My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
Rapuh



Malam ini, Nikko semakin agresif dengan Dylon. Nafsunya bergejolak. "Aduuhh gawat! Aku tidak tahan lagi untuk tidak menidurinya! "


"Nikko, ada apa? " tanya Dylon.


"Tidak ada. "


"Di ruangan dingin seperti ini, kau berkeringat? Apakah semua baik-baik saja? "


"Ya, aku hanya merasa gerah yang luar biasa! "


"Apa maksudmu? "


"Tidak, bukan apa-apa. Bagaimana kalau kita pergi ke luar mencari udara segar? "


"Oke"


Nikko menggandeng mesra tanga Dylon. Nikko seolah mendapatkan chemistry saat berdua dengan Dylon.


Mereka telah sampai di balkon lantai dua. Nikko melepaskan dasi yang dia kenakan dengan gusar. Lalu dia juga melepas tiga kancing kemejanya. "Aku tidak bisa mengontrol diriku lagi! " kata Nikko dalam hatinya.


Dylon menelan ludahnya sendiri sesaat menatap dada bidangnya Nikko. "Sungguh sangat menggoda. Tak heran Rose sangat tertarik pada dirinya! "


"Apakah kau ingin minum? " tanya Dylon.


"Boleh.. "


"Aku akan segera mengambilkan minuman untukmu. "


Dylon berjalan kembali ke ruangan dan segera mencari minuman. Sedangkan Nikko duduk di bangku putih yang tersedia di balkon.


Dia mengeluarkan ponselnya. "Malik, kau tidak usah menungguku! "


"Baik, tuan. Saya akan segera pulang melihat nona Alicia. "


"Oke. Katakan padanya jika aku masih memiliki acara lain. "


"Baik, tuan. "


Nikko kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Dia mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.


Dylon mencari-cari seseorang.


"Pelayan, tolong berikan dua minuman yang kau bawa itu untukku! "


"Baik, nona! "


Si pelayan itu berjalan mendekati Dylon.


"Nona, ini minuman 'khusus ' pesanan anda! Yang sebelah kanan untuk tuan muda Nikko dan yang kiri untuk anda. Jangan sampai salah! "


"Oke, kau boleh pergi! "


Pelayan itu adalah kaki tangan William yang sudah dipersiapkan oleh tuan Santo dan berperan membantu aksi Dylon.


Dylon kembali ke balkon. Nikko sudah menunggunya. Nikko memandangi gerak-gerik Dylon. Dia berkata dalam hatinya, "Benar seperti yang Rose katakan. Wanita ini memiliki bentuk tubuh yang sempurna. "


Dylon tersenyum. " ini milikmu! " Dia menyerahkan segelas wine dari tangan kanannya.


"Thanks. "


Nikko minum dalam sekali teguk. Glukk glukk glukk.


"Pelan-pelan, Nikko sayang! Malam masih panjang. Jangan membuat dirimu mabuk. Kau harus menyetir. "


"Tak masalah! " jawabnya. "Bagaimana kalau kau menemani ku malam ini? "


Dylon berjalan menghampiri Nikko lebih dekat. Tangan Dylon menyentuh dahinya, lalu diusapkan dengan lembut dahi Nikko yang basah karena keringat yang bercucuran.


"Hmm.. " Nikko mendesah.


Tangan Nikko melingkari pinggul wanita yang berdiri di depannya itu. Dan dengan cepat menarik ke dalam dekapannya.


"Hahh? " Dylon tersentak.


"Ada apa? Apakah aku membuatmu kaget? "


"Apakah kau tidak takut aku berteriak? "


"Silahkan! " Nikko tersenyum sinis.


Dylon meraba dada bidang Nikko, " Kau sungguh pria yang seksi! "


"Jangan menggodaku!" ancam Nikko. "Percayakah kau dengan Love at the first sight? "


Nikko menatap tajam ke arah Dylon. Menunggu jawaban bagus yang akan keluar dari mulutnya Dylon dan membuat dirinya puas.


