My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
The Funeral part 1 : Tuan Adit dan William



Pt Fantasia Liu, Jepang


"Tuan, apakah anda tertarik dengan putrinya tuan Adit? " Tanya Melissa sekretaris pribadi tuan Liuliu.


Tuan Liuliu sedang memandangi foto Alicia. "Ya, saya berniat untuk menjodohkannya dengan putra saya. "


"Oh, rupanya seperti itu! Putra pertama anda atau putra kedua? "


"Haaahaaa, kau terlalu mencampuri urusan pribadi saya! "


"Saya tidak bermaksud demikian, tuan. Hanya saja, yang saya tahu nona Alicia sangat dekat dengan putra tuan Yoga. "


"Kau suka bercanda, Mel! Mereka tidak mungkin bisa bersama. Karena masih terikat darah yang sama! "


"Tuan, Apakah anda tidak tahu suatu rahasia di dalam keluarga Atmadja? " Melissa melihat tuannya dengan tatapan serius.


"Rahasia apakah yang membuatmu begitu tertarik? "


Melissa berjalan mendekati presdir Liuliu. "Tuan, ini adalah info yang saya ketahui dari mata-mata kita di Indonesia. Bahwa, tuan muda Nikko bukanlah anak kandung dari tuan Yoga! "


"Benarkah? Lalu siapa orangtua kandung Nikko yang sebenarnya? "


"Tuan muda Nikko adalah anak adopsi dari teman tuan yoga. "


"Haaahaaaa, sangat menarik! Pantas saja Nikko rela melakukan apapun untuk mendekati Alicia! " Tuan Liuliu tertawa keras.


"Sepertinya tuan harus membuat rencana untuk menjauhkan mereka! "


"Ya, kau tenang saja! Saya sudah memiliki beberapa rencana untuk masa depan mereka! " Tuan Liuliu memutar kursinya menghadap jendela. "Lalu dimanakah ibu dari anak itu? Cari informasi sekecil apapun tentang Nikko. Suatu saat kita bisa menjatuhkannya dengan rahasia yang kita miliki itu! "


"Baik, saya mengerti. "


Pagoda Hotel room 5005


Setelah mendapatkan kabar dari Indonesia mengenai kematian nyonya Alifah, tuan Adit terlihat marah. Wajah beliau memerah.


Dengan suara yang berat, tuan Adit memberi perintah, "Segera jemput Alicia dan perketat penjagaannya. Jangan biarkan Nikko menemukannya! "


"Baik, tuan. "


"Telepon Kenan, suruh dia bertanggungjawab! Jangan lupa, minta Heidy untuk tidak berdiri di pihak saya. Beritahukan padanya, bahwa kita akan segera pulang! "


"Bagaimana dengan tuan Liuliu? "


"Sambungkan telepon saya sekarang! "


Tuan Farhan segera menelepon sekretaris pribadi tuan Liuliu.


"Hallo, tuan Farhan. Apakah anda ingin berbicara dengan tuan Liuliu? "


"Benar. Katakan padanya, tuan Adit ingin bicara langsung dengan beliau! "


"Mohon anda tunggu sebentar. Saya akan ke ruangan beliau. "


Melissa mengetuk pintu ruangan presdir Liuliu. Tok tok tok..


"Masuklah! "


"Tuan, ada telepon dari tuan Farhan. Katanya tuan Adit ingin berbicara langsung kepada anda! "


"Ohh? Ada apa? Segera sambungkan denganku! "


"Baik, saya permisi. "


Melissa meninggalkan ruangan presdir Liuliu, kembali menuju tempatnya.


"Hallo.. "


"Maafkan saya mengganggu pekerjaan anda."


"Saya sudah menganggapmu lebih dari sekedar partner bisnis, jadi kau tidak perlu sungkan. Katakan, ada apa? "


"Saya ingin meminta perlindungan tuan. "


"Haaahaaa, perlindungan seperti apa yang kau inginkan, tuan Adit? "


"Bukan untuk saya. Namun untuk putri semata wayang saya. Alicia. "


Di seberang sana, tuan Liuliu tercengang. "Umur saya belum mencapai enam puluh tahun, adakah yang salah dengan pendengaran saya? "


"Tidak, tuan. Saya mohon pada anda untuk memberikan Alicia perlindungan. Saya akan segera kembali ke Indonesia. Saya baru mendapatkan kabar bahwa istri saya telah meninggal. "


Lagi-lagi seperti tersambar petir di siang hari! Tuan Liuliu tidak bisa mempercayai ucapan tuan Adit. "Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kau kembalilah. Jaga dirimu! Karena di sini masih memerlukanmu." Tuan Liuliu menjawabnya. "Jangan khawatir, saya akan mengirimkan orang untuk menjaga Alicia. "


"Terimakasih, tuan. Sekali lagi, saya berhutang budi pada anda! "


Tuan Adit menutup teleponnya dengan perasaan lega. Terlintas beberapa kalimat yang selalu ada di kepalanya,"Mereka bergerak lebih dulu. Namun belum tentu memenangkan permainan ini."


