
Pt Fantastic Prima, Indonesia
Saat ini, tidak ada satupun kata yang dapat mewakili perasaan tuan Adit setelah melihat video di laptopnya tuan Malik. Ya, video yang memperlihatkan anak gadis satu-satunya sedang bersama dengan tuan muda Nikko di kediamannya yaitu di Amerika. Sedih bercampur senang. Entah beliau harus merasakan senang atau sedih.
Tuan Adit beranjak dari posisi duduknya dan dengan cepat mendekati tuan muda Nikko.
Brak! Tuan Adit meraih kerah baju tuan muda Nikko dan mendorongnya ke dinding. " Kau.. Kau anak kurang ajar! Sepertinya pepatah yang mengatakan air susu dibalas dengan air tuba sangat cocok melekat di dirimu! "
"Tuan! Cepat lepaskan tangan anda dari tuan muda Nikko! " Dengan cepat, tuan Malik segera meraih tangan tuan Adit yang sedang mencengkram kerah baju tuan muda Nikko, namun usahanya tidak berhasil. Bahkan tuan Adit mencengkram lebih kuat.
Tuan muda Nikko mengangkat tangan kanannya memberi perintah kepada tuan Malik agar tidak ikut campur. Dan tuan Malik segera menjauh dari mereka berdua.
Dengan wajah geram tanpa mempedulikan kata-kata tuan Malik, beliau bertanya "Benarkah Alicia tinggal bersama denganmu? Bagaimana kabarnya? Bawa saya bertemu dengannya! "
"Jangan macam-macam dengan saya,paman! Atau Alicia tidak akan aman! " Ancam tuan muda Nikko. "Saya tidak pernah menjilat ludah saya sendiri! "
"Saya tidak takut ancaman apapun! " Jawab tuan Adit. Beliau mempererat tekanan di kerah baju tuan muda Nikko.
Tuan Adit tidak berhenti menatap video itu. Sesaat tuan muda Nikko tersenyum puas karena misinya terpenuhi.
"Cepat lepaskan tangan anda, paman! " Pinta tuan muda Nikko. "Malik? Tutup videonya sekarang! "
"Tidaaakk!!! " Tuan Adit berteriak.
"Sudah cukup! Tidak ada tawar menawar dengan saya! " Tuan muda Nikko tidak bisa menahan emosinya. "Ehm.. Uhuk.. Uhuuk.. " Tuan muda Nikko terbatuk.
"Kau menyakitinya, Adit! " Tuan Putra berteriak. "Ingatlah dia masih keponakanmu! " Tuan Putra mengingatkan status tuan muda Nikko yang masih satu keluarga dengan tuan Adit.
"Baiklah. " Tuan Adit hanya bisa pasrah. Beliau melepaskan tangannya dan menjauh dari tuan muda Nikko. "Dan yang perlu diingat secara garis besar adalah di dalam darahnya tidak mengalir darah keluarga Atmadja! "
Setiap orang di ruangan itu hanya terdiam. Tidak ada yang berani melontarkan pertanyaan atau statement apapun. Mereka sangat terkejut dengan status tuan muda Nikko di keluarga Atmadja.
"Sial!! Mengapa tuan Adit menghinaku di hadapan banyak orang! " Tuan muda Nikko membenci tuan Adit dalam hatinya atas penghinaan yang ia terima. "Kau harus membayarnya! " Tuan muda Nikko mengancamnya dalam hati.
"Lalu bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia makan dengan baik? Apakah dia.. " Tuan Adit menyerang tuan muda Nikko dengan beberapa pertanyaan.
"Oww.. Wah.. Wah.. Santai paman! " Dengan cepat tuan muda Nikko menyela setiap pertanyaan tuan Adit. "Ma.. Lik! " Panggil tuan muda Nikko.
"Ya, tuan? " Sahut tuan Malik.
