My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Sesuatu yang tidak kuketahui



Di tengah malam tepat pukul 00.00


Brakkk. Suara pintu mobil tertutup.


"Terimakasih ya kak Kamila. Sudah menemaniku beberapa hari dan meminjamkan identitasmu untukku menginap di hotel."


"Tidak masalah. pemilik hotel ini adalah kenalanku. Tidak perlu sungkan, Al. Kau adalah adik sepupuku meski aku hanyalah anak tiri dari pamanmu. Tapi aku menyukai saat kita menghabiskan waktu bermain bersama sejak kita masih kecil hingga sekarang. Kamu masuklah. Jangan sampai kelelahan melukis ya. Semua peralatan melukismu sudah aman sekarang. "


"Baik kak. Ingat untuk tidak membiarkan orang lain tahu tentangku. Terutama ibu. Bye.. "


Setelah Alicia pergi, Kamila langsung bergumam pada diri sendiri..


"Aku tau apa yang harus dilakukan. Adik sepupuku bermain sangat bersih dan rapih hingga tidak ada orang yang mengetahui bahwa dia bermalam di hotel yang letaknya masih di dalam kota. Haa.. Haa.. Adikku ini sungguh pintar mengelabui orang-orang suruhan nyonya Alifah. Bahkan, orangtuanya tidak menyadari kalau mereka sudah kehilangan kepercayaan sebagai orangtua oleh anaknya sendiri. "


Hoshhh hoossshhhh.. Karena lari begitu cepat, detak jantungku tidak beraturan. Pikiranku kacau. Aku takut ibu memarahiku dan menganggap aku tidak dewasa karena pergi tanpa izin. Padahal aku hanya merasa bosan dan kesal selalu merasa kesepian.


"Nonaaaaa.. Anda sudah pulang? " sapa kepala pelayan rumah, paman Kenan. Beliau yang membukakan pintu untukku. "Anda kemana saja? Kami dibuat pusing oleh nyonya Alifah untuk mencari anda. "


"Hmm.. Tidak perlu basa-basi! Apakah nenek dan kakekku berkunjung ke sini saat aku tidak ada? "


"Tidak nona. Apakah nona butuh sesuatu? Biar kupersiapkan. "


"Tidak. Sudah sangat malam. Paman pergilah. Aku lelah dan besok harus ke sekolah. "


"Baik nona. Tidurlah dengan nyenyak. "


Hmm.. Apa yang harus kukatakan kepada tuan Adit tentang putrinya yang jarang di rumah saat beliau pulang nanti... Pikir paman Kenan.


Saat ingin menaiki tangga menuju kamarku, aku berhenti sejenak di depan kamar orangtuaku, aku teringat saat mereka bertengkar hanya karena persoalan kecil. Aku selalu berpikir, apakah semua orang dewasa selalu membesar-besarkan masalah? Huufftt.. Semoga saja hanya aku yang terlalu banyak berpikir.


Setelah masuk ke dalam kamar, aku merasa asing, sepi dan sendiri.. Aku tertidur karena terlalu lelah melukis hari ini.


Praaangggg... Suara pecahan benda dari kamar orangtuaku. Seorang anak kecil perempuan berambut coklat berusia sekitar 7 tahun sedang duduk di pojok kamar. Seingatku, ini adalah kamarku. Tapi siapa anak kecil ini? Anak itu kaget, jantungnya berdetak kencang dan keringat bercucuran. Kelihatannya anak itu sangat takut.


Kreek.. Suara pintu terbuka. Sreekk sreeekk.. Suara orang berjalan memasuki kamar.


Anak itu menundukan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Seperti ada bayangan hitam melintasinya. Dalam suasana seperti itu menambah rasa takutnya.


Saat bayangan hitam itu menyentuh kepalanya.. Dannn...


"Aaahhhhhhh... Tidaaakkk!! "


"Jangan sentuh akuuu..! "


"Pergii.. Pergi.. Tolongggg! Siapapun tolong aku..! "


Haaahhhh... Astagaaa.. Yaa ampuun.. Yaa ampuun..


