
Pernahkah kalian marah tanpa alasan? Ya, hanya dengan melihat wajah orang yang kalian benci, hati kalian akan menjadi sakit. Sakit hati itulah yang membuat kalian marah, kecewa, bahkan menyimpan dendam. Cara yang paling baik untuk mengobati rasa sakit hati itu adalah dengan memaafkan.
Mountainview, California
"Aaaarrgghhh....! " Aku berteriak keras saat seseorang tiba-tiba menyerangku.
Bruk. Seseorang yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba menyerangku hingga aku tersungkur ke tanah.
"Uhuk.. Uhukk.. " Aku terbatuk karena seseorang itu mencekik leherku.
"Lepaskan! " Teriak nona Dylon.
Aku tidak bisa mengenali wajah orang misterius itu karena dia mengenakan penutup wajah berupa masker dari bahan berwarna hitam dan memakai hodie berwarna hitam pula. Selain itu, dari bentuk tubuhnya aku berpikir jika dia adalah seorang wanita. Rambut panjangnya yang sebahu dibiarkan tergerai.
Chris dan nona Dylon berusaha menyelamatkanku. Dengan cepat Chris menangkap orang itu. Chris memegang kedua tangan orang misterius itu dan memborgolnya.
Plak. Nona Dylon menamparnya dengan keras. Datanglah dua orang penjaga.
"Lepaskan maskernya! " Perintah Chris kepada kedua penjaga itu.
"Ya! "
Salah satu dari mereka melepaskan masker wajah itu.
"Ahh? " Aku kaget setelah mengetahui bahwa seseorang yang menyerangku adalah Pingkan. Wanita rendahan yang mencoba untuk merebut Nikko dariku.
"Pegang dia! " Chris memerintahkan para penjaga itu.
"Baik tuan. "
Setelah itu Chris membantuku untuk duduk kembali di kursi roda.
"Apakah anda baik-baik saja, nona? " Tanya Chris.
"Ya! "
"Apakah kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan? " Nona Dylon berteriak keras di depan wajah Pingkan. "Kau telah meracuni nona dan hampir membuat kehilangan nyawanya! Tidak puaskah kau membuat tuan muda susah? "
"Siapa? Aku? " Tanyanya seperti orang bodoh.
"Apakah ada orang lain lagi di sini yang gila seperti dirimu? "
"Hahaha.. " Pingkan tertawa terbahak-bahak. "Aku? Wanita gila? " Tanya Pingkan sambil menatap sinis nona Dylon. "Jika aku adalah seorang wanita gila, lalu bagaimana denganmu? " Pingkan melirik nona Dylon. "Cih. Jangan sok suci! " Pingkan memalingkan mukanya dari nona Dylon.
"Jaga ucapanmu! " Bentak nona Dylon.
"Hahaha.. " Pingkan kembali tertawa. "Jangan pikir aku tidak tahu jika kau bermain kotor di belakang nona! " Pingkan menatapku. "Jika nona mau, aku akan memberikan semua bukti yang kumiliki. "
"Berhentiiiiiii! " Teriakku. "Penjaga, bawa dan hukum dia! "
"Ya, nona. "
Para penjaga segera membawa si wanita gila ke vila kecil di bagian barat Vila utama. Di sana terdapat penjara bawah tanah yang gelap. Penjara itu dibuat khusus oleh tuan muda Nikko untuk para pembelot dan musuh yang menyelundup masuk ke dalam vila. Untuk sampai ke sana diperlukan kendaraan berupa jeep karena lokasinya sangat curam.
"Nona, minumlah. Teh hangat ini akan menyegarkan anda! " Chris memberikanku secangkir teh hangat morning dew kesukaanku.
"Terimakasih. "
Aku meminumnya dan merasa jauh lebih baik. Nona Dylon pergi agak menjauh dari tempatku duduk.
Srak srak srak. Suara langkah kaki nona Dylon.
Nona Dylon beranjak pergi untuk melaporkan kejadian pagi ini kepada tuan Malik.
Tut tut tut.