Angela High School, California


Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mulai beraktivitas seperti biasa. Seperti bersekolah, melukis, bermain bersama teman-temanku dan beberapa hal menyenangkan lainnya. Aku terbebas dari kurungan tahanan rumah sakit! Yeaahh!!! I'm freeeee...


Hari ini, Linda dan Zaiden menemaniku ke perpustakaan. Sedangkan Adam masih mengajar. Seperti biasa, beberapa pengawal bayangan mengikutiku dari kejauhan.


"Nona.. " Salah satu pengawal menghampiri.


"Ya, ada apa? Mengapa kau mendekatiku? "


"Mohon anda ikut kami kembali ke rumah! "


"Aduuhh, aku belum selesai. Tunggulah di luar! "


"Maksud kami, kembali ke kediaman keluarga Atmadja, Indonesia! " Kata Marco, salah satu pengawal kepercayaan tuan Adit. "Kita harus segera berangkat, nona! Mobil sudah menunggu di depan. "


"Al, ada apa? " Tanya Linda.


"Aku tidak tahu! "


"Kalian jangan berani macam-macam. Atau kami akan memanggil Adam! " Linda mengancam.


"Nona, cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu lagi. Tuan Adam sudah menunggu di mobil! "


"Pergilah, Al. Kau akan aman selama bersama Adam! " Zaiden berkata.


"Mari nona. "


Dengan terpaksa, aku mengucapkan kata-kata perpisahan pada kedua temanku, "Aku akan memberi kabar pada kalian. Selamat tinggal. "


Aku berjalan menuju mobil yang sudah menungguku.


"Sebenarnya ada masalah apa? " Tanyaku pada Marco.


"Nona akan tahu saat bertemu tuan Adam. "


"Sangat menyebalkan. Bahkan aku tidak diberi hak untuk tahu! "


Aku menggerutu sepanjang jalan dan Marco tidak menghiraukanku.


"Silahkan masuk ke dalam mobil, nona! "


Brakk.. Marco menutup pintu mobil dan segera membuka pintu mobil bagian depan. Dia duduk di samping supir. Sedangkan Alicia dan Adam duduk di bagian belakang.


"Katakan padaku, ada apa? Setelah aku dibuang oleh ayah ke sini dan aku sudah mulai beradaptasi di lingkungan asing ini tapi mengapa sekarang harus kembali lagi ke sana? "


"Nyonya Alifah telah meninggal dunia tadi malam waktu setempat! " Adam mengatakannya dengan sangat hati-hati.


"Apaaa? Aa.. Aapa maksudmu? "


"Ya, kau harus menyiapkan mentalmu! " Adam memegang tanganku. "Nyonya Alifah telah pergi ke surga! "


Jantungku berdetak kencang. Aku merasa bahwa darahku berhenti mengalir dan seluruh hidupku berwarna hitam pekat! Aku tidak mempercayai pendengaranku. Tatapanku kosong. Aku tidak berani menatap dunia. "Kau jangan berani berbohong padaku ! " Kataku lirih.


"Tidak! Aku tidak berani, nona Alicia. Ayahku sudah sampai di kediaman keluarga Atmadja dan aku tetap di sini. "


"Mengapa? "


"Aku tidak ingin kekuasaan kosong saat kita semua sibuk pulang ke Indonesia. Sebab dengan begitu, musuh dengan mudah masuk ke dalam pertahanan kita. "


"Ya, aku mengerti. "


"Kau tidak bertanya mengapa ibumu meninggal? " Tanya Adam.


Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku memeluk bukuku yang sejak tadi kupegang. Sambil menatap dengan pandangan kosong dan menyedihkan, aku berkata "Semua manusia pasti akan menghadapi kematian. Hanya saja caranya yang berbeda. Suatu saat aku akan menemukan penyebab ibuku meninggal! "


Setelah sampai di bandara, Aku segera masuk ke dalam pesawat jet pribadi yang telah disiapkan oleh tuan Liuliu.


