
D' Wheels Hotel and Casino, Beverly Hills
Empat orang penjaga pintu masuk tempat mewah itu menyambut kedatangan tuan Ricky dan membukakan pintu untuknya. Tak ada seorangpun yang tahu bahwa tempat itu milik seorang tuan muda asal Indonesia yang menguasai beberapa bisnis di dunia. Bahkan para pekerja di sanapun tidak mengenal wajah tuan pemilik tempat mereka mencari nafkah.
Empat orang pelayan itu membungkukkan badan. "Selamat malam dan selamat datang, tuan Ricky yang terhormat! " Ucap salah seorang dari mereka.
"Terimakasih. "
"Silahkan, tuan. Semoga malam ini menyenangkan! "
Setelah memasuki tempat mewah itu, Margaret dibuatnya takjub.
"Woww..!! " Matanya berbinar mengagumi tempat mewah yang ia datangi bersama tuan Ricky.
"Bagaimana pendapatmu? Sudah tahukah kau tempat apa ini? " Tanya tuan Ricky sambil memeluknya dari belakang.
"Ya, aku tahu. Ini adalah hotel dan casino termewah yang pernah kudatangi! " Margaret masih dengan kekagumannya memandangi tempat mewah itu. "Dulu aku hanya melintasi tempat ini dan bertanya-tanya tempat mewah Apakah ini? Dan sekarang aku bisa memasukinya dengan mudah. "
"Haha, kau cukup pintar!" Puji tuan Ricky. "Ayo, kuajak kau berkeliling! " Tuan Ricky menggandeng tangan Margaret.
D' Wheels Hotel and Casino yang berlokasi di Beverly Hills, California merupakan salah satu kasino termewah di dunia dengan gedung pencakar langitnya yang berbentuk spiral. Arsitek yang merancang yaitu pemilik dari Hotel and Casino itu sendiri. Ya, beliau adalah tuan muda William Alexander. Sang arsitek ikonik yang juga merancang Mildtown Resort dan gedung pencakar langit Pt Ten Entertainment di Indonesia, kini ia merealisasikan bentuk bangunan spiral atau desain berputar.
D' Wheels Hotel and Casino merupakan bangunan dengan total rotasi 360 derajat. Ketinggiannya mencapai 630 meter dengan total 499 lantai. Anggaran yang diperlukan untuk membangun gedung ini tidaklah sedikit.
Di bagian bawah gedung ini terdapat lobi, kantor marketing, toko retail untuk memenuhi kebutuhan konsumen, teater bioskop, butik mewah, dan berbagai arena olahraga indoor seperti tinju, tenis, dan bowling, dan juga parkir servis valet yang tersedia di tempat ini.
Hotelnya memiliki 399 kamar suite dengan interior classic modern, restoran bintang lima, dan kolam renang rooftop. Selain itu, berbagai paket eksklusif juga tersedia di hotel ini. Tidak ketinggalan dengan layanan spa, fitness center, salon, lounge dan klub malam.
Hotel ini menawarkan empat club, yaitu Club Tulip Persian Pearl, Club Lady Tulip, Club Pink Impression, dan Club Tulip Montreux. Semua nama ini diambil dari berbagai macam bunga tulip kesukaan Alicia dan karena kecintaan tuan muda William pada Alicia. Tidak hanya itu, club ini memiliki tamu Luxury dengan dilengkapi akses eksklusif seperti pintu masuk sendiri, lobi, penerimaan, hingga lift tamu ke kamar yang super lux. Tamu Luxury juga memiliki akses khusus ke dining dan Lounge yang dibuka 24 jam serta berbagai macam fasilitas istimewa lainnya.
Dan untuk kasinonya memiliki interior yang mewah dan elegan. Dilengkapi dengan 2.500 mesin slot, 500 meja penjudian, ruang poker yang bergaya retro, blackjack, dan taruhan lainnya. Tidak heran jika para penjudi datang dari berbagai negara rela mengeluarkan jutaan dolar untuk menikmati sensasi judi dan juga layanan hotel di sini.
Mountainview, California
Ruang Perawatan Alicia, Lantai dua
Sehari yang lalu, dokter Fa telah berhasil membuat antibodi spesial untuk Alicia.
"Seharusnya hari ini, antibodi itu sudah bekerja pada tubuh nona! " Dokter Fa berbicara pada dokter Wang.
