
Malibu Beach Club
Rose Room 101
"Hmm.. Hangat! Siapa yang menjagaku? " ucap Clara di dalam hati.
Clara membuka matanya. Setengah sadar, dia melihat sosok pria yang mendekapnya.
"HAH? " Clara kaget. "Aaaaarrgghhhhh!!! "
Clara berteriak. Sean yang sedang mendekapnya terbangun karena teriakannya yang memenuhi ruangan.
"Ada apa, Ra? "
"Kauuuuuu! " Clara menunjuk Sean dengan marah.
"Tenang, Ra! " Sean mencoba untuk menenangkannya tapi tidak berhasil.
"Kauuuu! Apa yang telah kau lakukan? " Clara memarahinya sambil memukul-mukul badan Sean dengan sekuat tenaga.
"Ra, dengarkan aku dulu! Dengarkan penjelasanku! "
"Tidaaakkk! "
"Ra, jangan salah paham! " Sean memelas. "Kau, jangan salah paham lagi padaku! "
"Apa maksudmu dengan salah paham? " Clara melotot pada Sean.
"Oke, oke. Aku akan keluar. Kau tunggu di sini. Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu! "
"Tidaakk! Tidak perlu! Kau cukup tinggalkan aku sendiri! "
Sean tidak ingin berdebat dengan wanita yang dia cintai. Diapun memilih untuk pergi.
"Baiklah. Setelah dirimu tenang, aku akan datang lagi. " Sean meraih tangan Clara dan berkata, "Minumlah obat ini segera dengan air hangat! "
Tap tap tap.
Sean berjalan dan pergi keluar. Brak. Setelah kepergian Sean, Clara tersadar. Dia membuka selimut yang menutupi badannya.
Dia berpikir, "Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Siapa yang mengganti pakaianku? "
Air matanya mengalir. Perasaan yang kini dia rasakan bercampur antara sedih, benci, kecewa dan marah. Tapi Clara tidak tahu harus marah pada siapa!
"Mengapa hati ini begitu sedih dengan kepergian Sean? " Clara tidak ingat apapun saat ini. "Sebaiknya aku bertanya pada pak Randi! "
Clara bangun dari tempat tidur dan hendak membersihkan dirinya.
Bruk. Clara terjatuh karena kepalanya terasa pusing.
"Aduuuhhh! " Clara mencoba bangkit sambil memegang kepalanya.
Brakkk. Pintu kamar terbuka lagi dan nampaklah wajah Sean yang penuh kekhawatiran.
Sean berlari. "Ra, apa kau baik-baik saja? "
"Mengapa kau kembali? "
"Aku memang belum pergi. Aku hanya berdiri di depan pintu menunggumu membutuhkanku! "
"Bagaimana jika aku tidak butuh bantuanmu? "
"Apa kau lupa kejadian kemarin? " tanya Sean dengan penasaran.
"Apa? "
"Kau memperkosaku! "
Plak! Clara menampar wajah Sean.
"Maaf. " Clara menutup mulutnya karena kaget dengan sikapnya yang kasar.
"Aku tidak pernah membayangkan jika seorang tuan putri sepertimu bertindak kasar padaku! "
"Bagaimana kau tahu jika aku adalah seorang yang kasar jika kau tidak menjebakku? "
Sean tersenyum. Lalu dengan cepat menggendong Clara.
"Baiklah, ratuku. Sekarang sebaiknya kau berbaring! Aku akan mengambilkan segelas air mineral untukmu! "
Karena Clara merasa tubuhnya masih lemah, diapun menuruti perintah Sean. Setelah Sean memberikan obat untuknya, keringat bercucuran membasahi badannya.
"Sean, tolong panggilkan pak Randi! "
"Oke. "
Sean mengeluarkan ponselnya. Tut tut tut.
"Halo, tuan Sean. " sapa pak Randi.
"Ya, nona Clara memanggilmu. "
"Baiklah, saya akan segera ke sana."
Sean berjalan keluar kamar untuk memanggil pelayan.
"Penjaga! "
"Ada apa, tuan? "
"Tolong panggilkan Naomi ke kamar nona Clara! "
"Baik, tuan. "
Pelayan itu pergi dengan cepat.
"Siapa Naomi? "
"Dia adalah pelayan wanita yang kuminta untuk menjagamu, Ra! "
"Apa? Kau membuat keputusan tanpa persetujuanku? "
"Haha, ingatlah! Kau sudah menjadi milikku. Dan mulai sekarang lupakan Ginza. Aku akan datang untuk melamarmu! "
"Apa maksudmu? "
"Karena kau telah semena-mena terhadapku, maka kau harus bertanggungjawab padaku! "
"Berhenti berbicara yang tidak masuk akal, Sean! "
"Jika kau tidak percaya padaku, periksalah ke dokter. Mungkin benihku sudah berada di rahimmu! "
Sean tersenyum puas mengerjai Clara. Dengan begitu dia berharap Clara bisa menjadi miliknya sepenuhnya.
