My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Unbreakable



Terjadilah apa yang akan terjadi! Biarlah masa lalu berlalu dan aku akan terus berjalan menapaki takdir yang sudah menungguku! Seberapa hebatnya seseorang melawan takdir, dia tetap tidak akan bisa melewati kematian yang berada di depan mata!


Kediaman keluarga Clara


Naomi sedang mencari Greta di halaman belakang rumah Clara.


Srek srek. Naomi berjalan menelusuri taman bunga. "Wowww... " Mata Naomi berbinar melihat keindahan taman bunga milik nona Clara.


"Apakah kau suka taman bunga ini? " Tanya seorang gadis yang memakai topi khas pelayan dan sedang menyirami bunga matahari.


"Ya, aku sangat suka dengan bunga. Lebih tepatnya bunga tulip. " Jawab Naomi.


"Oh, apakah kau Naomi? " Tanya gadis itu. "Perkenalkan namaku Rere. Aku adalah salah satu pelayan di sini yang khusus merawat taman. "


"Oh hai.. Aku Naomi. Senang berkenalan denganmu! "


Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing. Mereka cepat sekali akrab dan saling bertukar nomor telepon.


"Apakah nona Clara juga menyukai bunga? " Tanya Naomi.


"Ya, nona sangat menyukai bunga matahari dan mawar putih. "


"Oh, pantas saja nona begitu lembut. "


"Ya, nona kita selain sangat cantik, dia juga baik hati. Namun sayang.. " Rere menghentikan bicaranya.


"Namun apa? "


"Namun... "


"Ehhm.. " Suara berdehem seseorang dari arah belakang mereka. Dengan cepat Rere segera menghampiri orang itu.


"Salam, tuan Handerson. " Ucap Rere dengan sopan. "Mari sini, Naomi! Ucapkan salam kepada tuan Handerson! " Perintah Rere.


Naomipun menuruti perkataan Rere. "Salam tuan Handerson. Nama saya Naomi. "


"Ya, saya tahu. Greta sudah memberitahu. " Tuan Handerson memperhatikan Naomi dengan seksama. "Ayo ikut saya! "


Naomi berjalan beriringan dengan tuan Handerson menjauh dari taman dan menuju ke ruang kerja tuan Handerson. Ceklek. Tuan Handerson membuka pintu ruang kerjanya. Beliau berjalan membelakangi Naomi.


Tuan Handerson membuka percakapan. "Saya sudah lama mengikuti nona Clara. Tahukah kau dari negara mana nona berasal? " Tanya tuan Handerson sambil berbalik dan menatap Naomi.


"Ti.. Tidak. "


"Apakah nona tidak bercerita tentang dirinya? "


"Tidak, tuan. "


Tuan Handerson masih menatap Naomi dengan sorot mata yang tajam. "Baiklah, saya akan menceritakan sedikit tentang nona Clara tapi kau harus mengingatnya! Karena saya hanya akan bercerita satu kali! "


"Ya, tuan. "


"Nona Clara berasal dari negara Inggris. Dia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Ayah nona Clara adalah tuan Hubert Wellington dan ibunya sudah tiada. Namun ayahnya telah menikah lagi dan memiliki dua orang putra. " Tuan Handerson berhenti sejenak. "Sebenarnya nona memiliki saudari tapi meninggal sejak usia balita. "


"Lalu dimanakah mereka berada, tuan? "


"Mereka semua menetap di Inggris. "


"Oh? " Naomi kaget. "Aku tidak percaya dengan apa yang tuan Handerson katakan! " Ucap Naomi dalam hati.


"Nona Clara tinggal di Indonesia karena beberapa alasan. Salah satu alasan yang harus kau tahu adalah makam ibunya nona Clara berada di Indonesia. " Tuan Handerson melanjutkan.


"Hah? Jadi itu alasannya. " Naomi berkata dalam hati.


" Bisakah kau bayangkan perasaannya? " Tanya tuan Handerson.