"Sabarlah! Kau tahu kan kondisi tubuh nona sangat lemah akibat dari racun yang diberikan oleh Pingkan! " Dokter Wang memberinya semangat.
"Ya, racun mematikan seperti itu! Jika dulu tuan muda Nikko tidak memberi sisa antibodi miliknya, kemungkinan besar saat itu nyawa nona tidak akan terselamatkan! "
"Kau benar! " Dokter Wang setuju dengan statement dokter Fa. "Dan sekarang, tuan muda mengorbankan kesehatannya demi nona. Sampai sekarang dokter Sierra tidak berhasil menemukan obat penawar untuk penyakit tuan muda! "
Jari-jari Alicia mulai bergerak perlahan.
"Lihat! " Dokter Wang menunjuk Alicia.
Kedua dokter itu menghampirinya dan dokter Fa segera memeriksanya.
"Bagaimana? " Tanya dokter Wang. "Aku akan memanggil tuan muda! "
"Ya, cepat panggil tuan muda! " Seru dokter Fa.
Dokter Wang meraih ponselnya yang diletakan di atas meja.
Tut tut tut.
"Halo? " Suara tuan Malik menjawab telepon.
"Tuan, tolong sampaikan kepada tuan muda agar segera ke ruang perawatan karena nona baru saja sadar! "
"Baik. " Jawab Tuan Malik.
Dokter Wang segera mendampingi dokter Fa untuk melakukan pemeriksaan.
"Tenang saja, semua stabil. " Dokter Fa menjelaskan kondisi Alicia. "Detak jantung nona sudah kembali normal. "
"Ya, sebentar lagi nona akan bangun dan semua akan baik-baik saja! "
Tuan muda Nikko dan tuan Malik segera bergegas ke ruang perawatan Alicia.
"Malik, cepat kau ke kamar nona Dylon dan ajak dia ke ruang perawatan Alicia! "
"Baik, tuan muda. "
Tuan Malik berjalan dengan cepat menuju kamar tamu, tempat dimana nona Dylon berada.
Tok tok tok. Tuan Malik mengetuk pintu kamar tamu.
"Ya? " Nona Dylon membuka pintu dan terkejut atas kedatangan tuan Malik.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, nona. "
"Ada apa? Dimana Nikko? "
"Tuan muda memerintahkan anda untuk ikut dengan saya ke lantai dua! "
"Baiklah, tunggu sebentar! Saya akan memakai mantel. "
Nona Dylon menutup pintunya kembali dan dengan cepat memakai mantel biru. Tidak lama, nona Dylon keluar dari kamarnya.
"Silahkan nona! " Tuan Malik berjalan dengan diikuti oleh nona Dylon.
"Sebenarnya ada apa? " Tanya nona Dylon. "Ada apa di lantai dua vila ini? " nona Dylon bertanya di dalam hatinya. "Apakah itu berhubungan dengan nona Alicia? Aku sangat penasaran. "
"Anda akan segera tahu, nona. Mohon perhatikan langkah anda! " Tuan Malik menahan pintu lift agar tidak tertutup.
Brak. Tuan muda Nikko masuk ke ruang perawatan Alicia dengan cemas.
"Bagaimana kondisinya? Bukankah tadi nona siuman?" Tanya tuan muda Nikko dengan panik.
"Ya, tuan. Jari-jemari nona bergerak perlahan dan kondisi tubuhnya sudah stabil. Kita hanya menunggu nona terbangun. " Jawab dokter Fa.
"Seharusnya begitu. " Tuan muda Nikko berkata dengan ketus.
Tok tok tok. Tuan Malik mengetuk pintu.
"Tuan muda.. " Sapa tuan Malik.
Nona Dylon masuk ke dalam ruang perawatan Alicia. Matanya terpaku melihat Alicia yang terbaring. Dengan cepat, dia menutupi perasaannya saat ini.
"Sayang, kemarilah! " Perintah tuan muda Nikko.
"Ya. " Nona Dylon berjalan mendekat.
"Perkenalkan, dia adalah tunanganku. Alicia. " Tuan muda Nikko menjelaskan. "Bersikap baiklah padanya! "
"Aku tahu." Jawabnya lesu.
Tuan muda Nikko dan tuan Malik memperhatikan nona Dylon yang sedang melihat nona Alicia. Tidak ada tanda-tanda nona Alicia akan bangun dari tidurnya.
