
Tuan muda Nikko yang begitu dingin segera melangkah keluar ruang meeting dengan senyum palsunya. "Bahkan aku tahu, tuan tidak berkosentrasi saat meeting berlangsung! " Tuan Malik berkata dalam hatinya.
"Tuan muda ,apakah kita akan menghadiri penjamuan makan malam ini? "
"Tentu. Segera carikan pakaian yang cocok! Saya akan mendekati anak perempuan pertama tuan Keneddy. "
"Bagaimana dengan nona? "
"Setelah semua persiapan selesai, jemput dia! "
"Saya mengerti, tuan muda! "
Tuan muda Nikko berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju ke rumah sakit st Angel Hospital. Tuan Malik hampir tidak bisa mengimbangi langkahnya dari belakang.
St Angel Hospital, California
"Paman, apakah keberadaan tuan muda Nikko tidak berbahaya untuk nona? Karena dilihat dari silsilah, tuan muda Nikko bukanlah anak kandung dari tuan Yoga Atmadja ! " Tanya Adam.
"Saya akan memberitahu tuan Farhan. Jangan sampai publik tahu identitas asli tuan muda Nikko. Sebaiknya tingkatkan kewaspadaan kita! " Paman Leo beranjak dari tempat duduknya. "Tolong jaga nona!"
Paman Leo berjalan dengan cepat sampai ke ujung koridor. Lalu beliau mengeluarkan ponselnya dan menelepon tuan Farhan.
"Apa kabar tuan Farhan? "
"Tidak begitu baik. Bagaimana dengan nona Alicia ? "
"Nona masih beristirahat dan dokter telah mengambil contoh darah nona untuk mengujinya dengan beberapa protein demi memulihkan antibodinya. "
"Bagus. Teruskan penjagaanmu! "
"Tuan, saya ingin memberi kabar. Pagi ini, tuan muda Nikko tiba di rumah sakit dan setelah mengunjungi nona, dia pergi untuk menghadiri meeting. Tuan muda memiliki beberapa bisnis di sini! "
"Oh, baiklah. Dia sampai lebih cepat dari yang saya perkirakan. Setelah menutup telepon, saya akan segera memberitahu tuan Adit. "
"Baik, sampai jumpa tuan. "
Paman Leo bernafas lega. "Aku harus lebih waspada dengan tuan muda Nikko. Aku takut terjadi sesuatu pada nona. " Paman Leo menggertakan giginya.
*H*igh Scope Global School, Indonesia
"Perhatian para murid. Ujian akan diadakan tiga hari lagi. Belajarlah dengan penuh semangat dan jangan lupa bawa serta kartu identitas kalian. Sebab jika tidak, jangan harap kalian akan diperbolehkan mengikuti ujian. Sekian untuk kelas hari ini, bubarlah dengan tertib. " Miss Ayya mengingatkan para murid di kelasnya.
Reginna berlari menghampiri miss Ayya, "Maaf, miss. Bolehkah aku bertanya? "
"Ada apa, Gin? "
"Apakah Sarah akan kembali dan mengikuti ujian? " Tanya Reggina dengan cemas.
"Tentu. " Jawab miss Ayya singkat.
Reggina berjalan menuju kantin sendirian. Setelah mengantri makanan, dia mencari tempat duduk yang masih kosong. Tepat di sisi pojok kanan dekat jendela, ada dua kursi kosong. Lalu, ia beranjak ke sana. Di sana terlihat tidak ada satupun teman yang menemani Reggina. Lalu Nikky menghampiri Reggina duduk di hadapannya.
"Gin, bolehkah aku duduk di sini? "
"ya. " Dengan sedikit senyum Reggina menjawabnya.
"Kapan Sarah akan kembali bersekolah? "
"Ada apa kau bertanya tentang Sarah? "
"Aku hanya ingin tahu. Karena sebentar lagi ujian akan segera dimulai. "
"Sebaiknya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri! "
"Haaa.. Haaa.. Kau sungguh lucu. " Nikky tertawa memandang Reggina.
"Kenapa kau menertawakan aku? Apakah aku mirip dengan badut? "
"Tidak.. Tidak. Kau jangan mudah tersinggung. Aku akan menjadi temanmu menggantikan Sarah."