Tok tok tok
"Nona, bolehkah saya masuk? " pak Randi bertanya.
"Masuklah! "
Pak Randi berjalan masuk dan membungkukkan badannya pada Clara.
"Nona, bagaimana keadaan anda? "
"Aku akan meninggalkan kalian berdua. Berbincanglah! " ucap Sean.
Sean berjalan keluar dari kamar dan menutup pintunya.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi? " Clara menatap pak Randi.
"Anda diberikan minuman oleh Dido yang di dalamnya sudah dicampurkan obat perangsang. "
Clara mengerutkan keningnya, "Lalu? "
"Lalu tuan Sean membantu anda! "
"Bagaimana cara dia membantuku? "
"Tuan muda William mengirimkan obat untuk anda! "
Clara terdiam mendengar penjelasan pak Randi. Dia membenci dirinya sendiri.
"Ternyata aku sudah salah paham padanya! Apakah dia akan membenciku? Tapi siapa yang mengganti pakaianku? "
Clara mengepalkan tangannya. "Bagaimana dengan Dido? "
"Tuan muda William sudah membereskannya! "
Tok tok tok
Mereka berdua terdiam. Brak. Pintu terbuka dan datanglah Sean bersama dengan Naomi.
"Nona, perkenalkan nama saya Naomi Branch. Saya siap melayani anda dan setia pada anda! "
"Aku tidak membutuhkan seorang pelayan tambahan! " jawab Clara dengan ketus.
"Kau tidak berhak menentukan. Akulah yang memutuskan segala sesuatunya! "
"Kau pikir siapa dirimu? " Clara berteriak pada Sean.
"Mulai sekarang aku adalah tunanganmu! " Sean memandang Clara dengan senyum. "Cepat siapkan air mandi nona dan siapkan juga pakaian untuknya! "
"Ya, tuan. " jawab Naomi.
Clara terdiam tidak membantah kata-kata Sean.
"Pak Randi, kau bisa keluar dan menunggu kami di ruang mr Santo! "
"Baik, tuan. Mohon anda menjaga nona kami dengan baik dan terimakasih atas pertolongan anda. "
Pak Randi pergi meninggalkan mereka.
"Bersihkan dirimu dan pakailah pakaian yang telah kusiapkan untukmu. Aku akan menunggumu di ruang tengah, Claraku! " Sean mencium kening Clara.
Kediaman keluarga tuan Adit Atmadja, Indonesia
Ruang baca tuan Adit
"Ya, asistenku akan hadir sebagai perwakilanku di perusahaan anda, paman. "
"Baiklah, kau memang selalu bisa kuandalkan! "
"Jangan terlalu sungkan padaku, ayah mertua! "
Tuan Adit kaget mendengar William memanggilnya dengan sebutan ayah mertua hingga beliau tidak mampu berkata-kata.
"Ya, ehm.. Terimakasih, Will! "
Faiz diam-diam mendengarkan percakapan antara tuan Adit dan tuan muda William. Dia segera pergi melapor kepada tuan Malik.
Tut tut tut
"Ada apa? "
"Ya, tuan. Saya ingin melaporkan bahwa baru saja saya mendengar tuan Adit berbicara dengan tuan muda William tentang kehadirannya di perusahaan. "
"Baiklah, tingkatkan kinerjamu. Akan ada misi besar untukmu dari tuan muda Nikko. "
"Saya menunggu misi itu, tuan. "
Klik. Sambungan telepon terputus dan Faiz semakin penasaran dengan misi besar yang dikatakan tuan Malik itu.
Mountainview, California
Tuan muda Nikko sedang duduk santai dengan nona Dylon di ruang tengah. Tuan Malik menghampiri.
"Maaf mengganggu anda, tuan muda! "
Tuan muda Nikko melihat ke arahnya dengan tatapan marah.
"Ada apa? "
Hawa dingin menyelimuti sekitar ruangan itu. "Sepertinya aku mengganggu kesenangan tuan muda! " pikir tuan Malik.
Tuan Malik berjalan mendekati tuan muda Nikko dan membisikan sesuatu ke telinganya. Dalam sekejap reaksi tuan muda Nikko sangat tidak biasa.
Sejenak tuan muda Nikko menarik nafasnya. "Baiklah, sayang. Sebaiknya kau beristirahat. Tidurlah dan jangan menungguku. Aku ada urusan mendadak. Pelayan akan mengantarmu ke kamar tamu. " ucap tuan muda Nikko.
