
Angela High School, Amerika
Dengan harapan dan percaya diri yang baru, aku mulai menyusun semangat untuk memulai hidup baru di negara ini. Sejujurnya, aku gugup. Tapi aku harus yakin pada diri sendiri bahwa aku tidak akan gagal. Semakin aku terjatuh, musuh akan semakin senang..
"Ups, sorry! " kataku. Aku secara tidak sengaja menyenggol bahu seorang siswa. Wajahnya lumayan tampan, tingginya sekitar 180cm dengan potongan rambut yang rapih. Dia tersenyum saat melihatku.
"No problem! " jawabnya. "Maafkan aku yang ceroboh tidak melihat sosok putri yang cantik ini! "
Aku tertawa. Telingaku tidak terbiasa mendengar kata 'cantik'.
"Haahaa.. Haaahaaa.. "
"Kenapa tertawa? Apakah ada yang aneh? "
"Ya! Kancing bajumu tidak sesuai dengan lubangnya! " aku menjawabnya sambil berlalu.
"Hahh.. " Laki-laki itu langsung melihat kancing bajunya dengan bingung. "Heiii, apa maksudmu? Siapa namamu? "
"Byeeee.. " Aku melambaikan tangan padanya sambil terus tertawa.
Hari ini adalah hari ke tujuhku bersekolah. Aku berjalan terus mencari ruang kelasku. Dan tibalah aku di kelas pertama pada hari ini yaitu kelas sastra.
"Wooww, kelasnya sangat nyaman. " aku melihat sekeliling. "Sepertinya tidak terlalu buruk. "
"Hi! Kamu pasti murid pindahan ya? " tanya laki-laki asing di depanku.
"Mm.. Ya. " jawabku singkat.
"Namaku Mike. Kau bisa bertanya apapun padaku. Aku ketua kelas di sini. "
"Oh, oke. "
"Hmm, Alicia.. "
"Ada apa? "
"Apakah kamu mau kuajak berkeliling sekolah? " tanya Mike. "Aku takut kau tersesat. "
"Hmm, tidak perlu. Aku akan mandiri. "
Tiba-tiba ada sesorang yang muncul di sebelahku.
"Al? Apakah itu kau? "
"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu! "
"Haahaaa, ini aku. Adam. "
Aku heran, kenapa semua mata tertuju pada Adam?
"Ohh, kau adalah anak dari paman Kenan? " tanyaku tidak suka. Aku seperti sedang dimata-matai.
"Benar. Apa kabar, Al? "
"Tidak sopan! Kau tahu sedang berbicara dengan siapa? "
"Maafkan aku, nona Alicia. Di negara ini kau merasa sendirian kan? Aku bisa menjadi teman atau menjadi apapun yang kau mau. Beritahu aku jika kau perlu sesuatu. "
"Cepatlah pergi! Semua mata melihatmu. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. " dengan ketus aku menyuruhnya pergi.
"Oke. Aku sudah mengirimkan pesan ke ponselmu. Kau harus menyimpan nomorku. " Adam pergi keluar dari kelasku.
Booo my boo oo.. Booo my boo oo.. Suara bel masuk berbunyi. Suaranya sangat unik.
Clover Hills, Indonesia
Di villa inilah sekarang William tinggal sendirian. Sejak hari dimana William jatuh sakit, ia tidak mau pulang ke rumah orangtuanya. William semakin dingin, cuek, dan pemarah. Moodnya cepat berubah dan sekarang mulai terlihat sisi kejamnya. Yaitu, tidak mengenal ampun.
Kolam renang indoor lantai dasar
Byuurr. Tuan muda William sedang berenang melepas lelah setelah seharian sibuk di sekolah. Sejak pesta ulang tahun Jane, tidak ada satu orangpun yang berani menyebutkan nama Alicia. Meski beberapa bulan lagi adalah kelulusan, William masih belum memutuskan akan kuliah dimana.
"Tuan muda.. " pak Santo memanggil William.
"Huuuh ada apa? Bukannya sudah kukatakan jangan menggangguku! "
"Maaf, tuan. Ini adalah foto-foto yang anda minta. "
"Baiklah. Kau bisa pergi! "
Setelah pak Santo pergi, William segera naik dan mengeringkan badannya.
"Yaa Tuhan! Kau terlihat kurus dan pucat. Aku sangat ingin memelukmu, Al! "
Ternyata pak Santo memberikan foto-foto terkini Alicia. William terus memandangi foto-foto itu. Dalam hatinya ia berkata, ingin rasanya aku menyusul ke Amerika tapi aku belum cukup mampu melindungimu, Al. Aku akan tetap di sini menjaga keluargamu. William tampak bimbang.
Kring kriingg.. Suara ponsel William.
