My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Berdansa



Nyonya Alifah sedang menghadiri arisan berlian dengan sesama nyonya sosialita lainnya. Lalu asisten pribadinya berbisik sesuatu ke telinga nyonya Alifah..


"Nyonya, kabarnya saham Pt Fantastic Prima menurun sebanyak 50 point. Apakah nyonya tidak akan pergi ke perusahaan? "


Nyonya Alifah memberi kode jentik jari. Lalu mereka pamit pergi.


"Maafkan aku yaa para nyonya sekalian. Karena ada urusan mendadak, aku pergi duluan. Kalian bersenang-senanglah. Semua tagihan, aku yang akan membayarnya. "


"Waahh, kau memang istri konglomerat terhebat. Terimakasih untuk traktirannya yaa! " Ucap nyonya Linda.


"Yaa, terimakasih nyonya Alifah. " Nyonya Earlypun mengucapkan terimakasih.


Setelah berbasa-basi, nyonya Alifah segera naik mobil dan pergi menuju perusahaan milik suaminya. Di perjalanan, beliau memikirkan masalah ini sampai mengerutkan dahi. Tersirat jelas rasa khawatir di wajahnya yang cantik itu.


"Elena, coba kau hubungi suamiku! Tanyakan kapan akan kembali ke Indonesia. "


Tuuutttt.. Tuuuuttt... Tuuuutttt..


Telepon yang anda tuju sedang sibuk.


"Maaf, nyonya. Tuan Farhan tidak mengangkat teleponnya. Mungkin mereka sedang sibuk. "


"Ya sudah. Kita tetap pergi ke perusahaan. Kita lihat apa yang terjadi. "


Pt Fantasia Liu, Jepang.


Ruang CEO Han Liuliu.


"Presdir, apakah Anda yakin akan terus bekerjasama dengan mr Adit? " Ketua pengacara perusahaan Fantasia Liu memberikan pertanyaan kepada Tuan Han Liuliu terkait dengan rumor yang beredar tentang perusahaan Tuan Adit di Indonesia.


"Ya. Aku akan membantu kesulitan Mr Adit. Dia adalah orang yang pantas mendapatkan perhatianku. "


"Baiklah, presdir. "


Setelah ketua pengacara pergi dari ruangan presdir Liuliu, nona Melissa sekretaris pribadi tuan Liuliu menghampiri dan bertanya..


"Tuan, setelah kupikir dengan teliti, anda telah memutuskan kontak dengan mr Yoga. Dan andapun sudah mengetahui perselisihan antara kakak beradik di keluarga Atmadja itu. Mr Adit memiliki kemampuan yang matang dalam bidang bisnis. Sedangkan mr Yoga hanya duduk di belakang layar. Jadi itukah sebabnya anda lebih memilih tuan Adit? Hmmm.. Apakah saya benar? "


"Sungguh menarik! Kakak dan adik saling menyingkirkan satu sama lain. Pemikiranmu tidak salah, Mel. Aku menyukai orang yang pintar seperti tuan Adit. Sedangkan tuan Yoga hanya mengandalkan kekuatan saham saja tanpa memikirkan kemajuan perusahaan. "


Mendengar tuan Liuliu memuji kecerdasan tuan Adit, rupanya menarik perhatian Melissa. Diam-diam ia ingin bertemu secara pribadi dengan tuan Adit.


Di kediaman keluarga Boy Chandrawijaya


Pesta Jane malam ini, akan dihadiri oleh sejumlah anak dari keluarga kaya dan berkuasa. Jane adalah putri dari tuan Brata Chandrawijaya. Tuan Brata adalah kolega bisnis ayahnya Alicia. Sedangkan Boy adalah anak pertama dari keluarga Chandrawijaya.


"Selamat datang Clara dan Erisa. Terimakasih sudah hadir di acara ulang tahun adikku yang ke 16 tahun. " sapa Boy kepada Clara dan Erisa.


Clara sangat cantik memakai gaun malam dengan warna lavender. Belahan dada yang rendah membuatnya tampak sedikit seksi. Sedangkan Erisa mengenakan gaun malam berwarna biru muda. Erisa terlihat sangat manis.