"Tidak perlu! Aku tidak peduli kau akan menjadi siapapun juga. "
"Setidaknya jika kau dalam situasi yang sulit, aku bisa membantumu! "
"Kenapa? "
"Karena musuhnya musuhku adalah temanku**! "
Setelah Nikky menyelesaikan kalimatnya, dia pergi meninggalkan Reggina yang masih tidak mengerti arti dari kalimat tersebut.
Di koridor depan kelas XI B
"Eris, tunggu! " Ginza memanggil Erisa smbil berlari mengejarnya.
"Ada apa? "
Dengan nada cemas Ginza bertanya, "Aku sudah beberapa hari ini tidak melihat Clara? Apakah kau tahu dimana dia? "
"Oh, coba kau hubungi dia! "
"Sudah kucoba tapi selalu gagal. "
"Setahuku Clara sedang berkunjung ke rumah neneknya di luar ibukota. "
"Apakah kau tidak berbohong? "
"Aku sarankan agar kau tidak bertanya lagi padaku jika kau tidak cukup mempercayaiku! " Sambil berlalu, Erisa mengerutkan dahinya merasa aneh pada Ginza. " Seharusnya kau lebih tau dibandingkan aku, tuan muda Ginza! "
Ginza menelan ludahnya saat melihat Erisa berjalan, dia bahkan berhalusinasi untuk segera mendapatkan Erisa. "Kupikir tidak akan mudah mendapatkan Erisa karena dia adalah teman baik Clara. Aduhh, apa yang aku pikirkan! Tlong cepaaat pergi pikiran kotorku! "
Stockholm street, Inggris
"Nona, selamat datang kembali di rumah. Tuan besar sudah lama menunggu anda! "
Asisten pribadi Hubbert, tuan Darren mempersilahkan Clara masuk ke ruang makan keluarga Wellington. Tuan Hubbert, dan istrinya sudah menunggu.
" Apa kabar ayah? " Clara mengucapkan salam sambil memeluk ayahnya.
"Kabar baik sayang. Setiap berjumpa denganmu, salju selalu turun dan musim dingin tiba tepat pada waktunya."
"Salam hormat dari putrimu, ayah. Semoga ayah selalu panjang umur dan selalu dilimpahkan keberkahan sepanjang usia. " Clara membungkukkan badannya.
"Bangunlah, tidak perlu sungkan terhadapku. "
Nyonya Emily berdiri dan hendak merangkul Clara tapi dengan cepat Clara menghindarinya.
"Apa kau masih menyimpan dendam masa lalumu padaku, anakku? " Tanya nyonya Emily.
"Bahkan di kehidupan yang akan datangpun, saya enggan menyebut anda sebagai ibu! "
Nyonya Emily menggigit bibirnya menahan emosi yang akan meledak sewaktu-waktu, "Kau sama seperti ibumu yang suka menyimpan dendam. Jangan mati dengan dendam, Clara sayang. " Sambil melirik Clara, nyonya Emily merangkul suaminya, "Ohh suamiku, apakah aku menyinggung anakmu sehingga dia berprilaku merendahkanku seperti ini? "
"Clara, tidak bisakah kau meminta maaf padanya? Bagaimanapun juga, dia adalah ibu sambungmu dan aku akan segera menikahinya! "
"Jadi maksud ayah menyuruh saya ke sini adalah untuk menghadiri pernikahan ayah dengan wanita berhati iblis ini?? " Clara bertanya dengan emosi.
"Ya, karena berdasarkan sifatmu jika ayah memberitahukan tujuan ayah di awal, kau pasti tidak akan datang. "
Clara tidak habis pikir, cara licik apa lagi yang dimainkan wanita iblis itu! "Aku mengerti. Aku akan menghadirinya. " Clara memberikan jawaban yang menakjubkan.
Nyonya Emily termenung sejenak, ada sesuatu yang terlintas di benaknya, "Mengapa anak ini begitu mudah setuju dengan ayahnya? Tidak seperti biasanya. Apakah dia merencanakan sesuatu? "
Clara tidak jadi makan karena mendadak tidak nafsu makan. Clara berjalan melewati nyonya Emily sambil membisikan sesuatu di telinga beliau, "Lebih baik jangan terlalu tinggi menilai diri anda sendiri! "
Nyonya Emily tersentak kaget dengan perkataan Clara. Dengan cepat beliau membalasnya, "Perhatikan kosakatamu saat berbicara dengan orangtua! "
Clara membalikan badannya dan tersenyum kepada ayahnya. Ia berkata, "Maafkan aku, ayah. Aku tidak ingin makan. Karena aku sangat lelah."
