.


"Benarkah? "


"Ya. "


Reggina ingin Nikky melupakan kejadian di sekolah tadi dengan Ginza. Dia tidak ingin Nikky tahu bahwa dia pernah berhubungan dengan Ginza.


Reggina dan Nikky terlihat akrab mengobrol. Reggina sudah melupakan Sarah. Karena kini Sarah tidak lagi bisa bersama dengan teman-temannya karena dia terikat kontrak dengan Nikko. Jika Sarah macam-macam, Nikko tidak segan membunuh tuan Brata, ayah Sarah.


Kediaman keluarga Chandrawijaya, Indonesia


Jane sedang melihat-lihat album foto saat dia ulang tahun ke tujuh belas di ruang keluarga.


"Kau sedang apa, Jane? " Tanya boy.


"Aku sangat rindu pada Alicia! " Jane menangis saat menyebutkan nama Alicia.


"Aku juga. "


"Apakah kalian tidak berusaha menemukannya? "


"Siapa yang kau maksudkan dengan 'kalian'? "


"Kau dan teman-temanmu itu! " Jane melotot pada Boy.


Boy duduk di samping Jane. "Kami sedang berusaha. Tidak mudah menemukan seseorang di luar jangkauan kekuasaan kami, Jane. "


"Semoga yang kau katakan benar! "


"Kapan aku pernah membohongimu? "


"Baiklah. Aku akan menagih janjimu, kak! "


Boy mengusap air mata adik perempuannya itu. Dengan kata-kata mujarabnya, dia berhasil menenangkan hati Jane.


Tuan Brata datang. "Boy, bisakah kau ikut ke ruang kerjaku? "


"Baiklah, ayah! "


Boy berdiri, "aku akan ikut ayah dulu ya. Kau istirahatlah lebih awal agar besok tidak terlambat ke sekolah! "


"Ya, kak. "


Boy berjalan di belakang ayahnya mengikuti ke ruang kerja. Ceklek.


"Duduklah, boy! "


Boy menuruti perkataan ayahnya.


"Ada apa ayah memanggilku? "


Dengan satu tarikan nafas panjang ayahnya berkata, "Kau tahu kan beberapa hari lagi adalah rapat pemegang saham di perusahaan? "


"Ya. Lalu apa yang ayah khawatirkan? "


"Ayah berdiri di pihak tuan Adit. Tapi tuan Yoga selalu datang menjerumuskanku! "


Sejenak Boy terdiam. Tuan Brata melanjutkan bicaranya lagi.


"Dengan saham yang ayah miliki, ayah pikir ayah tidak akan bisa bertahan. Lalu, harus ayah bawa ke mana keluarga ini? " Air mata tuan Brata jatuh perlahan. "Apakah ada ayah dan suami seperti ini? "


Boy memutar otaknya. Berusaha mencari solusi.


"Lalu ayah ingin bagaimana? "


"Ayah sudah berjanji untuk tetap setia kepada tuan Adit dan keluarganya sampai mati. Karena merekalah yang membantu keluarga kita sampai berada di titik ini, Boy. "


"Aku mengerti. "


"Jika ayah kalah nanti, ayah mohon jagalah ibumu dan Jane dengan baik. "


Tuan Brata mengeluarkan sebuah surat wasiat. Karena rasa sayang yang begitu besar terhadap keluarganya, tuan Brata sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Beliau takut hal buruk akan terjadi pada keluarganya.


"Apa ini, ayah? " Boy bertanya dengan marah. "Jangan lakukan ini. Ayah bahkan belum bertarung. Bagaimana bisa ayah menyerah pada keadaan? "


"Ini hanyalah untuk berjaga-jaga! "


"Aku tidak akan menerima ini semua. "


Tuan Brata memegang bahu anaknya.


"Boy, aku mohon padamu jangan keras kepala seperti ini! " tuan Brata menepuk bahu Boy dengan lembut. "Ayah yakin kau bisa menggantikan ayah. "


Boy menangis. "Jika ayah harus kalah, maka kalah dengan terhormat. "


Tuan Brata memandangi anak laki-lakinya. "Ayah akan berjuang. Ayah yakin tuan Adit tidak akan kalah. "


Setelah tuan Brata memberikan surat wasiat kepada Boy, beliau langsung menangis tersedu sendiri di ruang kerjanya.


