
"Ohh Tuhan! Tidaakkk! Tolonglah akuuu! " Aku berusaha meraih tangan seseorang itu sambil berteriak. Seseorang itu adalah.. Seseorang di balik pintu itu adalah..
"Ibuuuuuu....!! " Aku memekik dengan kencang memanggil namanya dan langsung terduduk di tempat tidur di dalam kamar rumah sakit.
"Astaga, nona! " Dengan cepat, Adam bangkit dan mengusap keringatku. "Ada apa, nona? Apakah nona bermimpi buruk lagi? "
Aku memeluk Adam sambil menangis terisak. Dia menenangkan diriku.
"Nona, minumlah agar anda merasa sedikit lebih baik! "
Setelah meminum segelas air mineral, aku terdiam memikirkan mimpiku. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kemarin aku bermimpi tentang pembunuhan kedua orangtuaku, dan baru saja aku bermimpi tentang ibuku! Apa arti dari mimpiku ini!"
Setelah lelah dengan pemikiran-pemikiran yang berkecamuk di benakku ini, aku mulai membuka suara dan mencoba bertanya, "Adam, tolong beritahu aku apa yang terjadi sebenarnya di rumah? Mengapa ayah mengirimku ke luar negeri? " Tanyaku dengan memasang wajah memelas.
"Maaf, nona. Saya tidak bisa memberitahumu. Nona sebaiknya bertanya pada paman Leo! "
"Jika aku bisa mendapatkan jawaban dari paman Leo, apa kau pikir aku masih akan bertanya padamu? "
Leo tertunduk diam. Dia tidak berani menatap mataku. Aku mengerti bahwa dia setia pada ayah. Tapi aku juga perlu penjelasan tentang ini semua!
"Adam, percayakah kau padaku? "
"Kenapa anda bertanya seperti itu, nona? "
"Aku telah menganggapmu sebagai saudara laki-laki sedari kecil. Kau lebih tua lima tahun dariku. Aku selalu bergantung padamu. Bahkan setelah Nikko pergi, kaupun pergi mengejar pendidikan. " Aku membahas masa lalu dengannya. Dan berharap dia akan membuka mulut tentang keadaan di keluargaku.
"Saya akan tetap setia pada nona dan keluarga tuan Adit. "
"Tidak perlu sesopan itu padaku. Awalnya, aku memang marah padamu karena kau meninggalkanku. Tapi sejujurnya aku senang bertemu denganmu lagi. " Aku hanya berharap, suatu saat Adam akan berkata jujur padaku tentang keluargaku.
Kata hati Adam berkata, "Sebenarnya aku adalah walimu, nona. Tuan Adit mengirimku untuk menjadi walimu di perusahaan sekarang tempatku bekerja. Yaa, pemilik sekolah ini sebenarnya adalah tuan Adit. Tapi dengan kerendahan hati tuan, beliau tidak menginginkan nona tahu tentang hal ini. Selain itu, tuan juga tidak ingin musuh mengetahuinya. Karena tuan khawatir jika suatu saat nanti, keluarga tuan Yoga akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu. Aku berpura-pura menjadi seorang guru di sini demi memata-matai lawan keluarga tuan Adit. Karena keluargaku telah mengucap sumpah setia pada tuan Adit dan juga keluarganya. "
Kediaman keluarga Adit Atmadja
Kediaman tuan Adit memiliki lima orang pelayan yang khusus melayani makanan nyonya Alifah. Para koki didatangkan khusus dari Korea Selatan, mengingat nyonya adalah penggemar makanan asal negeri ginseng tersebut.
"Nyonya, makan malam telah siap. Silahkan turun dan nikmati makanan anda selagi hangat! " Elena menghampiri nyonya Alifah ke kamarnya.
"Ya, sebentar. "
Nyonya Alifah sedang melihat-lihat album foto keluarga. Diantaranya adalah foto disaat tuan dan nyonya sedang pergi berbulan madu ke Nami Island, Korea Selatan.