Naomi menatap tuan Handerson dengan bingung, "Tuan, apa maksud dari perkataan anda? Saya kurang mengerti tujuan anda menceritakan tentang kehidupan pribadi nona Clara! "


"Saya ingin siapapun di sini mengetahui tentang nona dan jangan pernah coba untuk mengkhianatinya! "


"Astaga, tuan! Saya tidak pernah mengkhianati tuan saya! " Naomi bicara dengan sedikit emosi karena dia merasa seperti dituduh.


"Saya harap begitu. Karena kau adalah pelayan khusus nona yang dikirimkan oleh tuan Sean, saya ingin memberitahumu beberapa hal. " Tuan Handerson bicara dengan tatapan penuh curiga kepada Naomi.


"Silahkan, tuan. " Jawab Naomi datar. "Aku tidak takut! " Jauh di lubuk hatinya dia tidak pernah takut apapun.


"Pertama, jika ada sesuatu yang mencurigakan silahkan hubungi kami di panggilan nomor satu di ponselmu. Kudua, nona memiliki alergi makanan terhadap kepiting dan sejenisnya tetapi tidak dengan berbagai jenis ikan. Ketiga, jangan pernah lengah untuk memantau kesehatannya. "


"Baik. Saya akan mengingatnya. "


"Oh ya, saya mendengar kabar bahwa nona Clara pernah diberi obat perangsang saat sedang berada di Malibu? "


"Ya, benar. Tuan muda William mengirimkan obat penawar untuknya. "


"Saya tahu. Maka dari itu harap kau menjaga nona dengan baik. "


"Saya mengerti, tuan. "


"Saya bertanggungjawab atas keamanan rumah ini. Jangan sungkan untuk meminta bantuan saya!"


"Terimakasih atas kepercayaan anda, tuan Handerson. "


"Kau bisa kembali bekerja. "


"Ya, saya permisi. "


Naomi berjalan meninggalkan ruang kerja tuan Handerson. Dia memegang ponsel di tangannya untuk menjawab telepon yang sudah dari tadi bergetar.


"Halo tuan Sean? "


"Bagaimana kabarmu? "


"Sangat baik, tuan. "


"Bagus. Lalu apa yang sedang kau lakukan? "


"Saya baru saja keluar dari ruangan tuan Handerson. Beliau memberitahu saya beberapa hal tentang nona Clara. "


"Oh, benarkah? Itu sangat bagus. Mereka sudah menerima kehadiranmu di rumah itu. "


"Ya, tuan. Beliau sangat teliti. "


"Saya tahu kau pasti mengerti apa yang harus kau lakukan di sana! "


"Ya, tuan. Selain menjaga nona, tidak ada hal lagi yang harus saya lakukan. "


"Benar! Sekarang coba kau dekati nona. Dia sangat menyukai orang yang pintar. "


"Baik, tuan. "


Setelah menerima telepon dari tuan Sean, Naomi segera mencari nona Clara.


Pt Fantastic Prima, Indonesia


Hasil pemilihan presiden direktur baru sudah selesai. Terpampang di layar lcd projector kedua nama kandidat yaitu tuan Adit dan tuan muda Nikko.


"Hah? " Tuan Brata terkejut dengan hasil akhir.


"Apakah ini benar? " Tanya tuan Putra.


"Seperti yang kita lihat, mereka sama-sama unggul. " Ujar tuan Eric.


Di layar lcd tertera hasil pemilihan suara dari para anggota pemegang saham Pt Fantastic Prima Indonesia.


Raden Raditya Atmadja : 5 suara


Nikko Leonard Atmadja : 5 suara


"Kenapa mereka seimbang? " Tanya tuan Putra kepada tuan Heidy. "Dan siapa diantara kita yang berkhianat? "


"Mana saya tahu! " Jawab tuan Heidy. "Semua yang berada di sini terlihat mencurigakan! "


"Benar! Seharusnya tuan muda mendapatkan lebih banyak suara! " Ujar tuan Putra.