"Tolong segera bawakan beberapa camilan ke kamarku! " Clara berkata pada pelayan dengan sopan.
"Ya, nona. Mohon ditunggu sebentar. "
Ayahnya menggelengkan kepala dan terdiam. Setelah menarik nafas panjang beliau berkata, "Baiklah, nak! Tidurlah lebih awal. "
Clara meninggalkan tuan Hubbert dan nyonya Emily dengan perasaan cemas. Ya, cemas karena pernikahan ayahnya. Clara pergi ke kamarnya yang telah dirapihkan oleh para pelayan. Kamarnya berada di lantai tiga.
"Silahkan, nona. Hati-hati melangkah! " Ucap penjaga lift di kediaman keluarga Wellington.
Setelah sampai di kamar, pelayan membukakan pintu untuk Clara.
"Tolong siapkan air hangat untukku! Aku ingin berendam. Jangan lupa untuk mencampuri air hangat tersebut dengan minyak atsiri. Dan tolong sediakan beberapa lilin aromaterapi lavender."
"Ya, nona. Saya juga akan membawa bantal untuk menahan kepala anda agar tidak sakit. Apakah anda ingin saya memutarkan musik? "
Pelayannya segera pergi menyiapkan segala keperluan Clara. Dalam 10 menit, pelayan itu kembali lagi.
"Nona, silahkan. Semua sudah siap. "
"Terimakasih. Tolong tunggu aku di depan pintu kamar mandi. Dan sediakan teh greentea and mint setelah saya selesai berendam! "
"Ya nona. "
"Semoga dengan berendam, aku bisa relax kembali dan berpikir jernih. Inilah cara yang kulakukan untuk menghilangkan marah dan stres menghadapi wanita iblis itu." Clara berkata dalam hatinya.
Clara segera membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan. Lalu, Clara memilih lagu kesukaannya yang akan diputar.
"Hmm, nahh ketemu. "
Terdengar alunan musik dari kamar mandi Clara. Itu adalah salah satu lagu kesukaannya. 'A Whole New World ' Zayn malik dan Zhavia Ward. Clara masuk ke dalam bath tub dan berendam. Sambil memejamkan matanya, kepalanya bersandar pada bantal yang telah disiapkan oleh pelayan.
Royale Palace, California
Penjamuan makan malam telah dimulai. Tuan muda Nikko agak sedikit terlambat karena mencemaskan Alicia.
"Tuan muda, mohon agar anda memperhatikan penjamuan ini. Jangan terkecoh oleh suasana hati anda. Alangkah lebih baik, jika anda fokus pada rencana yang telah kita susun dengan sedemikian rapihnya! " Tuan Malik cemas melihat tuannya.
"Ya, saya lebih tahu langkah apa yang harus saya lakukan! " Dengan ketus tuan muda Nikko menjawab.
Wajah tuan Malik tampak memerah karena merasa bersalah pada ucapannya, namun dia tidak bisa menarik kata-katanya kembali.
Para wanita bergosip tentang Nikko.
"Katanya tuan muda Nikko dari Indonesia akan hadir di penjamuan malam ini! "
"Saya mendengar bahwa dia adalah pria yang tampan dan berkharismatik. "
"Tapi sepertinya dia selalu dikelilingi oleh wanita cantik! "
"Wajar bila dia playboy karena karir yang cemerlang, wajah tampan, dan penerus bisnis keluarga Atmadja! Wanita mana yang tidak akan melekat padanya! "
Di sisi lain, nona Rose mendengar apa yang digosipkan oleh para wanita itu. Dia menjadi penasaran dengan sosok Nikko.
"Lucy, tolong bantu aku perkenalkan dengan tuan muda Atmadja! Aku sangat penasaran dengannya. "
"Dia adalah relasi bisnis ayahmu, Rose! Aku rasa, kau bisa berkencan dengannya! "
"Baiklah, sepertinya aku akan memiliki banyak waktu dengannya. "
"Goodluck, sayang!"
Rose tersenyum gembira mendengarkan perkataan Lucy dan matanya bersinar penuh harap.
