My Name Is Alicia

My Name Is Alicia
And tears don't falls!



Ada hati yang penuh cinta, tanpa ragu akan mengasihani waktu yang berlalu tanpa melakukan suatu hal yang indah. Namun saat ini hati itu tertutup awan hitam.


Ya, hati tuan muda Nikko saat ini penuh dengan kebencian yang tak terhingga.


Mountainview, California


Di luar ruangan perawatan Alicia, lantai dua


Brakkk! Tuan muda Nikko meraih leher tuan Malik dan mendorongnya hingga membentur dinding. Dia mencekiknya. Semua orang yang berada di sana terkejut, ketakutan, dan bingung.


"Katakan! Apa maksudmu mulakukan ini semua pada saya? "


"Sa.. Saya ti.. Tidak mengerti maksud.. tuan? " tuan Malik bicara dengan terbata-bata.


"Mengapa Alicia bisa keracunan seperti ini? Apa yang kau campurkan ke dalam susunya? " Tuan muda Nikko semakin kuat mencekik leher tuan Malik.


"Uhukk.. Uhukk.. Toloong.. Tolong anda lepaskan dulu, tuan! " tuan Malik memohon kepada tuan muda Nikko. "Sa.. Saya bersumpah tidak memiliki niat.. Sedikitpun un.. Untuk melukai no..na! "


Mendengar tuan Malik bersumpah, hati tuan muda Nikko lega. Lega karena dia percaya dari awal bahwa tuan Malik tidak akan berniat jahat pada Alicia. Tuan muda Nikko melepaskan tangannya.


"Uhuuuk.. Uhuuukk..Terimakasih, tuan muda!" ucapnya.


Hasil pemeriksaan dokter Wang menunjukan bahwa Alicia terkena racun sempurna. Yaitu racun polonium. Racun jenis ini tidak berwarna, tidak berasa dan bahkan tidak terdeteksi. Kebanyakan kasus, mereka terlambat menyadari jika dirinya terkena racun sempurna. Itulah yang menyebabkan tuan Nikko sangat marah.


"Kau, ikut aku!" Tuan muda Nikko menunjuk tuan Malik dengan emosi. "Yang lain berjaga di sini! Tidak ada seorangpun yang diizinkan keluar dari vila ini. Saya akan membunuh semua orang yang berani menentang saya! " ujarnya masih dipenuhi dengan rasa dendam.


Tuan muda Nikko berjalan diikuti oleh tuan Malik. Mereka memasuki lift. Tuan muda Nikko mengajak tuan Malik ke ruangan cctv.


"Tidak maukah kau menjelaskan apa yang terjadi dengan susu itu? " tanya tuan muda Nikko.


"Maafkan saya, tuan. " tuan Malik terlihat menyesal. "Awalnya saya sendiri yang akan membuatkan susu untuk nona. Lalu, Tan shi menelepon saya untuk segera pergi ke ruang Jaringan. "


Tuan muda Nikko memandangi tuan Malik dengan tatapan menyedihkan. "Simpan ceritamu itu untuk nanti. Sekarang mari kita ke ruang cctv! "


Tuan Malik merasa bersalah pada tuannya. Dia tidak berani membantah dan dengan patuh mengikuti jejak tuannya.


Ceklek. Tuan muda Nikko membuka pintu ruang cctv.


"Silahkan, tuan. Kami sudah memeriksa dan merekamnya sesuai dengan perintah anda! " kata kepala ruang cctv, tuan Andra.


"Bagus, berikan salinannya pada Malik! "


Setelah memberi perintah, tuan muda Nikko segera pergi dari ruangan itu. "Bawa ke ruang kerja saya! " tuan muda Nikko berkata pada tuan Malik.


Tuan Malik mengambil salinan itu dan lekas pergi ke ruang kerja tuan muda Nikko yang terletak di lantai satu.


"Berikan padaku! " tuan muda Nikko meminta salinan itu dan kemudian memasukannya ke laptop.


Klik. Tuan muda Nikko sudah mulai melihat dengan teliti hasil rekaman cctv. Sedangkan tuan Malik hanya berdiri dan diam memperhatikan tuan muda Nikko.


Beberapa menit kemudian..


Mata tuan muda Nikko terbelalak, "Apaaaa ini? "


Tuan Malik segera mendekat. "Bolehkah saya melihatnya, tuan? "


Tuan muda Nikko tidak menjawab. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Wajah tuan muda Nikko merah padam.


Tuan Malik melihat dengan kedua matanya dan mulai terlihat raut kebencian dan penyesalan di wajahnya!


