
Jam 05.00 pagi di gedung Pt Ten Entertainment.
Ruang CEO
Braaakkkk.. Suara pintu terbuka.
"Astagaaa.. Botol minuman keras dimana-mana! Bau alkohol yang sangat menyengat tercium di ruangan ini. Apa ini?" Nyonya Monica memungut foto seorang gadis satu persatu. "Yaa ampuun, ini semua adalah foto Alicia."
"William, kamu benar-benar sangat mencintai diakah? Sama seperti dulu, ayahmu sangat mencintaiku. Ayahmu rela mengejarku sampai ke kerajaan Inggris. Sudah saatnya ibu membantumu, nak!", nyonya Monica berjanji dalam hatinya.
Tuan muda William tertidur di sofa.
"William.. William.. Bangunlahh.. Hahh kenapa dahimu begitu panas? " Nyonya Monica berusaha membangunkan anaknya.
"Siapapun tolong panggilkan dokter keluarga ke sini dalam waktu sepuluh menit atau kalian semua akan dipecat!! Cepaatttlahh.. " Teriak nyonya Monica.
"Baik, nyonya. " Jawab Hans.
Kediaman keluarga Atmadja
"Apakah nyonya belum keluar kamar juga? ", tanya paman Kenan kepada Elena.
"Belum, tuan Kenan. "
"Apakah nyonya sudah makan? "
"Seperti yang anda ketahui, nyonya belum makan apa-apa sejak kemarin. "
Sambil memegang dagunya, paman Kenan berpikir harus melakukan apa untuk nyonya..
"Hmm.. Saya pikir sebaiknya memberitahu tuan Adit tentang keadaan nyonya! "
Tuan Kenan pergi meninggalkan Elena sendiri. Dari saku celananya, tuan Kenan mengeluarkan ponselnya.
"Hallo, tuan Farhan. Ada yang ingin saya sampaikan mengenai nyonya! "
"Silahkan.. "
"Sudah dua hari ini nyonya tidak keluar kamar dan juga tidak makan apapun. Sebaiknya saya harus bagaimana? "
"Bujuklah nyonya, katakan ini adalah perintah dari tuan Adit. " jawab tuan Farhan sambil geleng-geleng kepala. "Lusa, tuan akan kembali. Jangan beritahu kepada siapapun, termasuk nyonya. Saya akan menyampaikan pesan anda kepada Tuan Adit segera setelah meeting berakhir. "
"Baiklah, terimakasih tuan Farhan. "
"Huftt, padahal tuan dan nyonya jarang sekali bertemu dan anak mereka entah bagaimana keadaannya.. Nona selalu membayangiku. Setiap kali aku memikirkannya, aku merasa berhutang budi." pikir tuan Kenan.
Rumah Sakit Mitra Global Indonesia
Ruang VVIP
"Bagaimana keadaan anak saya dokter? "
"Kami sudah melakukan yang terbaik, mohon nyonya Monica bersabar. Kami sudah memberikan obat penghilang rasa sakit. Dalam waktu 30 menit, tuan muda William akan sadar. "
"Baik dokter. "
"Saya permisi nyonya. Setelah tuan muda sadar, saya akan memeriksa keadaannya kembali. "
Setelah dokter Ayub pergi, nyonya Monica segera menelepon asisten pribadinya.
"Haloo.. "
"Hans, bagaimana perkembangan penyelidikannya? "
"Kami telah menyusupkan mata-mata di kediaman keluarga Atmadja. Dan mata-mata itu mengatakan bahwa nona Alicia kini berada di negara Amerika tepatnya di kota California. "
"Bagus sekali. Lalu apa rencanamu selanjutnya? "
"Sesuai dengan instruksi tuan Samuel, kami segera mengirimkan agen khusus ke sana. Nyonya tunggulah informasi selanjutnya. "
"Sebaiknya kerjakan dengan cermat dan cepat! "
"Baik, nyonya. "
Setelah selesai menelepon, nyonya Monica masuk ke ruangan William.
Di dalam tidurnya tuan muda William bermimpi..
