
Kring kriing.. Suara ponsel tuan Malik berdering.
"Ya, ada apa Dido? "
"Tuan, saya sudah berada di hotel Sunrise. Kamar nona Rose berada di lantai lima, nomor 1001. "
"Kerja bagus. "
Tuan Malik mematikan teleponnya. Dan segera menghampiri tuan muda Nikko yang sedang duduk menikmati wine bersama dengan para pemegang saham.
Tuan Malik membisikan sesuatu ke telinga tuan muda Nikko, "Tuan muda, saya sudah mendapatkan informasinya. "
"Baiklah. "
Tuan muda Nikko berdiri dan undur diri dari acara tersebut. "Tuan-tuan, saya pamit undur diri dikarenakan ada urusan mendadak. "
"Urusan apakah itu sampai membuat tuan muda Nikko meninggalkan acara ini? " Tuan Martin bertanya.
"Maafkan saya, tuan. Saya memiliki privasi tersendiri. Dan urusan kali ini berhubungan dengan adik saya."
"Oh, saya tidak tahu hal itu. Maafkan atas kelancangan saya! "
"Tidak perlu, tuan."
Tuan muda Nikko berjalan pergi meninggalkan Royale Palace diikutin oleh tuan Malik dan beberapa pengawalnya.
"Silahkan masuk ke mobil, tuan! "
Clover Hills, Indonesia
Tuan muda William sedang melukis di ruang belajar. Dia sangat merindukan Alicia. Itulah sebabnya tuan muda William mengobati rasa rindunya dengan cara melukis wajah Alicia.
Tok tok tok.. Pintu ruang belajar tuan muda William diketuk.
"Maaf saya mengganggu anda, tuan muda. David dari California menelepon. " Tuan Santo memberitahukannya.
"Masuk! " Dengan dingin tuan muda William menjawabnya.
"Silahkan, tuan muda! " Tuan Santo memberikan ponsel yang ia pegang.
Tuan muda William berjalan ke luar balkon untuk menerima telepon dan tuan Santo mengikutinya dari belakang.
"Ada informasi apa? "
"Ya tuan, saya ingin mengabarkan bahwa tuan muda keluarga Atmadja sedang berada di sini. Yang saya tahu, dia memiliki bisnis dengan tuan Keneddy. "
Tuan muda William memegang keningnya, "Ya. Saya sudah mengirimkan Ricky untuk menghalanginya. Pantau gerak-geriknya. Dan bagaimana dengan Alicia? "
"Nona sudah bisa duduk dan mengobrol. Tapi nona sering kali mogok makan. "
"Kenapa?
"Karena nona ingin mengetahui keadaan di rumahnya. Tuan Leo maupun Adam tidak menjelaskan apapun padanya. "
"Biarkan saja. Jangan pernah mengatakan apapun padanya."
"Apakah kau sudah menemukan pelakunya? "
"Sudah, tuan. Pelakunya adalah Margaret. Anak perempuan kedua tuan Keneddy. "
"Oke! Saya akan segera memberikan perintah untuk Ricky. "
Tuan muda William mengepalkan tangannya. Geram setelah mengetahui pelaku sebenarnya.
"Gilaaaa! Ini gilaaaa! Mengapa wanita yang seharusnya memiliki hati lembut bisa begitu kejam? Melebihi seorang pembunuh! Darimana dia mendapatkan racun itu? " Tuan muda William bicara pada dirinya sendiri.
Tuan muda William menekan tombol kontak tuan Ricky.
"Ya, tuan muda! "
"Saya punya misi untukmu." Wajah William terlihat serius. "Dekati anak perempuan pertama tuan Keneddy. Yaitu, Rose. Lebih cepat maka lebih baik. Jangan sampai Nikko mendapatkannya lebih dulu. "
"Baik, tuan. Lalu apa rencana selanjutnya? "
"Akan kuberitahu nanti. Sebaiknya kau harus berhasil. "
Tuan muda William mematikan teleponnya dan mengeluarkan sebatang rokok. Hatinya sangat kesal.
"Tuan, Apakah ada yang perlu saya lakukan? " Tanya tuan Santo.
"Tinggalkan saya sendiri! "
"Saya mengerti. "
Tuan Santo pergi meninggalkan tuan muda William seorang diri.
Dari dulu tuan muda William selalu moody. Selain sikapnya yang cuek, dia juga tipe orang yang mudah marah dan tersinggung. Namun sebenarnya dia sangat perhatian.
Kediaman keluarga Adit Atmadja
Faiz masuk ke dalam ruang kerja tuan Adit. Dia mendapatkan kunci dari salah satu pembantu rumah tangga.
Klekk.. Pintu ruang kerja tuan Adit terbuka. Segera setelah masuk, Faiz menutup pintunya kembali.
