My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
CATCH Me, If You CAN!



Jika ini adalah mimpi buruk, maka berakhirlah!


Namun, jika sebaliknya, maka biarkan kunikmati setiap prosesnya bersama dengan orang yang kucinta!


Aster Village, Inggris


Setelah tuan Santo menunggu sambil menemani tuan muda William, munculah dokter Joey bersama dengan tuan muda Louise. Tuan Santo segera menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang,tuan muda Louise! Silahkan.. " Tuan Santo mempersilahkan tuan muda Louise mendekati tuan muda William.


"Terimakasih, tuan Santo. " Dia segera berjalan mendekati tuan muda William dan berdiri tepat di sampingnya.


"Tolong tinggalkan kami sebentar! " Ucap tuan muda Louise. "Kau berbaring dengan penuh gelisah! " Pikir tuan muda Louise.


"Baiklah. Kami akan menunggu anda di depan pintu kamar. " Jawab tuan Santo.


"Ya. Ini tidak akan memakan banyak waktu. "


Tuan Santo dan dokter Joey segera keluar dari kamar itu.


"Hmm.. " Tuan muda William mendesah. Keringatnya bercucuran membasahi dahi. Begitupun wajahnya terlihat pucat pasi.


Louise mendekati telinga tuan muda William. Lalu berbisik, "Will? " Panggilnya. " Aku datang untukmu! Setelah kau mendengar ucapanku, maka bangunlah! " Ucap Louise.


"Hmm.. " Tuan muda William mendesah lagi. Keningnya berkerut dan tangannya begitu dingin.


"Bayangkan Will, wajah cantik Alicia sedang tersenyum manis padamu! "


"Tanpa bertanya pada siapapun, aku mengetahui semua tentang Alicia dan bagaimana senyum manis itu terbentuk di wajah cantiknya! " Pikir tuan muda William. "Dan bahkan gigi putihnya yang tertata rapih, semakin membuat senyum itu melekat di hati! "


"Will, bagaimana kau akan melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat? Kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri! "


Tuan muda William semakin mengerutkan dahinya. "Ya! Itu benar. Bagaimana aku bisa merebutnya dari genggaman Nikko? "


"Kau harus kuat, Will! " Louise memberi semangat kepada tuan muda William. "Lihat itu, Will! Cepat pegang Alicia! Dia berada di sudut ruangan yang gelap. Jangan biarkan dia menunggumu di tempat gelap! Karena dia akan menangis! "


Tuan muda William membiarkan air matanya terjatuh. "Aaarrghhhh... " Dia berteriak. "Aku harus mencari pertolongan untuk Alicia! Karena jika tidak, dia akan berada dalam bahaya. " Pikir tuan muda William.


"Will, cepaaatt peluk Alicia! " Perintah Louise. "Dia mulai menangis! Cepat peluk erat dirinya! "


"Bagaimana aku bisa melakukannya? Sedangkan titik lemahku berada di tempat gelap. " Tangan tuan muda William mengepal seolah menahan kesal.


"Apakah kau ingin membiarkan dia sendirian? Bayangkan bila dia menangis kesakitan! "


"Tidaaakkk! Aku harus kuat. "


Di dalam imajinasi tuan muda, ia sedang berusaha melawan paranoidnya. Ya, tuan muda William melihat Alicia sedang duduk di sudut ruangan yang gelap sambil menangis.


"Aku akan mengatur nafasku dan segera memeluknya erat. " Pikir tuan muda William.


Tuan muda William menutup mata dan mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya. "Huuuft... "


Dengan langkah cepat, dirinya memasuki ruangan itu dan memeluk Alicia. "Aku datang, Al! Kau jangan takut. Aku akan selalu melindungimu! " Ucap tuan muda William.


Gadis itupun tersenyum sambil mengucapkan terimakasih dalam dekapan hangat tuan muda William.


Setelah itu, secara perlahan tuan muda William semakin tenang berbarengan dengan detak jantungnya yang kembali normal. Dan pada akhirnya dia membuka mata.


