My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Nikko Menangis



Mountainview, California


Ruang tidur Alicia, pukul 05.00 pagi


Aku sedang tidur memeluk bonekaku menghadap ke kiri. Saat membalikan tubuhku, aku menindih sesuatu. Krash..


"Apa itu? " suaraku lirih.


Aku memegang benda lembut seperti boneka. Berwarna merah muda dan harum. Aku terduduk dan meraih benda itu.


"Ahh? "


Aku kaget bukan main melihat buket bunga tulip di sampingku.


"Pantas saja wanginya tidak asing bagiku! Apakah Nikko yang memberikan bunga ini? "


Hatiku sangat senang menerima bunga itu.


Gluduk gluduk.. Duarrrrr!


"Hahhh! " aku spontan membuang buket bunga itu. "Aaaarrgghhh! " aku berteriak ketakutan dan menutup wajahku dengan kedua tangan.


Nikko yang daritadi menunggu di depan pintu kamarku bersama dengan tuan Malik, langsung membuka pintu kamarku dan berlari dengan cepat ke dalam kamar. Dia memelukku dengan erat.


"Sayang, ini aku! " ucap Nikko pelan.


Aku membuka mataku di dalam pelukannya. "Nikko, aku takut! "


"Tenang, aku akan menjagamu! " Nikko mencium keningku dan membelai rambutku.


Tuan Malik melihat kami.


"Tutup jendelanya dan nyalakan lampu! " perintah Nikko.


"Ya, tuan. " jawab tuan Malik.


Tuan Malik segera menutup jendela dan menyalakan lampu sesuai dengan perintah Nikko.


"Pergi dan buatkan susu hangat untuk nona! "


"Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar! "


Tuan Malik pergi keluar dari kamarku menuju ke dapur. Tuan Malik berjalan dengan sangat cepat.


"Pingkan, cepat buatkan susu hangat untuk nona! Ingat untuk membuat sesuai dengan takaran saji yang tertera pada kemasan dan jangan terlalu panas ataupun terlalu dingin! "


Pingkan menggerutu dalam hati, " Di vila ini memiliki banyak pelayan tapi kenapa kebutuhan nona selalu aku yang harus melayaninya? Aku sangat tidak rela. Aku akan dengan senang hati jika melayani Nikko, dan bukan nona yang penyakitan itu! "


"saya tahu, tuan. " Pingkan menjawab dengan segan.


"Ada apa? " Tuan Malik mencurigai Pingkan.


"Hah? Tidak! Bukan apa-apa! "


"Apakah kau keberatan? " Masih dengan perasaan curiga yang kuat, tuan Malik bertanya sekali lagi padanya.


"Tentu tidak, tuan. " jawab Pingkan dengan cepat. "Aku harus berhati-hati dengan lidahku! " gumamnya pada diri sendiri.


Tuan Malik menunggu Pingkan membuat susu hangat untuk nona. "Kalau begitu cepat buatkan! Nona tidak bisa menunggu lama. "


Kriiiing..


Tuan Malik mengeluarkan ponselnya.


"Hallo.. Ada apa? "


"Tuan, tolong anda segera ke lantai tiga! "


"Baiklah! "


Tuan Malik bangun dari tempat duduknya dan berkata, "Jika sudah selesai, antarkan susunya ke kamar tidur nona! Karena nona sedang menunggu. Ingat untuk tidak menyinggung perasaannya! " Tuan Malik memerintahkannya. "Dan jika tuan Nikko bertanya tentang saya, katakan padanya jika saya mengurus pekerjaan perusahaan. "


"Baik, tuan. " ucap Pingkan.


Setelah berpesan, tuan Malik langsung bergegas pergi lantai tiga, yaitu ke ruang Jaringan Zero.


"Ciih! Sudah kubuatkan, lalu kuantar juga ke kamarnya! Upss.. " Pingkan mengomeli dirinya sendiri.


Mau tidak mau, Pingkan mengantarnya ke kamar tidur Alicia.


Tok tok tok. Pingkan mengetuk pintu kamar Alicia.


"Masuk! " suara tuan muda Nikko terdengar dari dalam ruangan.


Ya ampuunnn. Pingkan menggertakan giginya. "Pagi-pagi sudah berada di kamar Alicia. Apakah dia tidur di sini semalam? "


Pingkan berjalan membawa segelas susu hangat. "Silahkan nona susu hangatnya! "


"Berikan padaku! " Perintah tuan Nikko.


Tuan Nikko segera memberikan susu hangat kepada Alicia. "Buka mulutmu! Susu ini akan menghangatkan tubuhmu! "


Tuan Nikko meminumkan susu itu kepada Alicia.