"Terimakasih, Boy. " Balas Erisa.


"Kenapa Miko dan Raymond belum datang, Boy? " tanya Clara.


"Bukannya belum datang, tapi mereka sedang sibuk menggoda para gadis! Haaa.. Haa.. " Boy bicara sambil menunjuk ke arah Miko dan Raymond yang sedang bergurau.


"Apakah Alicia akan datang ke pestaku? " tanya Jane.


"Kami juga tidak tahu. Karena Alicia tidak mengangkat teleponnya. " Jawab Clara dan Erisa.


"Jangan bersedih, tuan putriku! Kakakmu akan selalu menghibur dan menemani sampai Alicia datang. " sambil menggenggam erat tangan Jane, Boy menenangkan hati adiknya.


"Ya, aku sangat kangen padanya. Dia sudah kuanggap seperti kakak perempuanku. " Gumam Jane.


Tiba-tiba semua orang tertuju pada satu orang pria yang baru datang. Dia adalah William Alexander.


"Wooww, siapakah dia? " tanya Erisa. "Pria itu begitu memukau. Perfect! "


"Haahhh, ituu.. Ituuu.. "


"Ada apa, Clara? Apa kau mengenalnya? " Erisa tidak sabar dengan kata-kata Clara.


"Itu tidak mungkin dia kan? "


"Siapa yang tidak mengenal William Alexander? Dia adalah senior di sekolah yang sama dengan kita. Ayahnya pemilik sekolah dan selain itu, keluarganya menguasai beberapa bisnis di negara ini. Bahkan, seorang gubernurpun tidak berani menyinggung keluarga Allexader. " Boy menjelaskan kepada Erisa dan Clara.


"Hallo apa kabar, tuan muda William? Senang berjumpa dengan anda. " pak Daya Dharmasetya menjulurkan tangannya mengajak William berjabat tangan.


"Tidak usah sungkan begitu kepadaku, pak Gubernur. " William membalas.


"Siapa di sebelah kanan William itu, kak? " Tanya Jane kepada Boy.


"Di sebelah kanan William adalah Sean. Tangan kanan dan juga merupakan salah satu sahabat William. Di sebelah kirinya Brimma. Tangan kiri William. Sama seperti Sean, Brimma juga sahabat William. Dan yang berada di belakang itu pak Santo. Beliau adalah asisten pribadi William. "


"Waahh, semua orang hebat berada di sekeliling William. " Erisa mengagumi William.


"Apakah yang kau bilang itu benar, Boy? " Tanya Clara.


"Ya, itu adalah fakta. Ada apa, Ra? "


"Waktu itu, aku dan Alicia sedang di cafe house of strawberry. Dan William memakai baju pelayan. Dia melayani kami berdua. Bahkan Alicia memarahinya dan meminta manajer untuk memecat William. "


"Haaa... Haaa... Itu tidak mungkin, Ra. " jawab Garry yang baru datang. "Memangnya kau tidak tahu kalau cafe itu salah satu milik William? "


"Hahhhh.. " Clara menutup mulutnya karena kaget. "Jadi, dia hanya berpura-pura? Untuk apa dia berpura-pura menjadi seorang pelayan rendahan seperti itu? "


"Kita lihat saja nanti. Pasti ada alasannya yang membuat dia melakukan itu. " jawab Boy.


"Lihat, lihat.. Mereka menuju ke arah kita! " Erisa selalu memperhatikan gerak gerik William.


"Apa kabar nona Jane? Selamat ulang tahun yaa semoga kamu selalu sehat dan disayang Tuhan. Amin. " sapa William dengan lembut.


"Terimakasih untuk doa dan ucapannya kak William. Senang sekali kakak bisa hadir di pestaku. '


Sepertinya William sedang mencari seseorang. Dia terlihat menengok-nengok entah siapa yang dia cari.


"Will, apakah kau sedang mencari seseorang? Jane menunggu jawabanmu! " Sean berbisik ke telinga William.