"Jalankan rencana B! "
"Baiklah, tuan muda! "
Tuan Malik mendekati tuan Adit dan berbicara dengan nada penuh ancaman di telinganya. "Tuan, anda tidak ingin kehilangan orang terdekat lagi, bukan? "
Tuan Adit menoleh pada tuan Malik. "Maksudmu? "
"Apakah anda menerima hadiah dari tuan muda Nikko saat rapat tadi pagi? "
"Hah? Jadi itu ulahmu, Nikko? "
"Apakah hadiah itu belum cukup, paman? " Tanya tuan muda Nikko dengan senyum yang terlukis di bibirnya.
"Jika anda tidak menjaga sikap, anda harus mempersiapkan satu makam untuk nona Alicia! " Tuan Malik menjelaskan.
Mendengar penjelasan yang keluar dari mulut tuan Malik, tuan Adit merasakan tamparan yang luar biasa. Tubuhnya mendadak kaku dan batinnya bergejolak. "Apakah kau yang melakukannya? "
"Ada apa, tuan? " Adam yang hanya diam, akhirnya angkat bicara.
"Farhan tewas di Jepang. " Jelas tuan Adit.
"Bagaimana bisa? Bukankah keamanan tuan Liuliu nomor satu di Jepang? " Tanya Adam.
"Nomor satu di Jepang bukan berarti nomor satu di dunia! Bukankah begitu, paman? " Lagi-lagi tuan muda Nikko tersenyum di atas penderitaan tuan Adit.
"Apakah kau juga dalang di balik kematian istri saya dan tuan Leo? "
"Jika ya, Apakah anda pikir saya akan segera merasa puas hanya dengan kematian mereka? " Tanya tuan muda Nikko sambil merapihkan bajunya. "Dan jika tidak, Apakah kau percaya jika saya tidak hanya menginginkan kematian mereka? Melainkan kematian anda juga! "
"Hah? Kau sangat kejam, Nikko. Selama ini, saya selalu berpikir bahwa kau adalah anak yang baik sesuai dengan pemikiran Alicia! Tapi ternyata Alicia sudah salah menilaimu! "
"Haha.. " Tuan muda Nikko tertawa keras. "Maafkan saya telah mengecewakan anda, paman! " Tuan muda Nikko melipat kedua tangannya. "Dan yang dipikirkan Alicia tentang saya, tidak semuanya salah. Sayalah yang selalu bersama dengan dia hingga hari dimana dia tersadar dari tidur panjangnya! "
"Jadi, kau sudah merencanakan ini semua? "
"Ya! Sayalah yang mengatur semua dan jangan terkejut jika suatu saat nanti tibalah acara pertunangan saya dengan Alicia! Tidak lama setelah acara itu, saya akan segera menikahinya! "
Tuan muda Nikko berkata dengan penuh percaya diri. Dan saat itu juga, hati tuan Adit tertusuk dan terluka begitu dalam.
"Saya tidak percaya kau telah berubah menjadi seorang yang lebih kejam bahkan binatangpun tidak lebih buas daripada kau! " Tuan Adit tidak ingin hal ini menjadi fakta. "Ya Tuhan! Hal apa yang telah kulakukan di masa lalu hingga aku tertimpa karma seperti ini! Aku tidak bisa melindungi istriku, lalu saat ini apa yang harus kulakukan agar anakku bisa tetap hidup? Tolong aku, Tuhan! " Tuan Adit mulai menitikan air matanya. Perasaan menyesal menghantui hatinya.
Tuan Heidy tidak bisa membantu apapun. Hati beliau teriris melihat sahabatnya dalam keadaan seperti itu!
"Tuan muda? " Panggil tuan Heidy.
"Ya? "
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan dengan tuan Adit? " Tuan Heidy berusaha diam-diam membantu tuan Adit.
"Kesepakatan apa yang menurutmu cocok untuk pamanku ini? "
"Menurut saya lebih baik meminta beberapa persen saham perusahaan darinya! "
"Haha.. Kau pikir semudah itu! " Sanggah tuan muda Nikko. "Saya akan meminta lebih dari itu! "
"Nikko, bisakah saya bertemu dengan Alicia?" Pinta tuan Adit.