"Ada apa, nona? "
"Saya ingin mengabarkan tentang situasi di vila, tuan. "
"Katakan! Karena dalam sepuluh menit ke depan, kami akan mendarat. "
"Baik, ini tidak akan butuh waktu lama. " Nona Dylon bicara dengan tergesa-gesa. "Pingkan baru saja menggila. Dia menyerang nona Alicia di taman dan akibatnya nona terjatuh. Selain itu, dia mencekik leher nona hingga nona terbatuk! "
"Apa yang baru saja kau katakan? " Tanya tuan Malik tidak percaya. "Dimana para penjaga berada saat itu? "
"Para penjaga berada agak jauh dari lokasi kami! "
"Lalu bagaimana keadaan nona saat ini? "
"Nona sudah baik-baik saja. Saat ini Chris sedang menemaninya! "
"Tahukah kau apa yang akan dilakukan oleh tuan muda jika mengetahui kejadian ini? "
Nona Dylon menelan ludahnya, "Tidak, tuan! "
"Tuan muda akan membunuh semua orang yang berada di sekitar lokasi kejadian, tidak peduli apakah itu para penjaga ataupun bukan! "
"Whaaaattt? "
"Jangan terkejut. Ini baru hal kecil. "
"Bagaimana dengan hal besar lainnya, tuan? "
"Hal besar lainnya adalah membunuh seluruh keluargamu hingga tidak tersisa satupun keturunan di keluargamu! "
Wajah nona Dylon berubah memerah dan dia tidak bisa berkata apapun lagi.
"Apakah kau mengerti mengapa tuan muda menginginkan kau untuk selalu bertindak dengan menggunakan kecerdasanmu? "
"Ya. Sekarang saya tahu tuan! "
"Baiklah. Jaga nona dengan baik! "
"Ya, tuan. "
Nona Dylon melangkah dengan lesu kembali ke tempat dimana nona Alicia duduk namun dia menutupinya dengan cepat agar tidak diketahui oleh orang lain, terutama Alicia.
"Nona, saya bertanggungjawab atas keamanan di vila ini! " Chris memberitahukannya kepada Alicia. "Saya mohon pamit untuk mengecek keamanan ke seluruh penjuru vila ini! "
"Oke. Segera kembali setelah kau menyelesaikan tugasmu! "
"Baik, nona! "
Aku mengambil beberapa foto bunga tulip yang sedang mekar!
"Ah, ini sangat cantik! Yang ini, yang itu, dan yang berwarna merah muda ini juga sangat cantik! " Aku berkata dengan penuh semangat.
"Nona, biarkan saya membantu untuk mengambil beberapa foto anda! "
"Mm, oke. "
"Silahkan rentangkan tangan anda seperti ini! " Nona Dylon memberikan contoh dengan merentangkan kedua tangan ke samping.
"Oke. "
Nona Dylon mulai menghitung mundur, " Three, two, one, say cheese! "
Cekrek cekrek. Nona Dylon mengambil beberapa foto nona Alicia.
"Nona, lihat! Wow.. Foto-foto anda sangat cantik dengan latar belakang bunga tulip yang sedang mekar.. "
Nona Dylon memberikan beberapa hasil foto jepretannya.
"Mm, terimakasih ya nona. Sudah lama saya tidak berfoto. "
"Tidak perlu sungkan, nona. Sepertinya pagi ini kita sudah cukup berjemur. Mari kita masuk. Apakah anda ingin melakukan sesuatu? "
"Tidak. Saya hanya ingin bersantai sejenak di kamar. "
"Baiklah. Saya akan mengantarkan anda. "
Mereka kembali masuk ke dalam vila. Nona Dylon mendorong kursi roda Alicia ke dalam kamarnya di lantai dua.
"Nona, silahkan beristirahat. Jika anda perlu sesuatu, jangan ragu untuk mengatakannya pada saya! "
"Baik. "
Nona Dylon meninggalkan kamar nona Alicia dan kembali ke kamar tamu.
Brak. Nona Dylon membuka pintu kamarnya.
"Aku akan memberi kabar kepada tuan Santo. " Ucap nona Dylon.
Tut tut tut.
"Halo? "
"Tuan, saya ingin memberikan progres pekerjaan saya. "
"Katakan! "
"Nona sudah siuman. Dan pagi ini, saya menemaninya berjemur namun Pingkan berusaha untuk mencelakainya. "
"Apaaa? Lalu bagaimana dengan nona? Apakah nona terluka? " Tuan Santo sangat terkejut mendengar kabar dari nona Dylon.
"Tidak. Tidak sama sekali, tuan. Saya dan Chris menyelamatkan nona tepat waktu. "
"Chris? Siapa dia? "
"Dia adalah penanggung jawab keamanan di vila ini dan juga nona sangat percaya padanya. "
"Oh, rupanya seperti itu. " Tuan Santo terdengar lebih lega setelah mendengar penjelasan dari nona Dylon. "Lalu bagaimana dengan kesehatan nona? "
"Nona masih dalam kondisi lemah. Meski semua kondisi tubuhnya stabil tapi nona masih dibantu dengan memakai kursi roda dan akan mulai belajar berjalan secara bertahap. "
"Siapa dokter yang menanganinya? "
"Lalu, apakah nona sudah bisa menerima kehadiranmu? "
"Saya mencoba untuk memenangkan hatinya, tuan. Dan saya akan mengirimkan beberapa foto yang sudah saya ambil pagi ini untuk tuan muda William. "
"Baiklah. Saya menunggu progres selanjutnya. "
"Ya, tuan. Terimakasih. "
Nona Dylon sangat lega mendengar nada bicara tuan Santo yang berarti tuan muda William tidak marah lagi padanya. "Aku sangat bersyukur bisa bekerja untuk tuan muda William. Aku akan berusaha tidak mengecewakannya. "
Jakarta, Indonesia
Tuan muda Nikko dan tuan Malik sedang bersiap untuk mendarat.