Aku bermimpi buruk itu lagi! Dan mimpi itu selalu membayangiku.. Entah siapa anak kecil itu! Apakah dia adalah adikku? Atau dia adalah aku saat masih kecil? Aku tidak ingat apapun. Aku turun dari ranjang dan mengganti piayama tidurku yang basah karena berkeringat. Karena takut, aku menyalakan lampu kamar. Aku tidak ingin tidur dalam gelap lagi. Tuhan, tolong jaga aku..


Keesokan pagi..


Kreekkk.. Suara pintu terbuka.


"Nonaa, tolong bangun. Sudah waktunya untuk sarapan! "


Ini seperti suara bibi Rea. Pelayan setiaku dari aku masih bayi.


"Bibiiii.. Aku kangen! " sahutku sambil memeluknya.


"Nona, kenapa nona tidak memberi kabar padaku? Betapa sangat khawatirnya aku. Syukurlah nona baik-baik saja. "


"Haaa.. Haaaa.. Candaanmu sungguh lucu. "


Jawabku sambil bergegas pergi mandi.


Setelah selesai mandi, bibi tidak keluar juga dari kamarku.


"Bi, tolong bantu aku merapikan baju. Apakah aku sudah terlihat rapih atau belum? " tanyaku pada bibi Rea.


"Baik nona. " Jawabnya. "Nonaa, aku hanya bisa berpesan. Meskipun kamu bisa menjaga dirimu sendiri, namun nona harus lebih waspada. Karena banyak yang menginginkan kematianmu. Sudah saatnya memiliki pengawal. Saya akan menyuruh Kenan untuk segera menyiapkannya. "


"Noo.. Noo..! " dengan cepat aku menolak. "Aku tidak butuh pengawal atau apapun itu. Aku tidak akan terluka sedikitpun. Seperti yang kau tahu, aku bahkan tidak takut apapun. Apalagi keluarga paman Yoga.. Mereka tidak akan bisa menyentuhku! " aku menjelaskan dengan detil pada bibi Rea. "Aku sudah lapar, ayo ke bawah dan tolong siapkan mobil. Aku akan ke sekolah. "


"Baik, nona. " jawab bibi Rea.


Brrooommm brrroooommmm..


Saat di perjalanan, aku teringat pesan bibi Rea. Aku memikirkannya dan hatiku gelisah. Apalagi sejak di rumah, aku sama sekali tidak melihat ibu..


"Pak, kemana ibuku? " aku bertanya pada supir, pak Agam.


"Nyonya sudah pergi pagi-pagi sekali untuk menghadiri pembukaan mall shopping center terbaru di kota ini. Kebetulan pemiliknya adalah teman arisan nyonya. Apakah nona tidak tahu? "


"Saya hanya bertanya keberadaan ibu. Kau tidak harus bertanya kembali padaku! " jawabku kesal.


"Maaf nona. Saya tidak bermaksud seperti itu."


"Sudah.. Sudah.. Percepat lagi laju mobilnya! "


"Maaf nona, saya tidak berani. Ini sudah batas kecepatannya. Kalau melebihi dari ini kita bisa ditilang! "


"Kalau saya bilang dipercepat.. Yaa percepat saja. Tidak perlu takut apapun! "


"B.. Baa.. Baaiikkk nona"


Brrroooommmm brrrrooooommmm..


Aku sangat kesal mendengarkan penjelasan supir itu. Kesal karena ibu tidak peduli bahwa aku sudah pulang ke rumah..


Sesampainya di sekolah, ada keributan di halaman parkir "Ada apa siih? Kenapa begitu ramai? " tanyaku dalam hati.


"Haaaahaaa.. Haaahaaa... " Mereka tertawa.


"Lihatlah, Clara yang cantik sedang dipermalukan oleh sarah si primadona sekolah! " teriak beberapa orang di kerumunan itu.