Tuan muda Nikko tiba di tempat penjamuan. Dengan penuh percaya diri, dia berjalan diantara kerumunan para tamu undangan. Penampilan yang mempesonanya telah memanjakan mata kaum wanita. Para wanita tidak bisa berhenti menatapnya, termasuk nona Rose.
Tuan Keneddy segera beranjak pergi menyambutnya. "Selamat datang di penjamuan sederhanaku, tuan muda Nikko! " Tuan Keneddy tersenyum lebar.
"Anda terlalu merendah, tuan. Senang sekali saya bisa menjadi salah satu tamu kehormatan di sini. "
Rose berjalan menghampiri ayahnya yang sedang berbincang dengan tuan muda Nikko.
"Ayahhh.. " Rose memanggil ayahnya dengan manja.
"Mari ke sini, sayang. " Ujar tuan Keneddy. "Ada yang ingin ayah perkenalkan padamu! "
Rose tampil dengan mengenakan gaun malam panjang berwarna maroon dengan belahan di bagian depan yang tinggi. Rambut emasnya tergerai panjang. Dengan bibir tipis dan riasan yang simpel, nona Rose terlihat cantik jelita.
"Perkenalkan putri pertama saya Roselly Emma Keneddy. " Tuan Keneddy memperkenalkan putrinya kepada Nikko.
Tuan muda Nikko terpesona dengan penampilan nona Rose, "Saya sangat tersanjung bisa berkenalan dengan anda, nona! " Tuan muda Nikko mencium tangannya nona Rose.
Nona Rose tersenyum malu. Mukanya memerah. "Saya dengar bahwa anda adalah tuan muda yang pintar di kalangan para pria muda! Dan ternyata itu benar! "
"Hmm.. Sepertinya nona Rose sangat percaya pada gosip belaka! "
Nona Rose sungguh berpikir bahwa tuan muda Nikko telah jatuh dalam pesonanya, "Pria ini sungguh merendah. Apakah dia tahu seberapa hebatnya kuasa ayahku di kota ini? Tentunya dia tidak akan bisa menolakku! "
Pada akhirnya tuan Keneddy meninggalkan mereka berdua untuk saling akrab satu sama lain.
Setelah tuan muda Nikko berhasil mendapatkan hati nona Rose, diapun meminta nomor kamar nona Rose di hotel Sunrise.
"Jangan lupa untuk datang ke kamarku setelah penjamuan ini! " Nona Rose berbisik ke telinga tuan muda Nikko.
"Baik, tuan putri. " Nikko mengedipkan satu matanya pada Rose. "Saya pamit dulu untuk menyapa beberapa rekan bisnis. "
Nona Rose membalasnya dengan senyum manis, "Baiklah, saya akan menunggu. "
Tuan muda Nikko berdiri dan berjalan menuju tuan Martin. Nona Rose memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Nikko. Sambil memainkan gelas winenya, Nikko tidak luput dari pandangan nona Rose.
"Malik, bagaimana keadaan Rose? Apakah aman untuk bermain tarik ulur sekarang? " Tuan muda Nikko menelepon ke ponsel Malik.
"Tuan, sebaiknya anda menghabiskan waktu sebentar lagi. Yaitu sekitar sepuluh menit lagi! "
"Oke, baiklah! " Tuan muda Nikko menyetujuinya. "Segera setelah sepuluh menit, kita harus pergi ke kamarnya dan jangan lupa bawakan pesanan yang kuminta. "
"Saya mengerti, tuan. "
Tuan muda Nikko menutup telepon dan segera mengalihkan pandangannya kepada tuan Ricky. Dia adalah salah satu saingan bisnis dalam negeri yang baru saja membuka cabang anak perusahaannya di California.
"Ah, sial. Mengapa dia ada di sini? Aku tidak bisa leluasa berbincang dengan tuan Martin. " Tuan muda Nikko berkata dalam hatinya dengan geram.
"Halo, tuan Ricky Sunarta. Suatu kebanggaan tersendiri bertemu dengan senior di penjamuan malam ini! " Tuan muda Nikko menyapa tuan Ricky sambil berjabat tangan.
Mereka terlihat mengobrol ringan. Beberapa wanita menghampiri tuan muda Nikko dan hendak mengajaknya berkencan.
