My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
The Funeral part 2 : meet you there, William!



Ruang keluarga Adit Atmadja


"Selamat datang, tuan Yoga! " Paman Kenan memberi salam.


Tuan Yoga datang beserta dengan para pemegang saham Pt Fantastic Prima Indonesia. Diantaranya, tuan Putra, tuan Heidy, tuan Jacob, tuan Deren dan tuan Brata. Mereka adalah para senior di perusahaan tersebut.


Tuan Yoga menggandeng sang istri menghampiri tuan Adit sambil mengucapkan, "Saya atas nama pribadi mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya istrimu, nyonya Alifah. "


"Ya, tuan. Kami turut berduka cita atas meninggalnya istri anda! Semoga istri anda istirahat dalam damai. " Ucap tuan Putra sambil memeluk tuan Adit.


"Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk melayat jenazah istriku. "


Tuan Adit dengan dibantu tuan Kenan melayani para pelayat yang berasal dari relasi bisnis, para sahabat, keluarga dan juga teman-teman nyonya Alifah.


Tuan Yoga memandangi tuan muda William. Tampak raut kebencian menyelimuti wajahnya. Beliau menghampiri tuan muda William, "Hallo tuan muda William! Sepertinya anda datang melayat sendirian. Di manakah kedua orangtua anda? "


"Hallo tuan Yoga, lama tak berjumpa. Saya datang mewakili keluarga Alexander. Sepertinya anda sangat tertarik dengan keluarga saya? " Tuan muda William berkata sinis.


Tuan Yoga kebingungan untuk menjawabnya. Anak muda ini, belajar dari mana bisa mengeluarkan kata-kata yang menusuk seperti ini! "Haahaa, siapa yang tidak tertarik dengan keluarga Alexander yang super power di negara kita ini! "


"Yaa, saya akui. Keluarga saya sangat berpengaruh di negara ini. Karena sebagian besar perekonomian berasal dari bisnis kami dan sebagian besar lapangan pekerjaan berasal dari kami pula! " Tuan muda William berkata dengan sangat tegas dan lugas. "Tentunya siapa yang berani menyentuh keluarga kami, tidak akan bisa tidur dengan nyenyak! Sebelum kami membantai habis para penjilat, sebaiknya anda hati-hati mengambil langkah! "


Tuan muda William memperhatikan dengan teliti ekspresi dari tuan Yoga Atmadja yang terlihat sangat tersinggung dengan ucapannya.


"Kalau begitu, saya permisi tuan. " Tuan muda William meninggalkan tuan Yoga yang sedang mengepalkan tangannya seraya menahan marah.


Tuan muda William berjalan menghampiri tuan Adit yang sedang memperhatikan ponselnya. "Apakah anda sedang menunggu telepon dari seseorang, tuan? "


"Ya, saya sedang menunggu kedatangan Alicia. "


"Apakah dia akan kembali? "


"Tentu! Saya sudah mengirimkan orang untuk menjemputnya. " Tuan Adit menatap cemas kepada tuan muda William. "Sepertinya saya akan merepotkan kamu lagi, Will! Tolong jaga putriku! Jauhkan dia dari keluarga Yoga. "


"Saya akan melindunginya, tuan. Jangan khawatir dan mohon anda memperhatikan kesehatan anda! "


"Terimakasih, Will! "


Parkiran mobil keluarga tuan Adit


"Cepat, Ris! " Anggun menarik tangan Erisa. Mereka berdua memasuki kediaman keluarga tuan Adit.


"Apakah Alicia akan datang? " Tanya Erisa.


"Semoga saja.. "


Erisa dan Anggun berjalan mendekati jenazah nyonya Alifah. Erisa membuka penutup wajahnya.


"Ohh, astaga! Wajahnya sangat pucat pasi." Erisa tersentak kaget. Dia berbicara pada dirinya sendiri.


"Ayo kita menghampiri tuan Adit! " Anggun mengajak Erisa pergi mencari tuan Adit.