"Ya, benar! " Tuan Heidy mengiyakan opini tuan Putra, dan jauh di dalam hatinya dia berkata, "Akulah sang pengkhianat! "


Mereka yang berada di dalam ruangan itu sangat tidak nyaman dengan hasil akhir pemungutan suara. Sesaat keadaan menjadi ricuh dan tak terkontrol.


Brak. Suara pintu ruang rapat terbuka dan munculah sosok Sean yang terlihat angkuh dan dingin.


"Apakah pemungutan suara sudah selesai? Sepertinya saya melewatkannya! "


"Ada urusan apa kau kemari? Kami sedang mengadakan rapat internal perusahaan. " Jawab tuan Putra.


"Mengapa anda bersikap begitu keras kepada salah satu anggota pemegang saham di perusahaan ini, paman Putra? "


Semua orang di dalam ruangan itu terkejut dan menatap segan ke arah Sean.


"Bicara apa kau? " Tuan Eric bertanya dengan emosi yang sudah tak tertahankan. "Sejak kapan kau menjadi salah satu bagian dari kami? "


Ditanya seperti itu oleh tuan Putra, Sean hanya tersenyum. "Suara saya dapat menentukan hasil akhir! Tidakkah kalian melihat nama-nama anggota para pemegang saham? "


Setiap orang memiliki sebuah dokumen yang terletak di atas meja. Di dalam dokumen itu, selain tercatat profit yang telah dicapai oleh perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, di sanapun tertulis nama-nama anggota pemegang saham Pt Fantastic Prima dan program kerja untuk satu tahun ke depan.


Mereka mengangguk-anggukan kepala. "Ya, dia benar. Namanya tercantum di sini! " Ujar tuan Heidy.


"Ya.. Ya.. Kita memerlukan kehadirannya! " Ucap beberapa orang lainnya.


Tuan muda Nikko menatap tuan Malik. Ditatap seperti itupun, membuat tuan Malik merasa canggung. Diapun berjalan mendekati tuan muda Nikko.


"Tuan muda? " Sapa tuan Malik.


"Hmm.. "


"Anda tidak perlu khawatir! Kita tetap akan menjalankan rencana semula. Kita tidak akan goyah! " Bisik tuan Malik.


"Sebaiknya seperti itu! Apa kau sanggup menanggung konsekuensinya? "


"Itu tidak akan terjadi, tuan muda. " Tuan Malik berkata dengan yakin dan segera kembali ke tempat semula. Tempat di mana dia berdiri tepat di belakang tuan muda Nikko.


"Lalu bagaimana? Apakah kehadiran dan suara saya diperlukan di dalam rapat ini? " Sean mematahkan keraguan di hati setiap orang yang berada di ruangan ini. Dia berjalan ke ujung sebelah kiri mendekati sebuah kursi kosong di sebelah tuan Eric dan duduk dengan nyaman di sana.


"Ya, cepat kau berikan suaramu untuk kami! " Ujar tuan Adit.


"Silahkan, tuan Sean. " Tuan Farel berkata sambil menyerahkan kertas kecil ke tangan Sean.


"Baiklah, saya akan menuliskan nama kandidat yang saya percaya! " Sean berkata dengan lantang sambil melirik ke arah tuan muda Nikko.


"Kenapa Sean melirikku? Apakah dia adalah orang suruhan William? " Pikir tuan muda Nikko.


Setelah Sean selesai menulis nama kandidat pilihannya, iapun menyerahkan kertas kecil itu kepada tuan Farel. "Silahkan, tuan Farel! "


"Terimakasih, tuan Sean. " Ucap tuan Farel sambil menganggukan kepalanya.


Sean melemparkan senyum kepada tuan Adit di saat tuan Adit menatapnya. Dan tuan Adit membalas senyum Sean dengan bibir yang membentuk kata 'terimakasih '.


"Baiklah, hasil suara terakhir adalah.. " Tuan Farel segera menekan keyboard pada laptopnya. Klik.


Raden Raditya Atmadja : 6 suara


Nikko Leonard Atmadja : 5 suara


Semua mata terpana melihat hasil akhir pemilihan suara, termasuk para sekutu tuan muda Nikko yang terlihat tidak bisa menerimanya. Mereka marah, kecewa, dan mencurigai bahwa semua merupakan kebohongan belaka.