"Mmm.. Saya tidak percaya akan cinta! "


"Oh? Really? " Alis Nikko terangkat.


"Yups! Pernahkah anda terjebak ke dalam lingkaran cinta yang salah? "


"Sepertinya itu adalah pengalaman yang buruk untukmu? "


"Ya, dan sejak saat itu aku tidak percaya dengan cinta lagi! "


"Oh, what's wrong, dear? "


"Haaahaaa.. " Dylon tertawa. Dia tidak berani menatap mata Nikko. Takut jatuh hati pada pria yang salah untuk kedua kalinya.


Sudah sejak lama Dylon jatuh hati pada tuan Ricky. Bahkan dia rela melakukan apapun demi cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Suatu hari, Dylon menyatakan cintanya pada tuan Ricky dan hanya satu kalimat yang terucap dari mulut tajamnya..


"Kau tak sebanding denganku! "


Satu kata itulah yang terus teringat dalam ingatan Dylon hingga saat ini! Sangat menyayat hatinya.


"Mengapa kau tertawa, cantik? "


Dylon membalikan badannya membelakangi Nikko. Tampak jelas punggung mulusnya yang membuat hati Nikko berdesir.. "Uhh.. Menyebalkan! " gumam Nikko.


Dengan cepat Nikko memeluknya dari belakang, "kau sungguh pintar menggoda pria! "


Nikko mencium bahunya. "Jadilah wanitaku! Akan kuberikan apapun untukmu! "


"Apakah kau tidak keberatan jika aku meminta hartamu? "


"Berapa banyak hartaku yang kau inginkan? Aku akan memberikannya! " Nikko kembali memeluknya. "Pindahlah besok ke vilaku! "


Tiba-tiba Nikko merasa dirinya agak aneh. Dia tidak bisa merasakan apa-apa. Pandangannya kabur. Nafasnya mulai tidak beraturan.


"Ada apa? " tanya Dylon dengan khawatir.


"Aku tidak tahu! " jawab Nikko dengan nafas terengah-engah.


Kaki tangan William, si pelayan yang memberikan minuman tadi telah menunggu perintah dari Dylon.


"Smith, cepat! Kita tidak punya banyak waktu! "


"Oke. "


Dengan cepat Smith menggendong Nikko di punggungnya melewati tangga darurat yang terletak tidak jauh dari balkon.


Tap tap tap.. Dylon dan Smith menuruni tangga menuju pintu keluar. Brakk.. Pintu terbuka. Dan mobil sudah menunggu.


"Cepat, bantu Smith dan buka pintu mobilnya! "


Dylon berteriak kepada kedua anak buahnya. Setelah beres, semua masuk ke dalam mobil. Nikko yang tidak sadarkan diri, tertidur di bagian belakang mobil.


"Nona, apakah aman? " tanya Darren, sang supir.


"Ya, tenang saja. "


"Dimana para pengawal tuan muda Atmadja ini berada? "


"Malam ini, dia berada dalam pengawasan yang buruk! "


Smith memberikan ponselnya pada Dylon. "Nona, tuan Santo menelepon. Silahkan! "


"Ya, tuan. "


"Bagaimana? "


"Ikan telah memakan umpan dan berhasil kupancing! "


"Kerja bagus!"


Dylon menyerahkan ponsel Smith. Lalu mereka melaju di jalan bebas hambatan menuju ke stanford,di sana terdapat sebuah vila yang telah dipersiapkan oleh Dylon.


Mountainview, California.


Broommm... Ciiitttt. Suara rem mobil tuan Malik.


"Cepat buka pintu, tuan Malik sudah datang! " Dokter Fa memberi perintah pada pelayan penjaga pintu.


"Tapi mengapa tuan muda tidak ikut serta? " tanya dokter Wang.


"Entahlaah.. " Jawab dokter Fa.