"Hmmm.. "


"Kau sudah sadar? " Tanya tuan muda Louise.


Tuan muda William menatap seisi kamar dan mencoba merubah posisi yang semula berbaring, kini ia duduk bersandarkan bantal.


"Tuan Santo dan dokter Joey, silahkan masuk! William sudah sadarkan diri! "


Ceklek. Pintu terbuka dan masuklah kedua orang itu.


"Mengapa kau di sini, Santo? " Tanya tuan muda William. "Terasa aneh sekali! Apa yang terjadi padaku? " Tanyanya dalam hati.


Tuan Santo meraih kursi tepat di samping tuan muda William. "Anda sudah tertidur selama beberapa hari. Dan selama itu pula, anda terus menyebutkan nama nona Alicia! ".


"Benarkah? "


Rupanya tuan muda William belum menyadari keberadaan dua orang lainnya, selain tuan Santo. Mereka adalah dokter Joey dan tuan muda Louise.


"Ya! Itu benar. " Suara asing milik tuan muda Louise menjawab. Sontak tuan muda Williampun mengalihkan pandangannya ke arah pemilik suara itu.


"Kau? Kkaauuu? " Tuan muda William terkejut dengan kehadiran Louise. "Mengapa kau juga ada di sini ? "


"Hahaha.. " Louise tertawa. " Aku datang untuk membantumu! "


"Hah? Aku?! "


"Benar, tuan muda! " Dokter Joey membenarkan ucapan Louise. "Saya menghubunginya dan meminta tuan muda Louise untuk segera datang. "


"Bagaimana perasaannu? " Tanya Louise.


"Yah, lumayan! Tapi terimakasih untuk pertolonganmu. "


Tuan Santo sangat lega melihat kondisi tuannya. "Tuan, terimakasih anda sudah sadar. Betapa sangat takutnya saya melihat anda menderita. "


Tuan muda William hanya tersenyum datar. "Tolong kalian semua keluar dulu. Saya ingin bicara dengan tuan Santo! "


"Baiklah. Kami keluar dulu, tuan muda. " Jawab dokter Joey dan tuan muda Louise.


Setelah mereka berdua keluar dari kamar tuan muda William, tuan Santo segera mendekati tuannya.


"Ada apa, tuan muda? Anda perlu sesuatu? "


"Bagaimana kondisi terkini rapat pemegang saham? "


"Semula berjalan lancar sesuai dengan rencana. Namun, setelah rapat selesai, tuan muda Nikko meminta tuan Adit untuk berbicara dengannya di ruangan tuan Adit. "


"Lalu apa yang terjadi? "


"Belum bisa dipastikan. Tapi saya memiliki firasat buruk tentang ini. "


"Ya. Apakah Sean tidak mengambil tindakan? "


"Kami menunggu perintah anda, tuan muda. Namun untuk mengantisipasi tindakan tuan muda Nikko, saya memerintahkan tuan Sean untuk menyerang mereka dengan media. Baik media cetak maupun media elektronik. "


"Bagus. Itu adalah rencana cadangan kita, bukan? Tekan seluruh media elektronik di dalam negeri karena media elektronik merupakan yang tercepat dalam menyampaikan berita! "


"Ya, benar tuan muda. "


"Selamatkan tuan Adit dan bawa ke tempat aman seperti yang sudah kita rencanakan. "


"Saya akan segera menelepon tuan Sean. "


"Ya. Jangan lupa memberitahu Dylon."


Mountainview, California


Kring kring.. Ponsel nona Dylon berbunyi. Tertera nama tuan Santo di layar ponselnya.


"Nona, saya mohon pamit untuk menerima panggilkan telepon dahulu."


"Silahkan! "


"Terimakasih. " Setelah meminta izin dariku, nona Dylon segera beranjak pergi menjauh dariku. Entah siapa yang menelepon, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.


