My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Say Something!



Percaya jika takdir adalah benar! Percaya jika segala sesuatu yang kita inginkan membutuhkan proses untuk mencapainya!Percaya bahwa jarak hidup dan mati sangatlah dekat! Meski begitu, percayalah pada diri sendiri!


Setelah hari itu, hari dimana nona Dylon menemani nona Alicia melukis membuatnya semakin penasaran dengan sepasang anak kecil yang berada di pantai. Lalu nona Dylon menelepon tuan Santo.


"Tuan, bisakah saya bicara dengan tuan muda? " Pinta nona Dylon.


"Ada apa? Kau bisa berbicara langsung padaku! "


"Tidak, tuan. Saya harus bicarakan ini kepada tuan muda! "


Tuan Santo tidak menjawab.


"Jika anda ragu, anda bisa bertanya kepada tuan muda setelah saya selesai berbicara dengannya! "


"Baiklah, saya akan memberi kabar tuan muda terlebih dahulu. "


"Saya akan menunggu. " Jawab nona Dylon.


Nona Dylon memutuskan sambungan telepon dengan kecewa. "Mengapa tuan Santo tidak percaya padaku? "


Sudah tiga puluh menit berlalu sejak nona Dylon menelepon tuan Santo. Dia selalu menggenggam ponselnya, menunggu telepon dari tuan muda William.


Ddddrrrttt.. Getaran ponsel nona Dylon. Tertera nomor tanpa nama di layar ponselnya.


"Ha.. Lo? " Jawabnya ragu.


"Ada hal apa yang ingin kau bicarakan pada saya? Apakah itu penting? "


Suara datar dan dingin khas tuan muda William terdengar di telinga nona Dylon. Deg deg.. Jantungnya berubah menjadi gugup.


"Oh, halo tuan muda. Sa.. Ya.. Saya.. "


"Bicara yang jelas! " Tuan muda William saat ini sedang duduk di kursi ruang kerjanya sambil merokok. Dia melepaskan asap rokoknya perlahan.


"Oh,maaf. " Nona Dylon menarik nafas dalam-dalam dan fokus kepada hal yang ingin dia sampaikan. "Tuan muda, sore kemarin saya menemani nona Alicia melukis! "


Tuan muda William tenggelam begitu mendengar nama Alicia. Dia langsung mematikan rokoknya.


"Lalu? " Masih dengan nada datar dan dingin, tuan muda William bertanya.


"Nona Alicia melukis pantai. Dan lukisan yang indah itu mengisyaratkan kesedihannya yang mendalam! "


"Maksudmu? " Tanyanya dengan emosi memuncak.


"Saya melihat kesedihan di dalam diri nona ketika bercerita tentang kisah di pantai. "


"Ceritakan! "


"Nona bercerita bahwa dia tidak ingat apapun tentang pantai namun satu-satunya yang tertinggal di memorinya adalah seorang anak kecil perempuan yang sedang digendong oleh seorang anak kecil laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dengannya! "


Tuan muda William terdiam. Tak terbayangkan sedihnya dia mendengar nona Dylon bercerita tentang masa kecilnya bersama Alicia. Air mata yang tertahanpun akhirnya jatuh bagai hujan.


Dalam keheningan, nona Dylon melanjutkan bicaranya. "Tuan? Apakah anda masih di sana? "


"Lanjutkan! " terdengar suara tuan muda William bergetar.


"Terakhir, nona mengatakan.. " Nona Dylon terdiam. "Entah siapa anak kecil itu? "


Tuan muda William semakin larut dalam kesedihannya tanpa berkata apapun.


"Mungkin nona bingung karena tidak mengingat apapun, tuan muda. Apakah itu hanya bunga tidur ataukah sebagian memorinya yang hilang! "


Tut tut tut.


"Hah? Mengapa terputus? Apakah aku salah bicara padanya? " Nona Dylon mencoba menghubungi nomor tuan muda William tapi tidak terhubung.


Di seberang sana, tuan muda William memutuskan sambungan telepon karena perasaannya tak menentu. Gelisah, marah, sedih dan rindu. Tentu saja nona Dylon panik dibuatnya.


Aster Village, Inggris


Tuan muda William membanting semua benda yang ia temukan.


Prang. Serpihan benda kaca terjatuh bebas ke lantai.


"Aaarrrgghhhh! " Tuan muda William berteriak kencang membuat para pelayan panik.


"Tolong, siapapun! Hubungi tuan Santo segera! " Seorang pelayan wanita berteriak.


