
Mountainview, California
"Lihat itu! " Nikko menunjuk jari-jemari Alicia yang bergerak perlahan.
"Tenanglah tuan, saya akan memeriksa denyut nadinya! "
Dengan cermat dokter wang memeriksa Alicia. Nikko dan Malik memperhatikan dengan khawatir.
"Hmmm... " suaraku terdengar lemah.
"Dia membuka matanya, tuan! " Malik berbisik pada Nikko.
Aku memperhatikan sekelilingku. Kepalaku terasa pusing. "Siapa orang-orang ini? " pikirku dalam hati. "Dimanakah aku? Mengapa ada banyak dokter di sini? Apakah aku sakit? "
Ruangan ini mirip dengan ruang perawatan rumah sakit. Tapi di sini jauh lebih terasa hangat. Dengan dekorasi layaknya kamar tidur pribadi. Dinding yang dicat putih tulang dan soft pink, berbagai peralatan medispun terdapat di sini.
Nikko menghampiri Alicia dan mengusap rambutnya, "Bagaimana perasaanmu? "
Aku menatap laki-laki yang berdiri di depanku, "A.. Aku? "
"Ya, sayang. "
Aku bingung, "Aku.. Aku siapa? " hikss hiksss.. Aku menangis. "Aku tidak mengingat apapun. "
Nikko menarik nafasnya dan berkata lembut, "kalian semua keluarlah dulu! "
"Baik, tuan. "
Setelah semua keluar, tinggalah laki-laki itu dan aku di dalam ruangan itu.
"Tidak apa-apa jika kau tidak mengingat apapun! Aku akan membantumu mengingatnya kembali. "
"Terimakasih. "
"Tidak perlu! Kau dan aku adalah pasangan kekasih. " Nikko menjelaskan dengan kata-kata yang lembut. "Namamu adalah Alicia. Dan aku, tunanganmu Nikko. Cukup sampai di sini dulu yang harus kau ingat ya, Al! "
"Kau adalah tunanganku? " aku kaget. "Jika dia adalah seseorang yang begitu penting untukku, mengapa aku bisa lupa tentangnya? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? " pikirku.
"Benar! "
"Kau sangat baik padaku dan masih merawatku dengan baik di saat aku seperti ini! "
"Alasanku adalah karena cintaku yang begitu besar padamu! "
Nikko mencium lembut keningku. "Tapi mengapa aku tidak mengingat sedikitpun tentangnya! " kataku dalam hati.
"Aku sudah tidak sabar memainkan drama ini. Saat di hari pernikahanku tiba, tidak akan ada satu orangpun yang bisa menghalangiku memiliki Alicia seutuhnya. Haaahaaa... " Nikko sangat antusias berbicara pada dirinya sendiri.
"Kau beristirahatlah. Saat kau telah pulih kembali, aku akan memiliki banyak waktu untukmu. "
"Ini di manakah? Dan di mana orangtuaku? "
"Ini di Vilaku. Mengenai orangtuamu, aku akan menjelaskan nanti saat kau telah keluar dari ruang perawatan. Jangan khawatir! Mereka semua adalah orang-orangku. "
"Baiklah, aku mengerti. "
"Aku akan pergi selama beberapa hari ke depan untuk perjalanan bisnis. Bisakah kau menungguku pulang? "
Aku mengangguk lemah, "ya.. "
"Akan ada beberapa pelayan yang akan melayanimu dan Pingkan yang akan menemanimu. "
Bip bip bippp.. Nikko membunyikan bel tanda untuk memanggil dokter.
"Kami hadir, tuan muda. "
"Tolong kalian jaga dan rawat nona. Perhatikan makanan yang dia makan juga jangan lupa memberikan obatnya. "Nikko memberi perintah. "Mata dibayar dengan mata, nyawa dibayar dengan nyawa! Ingat itu! "
"Tuan... " suara lembut Pingkan terdengar.
"Masuklah! "
Pingkan berjalan mendekat.
"Mari kuperkenalkan, dia adalah Alicia tunanganku. Bersikap baiklah padanya! " Nikko memperkenalkan Pingkan kepada Alicia.
"Senang berkenalan denganmu, Alicia! "
"Perhatikan nada bicaramu, Pingkan! Ingatlah kedudukanmu. " Nikko mengingatkan.
"Ya, tuan muda. "
"Tidak apa-apa. Aku senang memiliki teman di sini. "
"Yakin kau senang? Kita lihat seberapa senangnya kau!! Kau merebut Nikko dariku. Seberapa hebatnya dirimu sampai Nikko menyebutmu sebagai tunangannya! " Pingkan merasa kesal karena cinta Nikko untuk Alicia sangat tulus.