Brakkk.. Pintu terbuka. Tuan Malik berjalan masuk.


"Dimana nona? "


"Tuan, kami mencoba menghubungimu beberapa kali namun ponselmu tidak aktif! "


"Apa yang telah terjadi kali ini? "


"Sesuatu hal yang buruk, tuan. "Dido angkat bicara.


"Bicara yang jelas! "


"Nona sekarang berada di dalam ruang perawatan. "


"Haaahhh?? Apa katamu? "


"Benar. Emosinya tidak stabil dan nona jatuh pingsan. "


"Yaa Tuhaaannnn, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Dengan cara apa saya harus bertanggungjawab pada tuan muda? "


Mereka yang berada di sana hanya bisa menunduk, meratapi nasib yang akan menimpanya.


Dengan panik, tuan Malik berjalan menyusuri koridor vila.


Tut tutt tutttt... Telepon tidak terangkat. "Apa yang sedang dilakukan si ******** itu? Mengapa tidak mengangkat telepon dariku! "


"Bagaimana, tuan? "


"Coba kau terus hubungi tuan muda! "


"Baik, tuan! "


Tut tutt tuttt.. Ponsel Nikko tetap tidak bisa dihubungi!


"Masih belum terangkat, tuan! "


"Dalam keadaan seperti ini, tuan muda masih sempat bermain dengan wanita! Sungguh prestasi yang luar biasa! " Malik berkata dalam hatinya.


Keadaan Alicia masih belum pasti. Kesadarannya naik turun dan selalu mengigau.


"Sudah berapa lama nona tidak sadarkan diri? "


"Sekitar 40 menit, tuan. "


"Bagaimana dengan suhu tubuh dan tekanan darahnya? "


"Lalu mengapa nona belum sadar? "


"Entahlah, tuan. Saya membutuhkan kehadiran tuan Nikko untuk mencairkan suasana. " dokter Wang menjelaskan. "Setidaknya tuan muda bisa mengatasi emosi nona. "


"Saya tahu. Saya sudah menghubunginya namun belum ada jawaban. Saya akan mengirimkan beberapa pengawal untuk mencari tuan muda. "


"Ya, tuan. Kami akan mengurus nona! "


Tuan Malik berbalik hendak keluar tapi langkahnya tertunda.


"Hmm.. Mm.. " Suaraku mengigau.


Tuan Malik memperhatikan Alicia dengan cermat.


"Apa yang sedang nona rasakan? " tuan Malik berkata dalam hatinya. "Apakah nona selalu seperti ini? " tanya Malik pada dokter Wang dan dokter Fa.


"Ya, nona selalu mengigau saat tertidur. "


"Apakah obatnya selalu rutin kau berikan? "


"Tentu, tuan. Anda tidak usah khawatir. "


"Lalu bagaimana dengan antibodi yang kau kembangkan? " tanya tuan Malik kepada dokter Fa.


"Saat ini kami masih memerlukan vitamin c terbaik dari sari buah jambu merah. Sedangkan jambu tersebut belum panen di kebun kita, tuan. Tingkat kematangan buahnya sudah kami tentukan. "


"Bukankah tuan muda masih menyimpan cadangan vitamin c? " tanya tuan Malik.


Kedua dokter itu saling pandang. "Silahkan anda bertanya pada tuan muda secara langsung, tuan! "


"Baiklah kalau begitu. Saya akan berbicara padanya besok. Kalian tolong jaga nona dan jangan lakukan kesalahan apapun yang bisa menbuat tuan muda marah. "


Tuan Malik berjalan menyusuri koridor vila dan duduk di ruangan tengah menyalakan pemanas ruangan.


"Meskipun aku sudah lama tinggal di sini, tapi diriku belum juga terbiasa dengan suhu dingin di sini. Mengapa nona bisa bertahan? Sejauh ini aku tidak mengerti apapun tentang nona. Yang kutahu kesehatan nona tidak begitu baik! " Tuan Malik bergumam pada diri sendiri.