"Kau lihat apa? " Tanya tuan Nikko kepada Pingkan dengan marah sehingga membuat gadis itu terkejut.


"Ah, tidak. Saya pamit, tuan. "


Pingkan pergi meninggalkan mereka berdua. "Sial! Mengapa Nikko begitu kasar padaku dan bersikap lembut kepada Alicia! " Pingkan merasa Nikko memperlakukannya dengan tidak adil.


"Aku menaruh sedikit racun pada minuman nona. Seharusnya racun itu sudah mulai bekerja! " Pingkan tertawa kecil. "Matilah kau dengan perlahan, wanita iblis! "


Nikko masih memeluk Alicia hingga mereka tertidur. Tuan Malik menelepon tuan Nikko tapi tidak terangkat. "Kemana tuan? Mengapa teleponku tidak diangkat! Apakah tuan tertidur?"


"Ada apa tuan? Apakah tuan Nikko tidak mengangkat teleponnya? " tanya Tan shu.


"Benar. Aku akan pergi ke kamar nona memastikan keadaan tuan. "


"Baik, kami menunggu perintah anda selanjutnya. "


Tuan Malik memutuskan untuk pergi ke kamar Alicia.


Ceklek. Pintu kamar terbuka dan tuan Malik melihat tuan muda Nikko sedang tidur memeluk nona Alicia.


"Astaga! Hanya dengan memeluk nona, tuan Nikko bisa tertidur pulas. Aku tidak pernah melihat tuan tertidur seperti ini."


Tuan Malik segera pergi dengan pelan agar tidak membangunkan mereka.


Kapal Pesiar Golden Love


President Suite no. 4


Clara bersiap dengan aksinya. Pak Randi menelepon dan memberi informasi untuknya, "Nona, bersiaplah! Sebentar lagi pelayan itu akan melewati koridor kamar anda dengan membawakan meja penuh dengan sarapan."


"Oke. "


Clara bangun dari tempat tidurnya memakai sandal kamar dan merapihkan rambutnya.


Tok tok tok.


"Permisi. Ini adalah layanan kamar. " teriak Dido.


"Baiklah, tunggu sebentar! " Clara berlari kecil untuk membuka pintu.


Karena hari masih begitu pagi, Clara masih menggunakan gaun tidur. Gaun tidurnya berwarna putih susu yang sangat pendek dengan bahan tipis dan tanpa lengan. Belahan dada yang terlalu rendah, membuat dia tampak seksi.


Ceklek. Clara membukakan pintu. Rambut panjang yang terurai membuat penampilannya semakin menggoda.


"Hallo.. " sapa Clara ramah.


Dido menatapnya dengan kagum. "Maaf mengganggu anda, nona. Saya membawa sarapan untuk anda sebagai bentuk salah satu pelayanan kami. " Dido memberitahu. Dia berbicara sambil menelan ludahnya.


"Tidak kusangka. Teman dekat nona Alicia begitu cantik. Kecantikan alami ini, baru pertama kali kulihat. " Dido bergumam. "Sial! Aku sangat terpikat olehnya. "


"Mari silahkan masuk! " ujar Clara. "Tolong letakan di ruang makan privat saya ya! "


"Baik, nona! "


Clara berjalan dan Dido mengikutinya dari belakang. Cara berjalan Clara yang anggun membuat Dido semakin penasaran dengan dirinya.


Dido meletakan sarapan untuk Clara di ruang makan privat. Terdengar suara lembut Clara.


"Bisakah kau menolongku? " pinta Clara dengan ekspresi memohon.


"Ya, pertolongan apa yang bisa saya berikan, nona? "


"Saya kesulitan membuka kalung ini dari semalam! " Clara menunjuk kalung permata yang cantik di lehernya.


"What? Dia memintaku untuk membukakan kalungnya? OMG.. " Dido bersorak gembira di hatinya.


"Apakah tidak apa-apa, nona jika saya menyentuh anda? " tanya Dido dengan sopan.


"Tak apa. Pelayan saya entah pergi kemana. Semalam saya lupa meminta tolong padanya! "


"Jadi di ruangan sebesar ini anda tinggal sendiri? "


"Ya, pelayan saya adalah seorang laki-laki. Kami tidak mungkin berbagi kamar. " Clara menjelaskan.


"Oh, rupanya seperti itu. Dengan begitu saya punya banyak kesempatan untuk mendekati nona Clara! " Dido berkata dalam hatinya yang puas mendengarkan penjelasan Clara.


Dido segera berjalan menuju tempat Clara terduduk.