"Tidak! "
"Mengapa? "
"Percuma saja anda bertemu dengannya! "
"Ada apa? "
"Sejak hari itu, dia kehilangan ingatannya! "
"Hah? Jangan menipu saya, Nikko! "
"Haha, dengan keadaan seperti ini, memudahkan langkah saya untuk menikahinya! "
"Tidaaaakkk! " Tuan Adit berteriak.
"Apakah anda tidak merestui pernikahan kami, paman? " Tanya tuan muda Nikko dengan tatapan dingin. "Seperti yang tadi telah anda singgung, bahwa saya tidak memiliki hubungan darah dengan kalian, keluarga Atmadja yang terhormat! Maka sangatlah wajar bila saya menikahinya dan semua orangpun akan tahu fakta tentang diri saya, paman!"
"Yogi sudah pasti salah mendidikmu! "
"Jangan bawa-bawa nama ayah saya, paman! " Tuan muda Nikko menatap penuh amarah kepada tuan Adit.
"Sejak kapan kau berubah menjadi manusia berdarah dingin seperti ini, Nikko? "
"Sejak beberapa tahun belakangan ini, lebih tepatnya sejak kalian memisahkan saya dari Alicia! "
Tuan Malik berjalan mendekati tuan muda Nikko dan berbisik, "Tuan muda, saatnya sudah tiba! Semua sudah siap! "
Tuan muda Nikko mengangguk dan berjalan mendekati tuan Adit. "Bagaimana paman, siapkah anda dengan kesepakatan kita? "
"Bahkan kita belum membuat kesepakatan apapun! " Jawab tuan Adit geram.
"Jangan menguji saya, paman! Saya tidak memiliki banyak kesabaran. "
"Katakan apa maumu? "
"Itulah kata yang ingin saya dengar dari mulut anda! " Tuan muda Nikko tersenyum. Senyum penuh kesenangan. "Relakah anda mengorbankan diri anda sendiri untuk Alicia? "
"Maksudmu? "
"Ehm.. " Tuan muda Nikko berdehem lalu beranjak ke dekat jendela ruangan tuan Adit dan membuka jendela tersebut.
Krek! Suara jendela terbuka.
"Belum mengertikah anda dengan ucapan saya? "
Hati tuan Adit bergetar. "Ya Tuhan, apakah Nikko menginginkan aku mengorbankan nyawaku sendiri? "
"Paman? "
Tuan Adit menatap tuan muda Nikko. "Kau ingin saya melompat dari jendela itu? "
"Haha.. anda sungguh hebat membaca pikiran saya, paman! "
Betapa kagetnya tuan Putra dan tuan Heidy mendengar jawaban Nikko.
"Dengan begitu, berita yang tersebar adalah anda yang sedang dilanda frustasi karena beratnya tanggungjawab di perusahaan dan terlebih lagi anda tidak berhasil menemukan Alicia! " Tuan muda Nikko menjelaskan. "Dan Alicia akan aman berada di tangan saya. Jangan khawatir, saya akan membahagiakannya! "
"Bagaimana saya bisa mempercayaimu, Nikko? Katakan bagaimana seorang sepertimu bisa membahagiakannya? "
"Anda jangan khawatir, paman! Saya harap andapun sadar bahwa selama ini, anda dan istri tercinta anda telah menelantarkannya. " Terlihat jelas di wajah tuan muda Nikko yang sangat membenci tuan Adit. "Anda dan ayah kandung saya adalah orangtua yang tidak memperlakukan anak dengan baik. Kalian membuang kami seperti sampah!" Tuan muda Nikko melihat ke arah tuan Malik. "Bukankah begitu, Malik? "
"Tuan muda sangat mengerti perasaan nona Alicia! "
"Jangan khawatir, paman. Saya akan mengajak Alicia ke makam anda.. Dia akan merasa nyaman dengan saya daripada bersama dengan ayah kandung yang selalu membuatnya merasakan kesepian!" Tuan muda Nikko melanjutkan perkataannya.