"Hmm.. Aku merindukan bentuk tubuhku yang dulu! Tapi jauh di dalam hatiku, aku sangat merindukan pelukan suamiku! "
Tak terasa air mata nyonya Alifah terjun bebas membasahi pipinya. Sesekali nyonya memarahi dirinya sendiri, namun setelah sadar beliau kembali menangis.
Nyonya Alifah berjalan menuruni beberapa anak tangga. Setelah belokan pertama di sebelah kiri, beliau berdiri kaku melihat lukisan anaknya.
"Yaa ampuun, Al! Maafkan ibu yang telah sia-siakan dirimu. Maafkan aku tidak bisa menemanimu. Bukannya aku tidak ingin tapi ayahmu yang memisahkan kita! " Nyonya Alifah menghapus air mata yang terjatuh lagi dan lagi di pipinya. Beliau terus berjalan menuruni anak tangga sampai tiba di ruang makan.
Pelayan pria dengan sigap menyiapkan bangku untuk nyonya. "Silahkan nyonya! "
Setelah duduk dengan anggunnya, nyonya Alifah melihat hidangan utama yang beraneka ragam. Hidangan itu terlihat sangat lezat. Tapi rupanya nyonya sedang tidak berselera.
Nyonya Alifah mengambil garpu dan pisau yang telah disediakan oleh para pelayan. Para pelayan berdiri menunggu nyonya Alifah menikmati hidangan makan malamnya hingga selesai.
"Tolong ambilkan aku wine Vina Ventisquero Reserva Pinot Noir" Perintah nyonya Alifah.
"Baik, nyonya. "
Seorang pelayan wanita dengan cepat melangkah pergi ke ruang bawah tanah tempat penyimpanan wine keluarga tuan Adit Atmadja tepatnya di samping ruang membaca.
Klekkk.. Pintu ruangan itu terbuka. Woww, ruangan ini penuh dengan berbagai jenis wine yang tertata rapih. Bahkan diberikan design dengan sangat manis seperti di bar pada umumnya. Lampu remang-remang yang romantis dan berkesan elegan.
"Hmm, banyak sekali berbagai macam wine dari berbagai negara. Dimanakah letak wine milik nyonya? " Pelayan itu mencari diantara rak hitam bertuliskan Pinot Noir.
"Nahh, ini ketemu! " Pelayan wanita itu segera bergegas kembali ke ruang makan keluarga Atmadja.
"Tolong isi gelas saya! "
"Baik, nyonya. "
"Cepat bereskan makanan yang tersisa di atas meja. Aku sudah muak!! " Nyonya Alifah berteriak dengan mata membulat.
Setelah makan sedikit hidangannya, nyonya meminum segelas wine miliknya. Para pelayan membereskan hidangan yang masih tersisa. Sedangkan nyonya Alifah masih duduk menikmati winenya. Dengan murung, nyonya berkata, "Kenapa kalian semua mengurungku di sini? Di rumah yang seperti neraka ini? Kapan kau akan kembali, suamiku? Aku menantimu hari demi hari. Meskipun kau tidak mencintaiku seperti dulu saat pertama kita bertemu, namun aku selalu mencintaimu sepanjang hidupku. Ohh,suamiku.. Mengapa kau mengkhianati cintaku? " Nyonya Alifah berbicara tidak karuan dan memarahi suaminya yang entah berada di mana.
"Bawa nyonya kembali ke kamarnya! " Perintah paman Kenan.
"Jangan berikan wine lagi untuk nyonya tanpa sepengetahuanku! " Paman Kenan memberi somasi kepada para pelayan nyonya Alifah.
"Tidaakk! Jangaaann... Aku masih ingin minum! Isikan lagi gelasku! Isikan lagi.. Aku belum mabuk... Isi penuh gelasku!! " Teriak nyonya Alifah dengan marah.
Para pelayan wanita membawa nyonya Alifah kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, para pelayan menggantikan baju nyonya Alifah dengan gaun tidur berwarna merah. Setelah memastikan nyonya sudah tertidur, salah satu pelayannya mematikan lampu kamar dan mereka pergi meninggalkan beliau.