"Aku akan bertahan demi keluarga yang kucintai. " tuan Brata meyakinkan dirinya di dalam hati.


Mountainview, California


Aku dan Nikko sedang santai menonton televisi di ruang tengah. Nikko menyuapiku beberapa cemilan manis dan membuatkan aku susu hangat. Saat ini aku merasa sangat bahagia.


"Sudah! Aku sudah kenyang. "


"Tidak! Kau masih terlihat kurus. "


"Apa kau ingin aku menjadi gemuk? Nanti kau tidak akan kuat menggendongku lagi! "


"Haahaa, aku adalah yang terkuat. Kau tenang saja! "


"Mengapa kau terlihat begitu percaya diri? "


"Tentu. Aku mendapatkannya darimu, Al! "


Aku memandang Nikko. "Aku tidak percaya jika Tuhan mengirimkan malaikat seperti Nikko untukku! " aku bergumam dalam hati.


"Tuan muda.. " Tuan Malik menyapa Nikko.


"Ada apa? " Nikko bertanya dengan datar tanpa ekspresi.


"Ada yang ingin saya infokan kepada anda! "


Nikko terlihat bimbang. Mungkin karena ada aku, dia terlihat tidak enak hati.


"Aku sudah mengantuk, antarkan aku ke kamar tidur! "


"Kau tunggulah aku di lantai tiga! Aku akan mengantar nona dulu! "


"Baik, tuan muda! " Malik pergi dengan secepat kilat.


"Ayo kugendong! "


"Tidak! "


"Ayo.. Ayo.. Cepat naik ke punggungku! "


"Tidaaakkk! " aku berlari darinya.


Nikko mengejarku. Dan...


"Ohhh tidaakkk! Aku tertangkap olehnya! " pikirku.


"Kelinci putih kecil, kau sungguh luar biasa membuatku lelah karena mengejarmu! "


"Haaahaaa" Aku tertawa.


Nikko langsung menggendongku ke dalam pelukannya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat. "Ada apa dengan Nikko? Mengapa jantungnya tidak beraturan seperti ini? "


"Kau sangat jelek dan pucat! " aku berkata sambil menjulurkan lidahku padanya.


"Haahaa.. " Nikko tertawa.


"Al, kau menggodaku! Hukuman apa yang pantas untuk kelinci putih kecil ini? "


"Hukuman yang pantas untuknya adalah memberi kebebasan untuk bersekolah lagi! "


Tiba-tiba wajah Nikko berubah. Wajahnya merah padam karena menahan amarah.


"Nikko, apakah kau marah padaku? "


Nikko tidak menjawab pertanyaanku. Karena aku sangat takut melihat wajahnya, aku menyenderkan wajahku ke dadanya.


Kami berjalan tanpa berbicara satu katapun. Nikko membuka pintu kamarku.


"Turunkan aku! "


Nikko menurunkan aku dengan pelan. Dia menatapku dengan marah.


"Apakah aku membuatmu kesal? " tanyaku dengan nada penyesalan.


Nikko pergi ke kamar mandiku tanpa mengatakan apa-apa. Tidak lama kemudian, dia keluar dan membawa wadah bulat berisi air hangat dan garam. Tidak lupa dia membawa washlap.


"Duduklah dengan baik! " Nikko berkata dengan tenang. "Berikan kaki kananmu padaku! "


Akupun menurut padanya dengan memberikan kaki kananku padanya. Lalu kaki kananku dimasukan ke dalam wadah itu. Setelah selesai, kakiku dikeringkan dengan washlap yang dia bawa.


Hatiku tersentuh. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya itu.


"Al, sekarang giliran kaki kirimu! "


"Ya. "


Dengan diam, Nikko masih terus membasuh kakiku. Setelah semua selesai, Nikko menatapku lagi.


"Sekarang ganti bajumu dengan piayama kimono yang telah kusiapkan. "


Nikko pergi membuang air bekas kakiku. Akupun berganti pakaian tidur. Setelah aku selesai berganti baju, dia datang.


"Ayo berbaringlah. Malam sudah semakin larut. "


Nikko mematikan lampu dan menghidupkan lampu kamar dengan cahaya remang. Dia menyelimutiku dan mencium keningku lalu berbisik di telingaku...


"Goodnight and sleep tight, babe! "