Sreek sreeekk.. Aku berlari dari rumah karena marah. Hari ini aku akan ikut ayah pergi tugas ke negara Amerika sebagai perwakilan duta besar, dan aku akan tinggal di sana untuk beberapa tahun ke depan. Sejujurnya aku tetap ingin berada di sini, di rumahku. Tapi ibu berkata bahwa kita akan pulang saat liburan musim panas tiba.
Saat aku sedang tiduran di atas rerumputan, datanglah seorang anak perempuan dengan rambut panjang dan bola mata berwarna coklat. Dia tersenyum padaku.
"Halloo kakak ganteng. Kenapa kamu tidur di atas rumput? Apakah sangat nyaman? Atau kamu tidak bisa tidur semalam? "
"Jangan ganggu aku! Cepat pergi! " jawabku dengan marah.
"Oh, apakah kamu sedang menangis? Atau kamu lapar? Aku akan membagikan coklat hati ini untukmu. Ini sangat enak. Coklat ini bisa membuat perutmu sedikit kenyang. "
Belum sempat aku menjawabnya, ada seorang ibu memanggilnya.
"Alicia aurora sayang, ayo kita pergi. Mobil sudah menunggu. Cepatlah.. "
"Baik, bu. " jawabnya.
Anak perempuan itu kembali memandangiku dan berkata, "Aku pergi dulu ya, kakak jangan menangis lagi. Selamat tinggal. "
Ahhhh.. Aku melambaikan tangan. Aku hendak menangkapnya tapi aku tidak bisa menjangkaunya. Aku hanya bisa berteriak..
"Tidaaakk! Jangan pergi! Tidaaakkk! " Aku masih berteriak dan dia pergi semakin menjauh. "Alicia jangan pergi. Aku mohon. Jangaaaannn..!! "
Sambil menangis nyonya Monica berteriak, "William.. William.. Tolong bangunlah. Banguuunn sayang! Ibu di sini.. "
"Alicia.. Aurora.. Aku.. Akuuu.. Jangannnn.. Aku mo.. Mohon.. "
Tuan mudaWilliam masih tidak sadarkan diri dan terus memanggil nama Alicia. Keringatnya bercucuran membasahi pelipis dan air matanya berjatuhan dengan bebas membasahi pipinya.
"Sungguh sedih melihatnya." Nyonya Monica masih menangis. Beliau berteriak, "Cepat panggilkan dokter! "
"Baik, nyonya. "
Kening tuan muda William berkerut seperti sedang berpikir keras.
"Dokter telah datang, nyonya. " kata Susan. Sekretaris pribadi nyonya Monica.
"Dimohon nyonya untuk jangan panik. Karena tuan muda membutuhkan suasana tenang dan nyaman, saya berharap nyonya Monica bisa menstabilkan emosinya." Dokter Ayub memberikan peringatan. "Saya telah memberikan obat untuk tuan muda. Setelah itu dia akan baik-baik saja. "
"Baik, terimakasih dokter. "
Setelah itu, nyonya Monica kembali menangis. Baru pertama kali ini, beliau melihat anak yang begitu dicintainya menderita seperti ini.
"Bagaimana perasaanmu, nak? Ibu dan ayah akan selalu mendukungmu. Kami akan selalu bersamamu. Bangunlah William! "
Melihat pemandangan seperti ini, para pengikut keluarga Alexander bungkam. Mereka bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan tuan muda? Apakah nona Alicia sangat berharga hingga membuat tuan muda terpuruk seperti ini? "
Vila keluarga Alicia Atmadja, Amerika
"Nona, anda sudah bisa bersekolah hari ini. Semua prosedur sudah lengkap. Sekolah anda yang baru adalah Angela High School. Di sana ada seorang guru bernama Adam. Dia adalah anak dari paman Kenan, kepala pengurus rumah tangga keluarga Atmadja. Anda bisa bertanya apapun kepadanya. "
"Tidak perlu. Aku sanggup menjaga diriku sendiri. "
"Jika nona dalam keadaan bahaya, cukup tekan tombol angka satu di ponsel anda, dan pengawal bayangan akan muncul. Kami sudah memasang alat pelacak pada ponsel nona. Saya mohon kerjasamanya, nona. Semoga harimu menyenangkan "
"Paman Leo, bolehkan aku bertanya? "
"Silahkan! ""
"Bagaimana keadaan keluargaku di Indonesia? "
"Untuk pertanyaan ini, saya belum bisa memastikan. Tuan besar hanya berpesan, bahwa nona harus dalam keadaan aman dan nyaman. "
"Tapi justru kau yang selalu membuatku tidak nyaman paman. " Aku menjawabnya dengan kesal.