Mereka berjalan menyusuri ruang tamu. Tuan Yoga berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke halaman depan kediaman keluarga Atmadja sambil menelepon.


"Segera kirim orang untuk menghancurkan saham keluarga Alexander sore ini! " Perintah tuan Yoga Atmadja kepada seseorang melalui saluran telepon.


Erisa dan Anggun saling pandang dengan wajah cemas. Erisa membisikan sesuatu ke telinga Anggun, "Sebaiknya kita cepat pergi dari sini! "


Anggun mengangguk, "Ya ! "


Brimma melihat Erisa dan Anggun yang sedang berjalan dengan panik.


"Erisa, Anggun.. Ada apa? " Tanya Brimma.


"Brim, percaya atau tidak kami barusan mendengar seseorang membicarakan keluarga Alexander! " Anggun berkata dengan cemas.


"Ya, kami tidak sengaja mendengarnya dan kami takut ketahuan. "


"Katakan siapa yang membicarakannya? " Brimma meyakinkan mereka berdua agar tidak panik. "Kau harus berbicara pelan agar tidak terdengar oleh siapapun dan aku akan menjaga kalian! "


"Tuan Yoga berbicara di telepon untuk mengirimkan orang menghancurkan saham keluarga Alexander sore ini! " Anggun berbisik ke telinga Brimma.


Brimma terdiam. "Tidak disangka tuan Yoga berani menyentuh keluarga Alexander." Pikir Brimma.


"Oke, terimakasih untuk informasinya. Aku akan mengirimkan orang untuk menjaga kalian. "


Brimma segera mencari Sean dan William. Dia juga menelepon beberapa pengawal untuk menjaga Anggun dan Erisa.


Jenazah nyonya Alifah akan segera berangkat untuk dikebumikan. Semua sudah siap. Semua orang berpakaian hitam dan memberikan penghormatan terakhir untuk nyonya Alifah. Mobil yang membawa jenazah telah berangkat diiringi dengan beberapa mobil yang mengikutinya. Tuan Adit tampak cemas. Beliau memikirkan Alicia yang belum tiba.


Diamond Castle, Inggris


Hari ini adalah hari pernikahan Tuan Hubbert dengan nyonya Emily Sonata. Yaa, Clara sangat bersedih.


"Ayah tentu sudah melupakan ibuku. Aku tidak akan membiarkan wanita iblis itu merebut posisi ibuku di hati ayah! " Clara mengucapkan janjinya untuk sang ibu.


Semua tamu undangan merasa sangat bahagia dengan pernikahan mereka. Suasana syahdu terasa di ruangan itu. Dengan mengenakan pakaian serba putih, pasangan pengantin itu mengucapkan janji suci di depan penghulu dan para tamu undangan.


Sejak awal acara dimulai, Clara tampak tidak bersemangat, dia hanya duduk diantara tamu undangan dengan perasaan kesal. Dengan cepat, dia mengeluarkan ponselnya. "Halo nona Clara? "


"Pak Randi katakan dimana saudara tiriku sekarang ini? "


"Tuan Morgan entah berada di mana dan tuan Josh sedang duduk bersama tuan Han Liuliu dari Jepang juga tuan George dari Amerika. Mereka duduk di depan sebelah kiri anda, nona. "


"Baiklah. Awasi dia. Bila ada yang mencurigakan segera lapor padaku! "


Clara mematikan sambungan teleponnya dan melirik ke arah Samuel.


Setelah upacara pernikahan selesai, tibalah saatnya jamuan untuk menghormati tamu undangan.


"Selamat, tuan Hubbert. " Tuan Liuliu menjabatkan tangannya. "Selamat menikah dengan nyonya Hubbert. "


"Terimakasih, tuan Liuliu. Terimakasih sudah memenuhi undangan saya. "


"Saya sengaja mengosongkan jadwal khusus untuk anda. "


"Semoga untuk ke depannya, hubungan kita semakin baik. Haaahahaa, silahkan dinikmati hidangannya, tuan Liuliu. Saya tidak ingin mengecewakan anda! " Mereka mengobrol sangat akrab.