Para pelayan berkumpul di ruang tengah keluarga Atmadja. Paman Kenan memiliki beberapa informasi yang ingin disampaikan kepada mereka.
"Saya akan mengajukan cuti selama lima hari. Untuk sementara, posisi saya akan digantikan dengan Rania dan Faiz. Turutilah perintah mereka berdua. Ingat untuk menjaga nyonya dengan sebaik-baiknya! "
"Baik, tuan Kenan. " Jawab mereka.
Setelah itu, mereka bubar kembali ke kamar masing-masing. Tinggalah paman Kenan dan Faiz di ruang tengah.
"Malam ini, saya akan menyerahkan tugas malam padamu, Fa! Berjagalah dengan hati-hati! " Paman Kenan memberikan mandat kepada Faiz.
"Baik, tuan. Saya akan sangat berhati-hati. "
Setelah mengatakan beberapa kalimat, paman Kenan pergi berkemas. Faiz bertanya kepada paman Kenan, "Apakah anda akan pergi malam ini juga, tuan? Mengapa anda sudah berkemas? "
"Ya, lebih cepat itu lebih baik. "
"Hati-hati di perjalanan, tuan. Semoga perjalanan anda aman dan selamat sampai di tujuan. " Faiz mengantarkan paman Kenan sampai ke mobil. Supir akan mengantarnya ke stasiun terdekat. Dengan menggunakan kereta api cepat, beliau akan tiba lebih awal di tempat tujuan.
Faiz dan beberapa pengawal menjaga kediaman keluarga Atmadja. Faiz merupakan mata-mata yang diutus oleh tuan muda Nikko untuk mengawasi keluarga Atmadja. Faiz masuk dengan mudah ke dalam keluarga Atmadja dikarenakan Faiz pernah menolong nyonya saat tidak sadarkan diri di rumah besar milik kakek dan nenek keluarga Atmadja. Tapi sejak kakek dan nenek memutuskan untuk tinggal di luar negeri, Faiz yang tidak memiliki orangtuapun akhirnya diminta untuk tinggal bersama di kediaman keluarga tuan Adit.
Pukul 01.10 malam
"Tuan, saya ingin menyampaikan informasi. Bahwa tuan Kenan mengambil cuti selama lima hari ke depan dan beliau sudah pergi kembali ke kampung halamannya. " Faiz berbicara pada tuan muda Nikko di saluran telepon.
"Bagus. Kau hanya perlu membereskan wanita sialan itu! "
"Ya, tuan. Akan saya laksanakan. "
"Timmy akan mengirimkan racun padamu. Racun ini adalah terobosan terbaru yang dikembangkan oleh para dokterku. Tidak berwarna dan tidak berbau. " Tuan muda Nikko menjelaskan dengan detil kepada Faiz. "Campurkan racun ini ke dalam wine nyonya Alifah. Bukankah beliau sangat menyukai wine? "
"Benar, tuan. Beberapa hari belakangan ini beliau sering minum wine. "
"Oke, sebaiknya jangan membuat kesalahan karena orang yang ceroboh akan berakhir dengan mengenaskan! "
Faiz segera menutup sambungan telepon dengan tuan muda Nikko.
Kediaman keluarga Clara
"Nona, tuan besar memerintahkan anda untuk segera pulang ke rumah! "
"Ada apa? "
"Saya juga tidak tahu. Sebaiknya nona menuruti perintah Tuan agar tidak terlibat masalah. "
"Baik, atur segera kepulanganku dan urus ijin cuti di sekolah. "
"Pak Randi, tolong awasi Ginza. Berikan alasan yang tepat kepadanya. Jangan sampai dia tahu kepergianku. Dan segera temukan keberadaan Sarah! "
"Jangan khawatir, nona. Saya akan mengabarkan anda segera setelah saya menemukan Sarah. "
Clara kembali ke kamar dan bersiap. Dengan cepat, ia mengganti pakaiannya dan memakai mantel berbulu yang serasi dengan warna kulitnya. Clara begitu mempesona.