Terlintas sesuatu di dalam benakku, "Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya berwarna biru. Dan akupun begitu. Aku tidak perlu menjelaskan batapa kecewanya aku. Aku tidak boleh tahu apapun tentang keluargaku. Bahkan, aku tidak tahu kabar mengenai kedua orangtuaku. Itu justru menyakitiku. Dan teman-temanku, apa kabarnya kalian? Semua jaringan terputus. Gerak-gerikku selalu diawasi. Bagaikan hidup di penjara."
High Scope Global School, Indonesia.
Braaakk.. Nikky memukul meja.
"Apa-apaan kau ini, Ra? Sudah berapa kali kubilang, aku tidak tahu apapun mengenai keluarga Alicia! "
"Aku tidak sebodoh kau! "
"Terserah kau mau percaya atau tidak. "
"Haahaa, sebaiknya begitu. Jika aku menemukan sesuatu tentangmu dan keluargamu, aku tidak akan diam. Tunggu saja, karma akan datang tepat waktu pada tuannya! "
"Ancaman macam apa itu? Kau pikir aku takut? "
Clara tidak mempedulikan omongan Nikky. Clara pergi setelah menakut-nakutinya. Nikky adalah adik sepupu Alicia. Dia anak kedua dari mr Yoga Atmadja. Kakaknya adalah Nikko. Nikko sedang belajar di luar negeri. Tepatnya di Universitas Jhonasburg, Jerman sebagai mahasiswa jurusan bisnis semester akhir. Saat ini dia berusia 22 tahun. Tuan Yoga berencana akan mengambil alih posisi direktur di perusahaan Fantastic Prima untuk Nikko. Karenanya Nikko sedang mempersiapkan diri untuk itu.
Clara kaget dan segera membalikkan badannya ke arah sumber suara itu.
"Ohh kamu. Sayang, ada apa? "
"Kenapa kamu jalan terburu-buru? "
"Oh, aku sedang mencari Erisa. Apa kau melihatnya? "
"Tidak, aku dan joddy barusan dari lapangan basket. " Jawab Ginza. Kenapa kamu tidak mencoba meneleponnya? "
"Ahh iya. Sebentar. "
Tuuutt... Tuuuuttt.. Kenapa Erisa tidak mengangkat teleponku? Dimanakah dia? Clara bertanya dalam hati.
"Bagaimana? "
"Tidak diangkat. Aku sudah mencarinya di ruang mading tidak ada. Dan di ruang osis juga tidak ada. "
"Ya sudah kalau begitu, kita pergi saja ke taman yuk! " ajak Ginza.
"Ginza, aku pergi duluan ya!" Joddy segera pergi meninggalkan Clara dan Ginza. "Sampai bertemu setelah kelas sore selesai. "
Ginza menggandeng tangan Clara, tapi Clara menolak.
"Kenapa, Ra? "
"Tidak apa-apa. Hanya tidak terbiasa. "
"Kalau tidak dibiasakan dari sekarang, mau kapan lagi? Hanya bergandengan tangan saja kok, Ra! "
"Iya, maaf ya sayang. Tapi ini di sekolah. Aku tidak bisa. "
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa. "
Mereka berdua berjalan menuju taman sekolah. Pikiran Clara sedang kacau. Dia mencurigai Ginza dan Sarah seperti yang pernah dibilang Alicia. Clarapun mulai menyelidiki Ginza.
Ruang kelas XI B
Reginna sedang berada di dalam kelas. Murid yang lain sedang membicarakan tentang Alicia dan William. Mereka tampak sangat menyukai pasangan ini. Mereka melihat-lihat majalah sekolah terbaru, yang cover depannya adalah Alicia dan William di pesta ulang tahun Jane jumat lalu.