"Tolong jaga nona dan jangan biarkan siapapun menyentuhnya! " Perintah Adam.


"Jangan khawatir, tuan Adam. Bos kami adalah orang terpercaya! "


"Baik, tolong perhatikan makanan nona karena dia baru saja sembuh setelah diracuni! "


Aku tersentak kaget mendengar pembicaraan mereka berdua. "Haaahhh? Aku diracun?? Siapa yang tega meracuniku?? Bukankah kejadian itu di sekolah? "


Mungkin Adam mengira bahwa aku sudah masuk ke dalam. Aku sengaja berbalik, karena ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. Dan tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka.


"Ya, tuan. Sebelum nona makan, seorang pelayan akan mencobanya terlebih dahulu! "


"Baiklah, saya kira cukup. Kalian bisa berangkat sekarang! "


Aku kembali ke tempat dudukku. Aku merasa bahwa hidupku sangat berbahaya. Setelah aku kehilangan orang yang kusayangi, diriku sendiripun tidaklah aman. "Apakah selanjutnya akan ada seseorang yang pergi lagi meninggalkanku? " Aku menghela nafas memikirkan jawaban yang kutanyakan pada diriku sendiri.



**Alicia memeluk buku yang dipegang sejak tadi. Terlihat jelas tatapan yang sedih di wajah cantiknya setelah mendengar kabar duka ibunya! **


"Nona, perkenalkan nama saya adalah Mouran. Mulai saat ini saya menjadi asisten pribadi anda. Saya yang bertanggungjawab atas keamanan diri anda. "


Seorang pria dengan tinggi sekitar 183cm, memiliki badan yang tegap, kulit bersih, gigi rapih, dan usianya kira-kira 25 tahun datang memperkenalkan dirinya padaku.


"Yaa.. "


"Nona, ini mantel anda. Harap dipakai karena udara sangat dingin! "


"Bisakah aku bertanya padamu? "


"Silahkan nona! "


"Siapa yang mengirimmu untuk menjadi asistenku? Karena aku tidak membutuhkannya. "


"Oke oke! Lagi-lagi orangnya ayah! Aku sungguh muak. " Aku mengalihkan pandanganku darinya. "Dimana bibi Rea? "


"Beliau tidak ikut, nona. "


"Baiklah, bangunkan aku saat makan malam. " Karena aku sungguh kesal, sebaiknya aku tidur saja.


Mountainview, California


Tuan muda Nikko sedang berada di ruang kerjanya. "Haaahaaa, aku sangat senang mendengar kabar ini. Kabar bahagia di sepanjang hidupku! Cepat kalian jemput Alicia. Bawa kesini! "


"Baik, tuan! "


Brakk.. Pintu dibuka dengan sangat kencang membuat tuan muda Nikko kaget dan marah.


"Siapa yang berani membuka pintu dengan cara seperti itu? " Dia berteriak dengan lantang. Teriakannya menggema.


Datanglah paman Leo dan beberapa orang pengawal keluarga Atmadja.


"Rupanya si ******** ini bersarang di sini!"


"Cihhh! Ada angin apa yang membawamu datang ke sarangku? " Tuan muda Nikko bicara dengan alis terangkat.


"Sebaiknya akuilah kejahatanmu pada keluarga tuan Adit! "


"Haaahaaa apa maksudmu? "


"Dimanakah ayahmu bersembunyi? "


"Kau tentu tidak akan dapat membuktikan bahwa kami bersalah! "


"Cepat atau lambat, bangkai yang ditutupi akan tercium juga. Itu hanyalah masalah waktu! " Paman Leo mengancamnya. Tapi tuan muda Nikko semakin tertarik padanya!


Setelah menyelesaikan urusannya dengan tuan muda Nikko, paman leo dan para pengikutnya pergi.


"Tuan muda.. " Tuan Malik memanggilnya.


"Ada apa? "


"Dido mengatakan bahwa nona Alicia sudah kembali ke Indonesia dengan menggunakan pesawat jet pribadi siang tadi! "


Praaaanggg.. Wushhhh.. Tuan muda Nikko melemparkan dokumen yang berada do atas meja kerjanya. Dia sangat marah.