Tok tok tok. Pintu ruang kerja tuan muda William diketuk oleh seorang pelayan pria.


"Tuan muda, apa yang terjadi? Bolehkah saya masuk? "


Tidak terdengar jawaban apapun yang keluar dari mulut tuan muda mereka.


Brak. Pintu ruang kerja tuan muda William terbuka.


"Maafkan jika saya lancang, tuan. Saya hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan anda! "


Pelayan pria itu terkejut dengan pemandangan ruang kerja yang berantakan. Serpihan benda kaca yang berserakan dimana-mana, buku-buku yang terjatuh bebas, dan beberapa lembar dokumen yang berhamburan seperti tertiup angin. "Astaga! " Ucapnya lirih.


Tes tes. Suara tetesan darah mengalir dari telapak tangan tuan muda William. "Mari, tuan. Saya akan mengobati luka anda! "


Tuan muda William menggenggam gelas dengan erat yang mengakibatkan gelas itu pecah dan telapak tangannya terluka. Dia tidak bicara apapun. Pandangannya kosong. Di benaknya hanya terdapat sosok cantik Alicia.


Bruk. Tuan muda William jatuh pingsan. "Tolong bantu saya untuk membawa tuan muda ke kamarnya! Dan siapapun tolong cepat panggilkan dokter! " Teriak pelayan itu.


"Baik. " Jawab seorang pelayan wanita.


Tuan mudaWilliam segera dibawa oleh dua orang pelayan menuju kamarnya dan salah satu dari mereka menghubungi tuan Santo.


"Halo? "


"Tuan, tuan muda William jatuh pingsan setelah melukai dirinya sendiri! "


"Apaaaa? " Tuan Santo kaget mendengar informasi dari pelayan di kediaman tuan muda William.


"Baiklah, saya akan bergegas ke Inggris sekarang. Rawat tuan muda baik-baik! Dan jangan lupa berikan dia obat penenang ! "


Tut tut tut.


Saat ini, tuan Santo masih berada di Amerika tepatnya di Malibu. Beliau sedang mempersiapkan serangan ke vila tuan muda Nikko. Namun karena rasa khawatirnya yang berlebihan beliaupun kembali ke Inggris, tempat tuan muda William.


Malibu, Amerika


"Ada apa? " Tanya Brimma.


"Saya akan kembali ke Inggris lebih awal. Tuan muda William melukai dirinya lagi! "


"Baiklah. Tidak perlu cemas, tuan. Biar penyerangan ini menjadi tanggungjawabku! " Brimma mengambil alih tugas tuan Santo.


"Oke. Saya akan berkemas. "


"Pergilah dengan menggunakan pesawat jet pribadi saya, tuan! Dan hati-hati di perjalanan. Maaf, saya tidak bisa mengantar anda! "


Tuan Santo pergi dengan tergesa-gesa. Beliau memikirkan keadaan tuan mudanya.


"Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk tuan muda! Tolong beri aku petunjuk! " Jerit batinnya.


Pt Fantastic Prima, Indonesia


Rapat pemegang saham diadakan pukul 09.00 pagi ini. Jumlah peserta rapat sebanyak dua belas orang yang terdiri dari presiden direktur dan wakilnya, juga para anggota pemegang saham. Semua orang sudah berada di sana. Tak termasuk tuan muda Nikko.


Tuk tuk tuk. Tuan Putra mengetuk pelan mejanya dengan ujung jari telunjuknya. Beliau sedang gelisah karena tidak ada tanda-tanda kedatangan tuan muda Nikko.


"Dimana dia? " Bisiknya kepada tuan Heidy yang duduk di sampingnya.


"Entahlah! " Tuan Heidy menjawab sambil mengangkat bahu.


"Saya sudah mencoba menghubungi tuan Malik tapi tidak ada jawaban. "


Jam dinding di ruang rapat telah menunjukan pukul 09.00 tepat. Sebagai langkah awal, tuan Farel membuka rapat tersebut dengan salam hangat. "Selamat pagi, rekan-rekan sekalian! Bagaimana kabar anda di pagi yang cerah ini? "


Tuan Farel membuka rapat pagi ini dengan senyum palsu yang terukir di wajahnya. Dia tahu bahwa semua orang yang mengikuti rapat pagi ini adalah musuh bagi tuan Adit, juga bagi perusahaan. Terkecuali beberapa orang senior pengikut tuan Adit.