"Tuan.. Tuan maafkan kebodohan saya! " Tuan Malik bersujud di hadapan tuan muda Nikko meminta maaf.


"Apakah kau bersujud demi wanita murahan itu? "


"Tidak, tuan! Pertama, sayalah yang pertama kali mengenalkan anda dengan wanita itu. Kedua, saya juga yang menyuruhnya untuk membuatkan susu untuk nona. Saya tidak berani untuk tidak menyesalinya, tuan. "


Dengan kasar, tuan muda Nikko menyalakan rokoknya. Lalu dia berdiri dan menghembuskan rokoknya dengan perlahan.


Dengan dingin dia berkata, "Jangan biarkan wanita itu tahu bahwa saya sudah mengetahui perbuatan busuknya! "


"Lalu apa rencana anda selanjutnya? "


"Pertama, bunuh semua keluarganya yang berada di Indonesia. Kedua, buat wanita itu menderita secara perlahan. " tuan muda Nikko berbicara dengan sorot mata penuh kebencian. "Untuk point yang kedua, saya akan melakukannya dengan tangan saya sendiri! " lalu tuan mudaNikko menurunkan nada bicaranya, "Seperti dia meracuni Alicia dengan tangannya sendiri! "


Tuan Malik kaget dan menarik nafas pendek, "Baik, tuan. "


"Persiapkan keberangkatan saya untuk pulang ke Indonesia besok malam! "


"Apakah anda akan menghadiri rapat pemegang saham di sana dan menggantikan posisi ayah anda, tuan? "


"Ya, ayah saya masih menjalani sejumlah perawatan medis. "


"Dan bagaimana dengan nona? "


"Saya akan menambahkan orang untuk menjaganya! "


"Bolehkah saya memberi saran, tuan? "


"Katakan! "


"Ingatkah anda seorang pengawal yang telah membunuh nyonya Alifah di Indonesia? "


"Mm.. Yang bekerja di kediaman keluarga paman Adit? "


"Benar! " tuan Malik berusaha meyakinkannya. "Namanya Faiz, tuan. Anda bisa mempercayainya untuk menjaga nona! "


"Tidak! Biarkan dia tetap di sana untuk tuan Adit. Karena saya memiliki rencana besar yang luar biasa! "


"Baiklah, tuan. "


"Biarkan Dylon masuk ke vila ini! "


"Hah? Apa yang anda pikirkan, tuan? "


"Saya memikirkan keuntungan! Haahaa, panggil wanita murahan itu ke kamar saya sekarang! "


"Baik, tuan. "


Tuan muda Nikko segera pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua dan tuan Malik segera mencari Pingkan.


"Apa yang sedang dipikirkan oleh tuan muda? " tanya tuan Malik dengan penasaran. "Dan rencana besar apa yang dia miliki? Mengapa tidak memberitahukan padaku? "


Pingkan sedang berada di kamarnya untuk merias diri. Tuan Malik mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok


Pingkan terkejut. Lalu dengan segera membuka pintu kamarnya. Ceklek..


"Oh, anda .. Tuan! Ada apa? "


"Tuan muda memerintahkan anda untuk segera menemui beliau di kamarnya. "


"Baiklah! Saya akan berganti pakaian terlebih dahulu. "


"Ingatlah, tuan muda tidak suka menunggu lama! "


"Ya, saya mengerti! "


Tuan Malik segera meninggalkan Pingkan. "Aku tidak bisa berada di sampingnya terlalu lama. Karena aku tidak tahan untuk mencekik lehernya! "


Pingkan masuk kembali ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.


Tuan Malik kembali ke kamarnya dan menelepon Faiz.


"Hallo, tuan. Ada apa? "


"Faiz, bersiaplah. Tuan muda akan pulang ke Indonesia dan beliau memiliki misi untukmu! "


"Kapan, tuan? "


"Besok malam. Kau pantau terus gerak-gerik tuan Adit dan paman Kenan. Hubungi saya jika ada yang mencurigakan! "


"Saya mengerti, tuan. "


"Sekarang, dengarkan perkataan saya baik-baik! "


Faiz mendengarkan apa yang dikatakan tuan Malik di telepon dengan sangat serius.


"Dalam waktu sejam, habisi seluruh keluarga Pingkan. Jangan ampuni seorangpun. Lakukan tanpa meninggalkan jejak! "


"Baik, tuan. Saya akan membawa beberapa orang yang terlatih saja! "


"Ya, bawalah lima sampai tujuh orang saja! "


"Saya mengerti! Saya akan segera memberi kabar anda jika sudah menyelesaikannya! "


Tut tut tutt


Tuan Malik segera memutuskan teleponnya.