"Siapa pengawal yang bertugas memperhatikan Alicia hari ini? " Tuan muda Nikko berteriak. "Singkirkan semua! "


"Tapi tuan.. Mereka tidak.. "


"Diaaaam! Saya tidak suka kata 'Gagal'! "


"Baik, tuan. "


Tuan Malik segera memerintahkan orang. "Cepat laksanakan kehendak tuan Nikko. Dan kalian jangan membuat kesalahan yang sama! "


Setelah semua orang pergi dari ruangan tuan muda Nikko, tuan Malik berkata" Tuan, sebaiknya anda segera menyusul nona. Karena seperti yang anda tahu, tuan muda William pasti akan datang ke pemakaman nyonya Alifah. "


"Ya, cepat siapkan keperluanku! "


Kediaman keluarga Adit Atmadja, Indonesia


"Tuan Adit datang. " Seorang pelayan berseru.


Semua pelayan menyambutnya, "Selamat datang, tuan. Selamat datang kembali di rumah! "


"Bagaimana persiapan pemakaman nyonya? "


"Semua sudah siap. Hanya menunggu kedatangan tuan dan nona! "


"Ya, tunggu Alicia datang. Ehmmm.. Siapa kau? " Tuan Adit bertanya pada Faiz.


"Apakah anda lupa pada saya, tuan? Kalau bukan karena kebaikan hati anda, saya sudah hidup di jalanan! Saya adalah Faiz, tuan. "


"Ohh, kau sudah bertambah dewasa. " Tuan Adit melihat Faiz dengan seksama. "Dimana Kenan? "


"Beliau sedang menyambut para pelayat. "


Tuan Adit tiba lebih awal dari yang diperkirakan Faiz. Lalu tuan Adit berjalan masuk ke dalam ruang tengah keluarga Atmadja, tempat dimana jasad nyonya Alifah terbaring.


"Bagaimana hasil otopsinya? "


"Selamat datang, tuan! " Ucap paman Kenan. "Hasilnya tidak memuaskan karena tidak ada indikasi apa-apa. Tidak ada indikasi keracunan ataupun kekerasan. "


Tuan Adit membuka penutup wajah nyonya Alifah. Lalu tuan Adit membisikan kata-kata ke telinga nyonya. "Maafkan aku yang terlambat melindungimu. Asal kau tahu, aku menghindar bukan karena foto-foto itu tapi karena sangat berbahaya jika kau berada terus di sampingku. Sama seperti putrimu. Kalian adalah mutiara hatiku yang paling berharga dari apapun. Aku akan menemukan penyebab kematianmu dengan segera! "


Tidak terasa air mata tuan Adit terjatuh. Semua orang di ruangan itu terpaku. Lalu datanglah tuan muda William beserta para pengawalnya.


"Tuan, saya datang mewakili keluarga Alexander mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian nyonya Alifah. " Tuan muda William bicara sambil memberi hormat kepada tuan Adit.


Tuan Adit menghapus air matanya dan menatap pemilik suara itu. Kepalanya mendongak dan terlihat tatapan yang menyedihkan dari pancaran wajah tuan Adit. "Terimakasih.. Terimakasih tuan muda Alexander! "


"Bagaimana nyonya bisa meninggal, tuan? Yang saya tahu nyonya memiliki pola hidup sehat. "


"Yaaa, sayapun berpikir demikian. "


"Tuan, kalau boleh saya ingin berbicara sebentar dengan anda secara pribadi. "


"Baiklah, ikut saya ke ruang kerja! "


Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja tuan Adit dengan diikuti oleh para pengawal.


Tuan muda William mengangkat tangannya, memberi kode agar tidak perlu diikuti. Tuan Adit melihatnya dan bertanya, "Mengapa kau tidak ingin diikuti oleh para pengawalmu? "


"Ya, tuan. Orang seperti saya ini terkadang menginginkan waktu untuk sendirian. "


Mereka sampai di ruang kerja tuan Adit.


"Silahkan duduk, tuan muda! "


"Terimakasih, tuan. Ada yang ingin saya sampaikan. Diantaranya beberapa poin pekerjaan dan berkaitan dengan putri tuan. "


"Ohh? Apakah kau mengenal putriku? "


"Tentu. Saya sudah mengenalnya sekitar sepuluh tahun. "


"Benarkah itu, tuan muda? "


"Ya, yang ingin saya bahas saat ini adalah beberapa dokumen penting. " Tuan muda William berkata dengan dingin.


Plakk plakkk.. William menepuk tangannya. Tokk tokk tokk.. Suara pintu diketuk. "Itu adalah Sean, tuan. Tangan kanan saya. "


"Kalau begitu, silahkan masuk! "


Sean membuka pintu dan masuk. Dia membawa beberapa dokumen di tangannya.


"Ini, tuan muda. " Sean menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada tuan muda.


"Terimakasih, kau bisa keluar. "


"Ya. "


Lalu tuan muda William menyerahkannya kepada tuan Adit.