"Oke. Tapi sebelum kau pergi, berikanlah aku pelukan hangat! " nona Dylon berdiri dan menghampiri tuan muda Nikko lalu memeluknya.
"Hmmm.. Wangi tubuh yang kurindukan. Aku rela berbagi waktuku untukmu jika itu harus kulakukan. " hati nona Dylon berbunga-bunga.
"Pingkan, tolong antarkan nona Dylon ke kamarnya! " perintah tuan muda Nikko.
"Ya, tuan. " jawab Pingkan. "Silahkan ikuti saya, nona! "
Nona Dylon berjalan di belakang Pingkan.
"Sudah berapa lama kau tinggal di sini? " tanya nona Dylon.
"Apakah anda sedang menginterogasi saya? "
"Haha, apakah begitu susah menjawab pertanyaan saya? "
"Maaf, nona. Saya hanya tidak suka berbicara dengan orang asing. "
"Oh, baiklah. Aku akan memastikan statusmu di vila ini! "
Ceklek. Pingkan membukakan pintu kamar tamu yang akan ditempati oleh nona Dylon.
"Silahkan, nona! Ini adalah kamar tidur tamu untuk anda. Jika anda perlu sesuatu, silahkan memanggilku! "
Pingkan segera pergi meninggalkan nona Dylon.
"Begitukah cara tuan muda Nikko memberi training pada pelayannya? " nona Dylon sedang menyindir Pingkan. "Jika saya menjadi dirinya, tentu pelayan sepertimu sudah tidak berada di sini lagi! "
"Dan untung saja, anda bukanlah tuan saya. " Pingkan menoleh pada nona Dylon. "Yang anda harus tahu, saya bukanlah pelayan seperti apa yang anda bayangkan! Saya juga melayani tuan di atas ranjangnya! " jawab Pingkan.
"Hmm, haha.. kau harus tahu point utama itu! " Pingkan tertawa dalam hatinya.
Ruang Jaringan Zero, Lantai Tiga
Brak. Pintu ruang Jaringan Zero terbuka oleh tuan muda Nikko. Semua kru di dalam ruangan itu berdiri dan membungkukkan badan.
"Salam, tuan. " sapa Andrew.
"Siapa yang bertanggungjawab di sini? " tanya tuan Nikko dengan marah.
"Saya, tuan. " Andrew mengangkat tangannya.
"Jelaskan pada saya, apa yang terjadi dengan B cyber? "
Ruangan Jaringan Zero mengangkat konsep modern kontemporer. Selain kedap suara, ruangan ini dilengkapi dengan keamanan yang tinggi. Pilihan warna monokrom hitam memberikan kesan elegan. Begitupun dengan kaca sebagai pengganti dinding, jendela besar, dan tentunya pemasangan skylight di bagian atapnya yang miring membuatnya terkesan unik dan berbeda. Tata letak mejanya berhadapan dengan pemilihan warna yang senada. Krunya beranggotakan dua puluh orang dengan keahlian di bidang Information Technology dibawah pimpinan tuan Malik.
Tuan muda Nikko berjalan ke tengah ruangan.
"Tuan muda, lihatlah titik koordiinat terakhir B Cyber! " Andrew memperlihatkan letak titik koordiinat itu dengan laptopnya. "Setelah itu menghilang! "
Tuan muda Nikko melipat tangan di depan dadanya.
"Hmm, seseorang telah menangkap Dido! "
"Ya, tuan. Kami memiliki opini demikian. " sambung Andrew.
"Bagaimana kau melihat hal ini, Malik? " Tuan muda Nikko melirik ke arah tuan Malik.
"Maafkan atas kelancangan saya, tuan. " Tuan Malik menatap tuan muda Nikko. "Saya memikirkan sesuatu! "
"Apa? "
"Kami, para pengikut anda memiliki sumpah setia. Kami bisa melindungi diri kami sendiri! Dan itu juga berlaku pada Dido. "
"Maksudmu adalah..? "
"Ya, racun Volk dari para ilmuan kita yang tertanam di bawah lidah kami! "
"Itu artinya kalian lebih memilih bunuh diri daripada memberikan informasi? "
"Benar! Itu adalah cara setia kami pada anda, tuan. Selain itu anda juga sudah membiayai seluruh keluarga kami, bukan? "
"Ya, saya tahu kalianlah yang terbaik! Kalau begitu, bisakah kau memperlihatkan padaku beberapa dokumen terakhir yang diambil dari B Cyber? "
"Ya, tuan. Saya akan melakukan analisa dari jaringan B Cyber, kemudian mengujinya dan mengevaluasi implementasi jaringan tersebut. Jika semua sudah siap, saya akan menyerahkannya kepada Andrew untuk segera memecahkan masalah pada sistem operasional informasi. " Tan Shi menjelaskan dengan detil kepada tuan muda Nikko.