Pikiran tuan Adit sangat kacau. Apa yang harus beliau lakukan? Hal baik apa yang akan terjadi dengan anak gadisnya, jika beliau pergi meninggalkannya? Dan hal buruk apa yang akan menimpanya? Pikiran-pikiran itu berkecamuk di benaknya hingga beliau tidak bisa berpikir dengan baik.
"Tidaaakkk! Jangan melompat, paman! Pasti ada cara lain untuk masalah ini! " Adam menenangkan tuan Adit.
Tuan Malik memperhatikan gerak-gerik tuan Adit. Dalam hatinya berkata, "Tuanku sangat pandai menghancurkan dinding pembatas pertahanan tuan Adit yang selama ini sudah dibangunnya dengan susah payah. Hanya dengan menghancurkan pemikiran sang pemilik tubuh, rasa putus asa sudah menghampiri si pemilik tubuh dan rencana yang sudah disusun dengan sedemikian rapihnya akan segera terlaksana! "
Penantian tak berujung namun aku tidak pernah meragukan kata hati untuk terus melaju ke arah kebahagiaan!
Karena setiap manusia berhak bahagia!
Aster Village, Inggris
Kring kring. Ponsel tuan Santo berbunyi.
"Ya? Sean ada apa? "
"Apakah anda sudah sampai, tuan? "
"Saya baru saja tiba sekitar tiga puluh menit yang lalu. " Jawab tuan Santo.
"Tuan, apakah William sudah membaik? "
"Saya belum tahu pasti ada apa? "
"Sepertinya terjadi hal yang tidak baik. "
"Katakan! Ada apa? "
"Nikko sedang berada di dalam ruangan tuan Adit bersama dengan Adam dan tuan Malik. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Mereka sudah sembilan puluh menit berada di sana! "
"Saya memiliki firasat buruk tentang ini! "
"Ya. Begitupun dengan saya, tuan. Sebaiknya apa yang harus saya lakukan? Tolong cepat sadarkan William! "
"Saya akan berusaha. Sekarang sebaiknya kau bersiap untuk menyerang! "
"Oke, tuan. "
Sean menutup teleponnya.
"Aaaaaaaaa..... " William berteriak membuat tuan Santo terkejut. Beliau segera berlari ke kamar William.
"Ada apa, dokter? " Tuan Santo bertanya kepada dokter keluarga yang menjaga tuan muda William, dokter Joey.
"Seperti yang kita ketahui, bahwa tuan muda memiliki trauma dalam gelap dan halusinasi tinggi akibat kehilangan kendali dirinya. Ya, tuan muda masih tidak bisa menerima fakta kehilangan nona Alicia di sisinya. "
"Maksud anda adalah tuan muda sangat rapuh tanpa nona Alicia? "
"Bisa dikatakan demikian. Bahkan tuan muda belum mampu mengendalikan dirinya sendiri! Dan saat ini, saya pastikan ia sedang bermimpi buruk! "
"Lalu? Apa yang sebaiknya kita lakukan? "
"Saya akan berbincang dengan Louis, pakar psikologi yang juga merupakan teman kuliah tuan muda.
"Saya harap dia bisa membantu tuan muda kami dan mengeluarkannya dari zona ketidaknyamanan ini! "
"Saya akan menghubunginya dan memintanya untuk segera datang ke sini. "
"Silahkan! "
Dokter Joey berjalan keluar sambil meraih ponselnya dan menelepon seseorang. Sedangkan tuan Santo masih berada di kamar tuan muda William untuk memeriksa suhu tubuh dan menyiapkan segala keperluan tuan muda William.
Mountainview, California
Sore ini, aku melukis di taman bunga tulip ditemani oleh nona Dylon. Lalu ada satu pertanyaan yang diajukan nona Dylon padaku yang aku tidak bisa menjawabnya.
"Nona.. " Panggil nona Dylon.
"Ya? " Dengan malas, aku menjawabnya tanpa menoleh.