Akhirnya Nikko keluar dari ruang perawatan. Dan dokter yang bertugas menjaganya tetap berada di sisi Alicia.
Seperti mimpi. Entah mimpi buruk atau mimpi baik? Tidak ada seorangpun yang bisa kupercaya dengan kondisiku yang seperti ini! Sepertinya aku harus mempercayai laki-laki itu. Dilihat dari sorot matanya, dia seperti sedang mengejar sesuatu yang berharga, entah apa! Aku hanya mengandalkan diriku sendiri. Aku yakin, kedudukanku kuat di keluarga ini..
Di ruang kerja Nikko
"Malik, ikutlah denganku bertemu dengan relasi bisnis tuan Richard. Di sana akan ada penggalangan dana. Dan tentu ada Ricky perwakilan dari William. "
"Lalu siapa yang akan menjaga nona? "
"Kau! "Nikko menunjuk Dido. "Sejak awal, tugasmu adalah mengawasi Alicia. Dimanapun dia berada, kau akan terus bersamanya. "
"Baik, tuan. "
"Awasi gerak-gerik Pingkan. Sepertinya dia tidak menyukai Alicia. " Nikko menatap dengan pandangan kosong ke atas. "Ancam keluarganya jika dia berani menyentuh Alicia! "
"Saya mengerti, tuan. "
"Baiklah, aku akan mandi. Panggilkan Pingkan ke kamarku! "
Mereka bertiga keluar dari ruang kerja Nikko. Dan Nikko berjalan ke kamarnya.
Nikko masuk ke kamar pribadinya. Dia mencari beberapa foto. Ya, foto keluarga Pingkan yang berada di Indonesia.
Tok tok tok...
"Masuk! "
"Apakah tuan memanggil saya? "
"Benar! "
"Ada apa? Apakah tuan rindu pada saya? " Pingkan tersenyum menggoda Nikko.
"Haaahaa, kau mulai berani padaku! " Nikko menghempaskan tubuh Pingkan ke atas ranjang. Dia menyentuh dagu wanita itu dengan bibirnya. "Hmmm.. Mm... Muaahh"
"Sabar, tuan muda. Saya belum siap! "
"Hmmm, mmm, mmm,,.. Muaahh Ohhh! " Nikko mencium bibirnya dengan kasar.
Hosh.. Hossh.. "Ada apa dengan Nikko? Sepertinya dia marah padaku. Mengapa dia mulai kasar seperti ini lagi? " Pingkan kesal dengan Nikko yang suka berubah.
"Ada apa, tuan? "
Nikko berhenti menciuminya. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto dari saku celananya.
"Lihat ini! " Nikko melemparkan foto-foto itu ke wajah Pingkan.
Nikko berdiri mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menikmatinya di sudut jendela yang terbuka sambil memandang ke arah luar jendela. Dan Pingkan terduduk di ranjangnya. Pakaiannya yang minim, membuat nafsu Nikko semakin memuncak.
"Apa maksud semua ini, tuan? "
"Berapa kali kukatakan, kau tidak berhak untuk bernegosiasi denganku! Jika kau tidak menurut padaku, aku akan menghancurkan semua orang yang ada di foto itu! Bagaimana?? "
"Setahuku, aku tidak sedang bernegosiasi apapun denganmu! "
"Oh, benarkah? Kalau begitu, jika kutahu kau berkhianat, aku akan menghancurkan mereka tanpa sepengetahuanmu! "
Pingkan terdiam. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Nikko. Aku harus merebut hati pria ini agar keluargaku tidak dalam masalah.
Pingkan berdiri, berjalan mendekati Nikko. Dia memeluk Nikko dari belakang. Dengan suara pelan dan menggoda, dia berkata, "Tuan, jika kau marah padaku katakanlah! Aku akan merubah sikapku. Jika ada yang kau tak suka dariku, kumohon beritahu aku! "
"
Nikko mematikan rokoknya dan membalikan badannya. Dia menatap wajah Pingkan. "Kau sungguh bermulut manis! " Nikko berkata pada Pingkan dengan senyum di sudut bibirnya.
Pingkan tersenyum dan menggigit bibirnya dengan manja dia berkata, "Jika aku tidak bermulut manis, bagaimana tuan akan terpikat padaku? "
Pingkan berbicara sambil melepaskan kancing kemeja Nikko. Satu persatu kancing terlepas dari lubangnya. Akhirnya saat semua kancingnya sudah terlepas, Pingkan menyentuh dada bidangnya yang membuat Nikko terangsang. Lalu wanita penggoda itu melepaskan kemeja putih yang dikenakan Nikko.