"Ayo kita keluar! " Perintah tuan muda Nikko. "Kalian berdua siap siaga malam ini. Jika nona bangun, segera beritahu saya! " Tuan muda Nikko berkata kepada kedua dokter yang merawat nona Alicia.
"Baik, tuan muda. " Ucap dokter Wang dan dokter Fa.
Tuan muda Nikko, tuan Malik dan nona Dylon berjalan keluar ruangan perawatan Alicia.
"Di manakah keluarga nona Alicia? " Tanya nona Dylon.
"Ada apa? Apakah kau tertarik dengan latar belakangnya? " Tuan muda Nikko bertanya.
"Tidak! "
"Lalu? "
Tuan muda Nikko berhenti melangkah. "Malik, beristirahatlah lebih awal! "
"Baik, tuan. Saya permisi. "
Tuan Malik meninggalkan mereka berdua.
"Ikut aku! " Ajak tuan muda Nikko sambil menggandeng tangannya.
"Bisakah kau berjalan lebih pelan? "
Tuan muda Nikko mempercepat langkahnya tanpa mempedulikan ucapan nona Dylon. Tak tak tak. Suara sepatu nona Dylon. Sampailah mereka ke kamar tamu.
Bruk. Tuan muda Nikko menghempaskan tubuh nona Dylon ke atas ranjang.
"Tuan, ada apa ini? "
Tuan muda Nikko kini berada di atas tubuh nona Dylon.
"Menurutmu? " Tanyanya sinis.
"Aku tidak mengerti. Kau mengundangku ke vilamu dan memperlakukanku seperti seorang tamu. Tapi sekarang... "
Tuan muda Nikko langsung mengecup bibir nona Dylon dengan kasar. Mmuahh muahhh.
"Mm.. Mmuahh.. Tolong hentikan, tuan! "
Tuan muda Nikko tidak mempedulikannya. Dia terus mengecup bibirnya tanpa henti.
"Astaga! Aku tidak bisa menahannya. " ujar nona Dylon dalam hati.
"Apakah menurutmu kau begitu berarti untukku? " Tanya tuan muda Nikko.
"Mmuuaahh.. Apa maksudmu, tuan? "
"Saat sedang berdua, panggil aku dengan nama depanku saja! "
"Ya, sayang Nikko. " Jawab nona Dylon sambil menggigit bibir tipis tuan muda Nikko.
Malam itu, mereka beradu kekuatan di atas ranjang. Tuan muda Nikko sangat menikmati sensasi bercinta dengan nona Dylon. Begitupun sebaliknya, nona Dylon sangat agresif dengan permainan mereka.
Jam 03.00 pagi
Tok tok tok.
"Tuan muda, waktunya sudah tiba! " Terdengar suara tuan Malik di luar pintu kamar tamu.
"Ya, saya sudah siap. Masuklah! "
Ceklek. Saat pintu terbuka, mata tuan Malik melotot ke arah lantai yang berantakan akibat baju pasangan itu berserakan.
"Ambil laptopku di atas meja itu dan bawalah! " Perintah tuan muda Nikko.
"Ya, tuan. "
"Apakah semua sudah siap? "
"Ya, semua kebutuhan anda sudah dipersiapkan. "
"Ayo kita berangkat. "
"Baik, tuan. Pesawat anda sudah menunggu di halaman belakang. "
Tuan Malik menutup pintu kamar tamu dan berjalan mengikuti tuan muda Nikko menuju halaman belakang vila.
"Silahkan, tuan. Kita pakai lift yang langsung menuju ke halaman belakang! "
Tuan muda Nikko tersenyum. "Apakah dokter Sierra sudah berada di Indonesia? "
"Ya, tuan. Dia berkata padaku akan menemui anda jika anda telah tiba di tanah air. "
"Baiklah. Katakan padanya untuk membawa obatku! "
"Saya akan mengirimkan pesan padanya, tuan. "
Mereka keluar dari lift dan mobil jeep sudah menunggu mereka.
"Silahkan, tuan! " Sapa Agra, supir mobil tersebut.
"Siapa saja yang sudah berada di dalam pesawat? "
"Tuan Andrew dan beberapa pelayan. "
"Oke. "
"Malik, katakan pada Tan Shi untuk bertanggungjawab pada ruangan Zero selama kepergianku! "
"Ya, tuan. "
Tuan Malik segera mengirim pesan kepada Tan Shi dan juga dokter Sierra.
