My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Not this time, Clara!



Ruangan yang redup, dan pelukan hangat. Ciuman selamat malam dari seseorang yang tercinta selalu terbayang di benak setiap wanita. Katakanlah wahai jiwa yang tenang dengan bersandar pada keyakinan cinta! Saat ini aku hanya ingin mempermainkan waktu. Memutar kembali masa lalu dan memperbaikinya. Mungkinkah jiwa ini akan singgah pada hati yang terluka?


Malibu Beach Club, Rose Room 101


"Apakah kau yakin, Ra? "


Clara tidak menjawab. Hanya menganggukan kepala saja.


"Jagalah dia, Sean. Aku akan bertanya pada William! " ucap Brimma.


Brimma, dan pak Randi keluar dari kamar Clara.


Pintu tertutup. Ruangan menjadi redup, hangat dan penuh cinta. Namun Clara tetap menderita.


Dipegangnya tangan Clara. Wajah cantiknya terlihat pucat. Ditatapnya wajah cantik itu. Dibelai dan dipeluk dengan hangat.


"Mmm.. " Clara mendesah.


"Ra, bersabarlah! " Sean terus menahan setiap gerakan yang dibuat Clara.


"Aku.. Ti..dak.. ta..han.. la..gi !"


"Maafkan aku, Ra! "


Sejak awal bertemu dengan Clara, Sean Peter Jason memang menaruh hatinya pada Clara. Dia kerap berharap akan membuat Clara jatuh cinta padanya. Hingga akhirnya dia tahu Clara menjalin hubungan dengan Ginza.


Tapi Clara selalu salah paham dengannya. Clara mengira bahwa Sean menyukai Erisa. Itulah sebabnya Sean tidak setuju jika Clara ikut campur ke dalam masalah Alicia. Dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Dan hari ini, hal yang ditakuti tiba. Sean merasa bersalah pada Clara.


Clara memainkan jari-jarinya dengan lembut. Jari-jari yang lentik menjelajahi wajah tampan Sean. Desiran nafsu Sean memuncak.


"Oh, noooo! Aku tidak bisa bertahan lagi! " Sean berkata dalam hati.


Dipegangnya tangan Clara lalu diusapnya pipi yang merah merona karena menahan hasrat. Bibir merekapun akhirnya bertemu.


"Mmuaahh.. Mmm.. Muaahh"


Mereka berciuman dengan romantis.


Clara yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria manapun, bahkan Ginza yang berstatus sebagai pacar Clara tidak pernah menyentuhnya sama sekali.


"Clara.. " Sean memanggil nama wanita yang ia sukai.


"Mm.. " Clara asyik memainkan lidahnya dengan Sean.


Sean tidak berhenti mencium wanitanya. Clara meraba tubuh Sean dengan agresif. Sean membuka selimut yang menutupi Clara.


"Maafkan aku, Ra! " ucap Sean pelan.


Clara terkejut. Dia berhenti mencium Sean. "Apa? " tanyanya.


"Kau sangat buas! " Sahut Sean.


Clara saat ini tidak peduli dengan harga dirinya. Dia sangat tersiksa dengan obat perangsang yang diberikan oleh Dido. Sean melepas pakaian yang dikenakan. Sambil terus mencium leher Clara, dia berkata pada dirinya sendiri, "maaf, Ra. Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu sebelum kau resmi menjadi milikku! "


Clara merasakan nikmat yang luar biasa dari perlakuan Sean padanya. Sedikit demi sedikit hasratnya terobati berkat Sean hingga akhirnya dia tertidur pulas di dalam dekapan Sean.


"Akhirnya kau bisa tertidur, Clara sayang." gumam Sean.


Sean beranjak dari tempat tidur dan segera mencari pakaian ganti untuk Clara.


"Mm.. Sepertinya ini sangat cocok dengan kulit putihmu, Ra. " Sean memegang jumpsuit sabrina casual celana pendek berwarna dark blue yang sesuai untuk Clara.