Brak. Tuan Putra memukul meja dengan keras. "Ini tidak masuk akal! " Ujar tuan Putra. "Siapa dalang di balik semua ini? "


"Bagaimana bisa seperti ini? " Tanya tuan Eric yang sangat emosional.


"Ya, perhitungan kalian mungkin ada kesalahan! " Ujar tuan Heidy sambil melirik ke arah tuan Adit.


"Kalian harus mempercayai hasil akhir ini! Karena ini adalah fakta. Mau atau tidak, kalian harus mengikuti prosedur yang tertera di perusahaan ini! " Ujar tuan Farel.


"Dalam waktu seminggu, saya akan menarik investasi di perusahaan ini! " Ujar tuan Putra.


"Paman! " Panggil tuan muda Nikko dengan tenang.


"Mengapa kau hanya berdiam diri saja, Nikko? Apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi kecurangan ini? "


"Ini adalah pemungutan suara yang dilakukan dengan demokrasi. Tidak ada kecurangan di sini. Kalah atau menang adalah hal biasa di dalam demokrasi! " Jelas Sean dengan tenang.


"Paman tenang saja! Mari kita hormati keputusan akhir ini dengan kepala dingin! " Tuan muda Nikko menatap semua sekutunya dengan sorot mata tajam yang mengisyaratkan suatu perintah agar mereka mengikuti permainannya.


"Baiklah, jika tuan muda Nikko sudah berkata seperti itu! " Tuan Putra segera menuruti perintah tuan muda Nikko. "Kami tidak berani melanggar keputusan akhir ini! "


"Ya, benar. Tuan muda pasti melakukan yang terbaik. " Ujar tuan Heidy.


"Kami mengerti, tuan muda. " Tuan Eric berbicara sambil mengepalkan tangannya.


Setelah suasana stabil, tuan Farel segera mengeluarkan secarik kertas berisi persetujuan semua pihak terkait keputusan itu dan meminta semua menandatanganinya.


"Baiklah, rapat hari ini sampai di sini! " Ucap tuan Farel. "Terimakasih atas partisipasi anda sekalian. "


Mereka keluar satu persatu dari ruangan itu. Beberapa orang terlihat gembira dan ada juga beberapa diantara mereka yang berwajah masam.


"Apakah kau tahu maksud perkataan tuan muda? " Tanya tuan Heidy kepada tuan Putra yang berjalan di sampingnya.


"Tidak! " tuan Putra menjawab sambil mengangkat kedua bahunya. "Saya sangat kecewa! "


"Ya, sayapun demikian. Tapi kita tidak bisa membantah perkataan tuan muda! "


"Kau benar! Mari kita terus mendukungnya! "


Kring kring kring. Ponsel tuan Putra berbunyi.


"Saya akan mengangkat telepon dulu. Kau duluan saja! "


"Baiklah. Saya tunggu kau di ruangan saya! "


"Ya. "


Tuan Heidy tidak curiga sedikitpun dengan tuan Putra. Beliau segera pergi ke ruangannya yang terletak di lantai lima gedung ini. Sementara itu, tuan Putra menerima telepon dari tuan Malik di ujung koridor.


"Ya, tuan. Ada apa? "


"Segera setelah ini, kau ajak tuan Heidy ke ruangan tuan Adit! "


"Ada apa, tuan? "


"Akan ada pertunjukan bagus yang sayang jika kau lewatkan! "


Setelah berbicara, tuan Malik langsung menutup teleponnya.


"Ada apa? " Tuan Putra bergumam sendiri. Beliaupun berjalan menuju ruangan tuan Heidy.


Di dalam ruang rapat, terlihat tuan Adit, tuan Brata, Sean, dan Adam masih duduk sambil berbincang hangat. Dan tuan muda Nikko memperhatikan dengan ujung matanya. Lalu ia berjalan menghampiri tuan Adit.