"Ohh yaa, maafkan aku nona kecil. " Jawab William. "Aku sangat jarang datang ke pesta seperti ini. Itulah alasan kenapa aku sangat antusias dengan pestamu. "


"Wahhh, lihat. Itu Alicia datang. Dengan siapa dia datang? " orang-orang membicarakan kedatangan Alicia.


Beberapa pria mengatakan,"Betapa cantiknya dia. Dengan bentuk tubuh yang sempurna mengenakan gaun malam soft pink dengan pita di belakang dan belahan dadanya sangat menggoda. "


"Selama ini di sekolah, Alicia terkenal dengan tuan putri yang cuek, tidak suka berdandan, dan kasar. Tapi malam ini sangat berbeda. Dia tampil dengan riasan yang soft dan lebih terlihat anggun. " Linna dan Ayunda memberi komentar tentang penampilan Alicia.


Linna dan Ayunda adalah senior di sekolah. Mereka selalu terlihat fashionable. Tidak heran mereka terpesona oleh Alicia malam ini. Ya, Alicia datang dengan penampilan yang cantik dan anggun. Setiap mata memandanginya. Karena keluarga Alicia sedang dalam bahaya, tuan Adit memberikan pengawalan yang ketat dari biasanya. Dan delapan orang pengawal bayanganpun telah disiapkan untuk putri kesayangannya.


"Will.. Itu dia datang. " bisik Brimma.


"Ya, aku tahu. "


Aku menghampiri Jane dan teman-temanku yang lain.


"Halloo Jane cantik. Selamat ulang tahun yaa adikku sayang. Muahh.. " Aku mencium Jane dengan lembut dan memberinya sebuah hadiah yang telah dipersiapkan. "Maaf ya teman-teman aku datang terlambat. "


"Tidak masalah, Al. Kau kan jarang menghadiri pesta seperti ini. " Kata Garry.


Dengan sedikit merengek Jane memelukku, "Kak, aku pikir kau akan melewatkan pestaku! Aku sangat merindukanmu. "


"Tidak mungkin sayang. Kau adalah adikku yang paling manis. " jawabku.


"Halloo nona Alicia.. " Sapa William.


Dengan mata bulat yang melotot, aku bingung dan berkata.. "Hahhh.. Siapa yang mengundang seorang pelayan ke pesta ini? " Tanyaku dengan marah.


"Pppfffff... " Sean tidak bisa menahan tawa.


William meraih dan mencium telapak tanganku. Dengan senyum manisnya dia berkata..


"Mm.. Muahh.. Dengan senang hati, pelayan ini akan melayani nona Alicia sepanjang hidup. "


Semua orang memandangi mereka berdua dengan takjub. Seorang William yang gila kebersihan dan cuek jatuh cinta dengan tuan putri yang kasar. Sepertinya ini akan menjadi hot news di majalah sekolah besok. Pikir Anggun.


"Oke. " balas Erisa.


"Ada apa, Ris? " Clara bertanya.


"Anggun berkata, besok William dan Alicia akan masuk ke dalam hot news majalah sekolah. "


"Heeeheee.. " Clara dan Garry tertawa.


"Mengapa mukamu merah merona, nona? " tanya William. "Apakah kau tidak pernah bersentuhan dengan pria? "


"Kalau kau sudah tahu, maka lepaskanlah tanganku! Kau sudah membuatku malu. Terlebih lagi, aku tidak pernah bersentuhan dengan pria asing sepertimu! "


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi! " Balas William. "Tahukah kau, aku sulit melupakanmu. Melupakan kejadian sepuluh tahun yang lalu. "


Aku tidak tahu apa maksud dari ucapan William. Dan aku tidak bisa melepaskan tanganku. Genggamannya terlalu kuat. Hufftt.. Sepertinya aku hanya bisa menurut padanya.