Haaahhh Clara?? Ada apa?? Aku harus pergi membantunya! pikirku.


"Lihat.. Lihatlah majalah sekolah edisi hari ini! Di sini dikatakan bahwa, Clara yang merebut Ginza dariku. Dialah pihak ketiga. Dan keluarga Clara tidak jelas asal usulnya,hanya akan mempermalukan sekolah kita saja! "Kata Sarah.


"Bagaimana mungkin Clara akan mewakili sekolah kita untuk perlombaan pidato antar sekolah? " Reggina berbicara sambil melirik Sarah.


Diantara kerumunan itu, aku melihat Ginza berdiri tidak jauh dari sana. Tapi mengapa Ginza tampak tersenyum licik dan tidak membela Clara? Sungguh pemandangan yang aneh.


"Cukuuuup! " Teriakku.


Semua mata menatapku, juga Sarah dan Reggina bertukar pandang.


"Cukup membuat fitnah untuk Clara! Apakah kalian semua tahu kapan Sarah dan Ginza pernah menjadi sepasang kekasih? Apakah kalian tahu seberapa besar kontribusi Clara untuk sekolah ini? " sambil bicara aku memandangi Sarah dan Reggina bergantian.


"Sudah, Al! Kita jangan mempedulikan mereka. Sebaiknya kita pergi dari sini! " Ajak Clara.


"Ini bukan urusanmu, Al. Kamu tidak perlu ikut campur. " Reggina mencegahku membela Clara.


"Kau tahu siapa Clara? Dan apa hubungan Clara denganku? " tanyaku pada Reggina. "Aku kira kalian berdua cukup pintar. Tapi ternyata tidaaaak!! Semua orang di sini pasti tahu bahwa Clara adalah salah satu teman terbaikku. " aku melihat ekspresi Sarah dan Reggina ketakutan.


"Apa maksudmu, Al? Aku peringatkan, kau sebaiknya menjauh dari Clara! Dan jangan terlibat! " Sarah masih saja berbicara padaku membuatku kehilangan kesabaran.


"Jika kalian tidak keberatan, silahkan minta jawaban untuk pertanyaan pertama pada Ginza yang daritadi hanya berdiri mematung di sana! " aku menunjuk Ginza dengan tatapan marah. "Dan untuk pertanyaan selanjutnya, kalian bisa bertanya pada dewan sekolah! Yang terakhir, untuk redaksi majalah sekolah, aku akan meminta pertanggungjawaban mereka mengenai judul hot news hari ini! Semuanya, aku harap tidak ada yang mempersulit Clara dan kalian bubarlah sekarang sebelum aku laporkan pada dewan sekolah!! "


Akhirnya mereka bubar satu persatu. Aku semakin marah ketika Ginza menghampiri kami.


"Makasih ya, Al! Kamu telah membantu pacarku dalam kesulitan. " Ginza mengucapkan terimakasih padaku dan memeluk Clara dengan tatapan sinis.


"Siapa yang kau sebut pacar? Clara? " Jawabku dengan nada tinggi.


"Sudah.. Sudahlah, Al! Ini akan memperburuk suasana. Ginza mungkin baru datang saat tadi Sarah dan Reggina membullyku. " Clara menyela bicara.


Sesampainya di kelas, Erisa sudah menunggu kedatangan kami.


"Kalian kenapa lama sekali? Aku dengar tadi Clara dibully Sarah dan Reggina? " Tanya Erisa.


"Iya, kedua orang itu bahkan tidak pantas disebut manusia. Karena mereka tidak punya hati. " Jelasku. "Coba lihat ini, Ris! " Aku melempar majalah sekolah edisi hari ini ke atas meja.


"Bantu aku untuk mencari tahu siapa dalang dari semua ini! Aku sangat yakin, ini pasti salah satu dari trik kotor Sarah dan Reggina." aku masih bicara dengan nada emosi.


"Sabar, Al! Coba ceritakan padaku agar aku bisa mencari tahu bagian editing majalah sekolah edisi hari ini!" Pinta Erisa.