"Tuan, dalam waktu sepuluh menit ke depan, kita akan mendarat. Mohon anda bersiap. "
"Ya. "
Merekapun mendarat dengan selamat. Setelah melalui perjalanan yang panjang, tuan muda Nikko beserta kru tiba dengan selamat di tanah air. Kedatangan mereka sudah dinantikan oleh beberapa orang keluarga Atmadja dan juga sekutu dari perusahaan Fantastic Prima, milik keluarga Atmadja.
"Selamat datang kembali ke tanah air, tuan muda. " Sapa tuan Putra, rekan tuan Yoga Atmadja ayah dari tuan muda Nikko.
"Ya, terimakasih paman. "
"Bagaimana kabar anda? "
"Sangat baik. Bagaimana kabar paman? "
"Kurang bagus, tuan muda. "
"Apa yang membuat paman merasa kurang baik? "
"Pikiran saya bercabang. Memikirkan rapat pemegang saham kali ini. "
"Haha, tidak usah khawatir berlebihan, paman! "
"Bagaimana tidak? Para investor menarik investasinya dari perusahaan kita. "
"Tenang saja, mereka akan merugi jika memutuskan hubungan dengan kita. " Tuan muda Nikko menepuk bahunya pelan. "Saya memiliki rencana besar untuk perusahaan. Anda duduklah dengan tenang mendukung saya! "
"Tentu, tuan muda. Saya akan mendukung anda hingga titik darah penghabisan. "
"Haha. Senang bertemu dengan anda, paman. "
Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang telah disiapkan.
"Tuan muda, saya sudah memesan tempat untuk menjamu makan siang anda! "
"Benarkah? Tapi, saya memiliki beberapa jadwal yang padat. " Tuan muda Nikko menolak ajakan tersebut. "Bagaimana jika lain waktu saja, paman? Saya akan pergi mengunjungi teman lama. "
"Oh, baiklah. Anda yang menentukan waktunya, tuan muda. " Tuan Putra berbicara sambil menutup mobil mewah yang akan membawa tuan muda Nikko pergi. "Beristirahatlah, tuan. Anda sudah lelah di perjalanan. Sampai bertemu besok di perusahaan! "
"Ya, sampai jumpa. " Jawab tuan muda Nikko dengan datar.
Brom broom broom. Mobil mewah itu melaju.
"Tuan muda, kita akan pergi kemana? " Tuan Malik bertanya.
"Apartemen. "
"Baik. "
"Apakah tuan Daya Dharmasetya sudah menyerahkan dokumen pengalihan kepemilikan tanah yang saya inginkan? "
"Sudah, tuan. Saya sudah menyiapkannya untuk anda. "
"Baik, salin dan kirimkan ke email saya. Saya akan mempelajarinya. "
"Ya, tuan. "
Mobil mewah itu melaju melewati beberapa pusat perbelanjaan mewah.
"Apakah ini mall terbaru di kota ini? " Tanya tuan muda Nikko.
"Ya, mall ini milik keluarga Alexander. Dan arsitek yang merancangnya adalah tuan muda keluarga Alexander sendiri. "
"Benarkah? "
"Ya, tuan muda. Mereka baru saja meresmikan mall itu dua hari yang lalu. "
"Hmm, rupanya saya terlalu meremehkan tuan muda mereka! "
Tuan Malik terdiam. "Apa maksud perkataan tuan muda? Terlalu meremehkan? Keluarga Alexander memang memiliki tuan muda yang hebat. Menurutku setara dengan tuan muda Nikko. " Pikir tuan Malik.
