
Mountainview Village, California
Sore itu, Nikko duduk di taman belakang villanya yang dipenuhi bunga tulip kesukaan Alicia. Hatinya hancur saat mengetahui bahwa ayahnya ingin membunuh semua keluarga tuan Adit, terutama Alicia sang pewaris kekayaan keluarga Atmadja. Oleh sebab itu, dia menyembunyikan keberadaan Alicia dari ayahnya. Terlebih, dia sangat merasa bersalah karena orang-orang bawahannya tidak sengaja mencelakai Alicia. Hingga saat ini, Alicia juga tidak sadarkan diri.
Di usia yang masih belia, seharusnya Alicia menikmati masa mudanya dengan penuh canda tawa. Tapi pada kenyataannya, dia harus menanggung beban akibat dari pertikaian di keluarga besarnya. Tidak hentinya Nikko berpikir tentang Alicia yang semula ingin dinikahinya, namun sekarang nasi telah berubah menjadi bubur.
"Ya, sekarang saatnya mengambil alih semua kekayaan keluarga Atmadja. Saat nanti tuan Adit dan ayahku mati, aku bisa menikahi Alicia dengan kekuatanku sendiri. Haaahaaa.. "
Dengan keegoisan Nikko yang merajalela menguasai hatinya, dia selalu membanggakan dirinya. Dialah yang terhebat dan terpintar. Nikko mulai melupakan hasratnya untuk membunuh tuan Daya Dharmasetya, sang Gubernur.
Nikko mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana hitamnya. Woosshhh wooosshhh.. Sedikit demi sedikit dihembuskanlah rokok itu. Malik yang daritadi hanya diam tanpa berkomentar, mulai mengkhawatirkan keadaan tuannya.
"Tuan muda.. "
Nikko menoleh padanya. "Ya? "
"Apa yang membuat anda begitu terlihat cemas? "
"Apakah wajahku terlihat demikian? "
"Ya, tuan. Belakangan ini anda bahkan tidak bisa menutupi perasaan anda yang terlukis di wajah anda. "
"Begitukah? "
"Sebaiknya anda perlu memperhatikan diri anda sendiri. "
"Maksudmu? Aku sudah lelah bermain dengan wanita? "
"Benarkah, tuan? Bagaimana dengan nona Sarah? "
"Ya, aku melupakannya. Bagaimana kabarnya saat ini? "
"Setelah mengikuti ujian kenaikan kelas, nona Sarah mengambil metode home schooling. "
"Bagus. "
"Sepertinya dia sangat bosan berada di apartemen anda. "
"Lalu? "
"Tidak maukah tuan mengajaknya tinggal bersama di sini? "
"Tidakk! Saya hanya tidak ingin dia tahu keberadaan Alicia! "
"Bagaimana dengan nona Pingkan? "
"Haaahaaa, dia bodoh dan hanya cinta pada uangku. Biarkan saja dia di sini sekalian untuk menemani Alicia saat dia terbangun dari tidurnya nanti! "
"Selanjutnya, bagaimana dengan pak Gubernur? "
"Ohh, aku hampir melupakannya. "
"Mohon anda memikirkan masalah ini, tuan! "
"Ya, tentu. "
High Scope Global School, Indonesia
Erisa dan Clara sedang duduk di taman sekolah. Clara memandangi Erisa sambil menahan air matanya yang sudah berada di ujung-ujung matanya.
"Sudahlah, Ra! " Erisa memeluk sahabatnya.
"Aku sungguh menyesal karena aku tidak hadir di hari pemakaman nyonya Alifah untuk penghormatan terakhir. "
"Aku dan Anggun juga tidak melihat Alicia. Seperti yang Brimma katakan, bahwa Alicia datang tapi entah bersembunyi di mana! "
Mereka berdua tidak menyadari kedatangan Boy dan Garry.
"Heii kalian berdua! " Boy berteriak kepada Erisa dan Clara. "Berhentilah mengeluh! "
"Ya, itu semua demi keselamatan Alicia. Kau tentu tidak ingin jika terjadi sesuatu pada Alicia kan? " tanya Garry.
Kedua wanita itu melihat Garry bergantian. "Ya, kau benar! Jawab Erisa.
"Ayah berkata padaku, bahwa saat itu Alicia berada dalam perlindungan tuan Liuliu, sahabat dari tuan Adit. " Boy menjelaskan.
Clara kaget mendengar nama tuan Liuliu.
"Hahh? Apakah maksudmu tuan Liuliu yang berasal dari Jepang? "
"Dari mana kau tahu itu, Ra?" Tanya Boy.