Malam ini begitu gelap, seperti akan turun hujan lebat. Aku memandang ke luar jendela kamarku. Hahh? Aku kaget bukan maim saat melihat bayangan hitam di belakangku. Ada tangan yang menyambarku ke dalam pelukannya.


"Alicia bodoh! Jangan takut! Ini aku, William. "


"Kakak, kau membuat aku takut! "


"Dasar bodoh! Saat aku ada di sisimu, kau tak perlu takut. " William mengusap rambutku dengan lembut. "Yang harus kau takuti adalah orang asing yang berada di sekitarmu! "


"Kak, aku mengantuk! "


"Pergilah tidur lebih awal. "


William memapahku ke tempat tidur dan menyelimutiku dengan hangat. Dia hendak pergi meninggalkanku. Aku sangat takut gelap dan sendiri.


"Tidurlah! Aku akan menjagamu sampai matahari terbit dari arah barat " William menatapku dengan penuh cinta. "Selamat malam, pengantin kecilku! "


Aku tidak mau ditinggal sendirian seperti ini. Aku takut. Akupun menarik tangannya, "kak? "


"Ya, tidur laaah"


"Jangan pergi? Ja.. Ja.. Jangaan per.. Pergi!" aku berteriak, "kak William, jangan pergi? Jangan pergi! " aku menggenggam tangan William dengan erat.


Dokter yang menjagaku sangat prihatin dengan kondisiku.


"Siapa William yang disebut-sebut nona itu? " tanya dokter Fa.


"Mana kutahu! " jawab dokter Wang.


"Sepertinya dia adalah orang yang sangat penting untuk nona. "


"Hati-hati berbicara. Jangan sampai terdengar oleh para pelayan. "


"Aku tahu. "


"Akupun berpikir demikian. Mengapa tuan muda tidak melepaskan nona saja! "


"Tidak mungkin. Jika tuan muda tidak benar-benar mencintai nona, untuk apa dia rela memberikan beberapa vitamin c cadangan miliknya sebagai antibodi yang membuat nona pulih lebih cepat! "


"Analisamu benar. Dan sekarang tuan muda tidak memiliki kekuatan untuk melawan sakitnya sendiri. "


"Itulah mengapa tuan menyuruh dokter Sierra pergi mencari obat penawar untuk mengurangi kesakitan tuan muda. "


Stanford, kota bagian California


Saat ini, Nikko berada di vila Dylon. Mereka merebahkan Nikko di atas tempat tidur. Smith melepaskan baju dan sepatu yang dipakai Nikko.


"Sudah semua. "


"Bagus, kau keluarlah! "


Smith meninggalkan kamar itu.


"Sekarang, kau menjadi milikku, Nikko. " ucap Dylon pelan.


Dylon menelepon tuan Santo.


"Tuan, berapa lama waktu yang kita butuhkan sampai dia tersadar kembali? "


"Obat penenang itu akan bertahan selama enam jam. "


"Baiklah, tuan. "


"Lakukan pekerjaanmu dengan rapih. "


"Saya mengerti "


Dylon segera mengeluarkan ponsel milik Nikko dan mengambil sidik jari Nikko untuk mengaktifkan ponsel itu.


"Nah, berhasil. "


Dylon segera melihat-lihat ponsel Nikko.


"Panggilan telepon dari tuan Malik? Sebanyak ini? Sepertinya mereka sedang mencari Nikko. Aku harus bergerak cepat. Karena jika tidak, mereka akan sampai di sini lebih dulu." ucap Dylon.


Dylon mencari-cari sesuatu di ponselnya. Lalu dengan cepat mematikan alat pelacak pada ponsel Nikko. Lalu Dia membuka beberapa dokumen penting yang terdapat di ponsel. Kemudian menyalinnya dan terakhir, dia membuka galeri. Ehmm... Sepertinya ini yang tuan William cari.