"Aku akan menjelaskannya. " sahut Clara.


"Kalian mengobrollah, aku akan pergi mencari Boy. " kataku pada Clara dan Erisa.


Tidak sulit mencari Boy. Dia selalu berada di tempat memanah. Karena memang dia ikut club memanah. Salah satu peraturan sekolah kami adalah mewajibkan para siswa memilih salah satu cabang olahraga sebagai poin tambahan kami. Boy adalah salah satu teman laki-lakiku. Ayah kami adalah rekan kerja. Selain Boy, aku juga memiliki beberapa teman laki-laki yaitu Garry, Miko, dan Raymond.


"Ssstt.. Ada Alicia. " Bisik Brimma pada Sean.


"Hello, Al! " Sapa Sean dengan senyum manis.


"Ciihhh..!! " Aku menoleh dengan malas dan dingin kepada Sean.


Sean dan Brimma adalah seniorku. Mereka kelas XII. Selain siswa terpandang di sekolah, mereka juga pandai memanah dan selalu meraih medali emas pada cabang olahraga memanah tingkat nasional.


"Hoo.. Hoo.. Tuan putri Alicia sedang tidak mood sepertinya! " kata Brimma.


"Aku semakin penasaran dibuatnya.. " kata Sean pada Brimma. "Seandainya William di sini, sepertinya dia akan terpesona oleh Alicia yang cuek dan bikin penasaran! " lanjut Sean.


"Boy, aku ingin minta barang yang kemarin kupesan. Apakah kamu membawanya? " Tanyaku pada Boy.


"Iya, sebentar. " jawab Boy. Dia melangkah pergi ke loker untuk mengambil pesananku. Sambil menunggu, aku mencoba telepon ayah. Dannn...


Tuuutt.. Tuuuuttt.. Tuuuuutttt..


Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.


Hufftt.. "Apakah ayah tidak pernah khawatir sedikitpun keadaan anak perempuannya? Apakah ayah tidak kangen padaku? " Tanyaku penasaran.


"Semua ayah pasti memikirkan anaknya, Al. Apalagi kamu adalah anak kandungnya. " Boy menjawab pertanyaan yang aku tanyakan pada diri sendiri.


"Kamu membuatku kaget, Boy! " aku memarahi sambil memukul bahunya. "Lain kali jangan ikut campur yang bukan urusanmu! Mana barangnya? "


"Duuhhh, sakit Al! Kenapa kamu tidak ikut kelas tata krama saja daripada kelas melukis? Karena kelas tata krama bisa membuatmu jadi lebih lembut layaknya perempuan.. " Boy mengeluh kesakitan. "Ini barangnya. Sesuai dengan permintaanmu, aku memesannya dengan bayaran tinggi. "


"Apakah diantara teman harus mengungkit harga? " Tanyaku menyindir.


"Haaa.. Haaa.. Tentu saja! " Balas Boy sambil nyengir.


"Aku pergi"


Dengan senyum jahilnya, Boy teriak padaku..


"Jumat malam kita berkumpul di pesta ulang tahun Jean. Dan jangan lupa untuk membawa pasangan ya, Al! "


"Kau harus mencarikan pasangan yang cocok untukku atau aku akan membongkar rahasia diantara kita.. " Aku membalas senyum jahilnya dengan kata-kataku..


Aku tahu Boy adalah pemikat wanita. Dia selalu berganti pacar. Dan Boy tahu, bahwa aku tidak pernah suka akan pesta apapun..


Suasana di dalam kelas XI B.


Pelajaran sejarah yang sangat membosankan.. Aku sedang menghitung mundur detik-detik waktu istirahat tiba.


5.. 4.. 3.. 2.. 1.. Dan..


Daaadaaa ddiiiidiii duuuuduuu..


Bel istirahat berbunyi..


"Eris, Clara.. Kalian pergi ke kantin duluan ya, aku menyusul. Ada pekerjaan yang belum kuselesaikan. " kataku pada mereka.