Clara duduk di sofa ruang santai dengan paha yang sedikit terbuka. Kulit putih susunya terlihat sangat mulus.


"Maafkan saya jika tidak sopan, nona! "


"Oke. Karena ini permintaanku, kau tidak perlu meminta maaf. "


Dido meraih kalung yang dipakai Clara. Dia berusaha untuk melepaskan kalung tersebut dan memang benar apa yang dikatakan Clara jika kalung itu sulit dilepas.


"Sepertinya nona Clara tidak berbohong padaku. Kalung ini memang sulit untuk dilepas. " Lagi-lagi Dido berkata dalam hatinya.


"Siapa namamu? " tanya Clara.


"Perkenalkan, pelayan ini bernama Dido! "


"Haahaa, kau sangat lucu. "


"Hah? Saya? "


"Ya, kau sangat sopan pada saya! "


"Mengingat posisi saya dengan anda begitu berbeda, bagaikan langit dan bumi maka sudah seharusnya saya bersikap sopan, nona. " Dido menjelaskan.


"Baiklah, baiklah. Saya tidak akan mempersulitmu lagi! "


"Lagi? "


"Ya, karena pagi ini saya sudah cukup menyulitkanmu maka biarkan saya memberimu tip. "


"Tidak, nona. Tidak usah. Sebagai pelayan di sini, sudah kewajiban saya membantu para tamu! " dengan cepat Dido menolak pemberian Clara.


"Benarkah? " Tanya Clara. "Apakah kalungnya sudah terlepas? "


Dido masih menyentuh leher Clara. "Hmm, wanita ini sungguh wangi hingga menusuk hatiku! "


"Ya, nona. Kalungnya sudah terlepas. Silahkan.. " Dido menjulurkan tangannya memberikan kalung itu kepada Clara.


Dengan senyum manis yang menggoda Clara mengambilnya, "Terimakasih. Jika kau tidak datang, entah saya harus menunggu sampai kapan agar kalung ini bisa terlepas! "


Dido mengamati belahan dada Clara yang rendah. "Oh wow, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Sudah lama aku tidak menyentuh wanita sejak tuan Nikko memerintahkanku menjaga nona Alicia! "


Tes tes tes.. Suara air yang berasal dari kamar mandi.


"Biar saya saja, nona. "


"Baiklah, saya mengandalkanmu, Dido! "


Saat Dido beranjak dari tempatnya, dia melewati Clara. "Posisi ini terlalu dekat dengan nona Clara. Aku bisa mencium aroma wangi tubuhnya! "


Dido memiliki kesempatan untuk mencari dokumen penting di kamar Clara. Saat memasuki kamar Clara, matanya segera berputar mencari-cari sesuatu yang bisa diambilnya.


"Dia sangat rapih! " Dido masih terus mencari dengan cepat. "Di manakah dia menyembunyikan dokumen-dokumen itu? "


Clara duduk kembali di sofa menunggu Dido keluar dari kamarnya. "Kenapa dia belum keluar juga? Apakah dia ingin mencuri sesuatu milikku? "


Dido keluar dengan sia-sia. Dia terlihat kecewa. "Sudah saya matikan, nona. Pergilah mandi dengan segera sebelum airnya menjadi dingin! "


"Oke, terimakasih. "


"Jika anda perlu sesuatu, panggilah saya. "


Dido membawa mejanya kembali dan Clara mengantarnya hingga ke pintu.


"Saya permisi, nona! "


"Baiklah, sampai jumpa! " ucap Clara.


Setelah Clara menutup pintunya, Dido segera melanjutkan tugasnya.


Dido berjalan dan hendak mengetuk pintu kamar selanjutnya tapi ada sesuatu yang tersangkut di lengan bajunya sebelah kiri.


"Apa ini? "


Dido meraih sebuah gelang emas putih cantik bertabur berlian dengan bentuk bintang jatuh. Setelah diteliti, gelang itu bernama Comete Bracelet.


Gelang ini, sepertinya aku pernah melihatnya. Dido mencoba mengingat dimana dia pernah melihatnya.


Setelah Dido menyelesaikan pekerjaannya, dia segera kembali ke kamarnya untuk melaporkan hasil pekerjaannya kepada tuan Malik.


"Hallo.. "


"Tuan, apa kabar? "


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di sana? "


"Sesuai dengan rencana, semua berjalan dengan baik. "


"Bagus. "


"Apakah ada masalah dengan data yang saya kirimkan dengan B Cyber, tuan? "


"Tidak. Tidak ada masalah. Apakah kau menemukan sesuatu yang berhubungan dengan nona Alicia? "


"Sejauh ini tidak, tuan. Mereka hanya berbincang mengenai bisnis. "


"Baiklah, jangan lengah! Segera laporkan padaku jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan! "


"Saya mengerti, tuan. "


Sambungan telepon terputus. Dido membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil melihat-lihat gelang yang dia genggam.