Clara melihat Josh berjalan ke arahnya dengan sepasang suami istri yang dikenal Clara. "Inilah adikku, tuan Alexander. " Josh memperkenalkan Clara kepada tuan Samuel Alexander dan nyonya Monica Alexander. "Apakah kau mengenal tuan dan nyonya Alexader saat kau berada di Indonesia? "


"Ya, siapa yang tidak mengenal keluarga Alexander di negara Indonesia! "


"Haaahaaa benar. Nona Clara juga berpartisipasi dalam bisnis pertama anak saya! " Tutur tuan Samuel.


"Oh ya? Bisnis resort tuan muda William maksud anda? "


"Benar, benar. Nona Clara memegang 20% saham di sana. "Tuan Samuel menerangkannya.


"Jika Tuhan berhendak, saya ingin menjadi seperti tuan Alexander suatu hari nanti sangat tegas dan pintar. "


Nyonya Monica menyentuh tangan Clara dan berkata, "kau adalah Clara teman satu sekolah dengan William kan? "


"Ehhh, iya nyonya. Kami teman satu sekolah. "


"Mari pergi minum.. " Ajak nyonya Monica. "Biarkan kami sebagai wanita berbincang bersama. Heeehee.. "


Clara dan nyonya Monica pergi minum bersama. Tinggalah tuan Alexander dan tuan Josh Wellington berbincang hangat.


"Semoga kelak saya bisa bekerjasama dengan anda, tuan Alexander! " Josh berkata dengan tulus.


"Ya, semoga ke depannya hubungan kita selalu baik. " tuan Alexander membalasnya.


Haaahaaa haaahaaa.. Mereka tertawa berbarengan.


Sun Burst Hills, Indonesia


Aku tiba di tempat pemakaman ibu lebih awal dari mereka yang mengantarkan jenazah. Namun, karena masalah keamanan, aku tidak ingin menunjukan kehadiran diriku. Aku berdiri jauh dari tempat pemakaman ibuku bersama dengan Mouran. Para pengawal bayangan yang ditugaskan oleh tuan Han Liuliu berjaga di sekitarku.


Brooom broooom broooooommmm.. Suara mobil pengantar jenazah datang. Begitu banyaknya yang mengantarkan ibuku. Sebenarnya aku sangat ingin melihat wajah beliau untuk yang terakhir kali tapi Mouran selalu mengingatkanku agar menjauh demi keselamatanku sendiri.


Beberapa orang menggotong peti mati ibuku. Dengan sangat hati-hati mereka memasukan peti mati itu ke dalam lubang yang telah dipersiapkan. Aku melihat ayah berjalan bersama tuan muda William.


"Yaa Tuhan, dua orang pria yang kurindukan berada di depan kedua mataku. Ingin rasanya aku berlari dan memeluk ayah, juga William. "


"Maaf, paman. Aku datang terlambat! " Tuan muda Nikko memberi salam pada tuan Adit.


"Terimakasih, Nikko. "


Ayah menoleh ke segala penjuru, seakan tahu keberadaanku. Tapi beliau tidak melihatku. Saat tanah menutupi peti mati ibuku, tak terasa air mataku mengalir dengan deras seperti air terjun dengan bebasnya terjatuh. Aku semakin terisak menangis hingga membuatku sesak nafas.


Mouran memberiku beberapa lembar tisu. "Silahkan hapus air mata anda, nona! "


Aku menarik tisu itu dan segera menghapus air mataku. Aku sangat rindu pada ibuku. "Maafkan aku, ibu. Aku memberikan penghormatan terakhirku untukmu. Istirahatlah dalam damai. Aku dan ayah akan baik-baik saja."


Batu nisan telah terpasang dengan sebagai mana mestinya.


"Sebentar lagi! "


"Kita tidak memiliki banyak waktu! Seperti yang anda lihat, tuan muda Nikko sudah sampai dan kita harus menjaga jarak sejauh mungkin dengannya! "


Ponsel tuan muda William bergetar.