Setelah Nikko telanjang dada, Pingkan mendekatkan wajahnya ke wajah Nikko. Dia membelai halus wajah tampannya Nikko, dan akhirnya mereka berciuman mesra.
Sambil berciuman, Pingkan dengan segera melepaskan cardigan biru yang ia pakai. Terlihatlah pemandangan yang sangat menggairahkan untuk Nikko.
Nikko menarik Pingkan ke dalam pelukannya. Dia mendudukan Pingkan ke atas pahanya. Ya, Nikko duduk di bawah jendelanya.
Dia meraba bagian sensitif pada dadanya Pingkan dengan jari-jarinya yang lihai. Terlihat bahwa Pingkan sangat menikmati permainan ini. Lalu Nikko menggendong Pingkan ke atas ranjang dan dia mengangkat dagunya dengan tangan kirinya dan mulai mencium lehernya. Terus mencium hingga ke bagian bawah tubuhnya. Nafsu Nikko terus mencabik-cabik dirinya. Dia tidak bisa menahan untuk tidak melakukannya.
Hari sudah sore, mereka masih bergairah melakukannya. Hingga ponsel Nikko berbunyi.
"Tuan, apakah kau tidak akan menjawabnya dulu? "
"Tidak! "
"Bagaimana jika itu suatu hal yang penting? "
"Aku bahkan tidak peduli! "
"Baiklah, jangan salahkan aku jika aku tidak mengingatkanmu! "
Hoshh hossshhh.. "Nafasku sesak. Sangat lelah melayani Nikko. Walau bagaimanapun, aku harus memenangkan hatinya. "
"Aku sudah mau keluar, tuan! "
"Tidak! Tunggulah, kita keluar bersama! "
Pingkan menggerutu dalam hati, "Hahh? Sampai kapan? Aku lelaaaah sekaliiii! " aku bahkan tidak boleh bernegosiasi.
"Huuuhhhh... Ohhhh... Mmuuaahh! "
"Apakah kali ini kau puas, tuan? "
"Ya, kau boleh minta apapun yang kau mau! "
"Tidak sekarang, tuan. Aku masih tercukupi! "
"Baiklah, kau bisa memintanya kapanpun! " Nikko memeluk Pingkan dengan meraba bokongnya. "Siapkan air mandi untukku. Aku akan menghadiri penggalangan dana bersama para rekan bisnis! "
"Baik, tuan. " Pingkan bangun dan bergegas memakai piayama yang telah disediakan dan berjalan ke kamar mandi.
"Gilaaa! Ini sangat gila! " Pingkan bercermin. Tubuhnya penuh tanda merah dari Nikko.
Nikko membuka ponselnya dan melihat isi pesan dari mata-mata yang dia sediakan untuk keluarga tuan Dharmasetya.
"Tuan, misi berhasil. "
Nikko tersenyum dan membalas isi pesan itu, "Bagus. Jalankan rencana selanjutnya! "
"Baik, tuan. "
"Setelah menekan pak Gubernur Dharmasetya untuk membebaskan lahan milik mr Adit, aku akan segera membangun sebuah apartemen dengan sarana yang memadai. Haaahaaa" Nikko berkata dalam hati. "Itulah keuntungan yang kudapat dengan menggunakan Sarah sebagai pion utama! "
Kediaman tuan Keneddy, California
Di acara ini akan hadir beberapa tamu penting. Dan Nikko akan hadir juga. "Aku akan membalas kebohongannya! Dia sempat mempermainkan aku. Sekarang lihatlah, bagaimana aku akan mempermainkanmu, tuan muda! "
Rose memikirkan sebuah rencana untuk menjebak Nikko.
Jimmy memasuki ruangan Rose.
"Nona.. "
"Ada apa? "
"Tuan Ricky dari Indonesia mengirimkan paket untuk anda. "
Jimmy memberikan sebuah kotak yang cantik berwarna merah. Nona Rose terlihat sangat senang. Dia langsung membuka kotak itu.
"Wooww! "
Rose mengeluarkan gaun berwarna merah yang cocok untuk kulitnya yang putih bersih.
"Ini adalah gaun merk Geraldi yang limited edition. Bahkan aku terlambat membelinya. Dari mana dia bisa mendapatkan gaun ini?? " Rose sangat terpikat dengan gaun ini.
"Nona, tuan Ricky menelepon.. "
"Baik, saya akan menerima teleponnya. "
Jimmy memberikan ponselnya kepada nona Rose.