"Waktu aku menghadiri pernikahan ayahku, tuan Liuliu adalah salah satu tamu istimewa dalam acara tersebut. "
"Ya, benar. Tapi setauku penjagaan tuan Liuliu adalah yang terbaik. " Garry memutarkan otaknya, berpikir mengapa ini bisa terjadi.
"Ya, penjagaan tuan Liuliu bisa terpecahkan! Itu berarti, musuh lebih kuat. " jawab Boy.
Erisa terlihat sesih. Sambil menopang dagunya dia berkata, "Meskipun sudah tiga bulan berlalu, kita masih belum tahu perkembangan Alicia. Bahkan Williampun kesulitan mencarinya. "
"Padahal William sudah menempatkan beberapa mata-mata di sekitar Nikko! " Boy memberitahu.
Srakk srakk sraak.. Seseorang berjalan melewati mereka berempat.
"Tutup mulut kalian. Saudaranya baru saja lewat! " Clara memberi peringatan.
Mereka berempatpun menutup rapat mulut mereka. Erisa mengalihkan ke pembicaraan yang lain.
Nikky yang berjalan itu, membuka telinga lebar-lebar. "Apa benar yang mereka katakan itu? Aku harus menghubungi kakak secepatnya! "
Di depan koridor kelas, Reggina berjalan mondar-mandir tiada henti. "Kemanakah Ginza pergi? Sudah tiga hari dia tidak masuk sekolah dan aku tidak bisa menghubunginya"
Tuut tuut tuut.. Tuut tuut tuut..
Huhh! Selalu seperti ini! Pergi dan datang sesukanya!
"Ada apa, Gin? " tanya Nikky.
"Tidak ada. Kau dari mana saja? Kelas akan mulai sebentar lagi. "
"Oh, aku dari ruang kesehatan. "
"Apakah kau sakit? "
"Ya, Kepalaku sedikit pusing. Maukah kau menemaniku masuk ke dalam kelas? "
"Tentu. Ayolah.. "
Mereka berdua masuk ke dalam kelas berbarengan dengan bunyi bel masuk sekolah.
Sun Bright College, Inggris
William kuliah di salah satu Universitas ternama di Inggris. Dia mengambil jurusan bisnis manajemen. Dengan bekal IQ yang dimilikinya, William selalu mendapatkan nilai yang memuaskan. Bahkan Seanpun tidak bisa sebanding dengannya.
"Will, aku pikir di otakmu hanya ada Alicia! "
"Hmm? Apa yang kau bicarakan, Sean? "
"Kenapa kau selalu terdepan dalam semua mata kuliah? "
"Haaahaaa, apa kau lupa siapa aku? "
"Jangan begitu sombong! Alicia tidak suka pria yang sombong seperti dirimu! "
"Tapi sepertinya kau lupa, saat aku mencuri bibir manis Alicia, kau mengintip dari kaca depan mobil! "
Sean sangat malu dengan ucapan William. "Ya, aku mengaku. Aku terkejut kau bisa menciumnya bahkan dengan waktu yang lama. Padahal yang kutahu, kau sangat jijik dengan wanita! "
"Benar, tapi tidak dengannya. Dan kau juga melupakan statusmu? "
Uhuuk uhuuk.. Sean yang sedang minum tersedak. "Yaa yaaa.. Maafkan aku, tuan muda! "
"Haaaaahhaaaaaaa" William tertawa dengan keras.
Aster Village, Inggris.
William kembali ke Vilanya setelah senja. Dia duduk menikmati pemandangan di atas balkon sambil memegang foto terakhir Alicia.
"Aku tidak tahu sampai kapan harus menutupi perasaanku. Perasaan yang begitu terluka. Jika aku bisa memutar waktu kembali ke masa-masa saat aku melihatmu dari atas pohon, aku tidak akan membiarkan waktu melewatiku begitu saja, bahkan tidak akan kubiarkan kau terlepas dari pelukanku. Al, dimanapun kau berada.. Aku hanya berharap kau baik-baik saja."
Mr Santo datang, "tuan muda.. "
"Ada apa? "
"Apakah tuan yakin jika nona Alicia masih hidup? "
"Ya, perasaanku tidak mungkin menipuku. "
"Jika begitu, apa tidak sebaiknya kita menjalin kerjasama dengan tuan muda Atmadja? "
"Maksudmu? "
"Jika kita bisa bekerjasama dan menjadi partner bisnis dengan baik, mungkin kita akan mendapatkan petunjuk. Karena para pengawal kita tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan nona. "
"Baiklah, cari celah yang bagus dan mulailah dekati si ******** itu! Yang kutahu, dia penggemar wanita. "
"Saya mengerti, tuan muda. Saya akan segera memberikan perintah kepada tuan Ricky! "
Mr Santo melangkah pergi dan William masih berada di balkon sendirian.