"Tuan pelayan yang terhormat tidak bisakah kita membicarakan masalah pribadi kita nanti setelah selesai pesta? " Aku mencoba membujuknya. "Tolong sekarang kau lepaskan tanganku! Ini sangat sakit. "


"Tuan muda William, anda sudah datang? Maafkan aku terlambat menyambut anda, karena aku menyapa tamu yang lainnya dulu. " sapa tuan Brata. "Apakah nona ini adalah pasangan pesta tuan muda William? "


"Ya, gadis ini Alicia. Dia adalah pasangan pestaku. Siapapun tidak boleh menyinggungnya. " William berkata dengan dingin dan serius. William tahu, suatu saat akan berbahaya untuk Alicia tetap berada di sisinya. "Tidak perlu begitu formal kepadaku, tuan Brata. Ini adalah pesta putrimu. Dan aku telah memenuhi undangannya. Aku permisi dulu untuk berdansa dengan pasanganku. " William undur diri lebih dulu.


"Ehhhh... Heii, apa maksudmu dengan berdansa? " Aku bertanya tapi William tidak menjawab. "Teman-teman kenapa kalian hanya diam saja? Cepat tolong aku'"


"Bersenang-senanglah, Al! " Teriak Boy. "Akhirnya kau menemukan pasangan pestamu! "


Huuuhh teman-teman macam apa kalian. Membiarkan aku menderita dengan pria asing ini.


Di pojok dekat dengan jendela, tuan Gubernur sedang mengobrol bersama putrinya.


"Sarah, mengapa kau tidak lebih dulu dekat dengan William? Kenapa kau kalah dengan gadis kasar itu? Keluarga kita akan naik derajat jika kau bisa bersama dengannya. Apalagi kau ini gadis bersih. Tuan William sangat suka dengan gadis yang bersih. "


Sarah terdiam. Ayahnya tidak tahu kelakuan putrinya itu.


"Clara sayang.. "


"Hahh.. Ginza.. Kamu? "


"Ya, ini aku. Maafkan aku yang menghilang beberapa hari ini. Karena aku harus membantu ayahku mengurusi beberapa pekerjaan di perusahaannya yang masih tertunda. "


"Oh, ok. Baiklah, aku mengerti. "


"Mari kita berdansa seperti Alicia dan William. "


Akhirnya Clara dan Ginza berdansa berdua di depan mata Sarah. Sarah terlihat sangat kesal dan juga sedih harus selalu berpura-pura.


"Alicia, bagaimana kabarmu sepuluh tahun ini? Apakah keluargamu baik-baik saja? " Sambil berdansa William menanyakan kabarku.


Aku malas menjawabnya. Aku hanya diam. Aku memandangi William. Tinggiku 170cm dan William ternyata lebih tinggi dariku. Aku baru menyadari, wajah William sangat ganteng. Dengan rambut coklat dan mata hijaunya yang bagus, aku terpesona dibuatnya. Hmm.. Aku teringat ayah dan ibuku tapi bahkan aku tidak tahu dimana mereka. William mengangkat daguku sangat dekat dengan wajahnya. Dia menatapku seolah sudah lama mengenalku. Ada tatapan sedih di matanya yang indah itu. Dia memelukku dengan erat membuatku hampir tidak bisa bernafas. Aku bisa mendengar detak jantungnya dan aku bisa mencium aroma tubuhnya itu.


"Al, lihat aku. Kau dan aku telah ditakdirkan untuk bersama. Suatu hari nanti, aku akan menikahimu dan membuatmu bahagia. "


"Tapi aku tidak mengenalmu. Menjauhlah dariku. "


"Aku akan membuatmu mengingat tentang masa lalu kita! " William membelai rambutku dengan lembut. "Berjanjilah padaku, Al. Kau akan sedikit demi sedikit mengenalku kembali. "


Kriingg..Kriiingg..


"Hallooo.. " tuan Leo menjawab teleponnya yang berdering. "Baiklah tuan. Saya segera menyiapkan keberangkatan nona sekarang. Mohon tuan menunggu kabar lagi dari saya. "


Setelah menutup telepon, beberapa orang pengawal menghampiri Alicia.


"Ada apa? " tanya William.


"Maaf tuan muda. Ini bukan urusanmu. Menyingkirlah! " Tuan Leo memberi perintah. "Ayo, laksanakan dengan hati-hati! "


"Paman, ada apa? " aku bertanya.


"Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah dari tuan besar. Saya harap nona bisa bekerjasama. Ayo nona, ikutlah dengan kami. Pesawat sudah menunggu" tuan Leo memberikan instruksi kepada bawahannya. "Jangan sampai menarik perhatian. "


"Tunggu, apa yang terjadi? Katakanlah, saya bisa membantu. " William menahan tangan tuan Leo.


"Tuan muda, mohon untuk tidak mencampuri urusan keluarga Atmadja. "


"Al, kamu mau kemana? " Erisa dan Clara menghampiriku.


"Selamat tinggal, teman-teman. "


Sambil menangis aku berjalan menjauh dari mereka. Dengan pengawalan yang ketat, teman-temanku tidak bisa berada dekat denganku. Aku sangat sedih. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin inilah sebabnya ayah mengirimkan pengawal untukku.


Di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Adit Atmadja.


"Kemana kita akan pergi, paman? "


"Saya akan memanggil seorang pelayan untukmu. " tuan Leo mengalihkan pembicaraan dan pergi meninggalkanku.


"Nonaa, bagaimana perasaan anda? "


"Bibi.. Apa yang terjadi dan kemana kita akan pergi? "


"Kita akan pergi ke amerika. Nona akan tinggal sementara di sana. Selain melanjutkan sekolah di sana, nona juga akan belajar beberapa mata pelajaran bisnis. Tuan besar yang mengatur semua hidup nona. Syukurlah saya bisa melihat nona lagi'"


"Sayapun bersyukur bibi Rea bisa pergi bersama saya. Terimakasih, bi. "


"Nona, gantilah bajumu dulu dengan baju hangat yang sudah saya siapkan. "


Setelah bibi Rea keluar dari kamarku di pesawat, aku menangis. Aku baru pertama kalinya bertemu dengan orang yang perhatian padaku meski aku lupa tentangnya, dia bahkan tidak pernah melupakanku. Dan ada apa dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu? Mengapa aku tidak ingat apa-apa? Aku akan mencoba bertanya pada bibi Rea. Mungkin beliau bisa memberitahuku.


Di jalan raya jendral Sudirman.


Kriiinngg.. Kriiiiinngg..


"Ya.. " William menjawab teleponnya.


"Maaf, tuan muda. Para pengawal nona Alicia sangat banyak dan begitu ketat. Kami kehilangan jejak. "


"Terus lakukan pencarian. Kabarkan padaku segera bila ada pergerakan dari keluarga Atmadja. "


"Baik, tuan muda. "


Brroooom.. Broooommmm.. William menambah kecepatan laju mobilnya menuju perusahaan keluarga Allexader.


Di luar kediaman keluarga Boy Chandrawijaya


Tuan Brata, Boy dan pengikutnya begitu sibuk melakukan panggilan telepon para detektif yang pergi mencari Alicia.


"Tuan, ada telepon dari nona Clara. " Andy sang pengawal pribadi Boy memberikan ponselnya kepada Boy.


"Ada apa Clara? "


"Boy, orang-orangku bilang bahwa Alicia sudah pergi menggunakan pesawat jet pribadi mereka. Tapi aku tidak tahu mereka akan pergi kemana. "


"Apakah orang-orangmu yakin? "


"Orang-orangku tidak mungkin mengatakan informasi yang palsu. Mereka tahu akan konsekuensinya. "


"Baiklah. Aku akan menyelidiki kemana mereka pergi. Terimakasih, Ra"


Setelah Boy menutup teleponnya, dia menghampiri ayahnya yang masih menelepon.


"Ada apa, nak?


"Mereka sudah pergi menggunakan pesawat jet pribadi yah. "


"Kenapa tuan Adit tidak mengatakan apapun? Besok tuan Adit akan kembali ke Indonesia. Aku akan bertanya padanya. Kau jangan khawatir. "


"Terimakasih, yah. "


Kedua ayah dan anak itupun masuk ke dalam rumah mereka. Boy terlihat sangat sedih atas kepergian Alicia. Entahlah, apakah dia akan kembali lagi atau tidak.