"Halo, tuan? "


"Perketat penjagaan nona Alicia, saat ini perusahaan keluarga Atmadja sedang dalam masa rawan! Saya takut nona akan terkena imbasnya. "


"Baik, tuan. Saya akan lakukan seperti yang anda perintahkan. "


"Dalam sepuluh menit, Sean akan melakukan serangan media kepada tuan muda Nikko. "


"Saya mengerti. "


Setelah menutup telepon, nona Dylon segera kembali ke tempat dimana aku terduduk.


"Nona? " Panggil nona Dylon.


"Ada apa? Kau sudah selesai? "


"Ya, nona. Apakah anda lelah? "


"Tidak."


"Bagaimana jika kita berjalan-jalan santai mengelilingi taman bunga sebentar, nona? "


"Mmm.. Oke. " Jawabku singkat. "Sejak kaki saya terluka akibat Kecelakaan itu, saya sangat ingin menjelajahi vila ini! "


"Ya, nona. Sekarang kaki anda telah pulih. Mohon anda pakailah mantel saya! Cuaca sangat dingin. "


Nona Dylon memakaikan mantel miliknya kepadaku. Entah apa yang membuatnya melakukan itu tapi hatiku terharu dengan tindakannya. "Terimakasih. Saya harap, kau selalu bersama dengan saya sampai kapanpun! "


"Ya, nona. "


Nona Dylon terkejut dengan kata-kata yang diucapkan olehku. Terlihat sangat jelas di wajah cantiknya, jika dia adalah seorang pemalu. Wajahnya merah merona namun tetap cantik.


Nona Dylon terlihat gelisah. Sedangkan aku menikmati indahnya pemandangan bunga tulip kesayanganku.


"Ehm.. Apakah kau tahu siapa nama kedua orangtua saya? " Tanyaku pada nona Dylon.


Sejenak nona Dylon menatapku. Di wajahnya terlihat ragu. "Ayah anda adalah tuan Raden Aditya Atmadja dan ibu anda adalah nyonya Alifah Putri Rahardjo. Tetapi, ibu anda telah tiada. "


"Hah? " Aku terkejut mendengar penjelasan nona Dylon. "Sejak kapan ibuku telah tiada? "


"Sejak belum lama. Tapi nona? " Nona Dylon terlihat ragu.


"Ada apa? " Aku semakin penasaran.


"Saya tidak berani. " Nona Dylon menggelengkan kepala.


"Katakan saja ada apa? "


"Sebenarnya tuan muda Nikko melarang saya menceritakannya kepada anda. " Nona Dylon bicara sambil menundukan kepalanya.


"Mengapa? "


"Saya tidak mengerti, nona. Mungkin tuan muda tidak ingin anda sakit saat mencoba mengingat sesuatu. "


Aku terdiam mendengar penjelasan dari nona Dylon. "Perkataannya masuk akal, tetapi alasan apa yang membuat Nikko melarangnya? Kurasa ada alasan lain di balik semua ini! "


"Terimakasih, nona. "


"Lalu mengapa ayah tidak datang mencari saya? "


"Karena beliau berada di negara yang berbeda dengan anda dan beliau sangat sibuk. "


"Apakah hanya karena itu, dia tidak ingin melihat saya? "


"Tentu tidak. Saya hanya mendengar bahwa ayah anda sedang menghadiri rapat pemegang saham. "


"Baiklah. Jika kau tahu kabar tentang ayah saya lagi, tolong beritahu saya! "


"Ya, nona. " Jawab nona Dylon. "Sepertinya aku berhasil merebut hati nona Alicia. Hehe.. " Ucapnya dalam hati.


Jakarta, Indonesia


Di saat yang sama, ruang CEO tuan Adit


Tuan Adit tidak tahu akan mengambil tindakan seperti apa. Menuruti keinginan tuan muda Nikko ataukah sesuatu yang lain! Namun sepertinya tidak ada option lain untuk beliau.


Tuan Heidy memandangi sahabatnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ddrrttt.. Drrtttt.. Terlihat pemberitahuan di layar ponsel tuan Heidy.