Dia teringat saat dirinya berdiri ingin ke kamar mandi yang berada di kamar tidur Clara untuk mematikan air. Saat itu, dia melewati Clara dengan posisi yang sangat dekat. "Ya, benar. Aku melihat Clara memakai gelang ini! "


Dido memikirkan cara untuk mengembalikan gelang ini pada Clara.


President Suite no. 1


Di kamar ini, Sean sedang melakukan panggilkan video dengan William.


"Bagaimana? " tanya William dengan nada suara yang dingin.


"Clara telah menjebak pelayan itu. Dido, adalah nama pelayan yang dikirimkan oleh Nikko. Sesuai dengan dugaanmu, jika dia adalah kaki tangan Nikko! "


"Apakah kalian sudah memastikannya bahwa dia benar-benar orangnya Nikko? "


"Ya, tentu. " Sean meyakinkan William. "Clara dengan sengaja menjatuhkan gelang berlian miliknya di pakaian Dido dan di gelang itu terdapat chip yang menempel pada berlian. "


"Bagus, kirimkan semua isi dari chip itu. Aku ingin memantaunya! "


"Oke! Oh ya, tadi aku sempat memeriksa isi chip itu dan menemukan bahwa sepertinya Dido tertarik dengan Clara. Selain itu, tuan Malik juga menanyakan tentang Alicia! "


"Kalau begitu bergeraklah lebih cepat. Pasang perangkap sampai kalian bisa menjebloskan dia ke dalam jaring. Lalu tangkap hidup-hidup. Aku akan mengirimkan mr Santo ke sana. Kita bertemu di Malibu! "


Tanpa membiarkan Sean merespon perintahnya, William segera mematikan panggilkan video tersebut.


Sean hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. "Huuufftttt! "


Pt Fantastic Prima Indonesia


Persiapan rapat pemegang saham tinggal 30% lagi. Tuan yoga sudah mengingatkan Nikko untuk segera pulang ke Indonesia. Karena masalah kondisi kesehatan, tuan Yoga tidak dapat hadir dan beliau sedang menjalankan perawatan medis di luar negeri.


Kantor Kepala Divisi Keuangan


Ruangan ini adalah ruang kerja tuan Heidy. Seperti yang semua orang tahu, bahwa tuan Heidy adalah sekutu dari tuan Yoga.


Don't judge a book by it's cover! Sepertinya pepatah itu berlaku untuk tuan Heidy. Beliau memang salah satu sekutu tuan yoga seperti yang kebanyakan orang ketahui tapi sebenarnya beliau adalah musuh dalam selimut bagi tuan Yoga!


Tuan Heidy memiliki dokumen asli tentang kecurangan tuan Yoga yang tersimpan rapih. Beliau berpikir bahwa suatu saat dokumen itu berguna untuk dijadikan barang bukti.


Tok tok tok


"Silahkan masuk! " Tuan Heidy menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk.


"Hallo, tuan Heidy. "


Tuan Putra masuk ke ruangan tuan Heidy.


Tuan Putra adalah salah satu sekutu tuan Yoga juga. Mereka berada di barisan yang sama.


"Ada apa, anda repot-repot ke ruanganku? "


"Haahaa, yaaa.. Saya hanya ingin memastikan persiapan anda menjelang rapat pemegang saham kali ini! "


"Haahaa, tidak perlu khawatir tuan. Semua sudah siap!" tuan Heidy tertawa untuk menutupi kecurigaan tuan Putra. "Bagaimana kondisi tuan Yoga? Apakah beliau akan hadir? "


"Sepertinya tidak. Dokter Tidak mengizinkan beliau keluar dari rumah sakit! "


"Lalu siapa yang akan menggantikan beliau? " tanya tuan Heidy cemas.