"Tuan, semoga anda selamat sampai tujuan. " Ucap Agra.
"Terimakasih. "
Tuan muda Nikko, tuan Malik dan Andrew segera masuk ke pesawat jet milik tuan muda Nikko.
D' Wheels Hotel and Casino, Beverly Hills
Tuan Ricky dan Margaret sedang berjalan menuju kasino yang terletak di lantai 99.
Brak. Pintu terbuka. Para penjudi sedang bertaruh.
"Hai, tuan Ricky! " Sapa seorang laki-laki dengan tuxedo berwarna abu-abu.
"Oh, hello tuan Brimma. Bagaimana kabarmu? Apa yang membawamu kemari? " Tanya tuan Ricky.
"Saya sedang menghadiri pesta salah satu klien bisnis. Sekalian mampir ke kasino yang terkenal dengan ruang poker yang didesain unik ini! "
Margaret menatap Brimma. "Paman, tidakkah kau ingin mengenalkanku pada temanmu ini? " Tanya Margaret.
"Oh, baiklah. " Jawab tuan Ricky. "Perkenalkan, dia adalah pacarku. " Tuan Ricky mengenalkan Margaret sambil menyentuh bahunya.
"Kau memiliki selera yang tidak biasa! " Brimma berkata sambil menyentuh tangan Margaret dan menciumnya.
"Sejujurnya siapa yang ingin berpacaran dengan seorang paman seperti dirinya? " Margaret berbicara dengan nada kesal.
"Haahaa" Brimma tertawa kecil. "Silahkan nikmati malam ini, nona! "
Brimma duduk dengan diapit dua wanita sewaan. Wanita yang duduk di sebelah kanan memakai dress gold transparan tanpa lengan dengan rambut pendek. Dan wanita yang sedang berada di pangkuan Brimma memakai dress sabrina berwarna biru navi. Brimma sedang mencumbu wanita di pangkuannya itu.
"Paman, apakah semua temanmu seperti itu? " Tanya Margaret.
"Akupun juga demikian. Bagi kami, wanita hanyalah sebuah permainan. Jika bosan, kami bisa berganti lagi! "
"Kau adalah laki-laki mesum yang memiliki penyakit! "
"Haha, penyakit? "
"Ya, penyakit seksual! "
"Kau sungguh manis jika sedang cemberut seperti itu! " Tuan Ricky menjamah dagu Margaret dan mendaratkan ciuman mesra untuknya.
Mmuahh. Muaaahh. Margaret membalas ciuman itu.
"Aku ingin taruhan denganmu? " Ujar Margaret.
"Haha, seberapa yakinkah dirimu ingin bertaruh denganku? "
"Jangan-jangan kau takut? " Tanya Margaret.
"Mmm, baiklah. " Tuan Ricky menyetujuinya. "Dengan satu syarat! "
"Katakan! "
"Jika kau kalah, kau akan mulai membuka bajumu satu persatu! "
"Hahh? Sialan! "
"Haha, lihatlah dirimu! Kita bisa mengetahui siapa yang pengecut! "
"Oke, oke! Aku setuju! "
"Baiklah, semua yang ada di sini akan menjadi saksi. " Tuan Ricky berkata pada semua temannya yang berada di dalam kasino.
Semua berbisik.
"Apakah nona itu serius? "
"Apa dia tidak tahu bahwa tuan Ricky adalah pemain judi yang handal? "
"Ya, bagaimana jika dia kalah? Dia akan melepaskan semua pakaiannya di hadapan kita? "
Mereka berbisik satu sama lain merasa bahwa Margaret tidak akan mampu bertaruh melawan tuan Ricky.
"Baiklah, taruhan akan dimulai! " Kata tuan Ricky.
"Apa yang akan kau mainkan? " Tanya Margaret.
"Apapun yang kau inginkan! "
"Mm, sepertinya mesin slot sangat menyenangkan. "
"Baiklah, ayo. "
Margaret dan tuan Ricky menuju salah satu mesin slot.
"Kau ingin bertaruh berapa? " Tanya Margaret.
"Aku ingin bertaruh dirimu! "
"Jangan bercanda! "
"Baiklah, wanita lebih dulu! "
"Oke, aku bertaruh satu juta dolar. "
"Mm, oke! "
Mereka mulai bertaruh di mesin slot seperti yang Margaret inginkan.
"Aku ingin memenangkan jackpot! " Margaret sangat antusias.