Headline News Today


Skandal percintaan tuan muda Atmadja dengan seorang gadis biasa.


"Hah? " Tuan Heidy tampak terkejut dengan pemberitaan media elektronik tersebut.


"Ada apa?" Tanya tuan Putra. " Apa yang membuatmu terkejut seperti itu? "


Tuan Heidy tidak menghiraukan pertanyaan tuan Putra. Beliau berdiri dan kemudian berjalan dengan tergesa-gesa ke arah tuan Malik.


"Tuan, cepat lihat ini! " Tuan Heidy memberikan ponselnya kepada tuan Malik.


Dengan ekspresi terkejut, tuan Malik menatap tuan muda Nikko.


"Ada apa? " Tanya tuan muda Nikko.


"Tuan muda, tolong buka ponsel anda dan lihatlah Headline News siang ini! "


Tanpa berpikir panjang, dia segera membuka ponselnya dan melihat namanya tertera di beberapa kabar siang ini.


"Siapa yang berani melawan saya? " Tanya tuan muda Nikko.


Brakk! Pintu ruang kerja tuan Adit terbuka dengan paksa. Munculah Sean dan para pengawal memasuki ruangan itu.


"Ada apa? Apakah anda suka melihat pemberitaan diri anda sendiri yang begitu mempesona? " Tanya Sean. "Jika anda sangat menyukainya, saya pastikan akan ada berita selanjutnya untuk anda! "


Para pengawal membawa pergi tuan Adit dan Adam mengikutinya di belakang. Setelah memastikan keselamatan tuan Adit, Sean segera pergi menyusul.


"Selamat, tuan muda Atmadja. Kali ini, anda kalah satu titik dengan tuan muda Alexander!"


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sean pergi memantau keselamatan tuan Adit dari jarak jauh.


"Aaaarrgghhh! Sial! Kenapa hari ini aku sangat sial! " Tuan muda Nikko berteriak.


Di perjalanan, tuan Adit berbicara kepada Adam. "Adam, ingatkah kau buku yang saya berikan padamu? "


"Ya, tuan. "


"Simpan baik-baik dan berikan kepada Alicia suatu saat nanti. "


"Saya akan memegang janji sampai akhir hayat saya, tuan. Anda jangan khawatir. "


"Terimakasih. "


Kini, tuan Adit menuju ke suatu tempat aman dan jauh dari ancaman tuan muda Nikko. Sedangkan Adam hanya menemani tuan Adit sampai di sebuah gedung pencakar langit PT TEN ENTERTAINMENT. Di atap gedung itu, telah menunggu helikopter milik tuan muda William. Helikopter itulah yang akan membawa tuan Adit pergi menjauh dari tuan muda Nikko.


"Sampai jumpa, tuan. Jaga diri anda! "


"Terimakasih. "


Helikopter itupun segera berangkat ke tempat yang telah ditentukan oleh tuan muda William.


Flashback H-1 Rapat Pemegang Saham


**********


Semanis janji suci yang terucap saat aku menikahimu, istriku!


Secantik bunga mawar yang menghiasi altar pernikahan kita, kau tetaplah yang tercantik!


Seindah mata memandang, darahku tetap mengalir di dalam dirimu, anakku!


Terimakasih telah memberiku kesempatan hidup!


Terimakasih telah hadir mewarnai hidupku!


Terimakasih telah menjadi bagian terpenting di dalam hidupku!


Terimakasih telah menjadi istri dan anak terhebatku!


Aku mencintai kalian. Istri dan anakku tersayang!


**********


Ucapan itu tertulis di secarik kertas dan diselipkan ke dalam buku kerja milik tuan Adit. Sebelum tuan Adit bertemu dengan tuan muda Nikko, beliau sudah memiliki firasat buruk tentang hari ini. Maka dari itu, beliau menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.