"Bolehkah saya bertanya? "
"Silahkan! "
"Apakah anda mencintai tuan muda? "
Aku berhenti sejenak dari kegiatan melukisku. "Maksudmu adalah? " aku menarik nafasku dan menghembuskannya dengan kesal. "Aku tidak pantas untuknya? "
"Bu.. Kan! Bukan seperti itu? " Sangkalnya.
"Lalu? " Aku menatapnya dengan sinis. "Jika kau memiliki perasaan padanya, lebih baik kau sampaikan secara langsung dan jangan membuat dirimu menyesalinya! "
"Ti.. Dak! Ti.. Dak, nona! " Dengan panik dia menjawab. "Saya hanya..? "
"Hanya apa? Katakanlah! "
"Saya hanya penasaran, bagaimana rasa itu tumbuh di antara kalian karena tuan muda sangat peduli dengan anda dan segala sesuatu tentang anda! "
"Oh? Itu adalah urusan pribadi kami. Lebih baik, kau memikirkan dirimu sendiri! "
"Maaf, nona. Saya benar-benar minta maaf. " Nona Dylon meminta maaf padaku dengan raut muka penyesalan yang tersirat di wajahnya. Setelah perbincangan itu, Kamipun merasa canggung satu sama lain.
Nona Dylon duduk mendekatiku. "Nona, ada sesuatu hal yang ingin saya tunjukan pada anda. "
"Apa? "
"Lihatlah! Lukisan anda mirip dengan salah satu lukisan di album galeri saya. " Nona Dylon memberikan ponselnya padaku.
"Memang benar seperti perkataannya. Ada salah satu lukisan dengan simbol W&A. Entah apa arti dari simbol itu. Apakah itu adalah singkatan dari nama si pelukis ataukah ada suatu makna di baliknya? "
"Nona? "
"Ya? "
"Mengapa anda terdiam? "
"Tidak! Saya seperti mengenali lukisan ini! Tapi entah dimana! "
"Ini adalah lukisan dari salah satu pelukis di negara asal saya, nona! Meskipun pelukis itu tidak terkenal namum hasil karyanya sangat indah dan mengagumkan."
"Dari negara mana kau berasal? "
"Apakah anda lupa, nona? Saya berasal dari negara yang sama dengan anda! Negara Indonesia. "
Aku terdiam dengan perasaanku yang berkecamuk. "Aku tidak mengingat apapun, selain Nikko. "
"Maafkan saya, nona. Jika anda mau, saya akan membantu anda untuk mengingatnya kembali. "
"Apakah kau yakin? Apakah kau mengenal saya dengan baik? "
"Ya, saya tahu semua tentang anda! "
Aku meragukan ucapan nona Dylon tetapi aku sangat penasaran dengan diriku.
"Lihatlah, nona! " Nona Dylon menunjukan sebuah foto.
"Siapa? "
"Mereka adalah kedua orangtua anda. "
Aku berpikir keras untuk mengingat mereka. Namun tiba-tiba kepalaku sakit. "Owhhh.. "
"Mengapa anda merintih, nona? Apakah kepala anda terasa sakit lagi? "
"Ya... "
"Jangan keras kepada diri anda. Mulailah mengingat dengan perlahan! "
"Ya.. " Aku memegang keningku. "Tolong kirimkan foto ini ke ponselku! "
"Apakah anda yakin, nona? "
"Ya.. "
Setelah selesai mengirimkan foto itu, nona Dylon kembali menemaniku melukis hingga selesai.
"Lukisan saya sudah selesai. Bagaimana menurutmu? "
"Wowww! Luar biasa.. Sangat indah."
"Terimakasih. "
"Bolehkah saya izin untuk memotretnya, nona? "
"Silahkan. Tapi jangan kau jual kepada siapapun! "
"Ya, nona. "
Nona Dylon memotret lukisanku yang tema 'Langit'.
"Aku akan mengirimkan potret lukisan ini kepada tuan muda William. Semoga saja dapat membantu tuan muda menghapus kerinduannya terhadap nona Alicia! " Pikir nona Dylon sambil tersenyum mengingat tuan muda William.
#salamembaca