"Langkahi dulu diriku! " Jawab tuan Ricky. "Kau tidak akan berhasil meskipun kau melepas pakaianmu! "
"Jangan terlalu senang dulu, tuan! "
Tuan Ricky sesekali menciumi Margaret dan meletakan tangannya ke punggung gadis itu untuk sekedar menjamah. Brimma memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.
"Tuan, apakah saya perlu menelepon tuan muda? " Tanya wanita berambut pendek itu, Anne.
"Belum saatnya. Tunggulah sebentar lagi! "
"Oke. "
"Apakah anda tidak ingin bergabung dengan mereka, tuan? "
"Mm, oke. Ayo kita hampiri mereka! " Jawab Brimma. "Sepertinya permainan akan memanas! "
Mereka bertiga segera beranjak dari sofa tempat mereka minum.
"Bagaimana nona cantik? Apakah usahamu berhasil? " Tanya Brimma sambil memeluk Margaret dari belakang. "Aku akan mengajarimu bagaimana cara membaca lambang-lambang ini! "
Margaret berusaha melepaskan diri dari pelukan Brimma. "Tuan, tolong bersikap sopanlah! "
"Nona, di tempat seperti ini tidak perlu sopan santun! " Brimma berbisik di telinga Margaret. "Semua pria dan wanita yang datang ke tempat ini adalah sama! "
Margaret berbalik badan. "Wanita ****** seperti diriku dan pria mesum seperti dirimu? Itu maksudmu? "
"Ya, kau tahu jelas itu. " Brimma kembali berbisik dan wajahnya semakin mendekat.
Sss.. Klek.
"Lihatlah! Aku telah menekan tombol slot itu dan mesinnya berputar acak... Dan kalian lihat kan? Akulah pemenang putaran pertama ini! Apakah kau ingin melanjutkan putaran kedua? "
"Oh, shit! " Margaret memaki dirinya sendiri.
"Aku sengaja bertaruh bonusku dan berharap dewi fortuna akan berpihak padaku dengan kemenangan mutlak. Tapi nyatanya, sebaliknya! " Margaret marah pada dirinya sendiri.
"Bagaimana? " Tanya tuan Ricky. "Aku akan mengambil uangmu dan sesuai kesepakatan kita! "
"Oke, oke. " Jawab Margaret ketus.
"Apakah aku harus membantumu untuk melepaskan ikatan belakang dressmu itu, nona? " Tanya Brimma.
"Tidak. Akulah yang akan melepaskan ikatan itu dan juga melepaskan bajumu!" Ujar tuan Ricky.
"Apakah aku harus melepasnya di sini? " Tanya Margaret.
"Ya, harus. Karena kami adalah saksi dalam permainan ini. " Ujar Anne.
"Benar, jika penjudi tidak mematuhi peraturan yang telah disepakati maka penjudi itu akan berurusan dengan pihak keamanan dan menjalani hukuman yang lebih sadis daripada berada di atas ranjang seorang raja mesum! Atau....? " Vania berkata menakut-nakuti Margaret.
"Atau apa? Cepat katakan! "
"Atau keputusan akhir berada di tangan lawanmu! "
"Maksudmu adalah paman Ricky? "
"Benar! " Jawab Vania.
Margaret melihat ke arah tuan Ricky dengan memelas.
"Apakah kau sekarang sudah mengerti bagaimana merasa takut? " Tanya tuan Ricky sambil berjalan mendekat dan memegang pinggulnya.
"Aku mohon belas kasihan darimu! " Margaret memohon kepada tuan Ricky.
"Aku tidak suka seseorang yang tidak mentaati peraturan. " Tangan tuan Ricky menjamah punggung gadis itu dan melepaskan ikatan dress.
Klek. Ikatan itu sudah terbuka. Saat ini, punggung halusnya sudah terlihat jelas oleh semua mata yang memandangnya.
"Brim, bisakah kau membuka ikatan dress di lehernya?" Tanya tuan Ricky.
"Tentu. " Brimma segera membuka ikatan itu.
"Oh, Tuhan. Tamatlah riwayatku! " Kata Margaret dalam hati.
Terbukalah dress yang dikenakan Margaret. Buah dadanya terlihat dan begitu mengganggu ketenangan tuan Ricky.
Hap. Tuan Ricky segera menggendong Margaret di dadanya.