Sean berjalan keluar kamar dengan bertelanjang dada. Terlihat penjaga sedang berjaga-jaga di sekitar kamar.


"Penjaga! " teriak Sean.


"Ya, tuan Sean. " penjaga itu menghampirinya.


"Tolong panggilkan pelayan wanita untuk segera datang ke sini! "


"Baik, tuan. "


Penjaga itu pergi. Sean berdiri di depan pintu kamar menunggu kedatangan pelayan wanita sambil merokok.


"Seharusnya aku bisa meniduri Clara tapi aku tidak bisa membuatnya kecewa dan putus asa! Aku akan melamarnya kelak! " sambil menikmati setiap hembusan rokok, dia berpikir tentang Clara.


Dan dalam dua menit, penjaga itu kembali bersama dengan seorang pelayan wanita.


"Tuan, saya sudah membawa seorang pelayan wanita. "


"Kerja bagus. " puji Sean. "Siapa namamu? " tanya Sean kepada pelayan wanita itu.


"Nama saya Naomi, tuan. "


"Baiklah, sekarang ayo ikut aku masuk! " Sean berjalan masuk ke dalam kamar dengan diikutin oleh Naomi. "Lihat wanita yang sedang tidur itu! Namanya Clara. Dia adalah tunanganku. Mulai sekarang kau kupercaya untuk melayaninya! "


"Baik, tuan. "


"Sekarang tolong kau gantikan pakaian Clara dengan baju yang telah kusiapkan itu. Jangan sampai membangunkannya! "


"Saya mengerti. "


"Setelah selesai, temui aku di luar kamar! "


Sean pergi meninggalkan Naomi. Dia berdiri di depan pintu kamar.


Tap tap tap


Seseorang berjalan mendekat. Sean mencari arah sumber suara itu.


"Tuan Sean? " Sapa suara itu.


Sean menoleh dan dilihatnya tuan Ricky sedang berjalan menghampirinya.


"Oh, kau rupanya! "


"Ya, tuan. "


"Ada apa? Mengapa kau tidak ikut ke ruangan tuan Santo? "


"Tuan Santo menyuruh saya untuk memberikan ini kepada anda! " tuan Ricky menyodorkan plastik putih yang terbungkus rapih dan masih disegel.


"Apa ini? "


"Tuan Santo berkata, anda akan segera tahu jika membukanya! "


"Ya. "


"Saya pamit, tuan. Saya akan kembali ke ruangan tuan Santo. "


"Baiklah. Terimakasih."


Sean memasukan barang yang tadi dibawa oleh tuan Ricky ke dalam saku celananya.


Brak


Pintu kamar terbuka dan Naomi muncul.


"Tuan, tugas saya sudah selesai. Apakah ada hal lain lagi yang harus saya lakukan? "


"Saat ini cukup. Kembalilah beristirahat. Saat nona terbangun nanti, kau harus berada di sampingnya. "


"Saya mengerti. Saya mohon diri, tuan. "


Setelah Naomi pergi, Sean masuk ke dalam kamar. Dibukalah bungkus itu dan..


"Apa ini? " Sean melihat beberapa butir kecil obat berwarna putih di dalamnya.


Kring kring. Ponsel Sean berdering.


"Ya, Will! " sapa Sean.


"Aku sudah mendengar kabar tentang Clara. Apakah kau menjaganya dengan baik? "


"Ya, seperti yang kau tahu bagaimana karakterku! "


"Aku percaya padamu. Karena itu, dokter pribadiku telah meresepkan obat untuk Clara. Apakah kau sudah meminumkannya? "


"Oh, kalau begitu aku merepotkanmu kali ini! "


"Minumkanlah obat itu setiap empat jam dan pastikan beri dia air mineral hangat! "


"Oke. Terimakasih, Will. "


"Jangan sungkan. " jawab William. "Aku akan mengurus ******** itu dan pastikan aku mendapatkan kabar bagus tentang Clara dalam sepekan ini. "


"Apa yang kau... "


Belum selesai berbicara, William sudah memutuskan jaringan teleponnya.