"Dimanakah kunci brangkas itu disimpan? " Tanyanya pada diri sendiri.
Faiz menyusuri seluruh ruangan itu tetapi tetap tidak menemukannya. Dia semakin marah. Lalu Faiz mencoba masuk menerobos komputer tuan Adit. Dia menemukan beberapa dokumen penting di komputer itu. Beberapa diantaranya adalah dokumen masa kontrak kerja pt Fantastic Prima Indonesia dengan pt Global Company. Selain itu, terdapat juga foto-foto masa kecil Alicia. Faiz diam. Mencoba berpikir tentang foto Alicia dan pria yang berada di sampingnya, yang tidak lain adalah tuan muda Nikko.
Aku sempat bertanya pada tuan muda Nikko, "Aku harus membunuh kedua orangtua nona Alicia tapi mengapa aku wajib melindungi nona? Terlebih lagi, aku harus menjaga keselamatan nona Alicia dari tuan besar Yoga! Aku sangat yakin jika tuan muda menyukai nona!! Tapi itu sangat mustahil karena faktanya mereka berdua adalah saudara. "
Setelah menyalin beberapa dokumen dari komputer tuan Adit, Faiz keluar menuju kamarnya. Ia meraih ponsel dan segera menghubungi tuan Malik.
"Tuan Malik, tolong sampaikan kepada tuan muda. Aku telah berhasil menyalin beberapa dokumen penting dan akan segera kuemail. "
"Baik, selesaikan secepatnya! " Suara tuan Malik di seberang sana terdengar begitu berwibawa.
Tok tok tok..
Pintu kamar Faiz diketuk. Dengan segera, ia mematikan sambungan teleponnya.
"Siapa? "
"Saya Morgan, tuan. "
"Silahkan masuk! "
"Maaf saya mengganggu tuan Faiz. Nyonya Alifah menginginkan winenya. Menurut anda bagaimana?"
"Berikan apa yang beliau inginkan. "
"Tapi, tuan Kenan melarang kita untuk memberikan wine lagi kepada nyonya Alifah? "
"Apakah kau lupa, tuan Kenan menyuruh kalian mengikuti segala perintahku? "
"Baiklah, tuan. "
Pelayan tersebut bingung, "Apakah aku tidak salah mendengar ucapan Tuan Faiz? Bagaimana jika tuan Kenan marah? "
Nyonya Alifah sedang duduk di pinggir kolam renang. Beliau telanjang kaki. Dengan marah, beliau memaki semua pelayannya.
"Bagaimana bisa kalian membantah perintahku? " Nyonya Alifah berteriak. "Aku adalah nyonya di rumah ini! "
"Maaf nyonya. Tuan Kenan melarang kami memberikan wine kepada anda! " Ucap salah satu dari mereka.
Morgan berlari menghampiri mereka.
"Saya sudah membawa wine untuk anda, nyonya. "
"Cepat, tuangkan ke gelas saya! "
"Ya.. "
Dengan cepat, Morgan mengisi penuh gelas nyonya.
Faiz berjalan ke arah mereka. "Nyonya tolong berhentilah minum! "
"Kau bahkan sudah lupa kenapa kau bisa berada di sini! "
"Maaf nyonya. Saya tidak berani. " Faiz tersenyum licik. "Bagaimana jika nanti tuan Kenan tahu dan marah pada saya? "
"Tak usah kau pedulikan orangtua itu! "
Nyonya Alifah terus minum sambil mengoceh. Saat penjagaan lengah, Faiz mengeluarkan botol kecil yang berisi racun. Dengan cepat dan hati-hati dia menuangkan racun itu ke dalam gelas nyonya Alifah.
"Ah, akhirnya tugasku selesai! Selamat menikmati, nyonya! " Ucap Faiz dalam hatinya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya nyonya Alifah telah mabuk. Faiz menyuruh beberapa orang pelayan wanita untuk membawanya ke kamar.
"Tolong kalian bawa nyonya ke kamarnya. Hati-hati dan jangan sampai terjatuh! "
"Baik, tuan Faiz. "
Para pelayan tidak mencurigai Faiz sedikitpun. Racun yang diberikan Faiz belum bereaksi!
Mountainview, California
Di vila inilah, tuan muda Nikko tinggal bersama dengan tuan Malik dan para pelayan. Mereka sedang menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Alicia di lantai dua. Kamar Alicia didesign khusus oleh tuan muda Nikko. Nuansa kamarnya berwarna pastel dan putih. Karena Nikko tahu, kedua warna itu adalah kesukaan Alicia. Selain itu, jendelanya menghadap ke taman belakang vila. Di mana taman belakang itu dipenuhi dengan bunga tulip.
"Tolong tambahkan ayunan rotan di balkonnya! " Perintah tuan muda Nikko.