"Huhh sangat menyebalkan mendengarkan gosip murahan seperti ini! " Reggina mengeluh dalam hati.
"Bisakah kalian berhenti membicarakan itu! " Reggina menunjuk majalah sekolah.
"Ada apa denganmu, Gin? " Tanya Mutia.
"Ya, kami hanya kagum pada Alicia. Ternyata dia mengenal William dan selama ini Williampun memperhatikan Alicia. Padahal kita semua tahu bahwa William sangat dingin kepada setiap wanita. " Irine manambahkannya.
"Aduuuhhh, telingaku sakit mendengarkan nama Alicia! Berhentilah bergosip murahan seperti ini. " Reggina berteriak pada Mutia dan Irine.
"Hahhh, ini bukan gosip melainkan fakta. Semua penjuru sekolah juga sudah tahu hubungan mereka berdua itu! " balas Irine.
"Kau sungguh aneh, Gin. " Mutia berkata sambil senyum sinis pada Reggina. "Kemana perginya tuan putrimu itu? Padahal sudah lama aku tidak melihatnya di Ten Entertainment. "
"Apakah yang kau maksud adalah Sarah? " Clara bertanya saat sedang berjalan masuk ke dalam kelas.
"Ya, aku dengar Sarah dihukum oleh pak gubernur. " Mutia berkata pada Clara dengan mengangkat alisnya.
"Oh ya? Ada masalah apa? Aku tidak mendengar berita apapun. " tanya Clara pada Mutia.
"yang kutahu dari sumber terpercaya, pak gubernur marah karena Sarah tidak berhasil mendapatkan perhatian dari William. Sedangkan William hanya tertarik pada Alicia. " Mutia melirik Reggina.
"Haaahaaa.. Tentu saja. Kuberitahu ya, William dan Alicia adalah kekasih masa kecil. Dan mereka telah dijodohkan. " Clara tertawa.
"Jika memang benar bahwa mereka dijodohkan, tapi mengapa Alicia pergi ke luar negeri? " tanya Reggina. "Itu tidak masuk akal! "
"Duhh kau ini. Bisa tidak sih berpikir dengan logika? " Clara membentak Reggina. "Alicia adalah penerus satu-satunya bisnis keluarga Atmadja. Dan dia harus belajar lebih keras lagi agar bisa sepadan dengan William. Itulah alasan kenapa Alicia memutuskan untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri. Bukankah seperti itu, Nikky? " Clara memandangi Nikky dengan tatapan yang tajam.
"Iya, yang dikatakan Clara benar. " Jawab Nikky. "Keluarga Atmadja sudah mengaturnya sejak lama. "
"Waahh, aku iri pada Alicia. " Mutia dan Irine berkata berbarengan.
"Kita sudah ditentukan jodoh masing-masing oleh Tuhan. Jodoh kita merupakan cerminan diri kita. Maka baik-baiklah menjadi diri sendiri. Jangan khawatir. Jika kita adalah orang baik, maka baik pula jodoh kita. " Clara berkata sambil tersenyum pada Mutia dan Irine.
"Kau benar. Clara maukah kamu berteman dengan kami? Kau sangat menyenangkan. " tanya Irine.
"Baiklah, aku akan menjadi teman yang baik untuk kalian. " Clara menjawab.
Mereka tertawa. Sedangkan Reggina dan Nikky merasa kesal karena kalah dengan Clara.
Kriiing kriiiinggg.. Suara telepon dari ponselnya Clara. Lalu Clara keluar dari kelasnya.
"Hallo. Ada apa? "
"Nona, saya punya kabar terbaru tentang Ginza. "
"Cepat katakan! "
"Ginza dan Sarah memang memiliki hubungan. Itu sudah berlangsung sejak lama sebelum Ginza bertemu dengan nona. Dan mereka setiap bulan di tanggal 14 selalu memesan sebuah kamar di hotel Sequel, tepatnya room 409."