"Apa arti dari perkataan seorang William? " Sean bingung.


Tanpa pikir panjang, Sean langsung mengambilkan air hangat untuk Clara.


"Bagaimana aku meminumkannya pada Clara yang sedang tertidur? " Sean kebingungan. "Bagaimana jika dia tidak menelan pilnya? "


Sean berinisiatif untuk meminumkan obat itu langsung dari mulutnya sendiri.


"Mm.. Muuuaahh.. " Sean memasukan obat untuk Clara dari mulutnya. "Telanlah obat itu, Ra. Kau akan membaik! "


Sean merapihkan kembali obat Clara dan menyimpannya dengan baik. Lalu dia segera berbaring di samping Clara. "Tidurlah. Aku akan menjagamu! "


Mountainview, California


Kamar Tuan Nikko


Tok tok tok


"Tuan, bolehkah saya masuk? " tanya pemilik suara itu yang tidak lain adalah Pingkan.


"Ya! " jawab tuan Nikko dengan dingin.


Ceklek. Pintu kamar tuan Nikko terbuka. Terlihat tuan Nikko sedang berdiri di depan jendela kamarnya dengan mengenakan jubah mandinya.


"Benarkah anda memanggil saya, tuan? "


"Ya. Buatkan saya secangkir piccolo. "


"Ya, tuan. "


Pingkan keluar dari kamar tuan Nikko menuju ke dapur.


Drrrtt drrrttt..


Ponsel tuan Nikko bergetar. Terdapat satu pesan yang masuk dan berasal dari tuan Malik.


Tuan muda.


Point pertama yang anda berikan sudah selesai.


Tuan Nikko tersenyum membaca pesan itu. "Baiklah, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam! "


Tuan Nikko melihat ke arah luar jendela. Pikirannya melayang membayangkan wajah Alicia.


"Tuan, piccolo anda sudah siap. " ujar Pingkan membuyarkan lamunan tuan Nikko.


"Ma.. af, tuan. " Pingkan menundukan kepalanya.


"Ketuklah pintu terlebih dahulu. Taruh cangkir itu di atas meja kecil dan Kemarilah! "


Pingkan berjalan mendekat. Srakk. Dengan kasar, tuan Nikko merobek pakaian yang dikenakan Pingkan.


"Tuan? "


Tuan Nikko melotot melihat wajah Pingkan yang terkejut dengan sikapnya.


"Apakah kau keberatan dengan sikapku? "


"Tentu tidak, tuan. Anda berhak melakukan apapun atas diri saya! "


"Bagus. "


Tuan Nikko melanjutkan aksinya hingga pakaian dalam Pingkan terlihat. Wajah cantik Pingkan tersipu malu.


"Apakah kau makan dengan baik? "


"Tentu, tuan. "


"Pantas saja. Lingkar pinggulmu bertambah. Apakah kau senang tinggal bersamaku di sini? "


"Maaf, tuan. Saya kurang memperhatikan tubuh saya, dan vila yang megah ini sangat nyaman untukku. "


Tuan Nikko memeluk Pingkan. Tangan tuan Nikko meraba bagian tubuhnya. Dibukanya bra wanita itu. Tuan Nikko menatap buah dadanya yang berukuran 40. Dikecupnya bagian tubuh Pingkan secara perlahan.


"Cepat puaskan aku! "


Pingkan membuka jubah mandi tuan Nikko. Dia mulai mencumbu mesra tuannya.


Hosh hosh hosh


Suara nafas tuan Nikko yang tidak sabar melampiaskan nafsunya.


Kring kring..


Suara ponsel tuan Nikko berdering.