Kapal Pesiar Golden Love, Malibu


Sebentar lagi kapal pesiar akan melemparkan jangkarnya. Namun, kejadian yang tidak biasa sedang terjadi di kamar Clara.


Ponsel Clara berdering.


"Ya! "


"Apa kau sudah siap? "


"Oke. "


"Baik, lakukan! Goodluck! "


Sean memastikan situasi kamar Clara yang akan dijadikan tempat untuk menangkap Dido, mata-mata yang dikirimkan oleh tuan Nikko. Brimma, Ricky dan pak Randi bersembunyi di balik lemari kamar Clara.


Tok tok tok


Pintu kamar Clara diketuk. "Hmm.. Dido sepertinya sudah datang. " pikir Clara.


"Ya! " sahut Clara sambil membukakan pintunya.


Dido berdiri di depan pintu kamar Clara dan tersenyum.


"Nona, saya membawakan minuman segar untuk anda! " Dido menatap Clara dengan pandangan cinta. "Aku benar-benar jatuh cinta padanya! "


Clara sangat cantik menggunakan dress pink sabrina lace yang memperlihatkan bahu putihnya dan buah dadanya yang samar mengintip dibalik belahan dadanya.


Dido menelan ludahnya. "Aku telah mencampurkan bubuk perangsang ke dalam minumannya. Bubuk dengan tingkat rangsangan tinggi akan berproses dengan cepat. Aku yakin, dia tidak akan bertahan setelah meminumnya! " pikiran piciknya segera menyelimuti otaknya.


"Kau selalu datang di waktu yang tepat! " Clara tersenyum dengan manis ke arah Dido. "Ayo masuk. Letakan minuman itu di kamar! Saya sedang mengerjakan beberapa lembar tugas sekolah! "


"Oh, Apakah anda masih berstatus sebagai pelajar? "


"Benar! "


"Temani saya sebentar sebelum kau pergi. Saya akan memberikan kamu tip! "


"Apa yang bisa saya bantu, nona! "


Mereka berjalan ke dalam kamar Clara. Dan Dido meletakan gelas minuman Clara di atas meja. Clara berjalan menuju ranjangnya tapi tiba-tiba dia tersandung karena heels sepatunya lepas.


Bruk..


Clara terjatuh di pelukan Dido. Mata mereka bertemu dan mereka saling pandang satu sama lain.


"Jika dia bukan pria berhati jahat, mungkin aku akan tertarik padanya! Tapi dia tentu bukan tipe pria idamanku! " gumam Clara.


"Nona, sampai kapan anda akan terus menatap saya dan berada di pelukan saya? "


Dengan cepat Clara berdiri tapi..


"Oh, maafkan saya! "


Kraaak. Heels sepatu Clara bagian kanan lepas. Kakinyapun terluka dan memerah.


"Mari saya bantu, nona! "


Dido menggendong Clara dan mendudukannya di atas ranjang.


Dido memeriksa kaki Clara yang terluka. Dan Clara hanya diam memperhatikan.


"Aduhhh! Aiishhh.. " Clara merintih kesakitan.


"Tolong tahan sebentar. Saya akan mengambil air hangat untuk mengompres luka anda. "


Sean melihat cctv yang terpasang di kamar Clara dengan geram. Dia cemburu.


"Aarrggghh! " Sean mengepalkan tangannya.


"Sean! Apakah kau baik-baik saja? " suara Brimma di saluran telepon terdengar mengkhawatirkan temannya.


"Percepat misinya. Aku sudah tidak tahan melihat dia menyentuh Clara! "


"Apakah kau sedang cemburu? " Brimma menggoda.


"Jangan katakan sesuatu yang tidak penting!" bentak Sean.


Sean menutup telepon dengan kesal. "Ada apa denganku? "


Dido kembali dengan membawa wadah berisi air hangat untuk mengompres luka di kaki Clara.


"Nona, tolong berikan kaki anda pada saya! " pinta Dido.


Dido mengompres kaki Clara dengan lembut membuat Clara tidak enak hati.


"Apakah kau memperlakukan pacarmu seperti ini? " tanya Clara.


