
1 minggu kemudian
Nara yang telah di perbolehkan untuk pulang pun menundukkan kepalanya karena ia bingung tuk pulang kemana.
Ke rumahnya? Kuncinya saja tak ia bawa bagaimana caranya ia masuk?
Mansion? Nara ingat bahkan sangat ingat jelas bahwa beberapa hari yang lalu sean datang tuk memberi tau semua aset harta bendanya telah di ambil alih olehnya.
Deon? Entah kemana putranya itu yang pasti selama ia di rawat deon tak ada sekalipun menampakkan batang hidungnya.
klek
"Haii" sapa orang yang baru masuk dengan senyum yang biasa menghiasi wajahnya.
Nara hanya tersenyum tipis melihat asisten putranya yang belakangan ini selalu menemaninya. Putranya sendiri? Entah kemana anak itu yang pasti nara tak tau.
Reza datang dengan sebuah buket bunga mawar putih yang amat indah dan memberikannya pada nara membuat nara tersenyum seketika.
"Thanks"
"Ya sama-sama, btw kita pulang sekarang?" tanyanya seraya meraih tas yang berisikan baju nara.
Nara tak membalas sedikitpun karena ia sendiri bingung akan pulang kemana sedangkan reza yang mengerti pun hanya menghela nafas dan mengusap kepala nara.
"Kau bisa tinggal bersama ku ra" ucapnya seraya tersenyum simpul
"Tapii kau kan di pecat oleh deon karna ku, a-apa itu tak merepotkan?" tanya nara lirih dan merasa bersalah karena telah membuat reza di pecat akibat telah menemaninya.
Flashback beberapa hari yang lalu
"Tuan memanggil saya?" tanya reza formal seraya memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang kerja milik sean.
Deon dan sean saling tatap seolah mengkode sesuatu dan mulai menampakan wajah datar mereka.
"Saya dan paman sean memiliki rencana untuk menjauhi bunda saya, saya harap kau juga ikut menjauhinya" ujar deon memberitahu yang membuat reza membelalakkan matanya.
Reza memang tau dengan apa yang terjadi, tapi tak mungkinkan deon berpikiran sesempit ini?
"Mengapa saya harus menjauhi nona nara tuan? Itukan rencana kalian, mengapa harus bawa-bawa saya? Dan mengapa kalian harus menjauhi nona?"
Sean dan deon saling pandang mendengar pertanyaan reza yang panjangnya melebihi kereta api hingga...
"Jauhi bunda saya atau kamu di pecat?" ucap deon memberi pilihan dan langsung di pilih oleh reza tanpa pikir panjang terlebih dahulu.
"Di pecat"
Flashback off
Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalanan menuju ke pinggir kota dimana rumah almarhum orang tua reza berada di daerah tersebut.
klek
"Silahkan ra, maaf rumahnya kecil" kekeh reza seraya mempersilahkan nara masuk.
Dengan malu-malu nara pun masuk ke dalam rumah tersebut. Memang tak terlalu besar, tapi sangat nyaman untuk di tempati. Apalagi desainnya yang klasik dan interior nya yang cukup kuno namun tetap fashionable, siapa coba yang tak betah tinggal disana?
Reza yang melihat nara yang tampak mengamati rumahnya pun tersenyum tipis dan memberikan sebuah botol air putih.
"Kalo kamu ga nyaman tinggal disini, kamu beh pergi kok. Maaf ya udah maksa kamu waktu di rumah sakit" ujar reza yang kembali melunak.
Nara yang mendengar itupun menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah. Benar apa kata sean, masih banyak yang menyayangi nara dengan tulus!!
"Gapapa kok, aku nyaman tinggal disini, rumahnya asri. Oh ya kelihatannya kamu lebih tua daripada aku deh, boleh ga kalo aku manggil kamu kakak?" tanya nara yang tak enak bila memanggil reza dengan nama langsung.
Reza yang mendengar itupun tersenyum tipis.
"Panggil aku mas rez"
Bersambung ~