"Ya, tuan muda..? "
"Kirimkan Dylon untuk misi ini! Dia cantik, pintar, seksi, dan tentunya sangat menggoda! " William tersenyum licik.
"Anda tidak pernah salah menilai, tuan! Saya akan segera menghubunginya untuk datang dan saya sendiri yang akan memberitahukan detil misi ini padanya. "
"Oke. "
Mr Santo kembali ke ruangannya dan William masih memandangi foto Alicia. Di atas langit malam yang indah, perasaanku yang hitam dan putih ini sangat membuatku tersiksa. Aku hanya ingin melihatmu meski dari kejauhan, Al! Yang terpenting bagiku adalah kau baik-baik saja. Itu sudah cukup untukku. Aku akan berusaha menebus dosaku. Tolong jaga Alicia,Tuhan..!!
Pasific Apartment, Indonesia
Sarah sedang melamun di apartemen milik Nikko. Sudah hampir enam bulan dirinya tinggal di sini. Nikko membuat keputusan ini agar lebih mudah mengawasinya.
"Nona, tuan Malik memerintahkan anda agar tidak tidur larut malam. " seorang pelayan mengingatkannya.
"Huhh, bahkan bukan Nikko yang memberitahuku hal kecil seperti itu! "
"Justru itu nona, tuan Nikko memiliki banyak kesibukan. Jika hal kecil seperti itu saja nona tidak mau menurut, bagaimana dengan hal-hal besar dan penting? "
"Ya, aku tahu. "
"Dan tolong perhatikan cara nona memanggil tuan. Jangan memanggil hanya dengan namanya saja! "
"Kenapa? Hubungan kami berdua berbeda dengan kalian. Dan aku bukan pelayan murahan sepertimu! Jadi aku tidak perlu menyebutnya dengan kata 'tuan' padanya! "
"Apakah nona lupa, hidup dan matinya ayah anda bergantung pada anda! "
Sarah lupa jika dirinya yang sekarang ini hanyalah bidak catur bagi Nikko. Dia tidak lain hanya sebagai wanita simpanan. Tapi terkadang, dia lupa dengan statusnya yang sekarang. Dia masih menganggap dirinya sebagai nona besar keluarga Dharmasetya.
Sarah meninggalkan tempatnya dan segera berjalan ke kamar.
"Tolong bangunkan aku lebih pagi besok! "
"Baik, nona! "
Mountainview, California
Ruang rawat Alicia
Alicia masih menutup matanya. Meskipun semuanya sudah normal dan stabil, dia masih belum sadar juga.
"Wahhhh.. Taman bunga tulip yang indah ini ditanam dengan sangat rapih. Siapa yang menanamnya??
Aku berjalan menyusuri taman bunga itu. Seorang wanita muda datang dan mengajakku pergi melihat taman bunga yang lebih indah.
"Memangnya ada kak, taman bunga yang lebih indah dari ini? Menurutku ini sudah sangat indah. "
"Kau ikut saja denganku. Kau akan tahu tempatnya jika mengikutiku. Bagaimana? "
"Baik, kak. Aku akan ikut denganmu! "
Wanita muda itu menggandeng tanganku dengan erat. Setelah melalui jalan setapak yang menanjak, akhirnya kami sampai di sebuah rumah kecil dengan dinding batubata merah. Saat memasuki rumah itu, aku melihat beberapa anak kecil di dalamnya. Sepertinya usia mereka sebaya denganku. Diantara mereka, ada seorang anak laki-laki yang tampan. Berkulit putih, rambut cokelat gelap yang rapih, dan senyum manis yang membuatku luluh.
"Kak, dimana taman bunga yang kau katakan itu? Mengapa kita masuk ke sini? " tanyaku.
"Yaa, kau akan segera tahu. Kemarilah! Berkumpul bersama teman-teman kecilmu. "
"Tidaaak! Aku mau pulang saja! Antarkan aku pulang, kak! " aku berteriak padanya.
Wanita muda itu berjalan ke arahku hendak menampar pipiku tapi anak laki-laki itu maju ke depanku untuk melindungi diriku. Plaakk.. Wanita itu menamparnya.
"Mengapa kau melindunginya? Apa hubunganmu dengan anak kecil itu? " wanita itu menunjukku.
"Kau boleh melukaiku tapi jangan melukainya! "
"Apa urusanmu? "
"Seharusnya aku yang bertanya, apa urusanmu dengan kami? Kau menyakiti anak-anak kecil seperti kami. "
"Jangan membalikan kata-kataku! "
Braaakk! Wanita itu pergi meninggalkan kami. Ruangan ini gelap. Hanya lampu remang-remang yang menyinari kami.