"Maaf, nona. Anda begitu ingin tahu urusan pribadi saya? "


"Bukan seperti itu. Saya hanya merasa jika kau terlalu mahir melakukannya. "


"Ya, karena saya adalah seorang pelayan, sudah seharusnya saya bisa melakukan apapun! "


"Baiklah, jawaban yang masuk akal. "


Setelah selesai, Dido mengambil obat yang dia bawa dan bersiap untuk mengoleskannya pada bagian kaki Clara yang terluka.


"Mohon anda tahan sebentar, nona. Obat ini akan terasa agak sakit! "


"Ya! "


Dengan lembut, Dido mengoleskan krim obat pada kakinya.


"Ohhh... Aduuhhh! " Clara meringis kesakitan.


"Sabar, nona. Tahan. "


"Seumur hidup aku bekerja dengan nona, aku tidak pernah menyentuh bagian dari tubuh nona. Bahkan aku tidak berani memerintah nona! " gumam pak Randi.


Sean, Brimma, dan pak Randi terhubung dalam satu saluran telepon agar memudahkan mereka berkomunikasi untuk menangkap Dido.


"Setelah ini, ayo lakukan pergerakan. Tuan Santo telah menunggu kita! " Himbau Sean.


"Baiklah! " Jawab Brimma dan pak Randi kompak.


Mereka telah sepakat untuk menyerang dan menangkap Dido.


"Sudah selesai, nona. "


"Terimakasih. "


Dido berdiri dan membawa wadah ke kamar mandi. Clara masih duduk di ranjang memperhatikan lukanya.


"Nona, minumlah. Agar anda merasa lebih baik! "


Clara menerima gelas dari Dido. Dia tidak curiga sedikitpun pada minuman yang diberikan Dido.


Gluk gluk gluk.. Clara meminumnya.


"Sepertinya kau sangat haus! " Dido berkata dan tertawa dalam hatinya. "Bagus sekali! "


"Apakah minuman ini menyegarkanmu? "


"Ya, terimakasih. "


Clara memberi gelas kosong kepada Dido. Dan Didopun tersenyum lebar penuh arti kemenangan.


"Ahh kepalaku! Kenapa mendadak pusing?" Clara bergumam pelan. Dia memegang kepalanya dengan kedua tangan.


Brima, Sean dan pak Randi memperhatikan Clara. Wajah mereka terlihat cemas.


"Sepertinya ada yang tidak beres, Sean! " Brimma berkata di sambungan telepon.


"Ya, itu sudah pasti ulah Dido. "


"Ayo, segera bantu nona! " pak Randi mengambil inisiatif.


Dido mengulurkan tangannya. "Ada Apa, nona? " tanya Dido. "Apakah anda merasa tidak nyaman? "


Clara mengeluarkan keringat yang tidak biasa. Tubuhnya lemas. Ada sesuatu yang mengganggunya.


"Tidak! Aku tidak apa-apa! " jawabnya sambil menepis tangan Dido yang mencoba untuk memegang dagunya yang mungil.


"Saya akan membuat anda nyaman! " Dido berkata dengan penuh semangat.


Dido mulai menyentuh bahu Clara. Dibukanya perlahan bagian atas dress Clara.


"Apa yang akan kau lakukan padaku? " teriak Clara.


"Saya tidak akan melakukan hal yang membuat anda rugi. Justru saya hanya membantu anda melampiaskan nafsu yang sedang anda tahan! "


"Jangan sentuh saya! Apa yang kau masukan ke dalam minuman tadi? " Clara mencoba mengelak di setiap ciuman yang diberikan Dido.


"Saya hanya memasukan obat yang membuatmu bergairah! " Dido berkata sambil menggigit telinga Clara. "Obat itu akan bertahan hingga empat jam! "


Tangan Dido meraba punggung Clara. Dan Clara hanya bisa pasrah akibat dari efek minuman tersebut.


"Gilaaa! Kau sungguh gilaaaa! Lepaskan sayaaaa! " Clara berontak tanpa arti. Kekuatannya tidak sebanding dengan Dido.


Dido semakin ingin segera membuat Clara tunduk padanya. Dia memberikan sedikit demi sedikit ciuman pada bahu dan leher Clara yang membuat wanita itu terangsang dan menitikan air mata.


"Kemana mereka? Kenapa mereka belum datang untuk menyelamatkanku? " katanya dalam hati.


Brakkk. Pintu kamar lemari Clara terbuka. Munculah Brimma yang daritadi bersembunyi di balik pintu lemari dan disusul oleh pak Randi yang bersembunyi di balik pintu kamar mandi.


"Hentikan! Kau ular berkepala manusia! " Brimma berteriak.


"Tolong aku, brim! " Clara memohon.