"Ya? "


"Will, aku menemukan Alicia! " Suara Sean terdengar sangat senang.


"Di mana kau? Aku akan ke sana."


Aku berjalan sangat berhati-hati sehingga tidak meninggalkan suara sedikitpun. Mouran menggandeng tanganku. Saat aku keluar dari tempat pemakaman sebelah timur, beberapa orang mencegatku.


"Siapa kalian? " Tanya Mouran.


"Kami tidak ada urusan denganmu! "


"Jika kalian berniat buruk pada nona, itu merupakan suatu urusan denganku! " Mouran berkata dengan sinis. "Nona, tiup peluitnya! "


Aku menganggukan kepala tanda mengerti. "Ya! "


Tuuuuttttt tuuuuutttt.. Suara peluitku berbunyi dan segera datang beberapa pengawalku.


"Kau berdua antar nona kembali ke mobil! "


"Baik, tuan! "


Aku berlari bersama kedua pengawal itu menuju mobil. Ahhh sial! Jaraknya lumayan jauh dan jalanan ini penuh bebatuan. Para pengejarpun semakin dekat.


"Aliciaaaa bodohh ..! "


Siapa yang memanggilku! Aku menoleh ke arah suara itu. Haahhh... Itu.. Itu.. Williamku.


"Lindungi Alicia! " Teriak tuan muda William.


"Baik, tuan muda. "


William menggendongku. "Aduuuh, cepat turunkan aku! "


"Tuan, siapa anda ? Tolong jangan bawa nona. "


"Tenang saja, saya di pihak kalian. Saya telah diberi kepercayaan oleh tuan Adit untuk menjaga nona kecil ini! "


Mereka terus berlari menuju mobil.


"Lindungi tuan muda! " Perintah Sean.


"Buka pintu mobilnya! " Sean berkata.


Braaakkk!


Pintupun tertutup kembali.


"Ayo segera pergi! " Perintah tuan muda William.


"Di mana para pengawalku? " Tanyaku.


Sean mengambil kemudi. Sedangkan aku duduk di belakang berdua dengan tuan muda William. Dia tidak menjawab pertanyaanku, tetapi segera memelukku. Hmmm...


Kata hati William berbicara, "Aku telah lama menunggumu, Al! Aku sangat rindu. Perasaan ini sangat menyiksaku."


"Sampai kapan kau akan memelukku seperti ini, Will? " aku tidak bisa bergerak. "Heiiii, cepat lepaskan aku! Aku tidak kuat lagi.. " Aku memohon pada William untuk melepaskan pelukannya.


Tuan muda William segera melepaskan pelukannya dan menatapku dengan hangat.


Mmm.. Mmuaacchhhh... Mmmuuaachh


"Heiii, kau tidak so.. pan..! "


Aaarrgghhhh! William mencuri ciuman pertamaku!!


Setelah berhenti, tuan muda William kembali memelukku namun kali ini pelukannya sangat hangat.


"Mengapa dia tidak bicara sepatah katapun? Apakah dia marah? " Aku bertanya dalam hati.


"Tuan, mobil yang mengejar kita sudah tidak ada. "


"Baik, kembali ke rencana awal. "


"Ya, tuan! "


Suara William terdengar dingin. Dia membelai rambutku dan berkali-kali mencium rambutku. Dia mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya. Kotak itu berwana merah. Dia segera membukanya.


Haahh.. Itu adalah sebuah cincin berlian. Setelah mengeluarkan cincin itu dari kotaknya, William segera memakaikannya di jari manisku sebelah kiri.


"Ingat untuk tidak melepaskan cincin ini apapun yang terjadi! " Tuan muda William berbisik padaku. "Hanya ini yang bisa kuberikan padamu saat ini. Dan aku berjanji akan melamarmu dengan pantas suatu hari nanti! "


Aku menatapnya dengan bahagia. Aku tidak ingin berpisah darinya lagi.


"Will, segera berpegangan erat. "


"Ada apa? "


"Ada truk melaju kencang dari arah berlawanan! " Teriak Sean.