"Kau tidak perlu khawatir! Tuan muda Nikko akan kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi ayahnya! "


Tuan Heidy kaget mendengar jawaban dari tuan Putra, namun beliau dengan cepat menutupi perasaan itu. "Oh, tuan muda akan pulang? Saya lega mendengarnya. "


"Mengapa anda begitu senang setelah mendengar jawaban saya? "


Tuan Heidy tersenyum mendengar pertanyaan dari tuan Putra. "Karena saya tidak ingin kerja keras saya selama ini menjadi sia-sia dengan ketidakhadiran tuan Yoga, tapi jika yang menggantikan beliau adalah seseorang yang kompeten di bidangnya, saya sangat bersyukur. "


"Ternyata seperti itu! " ujar tuan Putra. "Sayapun berpikir demikian. "


"Oh ya, bagaimana rencana kita menghadapi tuan Adit? Apakah beliau juga akan hadir? "


"Sepertinya begitu. Kita akan mendengarkan arahan yang akan diberikan oleh tuan muda Nikko! "


"Baiklah. Tolong beritahu saya jika tuan muda memanggil kita untuk rapat dadakan! "


"Ya, saya juga belum tahu. " tuan Putra mengalihkan pandangannya ke foto yang terletak di depan matanya. "Siapakah anak laki-laki di foto ini?


"Oh, dia adalah anak saya yang hilang. "


"Anakmu? Bukankah kau tidak memiliki seorang anak? "


"Benar. Dia hilang ketika kami melakukan perjalanan ke Amerika di usianya yang masih sepuluh tahun. "


"Saya tidak pernah mendengarnya. Maafkan saya membuat lukamu terbuka lagi! "


"Tidak masalah. Saya dan istri sudah mengikhlaskan kepergiannya. Meskipun kami tidak dikaruniai seorang anak lagi. "


Tuan Putra merasa tidak enak dengan pertanyaannya. Beliau segera pamit dari ruangan tuan Heidy.


Mountainview, California


Kamar Tidur Alicia


"Hmmm.. " aku terbangun. Suara nafas seseorang terdengar begitu dekat di sampingku. "Ini..? " aku menyentuh tangan laki-laki yang kupikir tangan Nikko. "Haahaa, dia masih terlihat tampan meski sedang tertidur pulas. Berapa lama dia tidak tidur? "


"Aku ingin bangun dan ke kamar mandi. Aku ingin buang air kecil tapi kenapa tangan Nikko memelukku begitu kuat? " aku memindahkan tangannya dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Tapi..


"Hmm.. " Nikko membuka matanya. "Al, kenapa kau bangun? "


"Nikko, maafkan aku yang membuatmu terbangun! "


"Apakah kau ingin minum? Aku akan mengambilnya untukmu! "


"Tidak! "


"Lalu? "


"Aku ingin ke kamar mandi. Aku ingin buang air kecil. "


"Oh, oke! "


Aku turun dari tempat tidurku.


"Ayo, naiklah ke punggungku! " perintah Nikko.


"Tidak. Jarak dari sini ke kamar mandiku hanya beberapa langkah. " akupun berdiri dan akan melangkah.


Hopp.. Nikko menggendongku. "Aku kan sudah bilang untuk menjadi kelinci putih kecil yang penurut! "


Kami sampai di kamar mandi. Dia menurunkan aku tapi mengapa dia tidak keluar dari kamar mandiku.


"Mengapa kau tidak keluar? Apakah kau akan mengintip? "


"Oh, baiklah. Aku akan berdiri tepat di depan pintu. Berteriaklah jika ada sesuatu yang menakutimu! "


Nikko sama sekali tidak meninggalkanku. Aku bisa mendengar suara bernyanyinya yang pelan.


Brukk.. Suara terjatuh dari dalam kamar mandi. Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku merasakan perutku sakit luar biasa. Dan aku merasa darah segar keluar dari mulutku.


"Nikko, tolong aku! " aku merintih memanggil namanya.


"Al, apa yang terjadi? Bisakah kau membuka pintunya? "


"Aku tidak bisa menjangkau daun pintunya! "


"Baiklah, menjauhlah dari pintu! Aku akan mendobraknya. " Nikko berkata dengan panik. "Apakah kau mendengarku? Al? Jangan membuatku takut! "


Setelah menekan tombol darurat, Nikko segera mendobrak pintu kamar mandi Alicia.


"Oh Tuhan! Tidaaakkk! " teriak Nikko.


Tuan Malik dan para penjaga datang dengan cepat. Wajah mereka terlihat sangat cemas.


"Tuan muda? " panggil Tuan Malik. "Apa yang terjadi dengan nona? "


"Cepat panggil dokter Wang kesini! " perintah Nikko.


"Baik, tuan. "


Alicia mengalami pendarahan yang luar biasa. Darah segar yang keluar dari mulut dan hidungnya, membuat Nikko marah. "Ada apa dengan Alicia? " dia membawa Alicia ke ruang perawatan sambil bergumam pada dirinya sendiri.


Nikko bersedih hati. Dia menangis melihat wanita yang dicintainya tergeletak di ruang perawatan.