"Aku sudah kehilangan banyak orang yang terdekat denganku dan sekarang aku tidak ingin kehilangan anakku! Sudah cukup anakku menanggung beban masalah di keluarga Atmadja. Dan akupun telah menyiapkan segala sesuatu untuk hidup anakku di kemudian hari. Semoga kau bahagia, nak! Hiduplah dengan seseorang yang kau cintai! "


Ya, secarik kertas dengan tulisan tangan tuan Adit yang rapih telah selesai.


"Tolong simpan dan serahkan kepada Alicia saat kau berjumpa dengannya! Sampai dia menikah dengan seseorang pilihannya, maka semua hak warisku menjadi miliknya dengan wali yaitu suami sahnya! "


"Baik, tuan. Saya akan menyerahkan mandat kepada nona saat dia telah menikah! "


"Saya harap kau menepati janjimu, Adam! Hanya kau dan ayahmu yang tersisa. Saya berhutang banyak pada kalian. Dan saya berharap suatu saat nanti Alicia bisa membalas budi baik kalian. "


"Tidak perlu, tuan. Kamilah yang seharusnya berterimakasih karena anda selalu menolong keluarga kami. Jika anda tidak datang hari itu dan mengulurkan tangan anda, mungkin keluarga saya tidak akan tertolong dan juga saya pribadi tidak akan mencapai titik kesuksesan seperti ini jika bukan karena kebaikan hati anda. Saya berharap anda bisa menyaksikan Alicia menikah dengan seseorang yang mencintai dirinya dan mereka saling mencintai ! "


"Terimakasih, Adam. Semoga kelak kau menemukan kebahagiaanmu sendiri. "


Setelah mengingat kejadian kemarin, Adam juga mengingat kejadian beberapa tahun silam. Dan tidak terasa ia meneteskan air matanya.


Flashback beberapa tahun silam


Siang hari setelah acara rapat makan siang di salah satu restoran ternama, mobil mewah tuan Adit sedang melintasi daerah kumuh pinggiran ibukota, beliau melihat Adam dan ayahnya yaitu tuan Kenan sedang dipermalukan oleh seorang rentenir dikarenakan hutang yang menumpuk.


"Berhenti! " Perintah tuan Adit kepada supir.


Mobilpun menepi di sisi kiri jalan. Tuan Adit, tuan Farhan dan supir tuan Adit, pak Agam melihat kejadian dari dalam mobil.


Saat itu Adam berusia sepuluh tahun. Di usianya yang masih sangat muda, dia harus mengalami kejadian memilukan dalam hidupnya.


"Hari ini merupakan bulan ke tiga sejak kau menunggak cicilan pembayaran hutang dan semakin hari hutangmu kian menumpuk juga bunga yang bertambah di setiap harinya membuat hutangmu semakin melambung tinggi! " Ucap salah satu pengawal rentenir bertubuh kekar.


"Maaf, tuan. Maafkan saya yang belum bisa mencicilnya. Karena istri saya baru saja meninggal setelah melahirkan dan anak sayapun yang baru lahir juga meninggal bersama dengan ibunya. Saya belum mendapatkan pekerjaan baru. " Tuan Kenan menjelaskannya.


Brakkk! Crashh! Buk.. Buk.. Pengawal itu memukul tuan Kenan hingga terjatuh di hadapan Adam. Dan Adam sangat kesal melihat ayahnya disakiti seperti itu.


"Berhenti! Jangan menyakiti ayahku! "" Teriak Adam.


"Anak kecil, jangan ikut campur urusan orangtua! " Jawab pengawal gemuk yang berkepala botak dengan kedua tangan penuh tato.


Adam semakin geram dan mencoba memukul-mukul perut pengawal gemuk itu. Namun, justru Adam didorong hingga kepalanya terbentur aspal jalan yang panas. Karena siang itu cuaca memang sangat panas. Melihat kejadian itu, tuan Adit turun dari mobilnya. Kejadian yang sangat mengenaskan itu membuat hati tuan Adit tergerak.