"Ya Tuhan! Ini adalah foto Alicia.. "


Dengan cepat Dylon mengirim beberapa foto Alicia ke laptopnya.


"Ayo, cepat! 40% lagi dan semua selesai. " kata Dylon dalam hatinya.


"100% oke! Selesai. " plok plok.. Dylon menepuk tangannya dan Smith masuk ke dalam ruangan.


"Bawa chip ini dan segera pergi! Aku yang akan membereskan sisanya. "


"Oke. "


Smith keluar dengan membawa chip dan laptop. Dengan mobilnya, dia pergi menuju Long Beach. Di sana orang suruhan William telah menunggunya.


Dengan gerak cepat semua telah diselesaikan. Dylon bekerja sangat rapih.setelah itu dia membuka bajunya dan berbaring di samping Nikko.


Malam yang panjang ini sungguh membuatku lelah! Tidak butuh waktu lama mata Dylon terpejam.


Mountainview, California


"Tuan, hingga saat ini kami belum menemukan keberadaan tuan muda! " kata para pengawal yang mencari Nikko.


"Apakah alat pelacak pada ponselnya tidak berfungsi? "


"Saya sudah mendeteksinya, tuan. Terakhir dilihat, tuan muda berada di jalan bebas hambatan king's road. Dan setelah itu alat pelacaknya mati. "


"Pantau terus dan laporkan padaku bila menemukannya. "


"Baik, tuan. "


Malik sangat marah. "Mengapa dia tidak bisa dihubungi? Pasti telah terjadi sesuatu padanya. "


Dido berjalan mendekati tuan Malik.


"Tuan.. "


"Ada apa? "


"Lihatlah! Ada beberapa virus yang masuk ke jaringan kita. "


"Dari mana asalnya? "


"Para hacker kita sedang berusaha. "


"Kenapa semua ini datang bertepatan dengan tuan muda yang menghilang? "


"Ayo kita ke ruang perawatan! "


Tuan Malik dan Dido berjalan cepat. Di depan ruang perawatan, terdapat beberapa pengawal yang bertugas menjaga Alicia.


"Tingkatkan kewaspadaan kalian. Musuh sudah bergerak! "


"Baik, tuan. "


"Katakan pada dokter Wang dan dokter Fa untuk segera menemuiku di ruanganku! "


Dido berkata, "Saya akan berjaga di sini, tuan! "


"Oke. "


Malik masuk ke ruangannya. Dia terlihat sangat cemas. Lalu dia membuka jendela. Malam ini, dia tidak tidur sama sekali.


Tok tok tok..


"Masuklah! "


"Apakah tuan memanggil kami? "


"Benar. Keadaan darurat. "


"Ada apa, tuan? "


"Saya belum menemukan tuan muda. Tolong katakan dengan jujur tentang kondisi kesehatan nona! "


"Seperti yang anda lihat, itulah kondisi kesehatan nona! " dokter Fa berbicara dengan nada ketidakpuasan.


"Saya sebagai asisten pribadi tuan muda, menginginkan yang terbaik. "


Kedua dokter itupun terdiam.


Tuan Malik melanjutkan bicaranya, " Apakah ingatan nona tidak akan kembali? "


"Kami belum bisa memastikan, tuan. Karena tidak ada progres yang berarti. "


"Jika seperti itu, lakukan penyuntikan penghilang memori padanya. "


"Maksud tuan adalah... " Dokter Fa yang banyak bicara, tidak sanggup melawan tuan Malik.


"Ya, kalian tentu tahu maksud perkataan saya! Saya tidak ingin dia mengetahui identitas aslinya. Biarkanlah seperti ini. Saya hanya ingin nona bersama dengan tuan muda, dengan begitu saya tidak akan khawatir tuan akan kesepian dan mencari wanita lain lagi! "


To be continue..


Dear pembaca,


Jangan lupa tinggalkan like dan comment yaaaa... Nama dan tempat hanya murni imajinasi Author.


Terimakasih...