Tuan muda William segera menarikku ke dalam pelukannya." Yaa Tuhan, tolong lindungi kami!" Aku berdoa dalam hati.


"Al, aku berjanji jika ada kehidupan kedua, aku akan selalu bersamamu baik susah maupun senang! "


Aku mencium pipi tuan muda William dan berbisik, "I LOVE YOU, WILL! "


"Maafkan aku, tuan muda. " Sean berteriak.


Truk itu melaju kencang ke arah kami. Kami berada di atas jembatan. Yaa, di bawah kami terdapat sungai dengan arus yang deras. Sungai tersebut merupakan yang terpanjang dan menuju ke laut.


Sean memilih untuk menghindari truk dengan berbelok ke kiri. Byuuuurrr... Swooosshh..


Meskipun aku ahli renang, tapi aku sangat takut. Aku berusaha untuk berenang menuju ke tepi. Tapi usahaku gagal karena suhu air yang dingin dan derasnya arus membawaku menjauh. Aku tidak melihat William ataupun Sean. "Di manakah mereka?"


Hosshh hosshhh.. Nafasku mulai sesak. Penglihatanku gelap. Tubuhku kaku. Aku tidak bisa merasakan apapun! Yaa Tuhan, apakah aku akan mati? Tidaakk! Aku tidak ingin meninggalkan ayah dan William! Tidaaakk..


Tiga Bulan kemudian


Mountainview, California


"Bagaimana kesehatan Alicia? " Tanya tuan muda Nikko.


"Tekanan darahnya stabil, dan luka di kepalanya berangsur membaik! Anda tidak perlu cemas, tuan! " Dokter Seirra menjelaskan kepada Nikko.


"Selama dia belum sadar, bagaimana mungkin saya bisa hidup tanpa rasa cemas! " Tuan muda Nikko menjawab dengan ketus. "Dan kau, Malik. Bagaimana kau melatih para pengawal yang begitu bodoh??"


"Saya sudah salah menilai mereka tuan. Tolong hukum saya! "


"Aku sudah memperingati kalian berkali-kali agar tidak melukai Alicia! Tapi kalian tetap melakukannya! "


"Tuan, mohon anda menjaga kestabilan emosi anda. Karena nona membutuhkan anda saat dia terbangun nanti! " Dokter Wang menenangkan tuan muda Nikko.


Tuan muda Nikko memiliki beberapa dokter handal yang secara khusus dipekerjakannya. Diantaranya, dokter Wang, dokter Sierra, dokter Fa dan dokter Yon. Para dokter didatangkan dari berbagai negara.


"Baik, bawa Pingkan segera ke kamar saya! "


Pingkan, gadis yang disukai oleh tuan muda Nikko dibawa serta ke Vilanya. Sedangkan Pingkan selalu bergantung pada tuan muda Nikko karena kebutuhan hidup keluarganya. Pingkan rela melakukan apapun untuk mendapatkan uang tuan muda Nikko.


Clover Hills, Indonesia


Tiga bulan telah berlalu. Setelah kejadian itu, tuan muda William kehilangan jejak Alicia. Segala upaya telah dikerahkannya. Namun belum juga membawa hasil.


Saat ini, tuan muda William telah lulus dari High Scope Global School dan dia berencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri.


"Semua sudah siap, tuan! Pesawat anda sudah menunggu di atap! "


"Baik! "


Setelah semua persiapan lengkap, akhirnya pesawat lepas landas.


Tuan muda William menatap langit dengan tatapan kosong. Dia membuka Laptopnya dan jarinya terus menari-nari di atas keyboard.


"Aku pergi meninggalkan negara ini dengan membawa serta perasaan cintaku padamu, Al. Sejak kecil, aku sangat enggan pergi dari sini. Tapi karena kau menghilang tanpa jejak, aku harus menemukanmu yang kemungkinan berada di negara lain.. "


Tuan muda William menghela nafas dan mulai memjamkan matanya yang lelah karena sibuk mencari Alicia di dunia maya. Sean yang setiapun menutup Laptopnya.


#salamembaca