"Baik, tuan muda. "
Semua orang sibuk membantu tuan muda Nikko. Lalu seorang pelayan bertanya, "Tuan, kemanakah perginya tuan Malik? "
"Ada apa? "
"Tuan Malik pernah berkata, bahwa kita akan menempatkan beberapa cctv di vila ini. Tapi, anda belum memerintahkan kami! "
"Ya, Malik sedang menggantikan saya menghadiri meeting hari ini. Nanti setelah dia pulang, saya akan berdiskusi dengannya. "
"Baik, tuan muda. "
"Hallo"
"Mari kita bertemu di *S*oul Lounge malam ini! " Suara seorang wanita menjawab telepon tersebut.
"Maaf, saya kira anda salah sambung. "
"Haahaa, kau tidak mau bertanya namaku terlebih dahulu? "
"Menurutmu, apakah sopan jika kau tiba-tiba menelepon tanpa memperkenalkan diri dan langsung mengajakku keluar? "
"Ternyata tuan muda ini tidak mengenali suaraku ya? Padahal kita hanya berpisah dalam semalam. "
"Hmmm, asal kau tahu saja, begitu banyak wanita yang ingin berada di sisiku! "
"Kalau begitu, jam 8 malam di Soul Lounge. Sampai ketemu di sana! "
Wanita itu menutup teleponnya dan membuat tuan muda Nikko tidak bisa berkata apa-apa.
St Angel Hospital, California
Terdengar suara tawa dari dalam ruang perawatan Alicia. Teman-teman Alicia datang menjenguknya.
"Haaa.. Haaa.. " Lewis tertawa. "Kau sungguh pandai meniru suara apapun,Brit! "
"Kau lebih cocok berada di sekolah seni peran! " kata Linda.
Tuan muda Nikko terkejut saat datang, "Suara dari dalam ruangan Alicia terlalu bising. Apakah Alicia sudah bangun? " Tuan muda Nikko bertanya-tanya.
Nikko mengintip di kaca pintu ruangan Alicia. "Ohh My God! Aku sudah lama tidak melihat Alicia tersenyum! Sangat cantik. Bersinar seperti aurora. " Tuan muda Nikko sangat bahagia melihat Alicia.
Klekk.. Pintu terbuka. Mereka tetap tertawa dan meledek Brittany. Mereka tidak menyadari kedatangan tuan muda Nikko.
"Hallo Alicia kecil! " Tuan muda Nikko menyapa dengan ramah.
"Ahh? Kakak Nikko?? " Alicia menutup mulutnya karena terkejut. "Apakah itu kau? "
"Ya, ini aku. Kakakmu yang paling tampan! "
Aku menangis. Tuan muda Nikko berjalan mendekat dan memelukku.
"Aku pikir, kau tidak ingat jalan pulang! " Aku mengomelinya. "Mengapa kau pergi tanpa berkata apapun padaku? Kau sungguh kejam! "
"Haaahaaa, itulah sebabnya aku kembali untuk menebus dosaku padamu! "
"Mata kami bertatapan. Jauh di mataku, Alicia begitu sempurna. Wajah cantik inilah yang selama ini selalu tersimpan erat di hatiku! Senyum manis dan tatapannya yang teduh, selalu membuatku tergila-gila padanya. "
"Kak, mengapa kau menatapku seperti itu? Apakah aku menjadi orang asing bagimu? "
"Tidak akan, sayang. Aku tidak akan pergi lagi darimu! Aku berjanji! "
"Aku tidak percaya! Karena terakhir kali kau berjanji, kaupun pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan selamat tinggal! "
"Yaa.. Yaa.. Maafkan aku, Al! "
Teman-teman Alicia terpaku melihat drama antara Alicia dan tuan muda Nikko. Mereka tidak percaya dengan apa yang telah nereka lihat. Begitupun Adam dan paman Leo.
