
Kediaman keluarga Chandrawijaya
"Hallo, Wilson. Dimana orangtuaku? Apakah masih menghadiri penjamuan makan malam di hotel Santika? " tanya Boy.
Tuan dan nyonya Chandrawijaya sedang menghadiri undangan penjamuan makan malam yang diadakan oleh keluarga Wicaksana. Dikarenakan meeting tertutup akan segera dilaksanakan dalam dua hari kedepan, maka para sekutupun mengadakan penjamuan guna mempererat relasi di perusahaan.
Boy menelepon Wilson, asisten pribadi nyonya Calista untuk memastikan keadaan kedua orangtuanya.
"Ya, tuan muda. Tuan besar dan nyonya masih di penjamuan. "
"Oke. Teruskanlah menjaga mereka. "
"Hmmm, aku sedikit tahu tentang tujuan penjamuan ini diadakan. Mungkinkah paman Adit akan pulang lusa seperti yang ayah katakan? "
Boy sangat berhati-hati dengan langkah yang ia lakukan. Sedikit demi sedikit, Boy mempelajari bagaimana membaca situasi.
Angela High School, Amerika
Hari ini aku sangat gugup. Karena hari ini adalah hari pertama pameran lukisanku dimulai. Pameran lukisan ini bertema 'keluarga' dan berlangsung selama dua hari. Biasanya, para orangtua mendapatkan undangan dari sekolah untuk melihat karya anaknya. Lalu lukisan yang menjadi favorit akan terjual dan hasil penjualannya akan disumbangkan untuk yayasan kanker di Rumah Sakit.
Aku mengamati sekelilingku. Aku iri melihat orangtua mereka berkunjung ke sekolah. Hanya aku yang tidak didampingi oleh orangtua.
Aku berdiri di depan lukisanku sambil melihat foto ayah dan ibuku di ponsel. Aku rindu pada mereka.
"Al! Apakah ini lukisanmu? " Adam datang membuatku kaget.
"Ya, apakah kau datang sendirian? "
"Tidak, Al. Aku datang bersama teman-teman untuk melihat lukisanmu. "
Adam datang dengan beberapa teman. Diantaranya, Linda, Zaiden, Lewis, Thomas, Margaret dan Britany. Merekalah yang kukenal. Linda dan Britany sering menemaniku ke perpustakaan.
"Woww, Al! Aku sangat suka dengan lukisanmu yang ini.. " Linda menunjuk salah satu lukisanku. Yaitu seorang anak perempuan kecil yang sedang berjalan bergandengan tangan diantara kedua orangtuanya.
"Terimakasih, Linda. "
"Lukisan ini sangat cantik! Aku ingin memilikinya dengan harga berapapun juga. Aku akan pastikan untuk membayarnya. " Seorang ibu memperlihatkan ekspresi bahagia saat melihat lukisanku yang disukai Linda.
Saat semua orang sibuk ke sana dan ke sini, aku hanya duduk bersandarkan bahu Zaiden. Aku lelah sampai akhirnya aku tertidur.
Dalam tidurku, aku bermimpi..
Aku pergi bersama ayah dan ibu saat musim liburan sekolah. Kami berencana akan pergi ke pantai dan mendirikan tenda saat malam. Di tengah perjalanan, datanglah satu mobil dengan kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan menuju ke arah kami. Dengan panik, ayah membanting stir ke sebelah kiri. Dan braaaakkkk... Ciiiiittttt.. Ahhhhh..
"Ayah.. Ibu... Dimanakah kalian?? " Aku memanggil mereka dengan suara parau. Semuanya menjadi gelap gulita. Aku sangat takut dan tidak ada seorangpun yang menolongku. "Tolooongg! Tolong berikan cahaya untukku! " Aku tidak suka kegelapan seperti ini. Semuanya hitam dan tak berwarna.
"Uhhh, ayah? Ibu? " Panggilku.
"Alicia.. Bangun, Al! " Seseorang membangunkanku.
"Mm..? " Aku mencoba membuka mataku namun terasa sulit.
Aku kembali tidak sadarkan diri. Perasaanku kacau. Ingin rasanya kembali ke rumahku. Memeluk kedua orangtuaku dan bercerita tentang indahnya dunia. Aku tidak ingat lagi seperti apa wajah ayah dan ibuku sekarang!
"Will.. Will.. Tolong! " Aku memanggil namanya dengan lemah. Ya, nama itu selalu membekas di benakku. "William.. Akuuu.. Akuu sangat.. Rindu kamuu "
"Alicia.. Bangun! " Terdengar suara yang kukenal. Ya, itu adalah suara Adam.