"Hallo... "
"Nona Rose, sudah lama saya tidak mendengar suara lembut anda! "
"Heeehee.. "
"Apakah paket yang saya kirim sudah sampai di tanganmu? "
"Ya, aku sangat senang. "
"Kalau begitu usahaku tidak sia-sia merebutnya dari seorang wanita. "
"Maksudmu kau melakukan ini untukku? "
"Ya, tentu saja. Karena edisi gaun ini terbatas, saya harus mendapatkannya. Saingan terberat saya adalah seorang wanita yang sangat rakus. "
"Haaahaaa, wanita rakus mana yang kau maksudkan? "
"Yaaa, saya harus sedikit meyakinkan dia untuk mendapatkan gaun ini! Saya mohon, nona bersedia menemani saya di acara penggalangan dana! "
"Baiklah, saya setuju! " dengan mudahnya Rose bersimpati pada Ricky.
"Kalau begitu saya akan menjemput nona jam delapan malam. "
"Oke. "
Mereka sepakat hadir bersama di acara penggalangan dana tersebut.
Green Fantastic Corp, California
Ricky menelepon mr Santo yang sedang berada di Inggris bersama William.
"Tuan, sesuai dengan rencana. Nona Rose masuk ke dalam jebakan. "
"Bagus. Jalankan sesuai dengan rencana. Buat dia membuka mulutnya dan buat Nikko cemburu padamu! "
"Saya mengerti. "
"Dylon akan membantu membuat misimu berjalan mulus. "
"Ya tuan. "
"Dia akan mengalihkan pandangan Nikko. "
"Saya mengerti, tuan. "
"Baiklah, sampai jumpa. "
Ricky bersiap. "Peperangan kali ini, bukan hanya dengan Nikko. Melainkan dengan tuan Keneddy. Sebenarnya ada dendam apa William dengan tuan Keneddy? " Ricky berpikir dengan keras. Sepertinya ini masih menyangkut Alicia.
Lucky Apartment, California
Dylon tiba di Amerika. Tuan Santo telah menyediakan apartemen sementara untuknya.
"Aku sangat muak dengan Nikko. Dia telah tidur dengan beberapa wanita. Dan saat ini akulah yang akan menjadi teman tidurnya." Dylon kesal saat mengetahui dirinya mendapatkan misi ini. Tapi, tuan muda sudah banyak membantuku. Aku harus berhasil dengan misiku ini! Aku tidak ingin mengecewakan tuan muda! "
Dylon bertekad akan memenangkan hati Nikko. Tidak mudah menangani Nikko. Aku harus tarik ulur terlebih dahulu agar Nikko penasaran padaku.
Setelah memilih beberapa gaun yang telah disiapkan oleh tuan Santo, akhirnya Dylon menjatuhkan pilihannya pada gaun berwarna tosca dengan belahan dada rendah dan bagian punggung terbuka.
"Yaahh, gaun panjang tosca ini sangat seksi dan lekuk tubuhku terlihat sempurna. Belahan tinggi hingga ke paha yang membuat bagian paha mulusku terlihat. Dengan memakai ini, nafsu bejatnya Nikko pasti tidak mudah untuk diatasi! "
Dylon tersenyum penuh di wajahnya. Dia melepaskan gaun yang telah dicobanya itu dan pergi membersihkan dirinya.
Aroma wewangian bunga mawar mengharumi seluruh ruangan. Dylon sedang berendam dan merelaxkan dirinya.
Mountainview, California
Aku sudah keluar dari ruang perawatan. Aku duduk di ayunan rotan tepatnya di atas balkon. Pemandangan di sini sungguh cantik dan udara yang sejuk membuat hatiku merasa nyaman. Aku baru tahu jika di vila sebesar ini terdapat taman bunga tulip yang indah.
Di taman ini, terdapat berbagai macam jenis bunga tulip.
Hmmm, aku duduk melihat-lihat bunga tulip kesukaanku. "Apakah kau senang berada di sini, nona? " tanya Dido.
"Ya, aku sangat senang. Bisakah kau membawaku ke taman itu? " aku menunjuk taman bunga tulip di bawah sana.
"Maafkan aku, nona. Tidak sekarang. Tapi aku berjanji, akan membawamu ke sana jika kau sudah boleh berjalan keluar rumah oleh dokter. "
"Baiklah, Dido. Aku mengerti. " aku sedikit kecewa tapi aku tahu, dia hanya menjalankan perintah.
"Apakah ada yang anda inginkan, nona? "
"Apakah sekarang sudah memasuki bulan april? "
"Benar. Hari tepatnya adalah tanggal 4 di bulan april. "Dido menjawab pertanyaanku dengan penuh semangat. "Kalau saya boleh tahu, ada apa? "
"Haa haa, tidak ada apa-apa. Pantas saja bunga tulipnya sudah bermekaran. Mereka sangat cantik! "
"Kalau nona mau, saya bisa mengambilkan kamera untuk anda? "
"Oke"