Tuan muda Nikko memperhatikan Tan Shi dengan senyum puas yang terpapar di wajah tampannya.
"Hmm, saya sangat mengandalkanmu! Bukankah kau Tan Shi? Seorang pemuda asal Seattle, Washington? " tanya tuan muda Nikko.
"Benar, tuan. Anda menarik saya dari Universitas Seattle dan mempekerjakan saya di perusahaan anda. " jawab Tan Shi. "Anda juga membiayai uang kuliah saya dan membayar uang perawatan ibu saya di rumah sakit umum Seattle. "
"Itu semua saya lakukan karena kecerdasan yang kau miliki! "
"Terimakasih banyak, tuan. "
"Baiklah, kalian kembalilah bekerja! Jika ada perkembangan segera beritahu saya! "
"Baik, tuan. " semua serempak menjawab.
Para kru bekerja tidak mengenal siang ataupun malam. Mereka bekerja dengan hati gembira karena tingginya bayaran yang dijanjikan oleh tuan muda Nikko dan tentunya biaya hidup untuk keluarga mereka.
Tuan muda Nikko dan tuan Malik keluar dari ruangan tersebut dengan membawa rasa puas.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? "
"Kau, Ikut saya ke ruang kerja! "
Klik. Pintu lift tertutup. Mereka menuju ruang kerja yang berada di ujung koridor melewati kamar nona Dylon.
Tuan Malik dengan gugup bertanya pada tuan muda Nikko. "Tuan, Apakah anda akan membiarkan nona Dylon tinggal di sini? "
"Ya, saya akan mempercayainya untuk menjaga Alicia! "
"Apaaa, tuan?"
Tuan Malik sangat terkejut mendengar jawaban tuan muda Nikko.
"Sepertinya kau tidak setuju dengan keputusan saya! "
"Bukan begitu, tuan. " sanggah tuan Malik. "Saya hanya penasaran dengan pemikiran anda yang luar biasa ini! "
"Haahaa.. " tuan muda Nikko tertawa. "Pertama, kau harus pintar membaca situasi. Kedua, atur strategi. Ketiga, serang. Keempat, menang! " tuan muda Nikko bicara dengan antusias.
"Anda adalah seorang pemikir yang jenius, tuan. Lalu, situasi macam apa yang anda maksudkan? "
"Pertama, situasi ini sangat sulit untuk saya dalam membuat keputusan. Karena rapat pemegang saham di Indonesia mendesak saya untuk segera pulang. Tapi saya sangat berat meninggalkan Alicia. Tahukah kau strategi apa yang saya buat? "
"Tentu anda yang paling tahu, tuan! "
"Saya tidak bisa terus menerus menyembunyikan Alicia! Benar, bukan? "
"Ya, cepat atau lambat musuh pasti mengetahui keberadaan nona! "
"Bagus. Karena itu, tempat yang paling aman adalah bersama musuh. Dengan begitu, dia akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu pada Alicia! " tuan muda Nikko tersenyum di ujung bibirnya. "Kau tahu, dia tidak akan mengambil resiko untuk itu! "
"Tapi bagaimana jika nona Dylon memberi informasi kepada tuan muda William? "
"Haahaa! Dengan letak vila ini yang sulit untuk dimasuki oleh siapapun, perlu pembelajaran agar selamat sampai di tempat ini! "
"Anda benar, tuan. Mengingat bahwa tempat ini dikelilingi oleh perairan dan gunung tinggi di belakang vila juga pertahanan signal empat lapis yang akan membuat mereka berjalan tanpa arah! "
"Yang ketiga adalah waktunya penyerangan. Yaitu saat semua berjalan dengan baik dan sesuai rencana, saya akan melakukan agresi ke lawan. " tuan muda Nikko memandangi langit-langit vilanya. "Dan yang terakhir adalah hasil akhir, yaitu kemenangan mutlak! "
"Hah? Anda sungguh memikirkan segala hal dengan sangat terperinci. Bagaimana anda melakukan itu semua, tuan? "
"Sangat mudah. Saat kita dihadapi dengan berbagai masalah, itulah proses kita menjadi hebat! "
"Maksudnya adalah selain hebat dalam berpikir, juga dalam bertindak. Begitukah, tuan? "
"Jadilah orang yang mengikuti fakta, bukan opini! "
Tuan Malik terdiam. Beliau berpikir tentang tuan muda Nikko yang begitu hebat dalam pemikiran dan tindakan untuk usia yang masih sangat muda. "Ternyata benar apa yang orang lain maksudkan. Bahwa usia seseorang tidak akan menjamin kedewasaan orang itu. Karena aku menemukan bukti dengan mataku sendiri. "