"Aku tidak percaya, pria sukses sepertimu masih berstatus lajang! " Wina berkata dengan senyum menggoda.
Tuan muda Nikko tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membayangkan hal-hal senonoh dengan Wina, "Dengan bentuk tubuh yang bagus seperti ini, bagaimana mungkin tidak dapat memancing gairah seksualku."
"Saya hanya belum menemukan wanita yang cocok dan sangat jarang wanita menempel pada saya tanpa tujuan tertentu! "
"Haaahaaa.. Sayapun demikian. Saya ingin menempel pada anda karena pesona anda! Apakah mungkin di atas ranjang, pesona itu tidak akan hilang? "
"Nona, saya mohon jangan mencoba membuat saya tergoda. Atau saya tidak akan menahan diri! " Tuan muda Nikko tersenyum nakal.
"Yaa, saya hanya ingin membuat Rose merasa sedikit terganggu! " Wina melirik nona Rose yang daritadi memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Rupanya kau selalu ingin menjadi pusat perhatian! Lain kali, kau harus benar-benar mencari pria yang dapat kau handalkan!" Tuan muda Nikko bangun dan pergi meninggalkan Wina sendirian.
Wina terdiam, "Mengapa aku gagal menggodanya? Aku akan mencoba lagi lain kali. "
Tuan muda Nikko masih menyapa beberapa orang yang terlihat penting untuk bisnisnya. Dia tidak pernah membuang waktu untuk mengatakan omong kosong, namun kali ini berbeda! Demi membuat nona Rose penasaran akan dirinya, tuan muda Nikko rela menyapa orang-orang penting ke sana dan ke sinii.
"Huuhh sangat membosankan! " Nona Rose berkata pelan pada dirinya sendiri. "Aku sangat menginginkan dirinya."
Nona Rose merasa kesal. Dia memanggil pelayannya, "Jim, antarkan aku kembali ke hotel! "
"Baik, nona. "
Akhirnya nona Rose meninggalkan tempat penjamuan dan kembali ke hotelnya. "Nona, saya sudah mendapatkan identitas tuan muda Nikko seperti yang anda inginkan. "
"Oh, baiklah. Aku ingin tahu, apakah ada wanita yang dia sukai! "
"Nama lengkapnya adalah Nikko Ferdinan Atmadja. Anak pertama dari tuan Yoga Atmadja. Tuan Yoga adalah adik dari tuan Adit Atmadja. Mereka berselisih memperebutkan harta keluarga. Tuan Adit memiliki seorang anak perempuan bernama Alicia yang sedang dirawat di rumah sakit St Angel Hospital, California. " Jimmy menjelaskan dengan terperinci. "Untuk identitas lainnya, saya sudah mengirimkan ke email anda. Silahkan anda membacanya, nona. "
Nona Rose sangat penasaran dengan identitas lainnya. Mengapa Jimmy enggan menjelaskan identitas lainnya? Aku semakin penasaran.
Sunrise Hotel, California
Mereka telah sampai di hotel. Dido, orang kepercayaan tuan muda Nikko mengikuti mereka sampai ke depan kamar nona Rose. "Hmm,saya akan segera memberitahu tuan Malik. " Pikir Dido.
Setelah pintu kamar hotel terbuka, Rose duduk di atas ranjangnya dan membuka emailnya.
Dengan mata membulat nona Rose berkata, "Inikah Alicia? Anak perempuan tuan Adit yang tadi dibicarakan oleh Jimmy? "
Nona Rose melihat beberapa foto Alicia bersama dengan Nikko. Dia tidak menyangka bahwa mereka berdua sedekat itu. Karena kedua orangtua mereka bertolak belakang.
Syurrrr... Byurrrr... Byuurrrrr...
Suara air di kamar mandi hotel Sunrise tempat nona Rose.
Nona Rose keluar dari kamar mandi. Wangi bunga mawar menyelimuti ruangannya. Sangat harum. Setelah tadi membuka email dari Jimmy, nona Rose dibuat kagum dengan beberapa identitas rahasia Nikko. Itulah sebabnya, nona Rose menjadi semakin tertarik dengan Nikko.
Nona Rose menunggu kedatangan Nikko. Dia memakai gaun tidur motif bunga yang transparan. Detik demi detik, menit demi menit telah terlewati. Nikko belum juga menampakkan dirinya hingga membuat nona Rose tertidur.