"Kau ingin bawa aku kemana? " Tanya Margaret.
"Bayarlah kekalahanmu dengan tubuhmu! " Jawab Tuan Ricky.
"Baiklah, aku akan menepati janjiku! "
"Brim, siapkan kamar untukku! "
"Oke, Anne akan mengantarkan kalian! "
Anne berjalan menuju kamar yang telah disiapkan. Kamar Lady Tulip itu telah dilengkapi dengan kamera tersembungi yang telah disiapkan untuk menjebak Margaret.
Brak. Pintu kamar terbuka. Tuan Ricky segera masul dan membaringkan tubuh Margaret yang setengah telanjang ke atas ranjang.
"Anne, siapkan winenya! "
"Ya, tuan. "
Anne berjalan dan membuka lemari kecil penuh wine. Tuan Ricky segera melepaskan pakaian Margaret.
"Ini wine anda! " Anne memberikan sebotol wine pada tuan Ricky.
"Apa yang ingin kau lakukan? " Tanya Margaret waswas.
"Kau akan mengikuti perintahku sebagai bayaran dari kekalahanmu! "
"Tidak bisakah kita melakukannya dengan biasa? "
"Caraku bercinta berbeda dengan Kebanyakan pria lainnya! Kau hanya harus menurutiku dan aku akan melepaskanmu! "
"Aku mengerti! "
Margaret tertunduk takut. Kini tubuh gadis itu telanjang tanpa sehelai pakaianpun.
"Tubuh yang bagus. " Tuan Ricky mendekat dan menciumi tubuhnya silih berganti. "Apakah kau masih perawan? " Tanyanya.
"Kau akan tahu jika kau melakukannya! "
"Haha, jangan menguji kesabaranku! "
Tuan Ricky menuangkan wine ke dada Margaret. Wine berwarna merah itu terus turun sampai kebagian perutnya. Lalu dijilatinya wine itu oleh tuan Ricky. Anne yang melihat di pojok ruangan segera memberitahu tuan muda William untuk segera menonton pertunjukan bagus melalui jaringan online yang sudah diatur oleh Brimma.
Tuan Ricky segera mengambil syal miliknya dan menutup mata Margaret.
"Untuk apa kau menutup mataku? " tanya Margaret.
"Kau akan merasakan sensasi luar biasa saat bercinta ketika matamu tertutup! "
Plok plok. Tuan Ricky segera memerintahkan Anne untuk memanggil seorang pria yang sudah disiapkan. Lalu pria itu masuk ke dalam kamar dan berada di atas tubuh Margaret.
Mmuah muaahhhh. Pria berbadan kekar itu menciumi tubuh mulus gadis itu. Tuan Ricky dan Anne melihat pertunjukan menarik itu dari tempat duduknya.
"Aku mohon, aku sudah tidak tahan lagi! " Suara Margaret terdengar begitu seksi.
Dengan cepat pria itu menidurinya. Hosh hosh hosh...
"Lebih cepat! " Pinta Margaret.
Pria itu sangat bergairah.
"Bagaimana rasanya bercinta dengan seorang pria bertubuh kekar? " Tuan Ricky bertanya pada Margaret.
"Hah? Suara paman Ricky sangat jauh. Lalu siapakah yang sedang bercinta bersamaku? " Tanya Margaret dalam hatinya.
Karena penasaran, Margaret membuka matanya. Dia sangat terkejut.
"Hah? " Margaret terbengong dan kaget. "Apa maksudmu, paman? Mengapa kau lakukan ini semua padaku? " Margaret menahan tangisnya.
"Haha, aku hanya mewakili temanku untuk membalaskan dendamnya! " Jawab Tuan Ricky.
"Siapa? Siapa temanmu itu? "
Tuan Ricky mendekatinya dan mendongakan dagu gadis itu. "Kau tidak perlu tahu. Aku sudah merekam semua pertunjukan bagusmu! Jika kau tidak ingin aku mempublikasinya, maka baik-baiklah padaku! "
Tuan Ricky bergegas pergi dari kamar. "Ayo semua! Tugas kita sudah selesai! "
Tinggalah Margaret seorang diri. Dia menangis dan meratapi nasibnya.
"Apa yang akan kulakukan dengan hidupku? Siapa yang telah kusinggung hingga paman Ricky berbuat sekeji ini? "
Margaret menangis dan terus menangis mencari jawaban pasti. Tuhan, tolong aku...