Tuan Farel adalah pengikut setia tuan Adit. Beliau sudah bertahun-tahun kerja dengan tuan Adit dan berada di posisi humas perusahaan Pt Fantastic Prima.


Di sisi lain, tuan muda Nikko sedang berada di lantai dasar gedung Pt Fantastic Prima. Dia sengaja menelepon Alicia karena perasaan rindu yang tak tertahan.


"Al, bagaimana kabarmu? Kau sedang apa? "


"Kabarku baik. Aku sedang menerima telepon darimu! " Alicia terdengar meledek tuan muda Nikko.


"Haha, kau menggodaku! Apakah Dylon bersikap baik padamu? "


"Ya. Dia sangat baik bahkan aku selalu pusing dengan banyaknya pertanyaan yang dia lemparkan untukku! "


"Haha, dia memang selalu banyak bicara. "


"Apakah kau tidak sibuk? "


"Ya, aku sengaja meluangkan waktuku untuk meneleponmu sebelum rapat dimulai! "


"Hehe.. " Alicia tersipu malu.


"Setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali! "


"Baiklah, cepat selesaikan semua urusanmu dan pulanglah! Aku menunggumu! "


"Ya, sampai jumpa! "


"Bye.. "


"Perubahan mood tuan muda Nikko sangat baik setelah mendengar suara nona Alicia yang lembut dan sedikit manja! " Pikir tuan Malik. "Apakah dokter Wang masih memberikan obat penghilang ingatan padanya? " Tuan Malik penasaran. "Setelah rapat ini, aku akan memastikannya! " Sambil tersenyum licik, ia berkata dalam hati.


Brak. Tuan muda Nikko membuka pintu ruang rapat dengan kasar hingga membuat semua peserta rapat terkejut.


"Halo paman! " Sapa tuan muda Nikko kepada tuan Adit. "Tidak bisakah anda menunggu kehadiran keponakan anda? " Tanya tuan muda Nikko dengan sinis. "Maafkan keterlambatan saya karena jalanan ibukota begitu padat. Saya belum terbiasa berada di sini lagi! "


Tanpa menunggu jawaban dari tuan Adit, tuan muda Nikko langsung mengambil tempat duduk tepat di samping kanan tuan Adit.


"Silahkan anda lanjutkan, tuan! " Tuan muda Nikko masih berbicara dengan nada sinis.


"Selamat datang kembali, Nikko! " Sambut tuan Adit. "Mengapa kau tidak memberi salam ke kediamanku? "


"Maaf, paman. Saya belum sempat pulang ke rumah dan mampir ke kediaman anda! " Jawabnya. "Apalagi tidak ada Alicia di sana! " Tuan muda Nikko melirik tuan Adit dengan tatapan tajam.


"Tatapan macam apa itu? " Batin tuan Adit berbicara. Beliau ingin berontak tapi tidak berada di waktu yang tepat.


"Baiklah, saya akan melanjutkan kembali. " Ujar tuan Farel. "Dengan melihat grafik pertumbuhan perusahaan, anda semua bisa melihat perbedaannya. "


"Maaf, tuan. Berdasarkan data yang mana yang anda pakai untuk menjabarkan kenaikan titik point pada saham perusahaan? Jika anda perhatikan dengan seksama, point-point ini turun sebanyak 70 point. "


Tuan muda Nikko melirik tuan Putra yang sedang berbicara pada tuan Farel.


"Tuan! " Pnggil tuan muda Nikko dengan nada suara yang tenang. "Tentang data relavan yang anda berikan itu, mengingat tuan Adit hanya memiliki tiga puluh lima persen saham di perusahaan ini maka andil tuan Adit pada perusahaan tidak mutlak. Hasil keputusan berdasarkan suara terbanyak! "


"Ya.. Ya.. " Jawab tuan Putra.


"Ya, itu benar! " Tuan Eric yang menjadi sekutu tuan muda Nikkopun setuju dengan apa yang dikatakan oleh tuan muda Nikko.


Tuan Adit semakin cemas. "Dan kaupun hanya memiliki tiga puluh persen. " Jawab tuan Adit.


Semua orang di ruangan itu terdiam. Tidak ada yang bisa membantah fakta.


Ddrrt drrrttt.. Ponsel tuan Adit bergetar. Masuklah satu pesan singkat tanpa nama pengirim.


Tuan,


saya turut berduka cita atas meninggalnya asisten pribadi anda, tuan Farhan. Semoga beliau istirahat dalam damai!