"Nona benar-benar terlihat cantik! " Kata seorang pelayannya.
"Nona selalu cantik memakai apapun. Itulah daya tarik nona yang membuat kita sebagai wanita iri kepadanya! "
"Cukup! Jangan sampai nona mendengarkan kalian yang sedang bergosip. " Kata pak Randi dengan tegas.
Clara tersenyum mendengar pujian dari para pelayannya. Ia menuruni tangga dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Pak Randi, tolong bantu aku bawakan ini ke mobil! "
"Baik, nona. "
"Hati-hati di jalan, nona. Semoga selamat sampai di rumah. " Para l pelayan menunduk hormat pada Clara dengan membungkukkan badan mereka.
"Kalian jaga rumah baik-baik. Manjakan diri kalian saat saya tidak ada di rumah. Dan layani saya lagi saat saya kembali! " Clara berbaik hati kepada para pelayannya. "Pak Randi, tolong atur pembagian gaji mereka dan bonus akhir tahun. "
"Terimakasih atas kebaikan nona. " Para pelayan kembali membungkukkan badan mereka.
California, Amerika
Pesawat yang membawa tuan muda Nikko telah mendarat. Orang-orang kepercayaannya menyambut kedatangannya dengan ramah.
"Selamat datang di California, tuan muda. " Sambut David.
"Bagaimana kesehatan Alicia? "
"Nona masih dirawat di ruang VVIP dan dijaga ketat oleh tuan Leo. "
"Ohh, Leo ada di sini rupanya. "
"Ya, benar tuan. Nona Alicia belum bisa makan dengan baik dikarenakan saluran pencernaannya masih bermasalah. "
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya ada yang sengaja meracuni nona! "
"Haahh?? Siapa? "
"Kami belum mendapatkan petunjuk, tuan. Namun kami telah menemukan bukti dari cctv sekolah yang menunjukan kemungkinan keracunan pada nona dan dari hasil laboratorium, darah nona dipastikan berwarna merah gelap yang artinya terdapat racun di dalam darah nona. "
"Sialan! Siapa yang berani menyentuhnya? Saya akan menyiksanya dengan perlahan! " Tuan muda Nikko sangat emosi mengetahui Alicia diracuni oleh orang lain.
"Silahkan tuan ikuti saya ke rumah sakit tempat nona Alicia dirawat. "
"Baik, cepat bawakan aku buket bunga mawar putih! "
Asisten pribadi Nikko membeli sebuket bunga mawar putih untuk Alicia. Terlihat jelas bahwa tuan muda Nikko sangat mencintai Alicia. Di wajah tampannya, terlukis rasa kekhawatiran akan kondisi kesehatan Alicia.
St Angel Hospital, California
Tuan muda Nikko dan orang-orangnya sudah sampai di rumah sakit tempat Alicia dirawat. Di depan pintu ruang rawat inap Alicia dijaga dengan ketat. Tuan Leo dan Adam sedang berbincang bersama dokter mengenai progres kesehatan Alicia selama menjalani perawatan medis.
"Jadi, sebaiknya kita harus bagaimana, dokter? " Tanya tuan Leo.
"Setelah hasil pemeriksaannya keluar, mari kita uji darahnya dengan protein untuk memperbaiki antibodinya. Sepertinya ada yang salah dengan antibodi nona Alicia! "
"Apakah maksud dokter kita memerlukan beberapa pemeriksaan lagi terhadapnya? "
"Ya, dan tolong jaga kestabilan emosinya agar tidak menguras energi. Karena apabila nona sering emosi, dia akan lebih mudah kehilangan kesadarannya. "
"Baiklah, kami mengerti. "
"Saya permisi. "
Tuan muda Nikko mendengar semua perbincangan mereka." Aku memiliki beberapa jenis antibodi bagus yang diciptakan oleh dokter pribadinya. Tapi alangkah baiknya, jika bisa ditukarkan dengan barang bagus milik keluarga tuan Adit. " Sambil berpikir, tuan muda Nikko menyusun rencana untuk mendapatkan hati Alicia.