"Hallo, Sean! "
"Will, berita buruk. " Sean berbicara dengan tergesa-gesa.
"Katakan dengan jelas, ada apa? "
"Ya, keluarga Atmadja bersiteru lagi dan mr Adit terancam. " Sean mencoba menjelaskan.
"Apa maksudmu? "
"Will, besok perusahaan Fantastic Prima akan mengadakan meeting darurat untuk membahas pergantian posisi presiden direktur! "
"Apakah kau yakin? " tanya William. "Berapa persen saham mr Adit di sana? "
"Hanya sekitar 40% saja. "
"Baiklah, aku akan memikirkan caranya. "
William menutup teleponnya. Dan dia segera menelepon orang lain untuk membereskan masalah ini.
Tuutt.. Tuuttt.. Tuuutttt..
"Ya, tuan muda. "
" Cepat kau beli anak-anak perusahaan keluarga Atmadja. Dan awasi setiap pergerakan mr Yoga. Aku ingin kau hadir dalam rapat Pt Fantastic Prima besok. "
"Baik, tuan. "
William mengakhiri aktivitas renangnya dan segera mandi di kamarnya.
Mildtown Resort
Cekrek cekrek.. Sarah menjalani pemotretan di resort milik William Alexander. Dia ditunjuk sebagai brand ambassador resort barunya ini.
"Besok adalah grand opening resort ini. Semua harus terlihat perfect. " kata manajer bagian pemasaran.
"Semua tim diharapkan berkumpul di ruang meeting delima jam 7 malam ini untuk mendengarkan beberapa instruksi dari tuan Santo. Karena besok tuan muda William akan hadir dalam penjamuan dan tentunya para pemegang sahampun juga akan hadir." Dylan, manajer umum memberitahukan. "Dan untuk sesi foto nona Sarah, tim anda beristirahatlah sambil menunggu tuan Santo datang. Terimakasih ya semua. Sampai jumpa jam 7 malam nanti. "
Asisten pribadi Sarah berkata, " Nona, kita masih memiliki waktu dua jam sebelum meeting dengan tuan Santo. Sebaiknya nona mengganti baju dan beristirahat sebentar di ruang ganti. "
"Oke, Li. Kalau mr Santo sudah datang, tolong beritahu aku. " jawab Sarah kepada Lily.
"Baik, nona. "
Sarah berjalan keluar dari ruangan pemotretan menuju kamar ganti. Sambil berjalan, dia mengeluarkan ponselnya untuk menerima panggilkan telepon.
"Ya sayang. Aku baru selesai pemotretan dan sekarang bergegas akan mengganti baju. Bersiap untuk meeting nanti jam 7 malam. "
"Kau pasti sangat lelah. Jangan terlalu memaksakan dirimu. "
"Jangan khawatir, Ginza sayang. Aku tidak ingin mempermalukan diriku besok di acara grand opening. "
"Jangan lupa dengan janjimu ya, sayang. Aku sudah tidak bisa lagi menahan rindu padamu. "
"Oh, heehee ya sayang. Besok adalah tanggal 14 kan? "
"Benar, aku sudah mengkonfirmasi ke hotel tempat biasa. "
"Baiklah, sampai bertemu besok. "
Setelah menutup teleponnya, Sarah masuk ke ruang ganti. Dia tidak menyadari jika teleponnya disadap oleh orang suruhan Clara.
Kediaman keluarga Clara
"Nona, Apakah barusan anda sudah mendengarkan percakapan antara Sarah dan Ginza? "
"Ya, siapkan sesuai rencana. "
"Baik, nona. "
Clara sangat tidak sabar untuk menonton pertunjukan bagus besok malam.
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka saat aku memergoki mereka di kamar hotel. " Clara memikirkan rencananya.
Bandara Internasional Cengkareng
Hari ini adalah kepulangan Nikko. Sebenarnya Nikko sangat tertarik pada Alicia. Tapi sayangnya Alicia telah lebih dulu diselamatkan tuan Adit ke luar negeri. Pikiran Nikko melayang pada saat dimana Nikko dan Alicia masih bermain bersama. Dia bergumam pada dirinya sendiri.
"Aku rindu padamu, Al. Aku kira kau akan menyambutku pulang dan tersenyum padaku. Jika kau tahu siapa aku, aku akan merebut semua hatimu dan memilikimu seumur hidupku. Tidak kusangka, paman Adit telah bertindak lebih dulu. Aku kalah cepat dengan beliau. "
"Oke. Jangan lupa untuk mencarikan seorang gadis bersih untukku malam ini. Aku tunggu di Langit Malam bar and hotel. "
"Ya, tuan. "
Mobil melaju dengan cepat menuju kediaman keluarga mr Yoga. Di perjalanan, Nikko melihat foto Sarah terpampang di jalan-jalan besar ibukota.