"Di dalamnya terdapat beberapa petunjuk tentang penyebab nona Alicia sakit dan tentu saja, penyebab dari kematian nyonya Alifah. "


Tuan Adit membuka dokumen satu persatu. Beliau terlihat sangat serius. Tampak jelas kerutan di wajahnya yang tampak lelah.


"Darimana kau dapatkan semua ini? "


"Anda tidak perlu tahu, tuan. Dokumen ini saya serahkan kepada anda. Dan saya pribadi menyimpan dokumen aslinya. "


Tuan Adit terdiam. Sedih dan kecewa. Bahkan beliau tidak tahu harus bagaimana!


"Dimana kau bertemu dengan Alicia? "


"Apakah tuan tidak mengingatku? "


Tuan Adit memandangi William. Mencoba mengingat sesuatu.


"Saat aku masih berumur delapan tahun, Alicia saat itu berumur tujuh tahun. Usia diantara kami hanya berbeda satu tahun. "


William terdiam. Dia hampir menangis. Tetapi William mencoba untuk tenang.


William menghela nafasnya, "Tuan, ingatkah anda saat tinggal di Royale Garden Beach? "


Tuan Adit menyipitkan matanya. Berpikir keras, mengingat kenangan masa lalu yang kelam. Astagaaaa...


"Apakah kau anak kecil laki-laki yang telah menyelamatkan Alicia dulu? "


Tuan Adit bangun dari kursinya, melangkah menuju tuan muda William dengan mata berkaca-kaca. Dan tuan muda Williampun berdiri berhadapan dengan tuan Adit.


"Astagaaa, selama ini aku mencari-cari anak laki-laki yang telah menyelamatkan putriku! "


Mereka berpelukan dan saling menangis.


Flashback 10 tahun yang lalu, Royale Garden beach


Liburan sekolah kali ini, aku, istri dan anakku akan menginap di vila kami yang terletak di pinggir pantai. Karena anakku sangat menyukai pantai, dia memohon kepadaku untuk membawanya liburan ke pantai.


Saat hari pertama tiba di sana, penjagaan kami lengah. Dan Alicia pergi berjalan-jalan sendiri di sekitar vila. Saat itu ia berusia 6 tahun. Lalu, kami menyadarinya bahwa anak kami tidak ada di vila. Semua orang mencarinya. Saat istriku putus asa, dia menangis. Dan aku memarahinya. Aku berteriak padanya karena telah lalai menjaga anak kami. Pada akhirnya, kami melaporkan kejadian itu kepada kepolisian setempat.


Pada keesokan harinya tepat pukul 7 malam, datanglah seseorang mengetuk pintu vila kami.


Tok tok tok.. Saat pintu kubuka, betapa terkejutnya aku melihat seorang anak laki-laki menggendong putriku dalam keadaan lemah.


Kami sangat senang bahwa anak kami telah kembali. Namun, kami melupakan anak laki-laki yang telah menolongnya itu. Keadaan anak laki-laki itu sangat lemah dan mengeluarkan banyak darah. Entah apa yang terjadi padanya. Dan putriku pulang dalam keadaan baik-baik saja.


Dan kami merasa bersalah. Kami bahkan tidak sempat mengucapkan terimakasih.


Setelah polisi melakukan penyelidikan, ditemukan sebuah vila dengan banyak anak kecil di dalamnya. Ternyata vila tersebut adalah markas penculikan anak. Dan pelakunya adalah seorang wanita.


Setelah kami tahu apa yang terjadi pada Alicia, kami pergi mencari anak laki-laki itu selama beberapa hari. Polisi mengatakan, bahwa ada kemungkinan anak laki-laki itu bukan penduduk asal Royale Garden Beach.


Tanpa membawa hasil yang baik, akhirnya kamipun kembali ke vila.


Di hari berikutnya, kami memutuskan untuk kembali ke kediaman kami di ibukota. Saat itu, Alicia melihat seorang anak laki-laki berbaring di atas rerumputan. Karena kami trauma atas kejadian kemarin, istriku langsung berlari untuk memanggilnya kembali.


Saat istriku ingin menarik tangannya Alicia, aku melihat dari kejauhan anakku sedang memberikan coklat berbentuk hati kesukaannya.


Pada akhirnya, kami pergi dengan menyimpan pengalaman buruk dalam kenangan keluarga kami. Mulai saat itu tanpa sepengetahuan keluargaku, aku menempatkan pengawal bayangan untuk menjamin keselamatan mereka.