"Paman, tidak bisakah kita memisahkan mereka berdua? "
"Ya, kita akan mencobanya. " Jawab paman Leo. "Ayo kita keluar dulu! "
Zaiden berkata, "Selamat siang, tuan muda Nikko. "
Nikko melirik Zaiden, "Hallo, apa kabar? Terimakasih kalian telah menjaga dan menemani Alicia kecilku! "
"Tidak masalah, tuan. " Jawab Linda
"Al, apakah kau tidak keberatan jika aku pergi meeting sore ini? "
"Kau baru datang dan sudah akan mengingkari janji! "
"Haaahaaa, kau memang Alicia kecilku yang suka ngambek.. " Tuan muda Nikko meledekku. "Kalau nanti kau sudah sembuh, datanglah bersamaku ke kantor untuk menemaniku meeting. "
"Ya sudah.. Ya sudahh.. Kau pergilah sana! "
"Ingat untuk minum obat dan beristirahat! "
Tuan muda Nikko pergi meninggalkan Alicia dan teman-temannya. Tuan Malik mengikutinya dan berkata, "Tuan, saya mengerti sekarang mengapa anda tidak bisa melepaskan nona! "
"Haahaa, apa yang kau pikirkan? "
"Ya, banyak wanita cantik di sekeliling anda. Tetapi nona jauh lebih cantik dan menarik dari mereka semua! "
"Bagus! Matamu tajam seperti elang. Mata itu tidak akan pernah salah! "
Soul Lounge, California
"Aku sengaja datang lebih awal untuk memastikan kedatangan Nikko! Dengan segala upaya, aku berusaha agar tampil cantik dan seksi. Karena yang kutahu, dia adalah seorang pria dengan nafsu yang tak terkontrol. Aku akan dengan sengaja memasukan obat perangsang di minumannya. Setelah itu, rencana selanjutnya akan berjalan dengan mulus. " Wina tertawa membayangkan wajah tampan tuan muda Nikko yang akan segera menjadi miliknya. "Aku yakin kali ini tidak akan gagal! "
Srakk.. Srakkk.. Tuan muda Nikko berjalan memasuki Soul Lounge. Semua mata terpana meihat kedatangannya. Dengan penuh percaya diri, dia duduk di salah satu sudut bar.
"Bisakah saya memesan satu wine? "
"Baik, tuan. "
Seorang wanita datang dari belakang tempat duduk tuan muda Nikko.
"Hallo tuan muda! Bolehkah saya menemani anda? " Wanita itu menyapa Nikko dengan menggigit bibir tipisnya.
"Oh, jadi wanita tidak tahu diri itu adalah kau!" Tuan muda Nikko memandangi Wina dari atas sampai bawah dengan tatapan datar.
"Bisakah kau melunak sedikit padaku, tuan?"
"Haaahaaa, itu semua tergantung bagaimana performamu! "
Mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan.
Kring kring kring..
"Hallo, ada apa Lucy? "
"Kau pasti terkejut dengan apa yang akan kau dengar dariku! "
Lucy menelepon Rose untuk memberitahukan apa yang barusan saja dilihatnya.
"Di depan mataku, seorang tuan muda sedang berkencan bersama dengan seorang wanita rendahan. "
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas! "
"Aku sekarang berada di Soul Lounge. Di depanku, sepasang kekasih sedang bermesraan. "
"Hmm.. "
"Pria itu adalah seseorang yang telah menolak cintamu. Dan wanita itu adalah nona dari keluarga Laurient. "
"Baiklah, aku mengerti! Akan kubereskan mereka! "
Kediaman keluarga Adit Atmadja
Faiz sedang berbaring di ranjangnya. Dia terlihat sangat lelah dan tegang. Ya, tegang menunggu waktu.
"Tuan.. Tuan Faiz! Tolong buka pintunya! " Teriak Morgan.
Brakkk..
"Ada apa? "
"Nyonya tidak sadarkan diri, tuan. "
"Bagaimana mungkin? Bukankah tadi baik-baik saja? "
Mereka segera berlari ke kamar nyonya Alifah.
"Nyonya.. Nyonya.. Tolong bangunlah! " Beberapa pelayan panik dan berteriak membangunkan beliau.
"Apa yang terjadi? " Tanya Faiz.
"Kami tidak tahu, tuan. Setelah kami masuk ke kamar, nyonya sudah tidak sadarkan diri. "
"Cepat panggil dokter keluarga! "
Morgan menelepon tuan Eddy, dokter keluarga tuan Adit.
"Hallo dokter. Saya mohon cepatlah datang ke sini. Nyonya tidak sadarkan diri. "
"Baik, tuan Morgan. Saya akan segera datang. "
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya dokter Eddy datang dengan membawa seorang perawat.
"Silahkan tuan, masuklah ke dalam! " Morgan mempersilahkan dokter Eddy masuk dengan sopan.
Dokter Eddy memeriksa dengan teliti. "Saya telah berusaha. Maafkan saya yang tidak bisa menyelamatkan nyonya. "
"Apa maksud anda, dokter? " Tanya tuan Faiz.
"Jantung nyonya telah berhenti. Kami juga sudah memasang alat pacu jantung. Dan usaha kami tidak berhasil. "
"Oh Tuhan, saya tidak berpikir demikian. Mungkin anda sangat gugup. Bagaimana jika anda salah? " Tanya tuan Faiz.
"Maaf tuan. Anda bisa membawa nyonya ke rumah sakit bila hasil kerja kami tidak memuaskan. "
"Tidaaakkk! Saya percaya dengan kalian. Karena saya mengenal anda cukup lama . " Ucap tuan Faiz pada mereka.
"Morgan, cepat kau hubungi tuan Farhan dan minta agar tuan besar Adit mempercepat kepulangannya ke tanah air! "
"Ya, tuan. Saya mengerti. " Jawab Morgan.