Aku membuka mataku dan aku terbaring di tempat tidur di dalam ruangan tertutup yang serba putih. "Tapi dimanakah ini? Ruangan ini sangat asing. " Penciumanku sangat tajam. Bau obat-obatan tercium di ruangan ini. Kepalaku sakit. Aku tidak bisa mengingat apapun kecuali William.
"Dokter, tolong periksa kondisi kesehatan Alicia terkini! " Suara Adam terdengar sangat mengkhawatirkanku.
"Ya, tolong sembuhkan temanku. " Linda memohon pada dokter yang memeriksaku.
Aku mendengar suara Adam dan Linda yang sedang berbicara dengan dokter. Aku kembali memejamkan mataku. Dan saat mataku terpejam, aku kembali melihat sosok William di dalam mimpiku.
"Al, aku merindukanmu. Pelayan ini akan selalu setia menemanimu seumur hidup. Dan ayo kita menikah! " Tidak terasa air mataku terjatuh. Aku hanyut dalam suasana bahagia. Aku merasa bunga tulip mekar lebih awal. Itu menandakan sesuatu yang baik.
Aku berdiri di hamparan bunga tulip yang berwarna-warni. Di atas altar, William mengucapkan janji suci dan berlutut memakaikan cincin di jari manisku sebelah kanan. Setelah itu kami melakukan wedding kiss. Aku, dia, dan semua orang tersenyum bahagia. Aku melihat dari kejauhan ayah dan ibu sedang menatapku dengan sorot mata yang bahagia pula. Yaa Tuhan, hari bahagia ini akhirnya datang juga.
Doorrr dooorrrr.. Tes tes tess tesss..
"Suara senjata api dari manakah asalnya? " Sekelompok orang tak dikenal berlari ke arahku dan William.
"Ohh tidaaakk! " Seketika tubuhku terasa kaku saat melihat darah segar mengalir membasahi baju kedua orangtuaku. Mereka ambruk. Tergeletak di lantai. "Apa yang terjadi? Siapa yang membunuh kedua orangtuaku? Siapa yang menghancurkan kebahagiaanku? Hikkss... Hikksss..."
Srekk srekkk.. William menggendongku dan berlari menjauh dari tempat itu. Tempat dimana dipenuhi darah segar dan kebencian. Aku menangis dan ini terasa sangat tidak adil. Aku tidak sanggup membayangkan wajah kedua orangtuaku berlumuran darah. Wajah senyum mereka lenyap seketika di benakku.
"Uhuuuk.. Uhuuukkk.. Uhuuukkkk.. " Aku terbatuk. Ya Tuhan, syukurlah hanya mimpi!
Saat membuka mata, aku memandangi satu persatu orang-orang di sekelilingku. Paman Leo, Adam, Linda, Zaiden, Lewis dan Britany.
Dengan wajah pucat pasi, aku mengerahkan tenaga untuk duduk bersandar pada bantal.
"Tolong bantu aku duduk! " Pintaku.
Paman Leo segera membantuku. Aku terbangun dari mimpi buruk yang selalu menghantui. "Akankah terjadi hal yang kutakutkan pada kedua orangtuaku? Akankah terjadi hari dimana orang-orang yang kusayang akan pergi meninggalkanku?" Aku tak sanggup membayangkan datangnya hari itu! Aku tak ingin mereka pergi meninggalkanku!
"Kau sudah sadar, Al? " Tanya Adam. "Kami sangat khawatir. "
"Kau terus menangis saat sedang tertidur. " Ucap Britany.
"Dan suhu badanmu tinggi. Kau terkena demam, Al. Mungkin kau kelelahan. " Zaiden terlihat sangat khawatir padaku.
"Maafkan aku. Aku tidak cukup istirahat beberapa waktu belakangan ini karena mempersiapkan pameran pertamaku. Aku tidak ingin gagal! " Aku terdiam. " Syukurlah hanya mimpi! " Pikirku dalam hati.
"Ya usahamu tidak sia-sia, lukisanmu terjual dengan harga tinggi! " Linda memberitahu.
"Ahhhh, kalian tidak bercanda kan? "
"Tidak. Nanti ketua panitia akan datang dan berbicara padamu. " Adam memberitahuku. "Yang membeli lukisanmu adalah seseorang yang sangat menggemari dan juga menghargai seni dari negara lain! "
"Baiklah, terimakasih semuanya. " Ucapku.