"Hah? " Tuan Adit sangat terkejut setelah membaca pesan itu sampai beliau terbatuk-batuk. "Bagaimana bisa? " Tanyanya dalam hati.


Tuan Adit memerintahkan tuan Farhan untuk tetap berada di Jepang guna mengoperasikan anak perusahaannya agar tetap berjalan lancar. Tapi siapa sangka, takdir berkata lain. "Apakah aku harus percaya pada takdir kali ini? " Tanya beliau sedih pada dirinya sendiri.


Melihat kejadian itu, tuan muda Nikko melirik ke arah tuan Malik. Dan tuan Malik menganggukan kepala tanda mengiyakan.


"Bagus. Rencana yang kuatur berjalan dengan baik. " Tuan muda Nikko tersenyum. "Sempurna! " Gumamnya.


"Ada apa, paman? Apakah kita bisa memulai kembali rapatnya? "


"Ya.. Ya.. Tentu saja! " Jawabnya singkat.


Beliau ingin sekali mengakhiri rapat pagi ini dan pergi ke Jepang. Tapi keadaan darurat seperti ini, beliau tidak bisa meninggalkan perusahaan yang telah dibangun selama masa mudanya itu.


Suara ricuh saat rapat tidak bisa terelakan. Satu persatu para peserta rapat mengutarakan opininya.


Brak. Suara pintu terbuka. Hadirlah Adam, anak dari paman Kenan. Atas perintah tuan muda William, Adam datang untuk membantu tuan Adit.


"Maafkan saya, tuan karena hadir tidak tepat waktu! " Ucap Adam.


"K.. Kau? " Tuan Adit terbata-bata.


"Apakah kau tahu jika kami sedang mengadakan rapat pemegang saham? Kau tidak berhak berada di ruangan ini! " Ucap tuan Putra dengan kasar.


Adam hanya membalas dengan senyum ramahnya. "Lihat ini! " Dia mengangkat dokumen kepemilikan saham atas nama dirinya.


"Apa ini? " Tanya tuan Brata, ayah dari Boy teman dekat Alicia.


"Ini adalah sebuah dokumen kepemilikan saham atas nama saya! "


"Apaaaa? " Tuan Putra tercengang melihat dokumen itu.


Setiap orang memandangi Adam dengan tatapan aneh.


"Benarkah? " Tanya tuan Eric.


"Apakah masih ada lagi yang mempermasalahkan kehadiran saya di ruangan ini? " Tanya Adam dengan sombong.


Mereka diam seribu bahasa. Tuan muda Nikko menatap tuan Malik dengan tatapan bertanya.


"Baiklah. Karena semua sudah jelas, maka mari kita lanjutkan rapat ini! " Seru tuan Heidy.


Rapat itupun berjalan sesuai dengan sebagaimana mestinya. Tuan muda Nikko tidak bisa berkutik lagi.


"Sial! " Tuan muda Nikko terlihat sangat marah. "Aku tidak akan kalah darinya! " Tuan muda Nikko melihat tuan Adit dengan tatapan kebencian.


"Baiklah. Mari kita berikan vote untuk calon presiden direktur yang akan menjabat untuk periode empat tahun mendatang! " Tuan Farel selaku moderator bicara dengan lugas.


Semua yang hadir di ruang rapat memberikan vote untuk calon presiden direktur pilihan mereka. Mereka menuliskan nama-nama calon presiden direktur di selembar kertas kecil yang telah dipersiapkan oleh panitia rapat.


"Bagaimana? Apakah kalian semua telah selesai menulis nama calon presiden direktur pilihan kalian? "


"Ya.. " Jawab beberapa orang.


"Ya, kami sudah selesai. " Tuan Brata juga menjawabnya.


Kertas nama-nama itu akhirnya dikumpulkan. Dan perhitungan suarapun dimulai. Terdapat dua nama yang terpampang di lcd projector. Mereka adalah tuan Adit dan tuan muda Nikko.


Tuan Farel mulai menghitung suara. "Saya akan memulai perhitungan suara! Silahkan anda semua perhatikan dengan baik dan jangan sampai ada kecurangan di pemilihan ini! "


Tuan muda Nikko tersenyum penuh arti. Entah apa yang membuat dia tersenyum seperti itu bahkan hasil perhitungan suarapun belum keluar. Sedangkan wajah tuan Adit menggambarkan penuh ketegangan dan gelisah yang teramat sangat.


*Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, rate, vote dan comment ya, guys! 💗💗💗


Thank youuu


#salamembaca*