"Malik, apakah itu Sarah anak dari pak gubernur? "
"Ya, benar tuan muda. "
"Dia terlihat semakin cantik dan seksi. "
"Apakah tuan berencana untuk kencan dengannya? "
"Tidak ada wanita yang membuatku tertarik selain Alicia. Kau tahu itu. Bagiku wanita hanya sebagai pakaian, terkecuali Alicia."
"Jika tuan berkenan, aku akan mendapatkan nona Sarah. Aku dengar besok dia akan datang ke grand opening resort milik keluarga Alexander. "
"Oke, aku tunggu. "
"Tuan, dari para pelayan aku mendengar jika nona Alicia tinggal sendirian di Amerika. "
"Apakah itu benar? Mengapa nyonya Alifah tidak ikut menemaninya? "
"Tuan Adit tidak mengizinkan nyonya Alifah ikut serta ke Amerika. Yang saya dengar mereka akan segera mengurus perceraian. "
"Oh, sungguh menarik. Di saat seperti itu, seharusnya aku berada di sisi Alicia untuk mengambil keuntungan. "
"Semua tergantung tuan muda. Saya hanya menjalankan tugas saja, tuanlah yang menentukan. "
Nikko terdiam memikirkan cara merebut Alicia dari tuan Adit. Malik melihat tuannya dari kaca depan bagian mobil.
"Kita sudah sampai tuan. Silahkan. " Malik membukakan pintu mobil untuk Nikko.
Para pelayan membukakan pintu masuk rumah keluarga Yoga dan mengucapkan salam padanya. "Selamat datang, tuan muda Nikko. Selamat datang kembali di rumah. "
"Terimakasih untuk sambutannya. Silahkan kalian kembali. "
"Terimakasih tuan muda Nikko. "
Para pelayanpun kembali. Tuan Yoga dan nyonya Sofi Namira segera beranjak dari tempat duduk mereka dan memeluk Nikko.
"Apa kabar ayah dan ibu? Kalian tampak awet muda saja. " Sapa Nikko.
"Kabar kami sangat baik. Kau tentu lelah di perjalanan. Makan malam sudah siap. Kau pasti sudah menahan lapar kan? Ayo kita segera makan. " Ajak nyonya Sofi.
Merekapun menuju ke ruang makan keluarga. Sambil menyantap hidangan, mereka mengobrol santai.
"Bagaimana dengan sekolahmu,, Nikky? " tanya Nikko kepada adiknya.
"Yaa lancar kak. Adikmu ini kan pandai. " jawab Nikky agak malas-malasan.
"Yaaa yaaaa semoga nilai kelulusanmu nanti memuaskan. " jawab Nikko.
"Yaa, aku tidak mungkin kalah dari dirimu. " balas Nikky sambil tersenyum manja pada kakaknya.
"Setidaknya kau ini cantik. Kau bisa menikahi pria idamanmu nanti. " sambil tertawa Nikko meledek adiknya.
Setelah makan malam selesai, tuan Yoga bertanya pada Nikko. "Apa rencanamu malam ini? "
"Aku akan pergi bertemu dengan teman-temanku. Kami berencana untuk mengadakan pesta menyambut kepulanganku. " Jawab tuan muda Nikko.
"Baiklah, selamat bersenang-senang. "
"Terimakasih yah. Aku pergi dulu. "
Langit Malam Bar dan Hotel
Room 701
"Siapakah namamu? " tanya tuan Malik.
"Pingkan saridewi. " gadis itu menjawab dengan sungkan.
"Tidak perlu takut. Apakah ini baru pertama kali? "
"Ya, tuan. "
"Tenang saja. Bukan aku yang akan kau temani. Tapi tuan muda kami, Nikko. Tuan muda Nikko sangat tampan. Dia akan segera datang. Lebih baik kau mandi dahulu dan bersiap. Jangan coba berbuat macam-macam pada kami atau kau akan tahu akibatnya. "
"Tidak perlu mengancamku, tuan. Aku sudah tahu peraturannya."
"Oke kalau begitu. "
Pingkan saridewi adalah gadis yang telah dipersiapkan oleh tuan Malik untuk Nikko malam ini. Setiap malam, Nikko harus mencari seseorang untuk menemaninya tidur.
Setelah Pingkan selesai mandi, dia berganti baju yang sangat minim. Sangat menggoda laki-laki yang melihatnya.
"Tuan muda, gadis malam ini bernama Pingkan. Saya sudah memeriksanya dan dia masih bersih. Dia sedang mandi dan bersiap. Mobil akan mengantarkan anda, tuan. Semoga tuan menyukainya. " Malik menelepon Nikko memberitahukan keberadaan Pingkan.