"Paman, maukah anda menerima ucapan selamat dariku? " Tuan muda Nikko menjulurkan tangannya kepada tuan Adit.


"Oh, tentu. " Tuan Adit meraih tangan tuan muda Nikko.


"Saya memiliki sebuah berita baik untuk paman. Biarkan saya ikut bersama paman ke ruangan paman. " Tuan muda Nikko berbisik di telinga tuan Adit.


"Sepertinya ada yang tidak beres pada Nikko! " Ucap Sean pelan pada tuan Brata dan Adam.


"Berita apa? Mengapa tidak kau beritahu saja di sini? " Tanya tuan Adit.


"Tidak. Ini masalah keluarga Atmadja. Orang luar tidak boleh mengetahuinya! " Ucap tuan muda Nikko lantang.


"Kalau begitu, biarkan saya ikut. " Adam berkata pada tuan Adit. "Karena ayah saya merupakan kepala pelayan keluarga anda, maka saya bukanlah orang lain! "


"Baiklah, itu masuk akal! " Ucap tuan muda Nikko.


"Kalau begitu, saya akan menunggu di luar ruangan anda! " Ucap Sean kepada tuan Adit.


"Tidak perlu menunggu kami, Sean! " Seru tuan muda Nikko sambil menatap ke arah Sean. "Kami mungkin akan memakan waktu yang agak lama karena kami sudah lama tidak berjumpa! "


"Kalau begitu saya akan menghubungimu, Sean! " Ucap tuan Adit sedikit meyakinkan Sean.


Tapi bukan Sean kalau tidak mengerti keadaan. "Baiklah, tuan. Saya akan menunggu kabar anda! "


Sean dan tuan Brata segera beranjak dari ruangan itu. Tuan Adit, tuan muda Nikko dan Adam meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh tuan Malik. Sampailah di ruangan tuan Adit yang terletak di lantai tiga belas.


Ceklek. Tuan Adit masuk ke dalam ruangannya dan sungguh terkejut beliau mendapatkan tuan Putra dan juga tuan Heidy sudah berada di dalam ruangannya.


"Mengapa kalian bisa berada di dalam ruangan saya? " Tanya tuan Adit.


Seketika itupun, tuan Putra dan tuan Heidy bingung harus menjawab apa!


"Ka.. Kami.. Kami.. " Tuan Putra menjawab dengan terbata-bata. Tidak terlintas jawaban apapun di dalam benaknya.


Tuan muda Nikko menyadari bahwa mereka tidak mempersiapkan jawaban apapun, langsung mengambil alih percakapan. "Itu tidak penting, paman. " Tuan muda Nikko memandangi ayah dari Alicia, gadis yang ia cintai. "Berita yang saya bawa lebih penting dari apapun! "


"Cepat katakan! "


"Haha..! " Tuan muda Nikko tertawa. "Jangan terburu-buru, paman. Saya ingin menyebutkan harga satu berita yang saya bawa ini! "


"Harga apa yang kau maksudkan? Apakah kau sedang menekan saya? "


"Benar! " Tuan muda Nikko berjalan mendekati tuan Adit. "Sebuah harga yang pantas untuk saya dapatkan! "


"Gila! Ini gila! " Ujar tuan Adit.


"Malik, siapkan videonya dan perlihatkan kepada tuan Adit! "


"Baik, tuan muda. "


Tuan Malik segera menyiapkan laptopnya dan segera memperlihatkan kepada tuan Adit.


"Silahkan anda lihat, tuan! " Ucap tuan Malik.


Semua orang yang berada di sana tercengang dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tuan Adit menahan air matanya dan juga emosi yang sudah mengguncang batinnya. Video itu sungguh mampu membuat tuan Adit melemah di hadapan musuh.


Tuan muda Nikko sangat senang melihat situasi itu. Kini, ia telah berhasil menjalankan separuh dari rencana jahatnya. "Setengah dari rencanaku telah berhasil dan setengahnya lagi akan segera ku eksekusi! " Ucapnya dalam hati sambil tersenyum licik.


#salamembaca