"Haahh! Bagaimana mungkin?? " Clara sangat kecewa. Jauh di dalam hatinya, dia ingin mengamuk di hadapan Ginza dan Sarah.
"Apakah kau memiliki beberapa foto? "
"Ya, sedang saya kirim ke ponsel nona. Dan salinannya sudah saya simpan dengan rapih. Sebaiknya nona jangan gegabah. Kita bisa memergoki mereka di tanggal 14 bulan ini. Bagaimana? "
"Oke. "
Setelah menutup teleponnya, Clara masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Ohhh my God.. "Apa yang dikatakan Alicia benar! Hatiku benar-benar sakit."
Kediaman keluarga Chandrawijaya
Ruang kerja tuan Brata
"Ya tuan Farhan. Saya sudah melakukan sesuai dengan instruksi. Adakah hal lain lagi yang harus saya lakukan? "
"Tidak. Jika ada pergerakan dari keluarga Yoga Atmadja segera laporkan padaku. "
"Baik. "
Setelah menutup telepon, tuan Brata segera mengirimkan email kepada tuan Heidy di perusahaan Fantastic Prima.
Tok tokk tokk.. Pintu ruang kerja tuan Brata diketuk oleh pelayan.
"Ya, silahkan masuk! "
"Permisi tuan, ada kiriman paket. Tolong diterima. "
"Terimakasih. Kau boleh pergi. "
"Siapa yang mengirimkan paket? Tadi tuan Farhan tidak berbicara tentang paket ini. Sebaiknya aku buka dulu." Pikir tuan Brata.
Krash.. Krash.. Tuan Brata membuka kantung paketnya. "Hahhhh?? Apa ini?? Mengapa berwarna merah seperti darah?? Tapi ini sangat bau amis.. Jangan-jangan..?? "
Kring kriing kriiingg.. Ponsel tuan Brata berbunyi.
"Halo, siapa ini? " Suara tuan Brata terdengar bergetar saat menjawab telepon.
"Apakah anda sudah menerima paket yang datang ke rumah anda, tuan Brata Chandrawijaya yang terhormat? "
"Dari suaranya, sepertinya tidak asing. Tapi siapakah dia?" Tuan Brata berpikir. "Siapa anda? "
"Jika kau tidak keberatan, perkenalkan saya adalah wakil direktur perusahaan Fantastic Prima. Kau pasti tahu siapa saya. Sebaiknya kau berhati-hati. Paket ini hanyalah permulaan. Yang sebenarnya manunggu di perusahaan. Kalau kau tidak datang rapat besok, kau dan keluargamu akan berakhir. Sebaiknya dukung saya dan kau akan aman! "
"Oh, Apakah maksud anda dengan mengancam saya akan mempermudah jalan anda? "
"Bisa dikatakan demikian. "
"Saya tidak pernah takut dengan ancaman apapun! " jawab Tuan Brata dengan tegas.
"Kalau begitu aku pastikan kau tidak akan tidur nyenyak malam ini! "
Tutt.. Tuuuttt.. Sambungan telepon terputus.
Tuan Brata berteriak, "Tolong siapapun cari Jane dan Boy sekarang juga. Katakan aku menunggu mereka di ruang kerjaku! Pastikan mereka berdua dalam keadaan aman!"
"Baik, tuan. " Jawab pelayannya.
"Ada apa, sayang? " Tanya istri tuan Brata, nyonya Calista.
"Aku merasa terganggu. Lihatlah sayang! Tuan Yoga mengirimkan ini padaku. "
"Hahh apa ini? " tanya nyonya Calista dengan wajah ketakutan.
"Aku tidak menyangka tuan Yoga berani melakukan ini pada keluargaku." Pikir tuan Brata. "Aku akan segera bersiap menghadapinya. Sebagai langkah awal, aku akan meminta orang-orang suruhanku untuk lebih waspada karena perang akan segera dimulai."
Untuk para pembaca yang tersayang, maafkan Author yang baru update episode 6. Dikarenakan kondisi kesehatan Author yang sedang tidak baik, maka update jadi terhambat. Terimakasih sudah membaca novelku. #salamembaca