"Baik, kau jangan menungguku. "
Nikko menutup telepon dan sesaat memikirkan gadis itu. Di perjalanan Nikko kembali mengingat Alicia. Saat masih kecil dulu, setiap bulannya aku selalu mengajak Alicia pergi berlibur. Aku sangat menyukai aromanya. Sampai aku pergi belajar ke luar negeri, aku tidak bisa mencium aroma khas itu lagi. Bahkan sampai sekarangpun tidak ada aroma yang sama dengannya. Nikko berkata dalam hatinya.
Braaakkk. Suara pintu kamar terbuka. Muncullah Nikko mengenakan setelan jas hitam dengan elegan berjalan menghampiri Pingkan.
"Siapa namamu? " tanya Nikko pada Pingkan sambil memegang dagunya.
"Saya Pingkan, tuan. "
"Apakah Malik sudah memberitahumu apa saja yang harus kau lakukan untukku? "
"Ya, menemani tuan minum hingga mabuk. "
"Haaahaaa, bukan hanya itu. Kau akan menemaniku tidur. " sambil berbicara, Nikko melepaskan pakaian gadis itu dengan kasar.
Mmm.. Muaaahhhh.. Nikko mencium kasar bibir pingkan. Dilanjutkan dengan mencium lehernya. Sambil menciumnya, Nikko melepaskan baju satu persatu yang dia kenakan. Pingkan hanya bisa pasrah dengan perlakuan kasar Nikko.
"Tuan, bisakah anda sedikit lebih pelan? "
"Apakah kau berhak bernegosiasi denganku? Kau bahkan tidak pantas berbicara denganku. Sebaiknya layani aku sampai aku merasa puas. "
"Tuan muda Nikko memang tampan seperti yang tuan Malik katakan. Tapi kenapa dia seperti kesepian? Dan kenapa dia memperlakukan wanita dengan kasar?" Pingkan bertanya-tanya.
Setelah mematikan lampu, Nikko memulai aksinya. Begitu lamanya hingga membuat Pingkan lelah dan tertidur. Pada akhirnya merekapun tidur bersama hingga esok pagi.
Keesokan paginya saat Pingkan terbangun, Nikko sudah berada di kamar mandi. Pingkan menutupi badannya. Lalu Nikko keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandinya itu yang memperlihatkan bentuk sixpack tubuhnya.
"Mengapa kau terus menatapku seperti itu? " tanya Nikko.
"Ah, tidak tuan. Saya tidak berani. "
"Jika lain kali aku memanggilmu, kau harus datang. Dan tidak boleh membiarkanku menunggu. Kalau sampai itu terjadi aku akan memotong bayaranmu sebanyak 20% "
"Aku mengerti. "
Pingkan menyelimuti dirinya sendiri. Dia tampak canggung dan khawatir.
"Mengapa kau tutupi dirimu seperti itu? Bagian mana di tubuhmu yang belum pernah kulihat dan kunikmati? " tanya Nikko. "Cepat bangun dan bantu aku berganti pakaian! "
"Tapi tuan, diperjanjian awal tidak ada kesepakatan bahwa aku harus membantumu melakukan hal lain! "
"Memang benar yang kau katakan. Dan jangan lupa, kesepakatan tertulispun juga tidak ada. Jadi sebaiknya kau ikuti perintahku atau aku tidak akan membayarmu. "
"Aku tidak menyangka tuan muda seperti dirimu akan mengingkari janji. "
Nikko menatap tajam Pingkan. Dan membuat wanita itupun takut. Pingkan segera bangun dan membantu Nikko memasangkan dasinya.
"Akhirnya kau bisa merasakan takut juga padaku. "
"Sudah selesai, tuan. "
"Di atas meja ada kartuku. Dan di dalamnya telah terisi sejumlah uang sebagai bayaranmu. Aku tidak begitu puas denganmu, tapi karena kau masih bersih maka aku cukup murah hati memberikan uang lebih padamu. Berterimakasihlah padaku dengan tulus! "
"Terimakasih tuan muda Nikko. " Pingkan berkata dengan senyum manisnya.
"Haahaaa, bukan ucapan terimakasih seperti itu yang ku mau. "
"Oh, lalu seperti apa? Aku tidak tahu. "
"Sepertinya kau harus banyak belajar bagaimana menyenangkan hati seorang pria! "
Nikko beranjak dari tempatnya hendak keluar kamar. Tapi Pingkan menghalangi jalannya.
"Tunggu, tuan. "
Mm.. Mmuuaahhh... Pingkan mencium lembut bibir Nikko.
"Kau lupa memberitahuku pin kartu itu! "
"Pinnya adalah nomor kamar ini. "
"Terimakasih untuk kebaikan hatimu, tuan. Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi. Semoga harimu menyenangkan. "