"Ya, Malik? "


"Tuan, nona Dylon sudah datang. "


"Suruh dia masuk dan tunggu saya. "


Tuan Nikko segera beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Pingkan yang masih terbaring tanpa mengenakan apapun.


"Tuan, kita belum selesai. "


"Aku kedatangan tamu. Cepat berpakaian dan siapkan kamar juga hidangan untuk makan malam. Menunya adalah masakan italia."


"Apakah tamu itu lebih penting dariku, tuan? "


Tuan Nikko berbalik dan mencekik leher wanita itu. "Jangan menguji kesabaranku! Cepat bantu aku berpakaian!"


Tuan Nikko segera memilih pakaian casual. Blazer berwarna biru navy dipadu dengan kaos putih dan jeans hitam. Dan tentunya sepatu slip on yang senada dengan jam tangan berwarna hitam yang limited edition membuatnya terlihat sempurna.


"Sudah selesai, tuan. "


"Pergilah! "


Pingkan tidak berani bertanya lebih banyak kepada tuan Nikko. Dengan patuh dia pergi meninggalkan tuan Nikko.


Beberapa hari yang lalu, tuan Malik menghubungi nona Dylon atas permintaan tuan Nikko untuk mengundangnya ke vila miliknya. Entah untuk tujuan apa, namun pastinya tuan Nikko memiliki tujuan di balik rencananya kali ini!


Ruang tamu


Nona Dylon sedang memandangi sebuah lukisan seorang wanita berambut panjang yang memakai dress pantai gaya bohemia model halter yang memamerkan punggung cantiknya. Wanita itu berjalan di pantai dengan senyum manisnya.


"Selamat datang di Vilaku yang sederhana, darling! " Tuan Nikko memberi ucapan selamat datang kepada nona Dylon sambil mengecup pipinya. "Aku sangat rindu padamu! " ucap tuan Nikko pelan.


"Haahaa, Inikah yang kau sebut sebagai sederhana? " nona Dylon bertanya sambil melihat ke sekelilingnya. "Aku sangat mengagumimu, Nik! "


"Yes, sama seperti aku mengagumi vilamu di Stanford! "


Tuan Nikko memeluk nona Dylon sambil mencium bibir seksinya.


"Muahh.. Muaahhh.. " suara tuan Nikko yang bergairah.


"Mm.. Mm.. " nona Dylon membalas ciuman tuan Nikko.


Mereka tidak menyadari kehadiran Pingkan. Dengan kesal, Pingkan menggenggam tangannya. "Wanita rendahan mana lagi yang berkencan denganmu, Nik? "


Nona Dylon menyadari keberadaan Pingkan yang sedang berdiri di sudut ruang tamu. Dia berhenti mencium tuan Nikko.


"Kenapa kau berhenti? "


"Nik, siapa dia? Apakah dia adalah salah satu selirmu? " nona Dylon bertanya. Wajahnya terlihat sinis.


Tuan Nikko segera berbalik dan melihat seseorang yang dimaksudkan nona Dylon adalah Pingkan.


"Oh, dia adalah salah satu pelayan di vilaku. Apakah kau cemburu? "


"Apakah pelayan wanitamu berpenampilan seperti ini? "


Tuan Nikko sangat kesal dan bertanya pada Pingkan, "Apakah makan malam sudah siap? "


"Ya, tuan. Silahkan.. " jawab Pingkan.


"Mari kita nikmati hidangan makan malam. Jangan sampai moodmu terganggu karenanya! "


"Baiklah. "


Tuan Nikko menggandeng tangan nona Dylon dengan mesra. Setelah sampai di ruang makan, pelayan menyiapkan kursi untuk nona Dylon.


"Silahkan, nona! "


"Terimakasih. "


"Makan malam ini dimasak oleh koki ternama yang berasal dari italia. " tuan Nikko memberitahukan.