"Apa kabar tuan Leo? " Sapa tuan muda Nikko dengan senyum tipis.
Paman Leo terkejut dengan kedatangan tuan muda Nikko dan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.
"Kau pasti terkejut dengan kedatanganku! " Tuan muda Nikko meremehkan paman Leo. "Apakah anak buahmu tidak memberikan informasi mengenai kedatanganku? "
"Saya tidak tahu jika anda memiliki waktu luang untuk berkunjung ke sini, tuan muda Nikko! "
"Ohh, bahkan kau tidak pernah berpikir aku akan kembali ke kediaman keluarga ayahku! " Tuan muda Nikko berkata sangat sinis. "Kaupun melupakan status saya dan juga rasa hormatmu pada saya! "
Paman Leo menghela nafas, "Maafkan kelancangan saya, tuan muda! "
Tuan muda Nikko melirik Adam dengan tatapan dingin, "Bukankah kau adalah Adam? "
"Benar, tuan. Apa kabar? "
"Sudah beberapa tahun tidak melihatmu. Kau diutus tuan Adit ke sini rupanya? "
"Benar, tuan. "
Tuan muda Nikko tertawa, "Haaa..Haaa.. Biarkan aku melihat Alicia! "
"Silahkan, tuan. "
Para pengawal membukakan pintu kamar Alicia. Tuan muda Nikko masuk dengan langkah yang pelan. Dia tidak ingin membangunkan Alicia. Paman Leo dan Adam masuk mengikutinya. Tuan muda Nikko mengganti bunga di vas dengan bunga mawar putih yang dia bawa.
Tuan muda Nikko memandangi Alicia dan bergumam dalam hatinya, "Kau terlihat sangat pucat."
"Tinggalkan kami berdua. Kalian keluarlah dulu. "
Setelah pintu tertutup, tuan muda Nikko melangkah maju mendekati Alicia. Dia mengeluarkan tangannya dari saku jaketnya. Lalu menyentuh pipi Alicia. "Apa kabar, Alicia kecilku? Kau sudah tumbuh semakin matang. Tapi kau masih imut seperti dulu. Aku sangat merindukanmu! "
Tuan muda Nikko mencium lembut kening Alicia dan berbisik, "Aku akan membawamu ke tempatku."
Tuan muda Nikko mencium tangan Alicia dan mengusap lembut rambutnya. Dia pergi meninggalkan ruangan Alicia. "Bagaimana bisa penjagaanmu sangat lemah, paman? Alicia terlihat pucat dan kurus. "
Paman Leo dan Adam terdiam.
"Saya akan pergi rapat. Ada beberapa bisnis di kota ini yang harus saya selesaikan tepat waktu. Setelah selesai, saya akan kembali ke sini. " Tuan muda Nikko melanjutkan bicaranya. "Oh ya, saya akan menempatkan beberapa anak buah untuk menjaga Alicia. Anda tidak keberatan, bukan? "
Paman Leo mengangguk, "Tentu saja tidak, tuan muda. "
Tuan muda Nikko pergi dengan beberapa pengawal dan asistennya.
Tuan Malik berkata, "Mari, tuan! Mobil sudah siap. " Tuan Malik berjalan di belakang tuan muda Nikko. Dalam perjalanan menuju meeting, tuan muda Nikko tidak berhenti memikirkan Alicia.
"Tuan, bagaimana keadaan nona? Adakah yang perlu saya persiapkan? "Tanya tuan Malik.
"Ya, segera siapkan ruangan khusus. Saya akan membawa Alicia pulang. "
"Maksud anda adalah nona akan tinggal bersama kita dan dirawat dengan dokter handal kita? "
"Masih belum cukupkah perkataan saya? Perlukah saya menjelaskan secara detil? "
Tuan muda Nikko berubah menjadi sensitif setelah bertemu Alicia. Mukanya merah padam dan tatapannya seperti seorang pembunuh berdarah dingin.