Tuan Adit membuka pintu mobilnya. "Tuan, apakah tidak apa-apa jika anda menghadapinya seorang diri? " Tanya pak Agam.


"Biarkan saya menemani anda tuan! " Pinta tuan Farhan.


"Tidak! " Jawabnya singkat sambil menutup pintu mobilnya.


Tuan Adit melangkahkan kakinya ke jalan yang menurun, tempat dimana kejadian itu berlangsung.


Dengan suara lantang, beliau berkata " Apakah hati kalian telah mati sehingga kalian berbuat kasar di hadapan anak kecil dan melukai anak kecil yang tidak bersalah seperti itu? "


Semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan aneh.


"Siapa anda? " Tanya seorang rentenir yang sedari tadi hanya diam memperhatikan anak buahnya berbuat kasar kepada ayah dan anak itu.


"Jika kau adalah seorang laki-laki sejati, kau tidak akan membiarkan anak buahmu melukai seorang anak kecil! "


"Sebaiknya anda tidak ikut campur! Ini adalah urusan saya dengan lelaki tidak berguna ini! " Jawab rentenir itu sambil menunjuk ke arah tuan Kenan.


"Saya adalah orang yang akan melunasi semua hutang itu! " Jelas tuan Adit.


"Apaaa? " Tanya rentenir itu dengan nada tidak percaya. "Jika saya lihat dari gaya berpakaian anda, terlihat jelas anda bukanlah orang sembarangan. Anda memakai jas paling mahal dan sepatu kulit asli. Dan saya jamin, anda berasal dari kalangan orang kaya! "


"Apakah kau sudah selesai menilai penampilan saya? " Tanya tuan Adit kesal. "Sekarang sebutkan berapa banyak hutang tuan ini kepada anda! "


"Haha.. " Rentenir itu tertawa. "Hutang laki-laki ini sebanyak lima puluh juta. "


"Dan bunganya? "


"Lima puluh juta berserta dengan bunganya! " Seru rentenir itu.


Tuan Kenan bangkit dari tempatnya terjatuh dan menghampiri tuan Adit. "Tuan, anda tidak usah ikut campur ke dalam urusan saya. Saya tidak mengenal anda. Jadi untuk apa anda membayarkan hutang-hutang saya? "


"Saya tidak membayarkan hutang-hutang anda secara sukarela! " Jawab tuan Adit dengan acuh. "Farhan? "


"Ya, tuan. " Tuan Farhan sejak tadi berdiri di belakang tuan Adit. Beliau mengikuti langkah tuan Adit.


"Tuliskan sejumlah uang lima puluh juta rupiah di selembar cek dan berikan kepada lintah darat ini! " Perintah tuan Adit. "Dan pastikam mereka tidak terlihat lagi di depan saya! "


"Ya, tuan. " Tuan Farhan segera melakukan perintah tuan Adit.


Setelah selesai, rentenir dan anak buahnya segera pergi. "Senang sekali berbisnis dengan anda, tuan kaya raya! "


"Siapa anda? Bagaimana cara saya membayar hutang saya kepada anda, tuan? " Tanya tuan Kenan.


"Nama saya adalah Raden Raditya Atmadja. Bekerjalah dengan saya! "


"Saya memang membutuhkan pekerjaan, tuan. Dengan senang hati, saya akan bekerja untuk anda!" Ucap tuan Kenan.


Itulah kisah awal pertemuan antara tuan Adit dengan keluarga tuan Kenan. Sehari setelah mereka bertemu, tuan Kenan bekerja sebagai kepala pengurus rumah tangga di kediaman keluarga tuan Adit. Karena tuan Kenan berpengalaman dalam berbagai hal kepengurusan rumah tangga. Dan Adam sebagai penjaga nona Alicia sekaligus disiapkan oleh tuan Adit sebagai wali nona Alicia suatu saat nanti. Dan keluarga tuan Kenanpun tinggal di kediaman tuan Adit. Sedangkan Adam melanjutkan pendidikan ke negeri paman sam.