"Tenang saja. Kami sudah tahu semuanya. "Jawab Brimma.


"Siapa kalian? Mengganggu kesenanganku! " tanya Dido.


"Kau tidak pantas untuk nona! " pak Randi bicara dengan emosi.


Duk. Duk. Duk. Brimma memukul Dido. Dan Dido yang tidak sempat menghindar, terkena pukulan keras dari Brimma. Pak Randi langsung memberikan air mineral hangat untuk Clara.


Baaaaammmmmm.


Sean yang datang langsung ikut memukuli Dido.


"Manusia kurang ajar! Kau berani menyentuh Clara! " teriak Sean.


"Gawat! Aku kehilangan keseimbanganku! " Dido berkata pada dirinya.


"Bawa dan ikat dia! Berikan dia kepada mr Santo! " perintah Sean kepada anak buahnya.


Atas perintah Sean, mereka membawa Dido menghadap mr Santo di Malibu.


"Clara, maaf kami terlambat! " ujar Sean. "Bertahanlah. Kita telah berlabuh di Malibu. Aku akan mencarikan obat penawar untukmu! "


Sean memakaikan mantel yang dia pakai ke tubuh Clara. Lalu dia menggendong Clara keluar dari kapal Pesiar itu dan segera berjalan menuju hotel milik William yang terletak di dekat pantai.


Sean berjalan dengan cepat menuju hotel Malibu Beach Club. Di sana sudah tersedia kamar untuk Clara atas perintah William. Sean membawa Clara ke kamar itu. Pak Randi, Brimma dan beberapa orang mengikutinya.


Malibu Beach Club


Rose room 101


Brakkk. Brimma membukakan pintu untuk Sean yang sedang menggendong Clara.


"Masuklah! "


"Terimakasih, Brim. Tolong segera carikan dokter untuk Clara! "


"Dokter sedang dalam perjalanan ke sini, tuan. " kata salah satu anak buah Sean.


"Baiklah, dalam dua menit dia harus tiba. "


Seorang anak buah Sean berlari menghampiri dokter. Dan tidak butuh waktu lama, mereka datang membawa peralatan yang dibutuhkan.


"Cepat periksa dia dan berikan obat penawar yang bagus! Jika terjadi apa-apa padanya, saya tidak akan segan-segan lagi! " Sean menatap dokter itu bagai harimau yang ingin memangsa buruannya.


Mereka semua keluar dari kamar Clara, tak terkecuali Sean, Brimma dan pak Randi.


"Bagaimana, dokter? " tanya Brimma.


"Maafkan saya, tuan. "


"Apa arti dari kata maafmu itu? " tanya Sean.


"Obat yang saya berikan tidak ampuh untuk nona. "


"Bagaimana jika kau naikan dosisnya? " tanya Sean.


"Saya tidak berani, tuan. Karena akan membahayakan nyawa nona! "


"Bagaimana ini, Sean? " tanya Brimma.


"Hanya dengan melakukan ITU kepada nona yang akan membebaskannya dari penderitaan tanpa membahayakan nyawanya! " Dokter menjelaskan.


"Apa yang kau bicarakan? Kau adalah seorang dokter. Bagaimana bisa kau tidak memiliki obat yang ampuh! " Sean memaki dokter dengan emosi.


"Hmmm.. Aduuhhh.. " Clara mengeluarkan suara rintihan pelan. "Sean? "


Mereka berhenti berdebat dan terdiam. Mereka mengalihkan pandangan ke Clara.


"Sean? "


"Ya? " Sean mendekati Clara. "Bagaimana perasaanmu, Ra? "


"Tolong, tolong aku! "


Clara menjulurkan tangannya kepada Sean. Dan Sean meraih tangannya. Mereka berdua bertatap muka.


"Ya, kami sedang berusaha menolongmu! "


"Tidak! Jangan.. "


"Apa maksudmu dengan 'tidak' ? " Sean menaikan alisnya.


"Kau pasti mengerti! Tolong aku.. Sean! " Clara memandang Sean dengan tatapan memohon yang tulus. "Hanya kau yang bisa menolongku...! " air matanya mengalir dengan deras.


Sean tidak sanggup melihat Clara menangis. Wajahnya merah dan dia mendekap erat Clara yang terbaring di atas ranjang.


*********


Dear readers...


Menurut pendapat kalian, pertolongan apa yang diinginkan oleh Clara???


Jangan lupa tinggalkan like dan comment yaaaa! Terimakasih


#*s*alamembaca


*********