"Sebaiknya kau beristirahat agar lekas pulih! " Saran Adam.
"Ya, tapi kemanakah Margaret? Dia tidak terlihat. " Tanyaku.
"Dia sedang sibuk mengurus lukisanmu yang laku terjual. " Zaiden menjelaskan.
"Oh... Aku menyusahkannya! "
"Tenanglah, Al. Kita semua berteman, bukan? " Tanya Britany. "Tidak perlu sungkan. "
Aku sangat lega mendengar perkataannya. "Terimakasih, teman-teman. "
Pt Ten Entertainment
Ruang CEO
"Tuan muda, David dari Amerika menelepon anda. Ini, silahkan.. " Tuan Santo memberikan ponselnya kepada tuan muda William.
"Yaa.. "
"Tuan, saya ingin melaporkan kepada anda tentang kondisi kesehatan nona Alicia! " Suara di seberang tampak khawatir dan bimbang.
"Ada apa dengan Alicia? Cepat katakan! "
"Saat pameran lukisannya sedang berlangsung, dia tertidur. Ya, kami kira dia tertidur tapi ternyata nona pingsan. "
"Apa? Kenapa bisa seperti itu? " Tuan muda William panik mendengar penjelasan David. "Apakah Alicia makan dan tidur dengan baik? "
"Sepertinya beberapa hari belakangan ini, nona sering tidur terlalu larut karena mengerjakan lukisannya, tuan. Oh ya, saat nona pingsan ia menangis dan sering menyebutkan nama anda! "
Tuan muda William tampak terkejut. "Ingin rasanya aku berlari ke tempat di mana dia berada. Menjaga dan merawat dengan penuh kasih sayang. Mencium dan memeluk erat dirinya! " Tuan muda William menghembuskan nafasnya pelan dan mengucapkan, " Sayang.. Semua butuh proses! "
"Tuan.. Tuan muda.. Apakah anda masih di sana? "
"Tolong lebih perketat penjagaan Alicia. Awasi setiap makanan yang dia konsumsi. Kau tahu kenapa aku mengirimmu ke sana, bukan? Mulai sekarang, kau harus Lebih teliti menjaganya. Jangan kau sia-siakan kepercayaanku padamu, David. "
"Saya mengerti, tuan. Terimakasih atas kepercayaan anda. "
"Bagaimana dengan lukisan Alicia yang kuinginkan? Apakah kau mendapatkannya? "
"Jangan khawatir, tuan. Saya membeli semua lukisan nona Alicia. "
"Oke! Jangan biarkan siapapun tahu jika pembelinya adalah aku! Dan ingat, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruang hatinya. "
Tuan muda William menutup teleponnya dengan marah. Dia terdiam, lalu berdiri menghadap ke jendela ruang kerjanya. Memandangi pemandangan luar dari gedung tinggi tempatnya berdiri dengan tatapan kosong.
Akhirnya tuan muda William pergi keluar menuju balkon ruang kerjanya. Dia mengeluarkan sebatang rokok. Pandangannya seperti sedang berada entah dimana dan tampak frustasi. Iapun menghisap habis rokoknya.
Tokk tokkk tokkk.. Pintu ruangan William diketuk. Dan Sean masuk dengan hati-hati dan bertanya pada tuan Santo.
"Tuan Santo, dimana William? "
"Tuan muda sedang merokok di balkon. "
"Haahh, sejak kapan dia mulai merokok lagi? "
"Sejak nona Alicia pergi dan baru saja tuan muda menerima telepon dari David. Setelah selesai bicara dengan David di sambungan telepon, tuan muda berubah. Dia diam saja sejak tadi. Tidak berbicara sepatah katapun. "
"Oke, jangan mengganggunya. Biarkan dia menenangkan dirinya sendiri! "
kediaman keluarga Adit Atmadja
Nyonya Alifah sedang murung di kamarnya. Beliau menggugat cerai terhadap suaminya, mr Adit. Entah dari mana asalnya foto-foto itu. Tapi yang jelas, motif tersembungi di balik foto itu adalah menginginkan keretakan hubungan rumahtangga keluarga mr Adit.
"Nyonya, tuan Farhan berkata kalau nyonya sebaiknya mempersiapkan diri menyambut kepulangan suami anda! " Elena menyampaikan pesan dari tuan Farhan, asisten pribadi tuan Adit.
"Orang itu bahkan tidak pantas untuk kusambut! Apakah dia pulang dengan membawa serta kekasihnya? " Tanya nyonya Alifah.