"Oke, Al. " Jawab Erisa.


Aku berjalan menyusuri rerumputan di halaman belakang sekolah. Di sinilah tempatku menyendiri untuk mendapatkan ide menggambar. Di tempat ini, terdapat danau yang indah dan pepohonan yang rindang. Diantara pepohonan itu terdapat dua ayunan menggantung. Pemandangannya membuatku merasa tenang.


"Naahh, sangat asik duduk di ayunan ini. " Kataku sambil mengeluarkan barang pesanan yang dibawa Boy tadi pagi.


 


Gold ticketing


Wed, march 2nd 2020


 "Green Grass"


by Carl Monterra


 only @Hall Century Ballroom


 


Supported by: TEN ENTERTAINMENT


"Haaahaaa.. Haaaahaaaaa.. " Aku tertawa puas karena barang pesanan yang kuterima dari Boy adalah sebuah tiket Gold. Pantas saja harganya sangat mahal.


Carl Monterra adalah salah satu pelukis yang aku kagumi. Dan ini, adalah tiket pameran lukisan pertamanya di kotaku. Setelah keliling dunia, akhirnya Carl Monterra membuka pameran di kotaku.


Bruuukkk.... Ada yang terjatuh dari atas pohon.


"Aaahhhhh.. " aku tersentak kaget. Aku berdiri untuk melihatnya.


"Segitu senangkah kau mendapatkan tiket gold itu sampai tertawa keras membangunkanku? " Suara dingin cowok yang angkuh.


"Huuhh.. Siapa kau? Kenapa bisa datang ke sini? Dan kenapa tidur di atas pohon? Ohh, sepertinya aku tahu. Mungkin rumor yang kudengar itu benar. Bahwa kaulah pekerja malam yang dibayar murah itu. " kataku dengan kesal.


"Kau.. Kauu.. Kau Tidak tahu diri. Seharusnya kau meminta maaf padaku karena sudah mengganggu ketenangan tidur siangku. Bukan bertanya dengan pertanyaan tidak bermutu seperti itu dan memfitnahku! " Gerutunya sambil menatapku.


"Jelas-jelas kamulah yang mengganggu kesenanganku. Dan kamu juga yang mengusik tempatku. Yang harusnya minta maaf adalah dirimu! " setelah berbicara dengannya, aku langsung pergi tanpa membiarkan dia membalas kata-kataku.


Aku sangat kesal dengan kehadiran laki-laki itu. Siapa dia? Aku tidak mengenalnya. Tempat persembunyianku telah diketahui oleh orang lain.


Di Jepang..


Gedung tinggi itu adalah gedung milik Pt Fantasia Liu. Disinilah tuan Adit sedang meeting membahas tentang kerjasama antara Pt Fantasia Liu dengan Pt Fantastic Prima milik tuan Adit.


"Silahkan kedua CEO untuk menandatangani surat perjanjian yang telah disepakati bersama! " kata pengacara perusahaan Fantasia Liu, mr Seo Liem.


Sambil berjabat tangan, CEO Pt Fantasia Liu berkata..


"Suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan Anda, mr Adit. "


"Haa.. Haa.. Saya harus belajar banyak dari senior Han Liuliu..! "


Pagoda Hotel room 5005


"Setelah selesai meeting ini, acara selanjutnya adalah penjamuan di hotel de leena jam 7 malam, tuan. Apakah perlu dibatalkan saja?" Tanya Farhan, asisten pribadi tuan Adit.


"Jangan. Kita harus menghormati tuan rumah. "


"Tadi pagi, putri anda menelepon. Sesuai dengan instruksi anda, saya tidak mengangkatnya. Apakah perlu telepon nona sekarang? "


"Tidak. Dengan perbedaan waktu di sini, dia pasti sedang di sekolah. Tidak perlu mengganggu jam sekolahnya. "


"Baik, tuan. Silahkan Anda istirahat. Saya akan siapkan pakaian untuk penjamuan nanti malam. Saya pamit dulu. "