"Apa kau baik-baik saja? " tanya anak laki-laki itu.
"Terimakasih kak sudah menolongku. Tapi aku ingin pulang! " aku menangis ketakutan.
"Namaku William. Siapa namamu? Jangan menangis. Kau terlihat jelek saat menangis! "
Anak laki-laki itu menarikku dan mengusap air mataku.
Dia bertanya, "apakah kau lapar? "
Aku menganggukan kepala, "ya, aku lelah berjalan jauh. Aku lapar dan haus. "
"Baiklah, aku akan mencari beberapa makanan dan minuman di dapur. Mungkin kita bisa menemukannya. " kata William.
William berjalan ke dapur dengan hati-hati. Aku dan teman-teman yang lainnya duduk menunggu William datang. Kami terdiam. Sesaat kemudian William datang.
"Aku menemukan beberapa kantong roti dan susu. Dilihat dari tanggal pembuatannya, sepertinya masih bisa dimakan. Ayo kita makan, sebelum nenek sihir itu kembali! "
Kamipun memakan semuanya.
"Makanlah dengan pelan. Jangan sampai kau tersedak! " William mengingatkanku.
"Aku sudah dua hari di sini dan belum memakan apa-apa. " kata anak perempuan yang memakai baju berwarna merah dan rambut panjangnya terurai berantakan.
"Aku akan memikirkan cara keluar dari sini! " kata William.
"Kami bergantung padamu, Will! " kata anak perempuan itu.
Hari semakin sore dan William belum menemukan jalan keluar.
Melihat raut wajah kami yang cemas, William berkata, "Jangan khawatir. Aku akan membawa kalian pergi dari sini! "
William menemukan kawat berukuran panjang. Kawat itu dimasukan ke lubang kunci pintu depan. Karena semua jendela tidak bisa dibuka, jalan satu-satunya yaitu melewati pintu.
Ceklekk.. Pintupun terbuka.
"Ayo cepat. Kita pergi sebelum nenek sihir itu datang! "
Satu persatu kami keluar dari rumah itu. Kami berjalan melalui jalan setapak.
"Kak, aku tidak kuat berjalan lagi. "
William membelakangiku dan membungkukkan badannya.
"Ayo naiklah ke punggungku! "
"Tapiii..? "
"Tidak masalah. Kau tidak gemuk, dan juga tidak lebih tinggi dariku."
Aku segera naik ke punggungnya. William menggendongku dengan sekuat tenaga. Hari sudah gelap. William sama sekali tidak mengeluh kelelahan karena menggendongku. Kami berpencar menuju ke rumah masing-masing.
"Terimakasih atas bantuanmu, Will. "
"Sama-sama, Martha. "
Martha berbelok ke arah rumahnya. Dan kami melanjutkan perjalanan kami.
Angin sepoi-sepoi membuatku mengantuk. "Kau belum memberitahu namamu, gadis kecil! "
"Namaku Alicia. "
"Di mana rumahmu? "
"Aku tidak tahu! "
"Haaahaa, gadis kecil manja yang bodoh! Kau bahkan tidak tahu rumahmu! "
"Aku hanya tahu, bahwa ayah dan ibu mengajakku liburan ke sini. Seharusnya kami pergi ke pantai untuk melihat sunset. "
"Oh, kau menyukai sunset? "
"Ya, kenapa kau berisik. Teruslah berjalan! Aku rindu ayah dan ibuku. "
"Kita akan sampai sebentar lagi. Dan ingat perkataanku, jangan ikut dengan siapapun yang tidak kau kenal! Apa kau mengerti? "
"Aku mengerti! "
"Bagus kalau kau mengerti. Karena jika aku tidak ada di sana, maka aku tidak bisa menyelamatkanmu lagi. "
"Terimakasih kak William. Aku akan menceritakan tentangmu pada ayah dan ibuku! "
"Haaahaaa, gadis manja bodoh! "
"Mengapa kau begitu sombong? Apakah karena kepintaranmu itu? Berhati-hatilah suatu saat aku akan lebih pintar darimu! "
Setelah keluar dari jalan setapak itu, akhirnya kami sampai di jalan besar. William terus menggendongku hingga kami tiba di rumahku. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. "
Dokter sedang memeriksa Alicia dan ditemani oleh Nikko. Jari-jemari Alicia bergerak pelan.
"Lihat itu! " Nikko menunjuk jari-jemari Alicia yang bergerak.
Mataku terbuka. Cahaya yang menyilaukan. Tempat yang asing. Di manakah aku?? Aku tidak mengingat apapun.