"Saya tidak tahu nyonya. " Jawab Elena. "Oh ya, hari ini nona Alicia jatuh sakit. Suhu badannya tinggi. Saat tertidur, nona memanggil nama nyonya dan tuan. Dan jugaa.. "
"Dan juga apa, Elena? Cepat jawab aku! "
"Dan juga, nona memanggil nama.. Memanggil.. Nama tuan muda William! "
"Hmmm, anakku. Semakin sakit hatiku mendengar dia sakit. Kenapa aku dipisahkan oleh anak kandungku? "
"Lebih baik, nyonya bertanya langsung pada tuan. "
Berita tentang kondisi kesehatan nona Alicia rupanya tersebar begitu cepat di kalangan para pelayan. Entah itu pelayan mata-mata dari keluarga Yoga Atmadja ataupun pelayan mata-mata dari keluarga Alexander.
Kringg kriingg.. Suara ponsel tuan Malik berdering.
"Ini pasti telepon dari mata-mata yang menyusup ke dalam keluarga tuan Adit! " Pikir tuan Malik.
"Ya, ada berita apa? " Tuan Malik bertanya.
"Tuan, tolong sambungkan teleponku kepada tuan muda Nikko segera. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. "
"Baiklah, tunggu sebentar. "
Tuan Malik berjalan menuju ruangan tuannya. Di dalam ruangan itu, tuan muda Nikko sedang asyik bermesraan dengan nona Wenny, sekretaris tuan muda Nikko.
Took tokk tookkk.. Tuan Malik mengetuk pintu ruangan tuan muda Nikko.
"Maaf, tuan muda. Saya mengganggu anda sebentar. Ada telepon penting dari kediaman musuh! "
"Masuklah! "
"Tuan, mengapa kau menyuruh tuan Malik untuk masuk? Pakaianku berantakan. Aku sangat malu! " Wenny bertanya dengan gugup.
Tuan Malik masuk dan terkejut melihat situasi dalam kantor tuan muda Nikko.
"Bukankah mukamu begitu tebal sehingga mendekatiku dengan cara kotor untuk menaikan posisimu di perusahaan ini? "
"Tuan, sepertinya anda termasuk tipe orang yang suka berterus terang ya! "
"Kau, keluarlah dulu. Aku akan memanggilmu kembali setelah selesai. "
"Baik, tuan. "
Wenny dengan cepat pergi keluar meninggalkan tuan muda Nikko dan tuan Malik. Setelah pintu tertutup, tuan Malik segera memberikan ponselnya kepada tuan muda Nikko.
"Ya, ada apa? " tanya tuan muda Nikko pada seorang mata-mata yang menyusup di keluarga tuan Adit.
"Saya mendengar kabar hari ini bahwa nona Alicia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. "
"Apa?? Apakah sakitnya parah. "
"Nona Alicia demam tinggi. "
"Baiklah, awasi terus gerak-gerik nyonya Alifah. Segera bereskan beliau sebelum tuan Adit kembali ke tanah air! "
"Baik, tuan muda! "
Dengan tatapan serius, Nikko memberi perintah kepada Malik.
"Segera tunda rapat hari ini! Siapkan tiket pesawat paling awal ke Amerika. Dan juga siapkan keperluan saya untuk beberapa hari di sana! "
Tuan muda Nikko segera meninggalkan perusahaan dan menuju bandara.
"Hubungi pihak kita di Amerika untuk segera menyiapkan tempat tinggal yang paling strategis dari lokasi rumah sakit dan villa keluarga Alicia. Dan jangan lupa membawa dokumen penting untuk persiapan rapat di sana! " Tuan muda Nikko berpesan pada tuan Malik.
Tuan muda Nikko terus berpikir tentang sesuatu hal. "Ada apa denganku? Aku begitu panik setelah mendengar kabar tentang kondisi Alicia. Sejujurnya, aku tidak pernah setuju dengan pemikiran ayah. Tapi aku tidak ingin dibilang anak yang tidak berbakti kepada orangtua. Terlebih, aku hanyalah anak angkat keluarga tuan Yoga. Yang kutahu adalah tidak ada hubungan darah antara aku dan Alicia. Maka dari itu, aku bisa menikahinya. Langkah pertama yang kulakukan adalah mengambil hak waris keluarga Atmadja. Setelah itu, aku akan menikahi Alicia dengan ataupun tanpa persetujuan keluarga. Haaahaaa.. Itu seperti mimpi bagiku, namun aku selalu bersemangat untuk mengejarnya. Seperti pepatah yang mengatakan, hasil tidak akan menghianati usaha!"