Tuan muda Nikko melihat ke arah tuan Malik yang sedang berpikir. "Apa yang sedang kau pikirkan, Malik? "
"Tidak ada, tuan. Hanya saja, saya merasa sedih jika berada di sini. "
"Ada apa? Katakan! "
"Saya mengenang masa-masa sulit dulu sebelum bertemu dengan anda. "
"Ya, Seberapa buruknya masa lalu yang kita miliki, tidak akan merubah apapun. Tapi, move on and take a chance! Karena dengan begitu kau akan merubah masa depan. " Tuan muda Nikko bicara sambil menatap ke luar jendela mobil. "Ingatkah kau betapa saya sangat terpuruk dulu di Jerman? "
"Ya, tuan. "
"Kau tahu kan? Saya selalu berusaha keluar dari Zona keputusasaan! Hingga sekarang, saya memiliki tujuan hidup yang sederhana tapi rumit. "
"Ya, tuan. Anda selalu berkata ingin memperjuangkan nona Alicia. "
"Benar! Berapapun banyak wanita yang saya miliki, hati ini tetap terasa hampa. Dan meskipun saya hanya melihat Alicia dari kejauhan, tapi saya merasakan hangat di dalam hati. Itulah mengapa saya tidak ingin kehilangan rasa hangat ini. Ya, mugnkin saya terlalu puitis tapi itulah yang saya rasakan. "
"Semoga kelak anda bisa terus bersama dengan nona, tuan muda! "
"Terimakasih, Malik. Ingatlah suatu saat nanti jika kau memiliki seseorang yang kau cintai, kejar dan pertahankanlah dia! Meski kau kehilangan apapun yang kau miliki! "
Tuan Malik melihat ketulusan yang terpancar dari wajah tuan muda Nikko. Di dalam hatinya tuan Malik berdoa, "Semoga kelak Tuhan mempersatukan kalian, tuan muda. Kau amat mencintai nona rupanya! Itulah sebabnya, para dokter berkata kau rela memberikan persediaan vitamin c untuk nona, sedangkan dirimu sangat membutuhkannya! "
Merekapun telah sampai di apartement milik tuan muda Nikko. Tuan Malik membukakan pintu mobil.
"Silahkan, tuan! "
"Ya. Malik, kau tidak usah menungguku. Kau pulanglah dan beritahu orangtuaku bahwa aku akan pulang untuk makan malam! "
"Baik, tuan. Anda beristirahatlah. Saya akan menghubungi dokter Sierra untuk memberi kabar padanya bahwa kita sudah sampai di tanah air. "
"Oke. "
Tuan muda Nikko masuk ke dalam apartemennya itu.
Tit tik tik. Suara kode apartemen yang ditekan oleh tuan muda Nikko. Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.
Ceklek.
"Hah? Tuan muda? "
Tuan muda Nikko tersenyum tipis. "Apakah Sarah ada di dalam? "
"Ya, tuan. Kapan anda tiba di tanah air? "
"Belum lama. Di mana Sarah? "
"Nona Sarah baru saja selesai belajar dan sedang bersantai di ruang tengah, tuan. "
"Kau pergilah dan jangan mengganggu ! "
Pelayan itu berhenti mengikuti langkah tuan muda Nikko. "Baik, tuan. "
Tuan muda Nikko langsung pergi menuju tempat dimana Sarah berada.
Sarah sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa yang besar menonton televisi di ruang tengah. Dia mengenakan dress pendek berwarna merah muda tanpa tali. Tuan muda Nikko datang dari arah atas kepalanya dan dengan cepat menutup mata Sarah dan langsung berada di atas tubuhnya untuk mencium bibirnya.
"Mmmuah.. Mmuuaahhh.. " Tuan muda Nikko tidak berhenti menciumnya sampai membuat Sarah tidak bisa bergerak dan hanya bisa menurutinya.
"Hmm, wangi parfum ini seperti milik Nikko! " Pikir Sarah. "Tidak mungkin itu dirinya kan? Karena aku tidak mendengar kabar bahwa dia akan kembali ke sini! Dan ayah juga tidak mengatakan apapun padaku. "
"Mm.. " Sarah membalas ciuman maut dari tuan muda Nikko dengan bergairah. "Muahh.. Muahhh.. "
Sarah mencoba membuka matanya. Sosok pria yang ada di atas tubuhnya memang tuan muda Nikko.
"Mmuuaahh.. " Tuan muda Nikko memperlambat ciumannya.
"Kapan kau sampai di Indonesia? " Tanya Sarah.
Tuan muda Nikko tidak menjawab dan terus menciumi leher Sarah. Tubuh Sarah mengerang akibat dari serangan itu.
"Nikko? "
"Hmm.. "
"Apakah kau rindu padaku? "
"Mmm.. " Tuan muda Nikko menghentikan aksinya. "Apa yang kau pikirkan? "
"Aku hanya memikirkan dirimu! "
"Haha.. " Tuan muda Nikko tertawa. "Jangan biarkan perasaanmu terbawa terlalu dalam. Karena bagiku wanita hanyalah pakaian. "
"Termasuk aku? "
"Ya! "
Setelah menjawab, tuan muda Nikko melanjutkan kembali aksinya yang tertunda tadi.