"Apakah kau menyelidiki kehidupanku? "


"Haha.. " tuan Nikko tertawa kecil. "Aku harus tahu apa yang disukai dan tidak dari pacarku! "


"Hah? Siapa yang kau anggap pacar? "


"Tentu nona cantik di hadapanku ini! "


"Kau bahkan belum menyatakan cintamu padaku! "


"Baiklah, apakah perlu tindakan kekanakan seperti itu jika kita sudah dewasa? "


"Ya, sebagian besar wanita menginginkan suasana romantis! "


"Aku tidak suka membual tapi bersikap adalah gayaku! "


"Tidak bisakah kau bersikap romantis sedikit saja padaku? " nona Dylon menggerutu sendiri.


Nona Dylon terdiam. Dia tahu bahwa tuan Nikko tidak suka berbasa-basi. Dia teringat dengan kejadian nona Rose. Begitu tuan Nikko tidak menyukai sesuatu atau seseorang, dia akan segera menyingkirkannya. "Aku harus menahan mulutku agar tidak menyakiti perasaannya! "


"Mari makan makananmu. " tuan Nikko mencoba tidak terpancing emosi dengan perkataan nona Dylon.


Mereka menikmati hidangan yang luar biasa malam ini dengan sedikit candaan. Mereka tertawa bahagia tanpa gangguan dari Pingkan atau yang lainnya.


Ruang jaringan Zero, lantai tiga


Bip bip biiiiipppppp.


"Suara apa itu? " tanya Andrew.


"Oh tidak! " teriak Tan Shi.


"Ada apa? "


"Signal dari B Cyber menghilang! "


"Apa katamu? "


"Coba kau lihat ini! "


Andrew berjalan menghampiri Tan Shi. Mereka melihat lokasi terakhir B Cyber. "Cepat panggil tuan Malik! " seru Andrew.


Seorang kru segera menelepon tuan Malik. "Tuan ada masalah. Mohon anda segera ke sini! "


"Baik. " jawab tuan Malik dengan cepat.


Mereka masih mencoba menghubungi B Cyber. Mereka berpikir bahwa Dido telah tertangkap oleh lawan.


Brak. Pintu ruangan terbuka. Tuan Malik masuk ke dalam ruangan itu.


"Apa yang terjadi? " tanya tuan Malik dengan panik.


"Kami kehilangan signal B Cyber! " jawab Andrew.


"Maksudmu adalah? "


"Ya, tuan. Lokasi terakhir B Cyber berada di titik merah ini! " Tan Shi menjelaskan sambil menunjuk letak titik merah di komputernya.


"Bagaimana bisa dia menghilang? Kecuali tertangkap! " Tanya tuan Malik.


"Benar, tuan. Itu juga menjadi opini kami saat ini! " jawab Tan Shi.


*Malibu Beach Club


Kamar Clara*


Uhuk.. Uhukk.. Clara bangun dari tidurnya karena terbatuk. Sean sontak terbangun.


"Clara? Apakah kau baik-baik saja? " tanya Sean dengan khawatir. "Aku akan mengambilkan air mineral hangat untukmu! "


Sean bergegas mengambil air hangat dan meminumkannya pada Clara.


"Minumlah dengan pelan! " Sean berkata dengan lembut.


Gluk gluk gluk.. Clara meminumnya dengan perlahan.


"Apakah kau lapar? "


Clara hanya diam.


"Baiklah. Aku tidak akan banyak bicara! "


Clara kembali diam dan menatap Sean. Menatap dengan pandangan yang kosong. Sean mengelus rambutnya.


"Ra, bicaralah! Aku sangat takut! "


Clara tetap terdiam. Air matanya kembali berjatuhan. Sean memeluk erat Clara dan mencium keningnya.


Sean menyandarkan dirinya di tempat tidur dengan bersandarkan dua bantal dan masih memeluk Clara di dadanya. Mereka berduapun tertidur.