Tuan muda Nikko duduk bersandar di dalam pesawat. Perjalanan jauh yang sangat membosankan. Saat memejamkan mata, dia membayangkan wajah Alicia sedang tersenyum ke arahnya. Sayangnya, sampai sekarang tuan muda Nikko tidak berani menyatakan perasaannya kepada Alicia. "Jika seluruh keluarga tahu perasaanku yang sebenarnya pada Alicia, mereka akan memisahkan kami sejauh mungkin. Aku percaya itu." Gumamnya.
California, Amerika
Suasana di rumah sakit tempat Alicia dirawat.
"Paman, bagaimana keadaan di rumah? " tanya Adam.
"Sepertinya bertambah kacau! "
"Itukah sebabnya tuan mengirim Alicia ke luar negeri? "
"Jaga bicaramu, Adam. " Tuan Leo memperingatkan kedudukan Adam di mata keluarga Atmadja. "Bukan hanya itu, tuan juga menempatkan pengawal terlatih di dekat nona. Tentunya tanpa sepengetahuan nona! "
"Saya mengerti, paman. Saya akan setia pada nona dan keluarga tuan Adit. "
"Sebaiknya seperti itu. Kau akan memegang kendali satu perusahaan atas nama nona. "
"Ya, paman. Saya akan pastikan tidak ada yang akan mendekatinya. "
"Baiklah, saya pergi dulu. Saya masih ada urusan lain. Ingat untuk tidak memberitahu kepada nona. "
Tuan Leo pergi meninggalkan Adam yang masih terpaku dengan perkataan tuan Leo.
Sejenak Adam berpikir, "Aku mengerti dengan perkataan tuan Leo barusan. Yang tidak kumengerti adalah mengapa tuan Adit tidak membiarkan nona Alicia bersama dengan William? Apakah tuan tidak tahu perasaan mereka berdua? Haruskah kuberitahu? Aku tidak ingin ikut campur urusan mereka tapi aku tidak tega melihat nona bersedih. Apa yang harus kulakukan? "
"Hmm.. Mm.. Dimanakah aku? " Aku berjalan menyusuri lorong gelap hanya dengan diriku sendiri. Aku meraba dinding agar tidak terjatuh. Lorong yang begitu panjang tiada akhir. Aku menginginkan seberkas sinar untuk menerangi jalanku. Aku mencari-cari pintu untuk membebaskan diriku dari sini. Namun, tak kutemukan juga. Aku tetap menjaga keseimbanganku agar dapat terus berjalan.
Brakkk! Suara pintu tertutup.
"Haahhh.. " Aku terkejut mendengar suara pintu tertutup. Lorong selanjutnya memiliki dua cabang. Cabang kiri dan kanan. Aku harus memilih cabang yang mana? Agak lama kumemilih dan pada akhirnya aku memilih cabang yang berada tepat di kananku. "Yaa, ayo kakiku! " Kita akan melanjutkan perjalanan melewati cabang kanan. Dengan langkah kaki yang mantap, aku melanjutkan pencarianku. Hingga tibalah aku di ujung lorong dengan sedikit cahaya.
"Wah, mungkin aku telah sampai ke pintu. Aku sudah muak dengan lorong yang gelap ini! " Aku berseru senang.
Aku meraih daun pintu dan klekk.. Kubuka pintu itu dengan harapan bisa keluar dari sini.
"Aduuuhhh! Sangat menyilaukan. Apa itu??" Agak lama untuk menyesuaikan mataku dengan cahaya itu. Perlahan aku membuka mataku.
Dan aku terkejut melihat seseorang yang berdiri sudah menunggu kedatanganku di balik pintu.
Dengan wajah pucat pasi seperti kehilangan banyak darah, bola mata coklat, rambut hitam bercahaya yang berantakan, dan senyum sedih di wajahnya.. Seseorang itu tersenyum padaku.
Aku terdiam dan berpikir. "Siapa dia? Siapakah orang yang berdiri di hadapanku? Aku seperti mengenalnya!"
"Ohhh tidaaaakkkk.... Tuhan, tolonglah aku! Dia adalah... Dia.. Dia adalah.."
*** Dear pembaca yang terhormat.
Bab selanjutnya akan segera terbit. Mohon bersabar ya!
Kira-kira siapa yang berjalan di lorong gelap sendirian tanpa cahaya? Dan siapakah sosok yang berdiri di balik pintu?
Hmm.. Kalian akan mengetahuinya di bab selanjutnya!
Sekian. ***
#salamembaca