
Nara yang dapat ancaman seperti itupun seketika mematung dan berpikir apa yang akan ia lakukan.
Zian yang melihat gelagat itupun seketika menyalakan laptopnya dimana disana terlihat deon yang sedang tertidur lelap, dan sean yang di ikat di sebuah bangunan seperti gudang beserta anak buahnya.
"Cihh kau menggunakan orang lain sebagai senjatamu, apakah kau tak takut nama klan mu akan tercemar karena ini?" Nara mengejek zian dengan lantangnya tanpa sadar bahwa dia tengah menantang seorang singa yang akan siap menerkam nya kapan saja.
"Tentu saja tidak, toh disini hanya ada saya dan kau saja nona. Dan bahkan jika kau tidak mau menandatangani itu sudah ku pastikan kepalamu bolong saat itu juga" Zian mengeluarkan pis tol biusnya, begitu juga dengan anak buahnya yang berada di tempat lain.
Nara yang mengira pis tol itu adalah pis tol api pun tanpa banyak bicara lagi ia langsung membubuhkan tandatangan di atas kontrak itu.
Zian yang melihatnya pun tersenyum tipis dan mengusap kepala nara. "Good girl" pujinya yang membuat nara mencebikkan bibirnya.
"Sekarang bolehkah aku serta yang lainnya pulang?" tanya nara yang berharap dapat keluar dari mansion yang menurutnya seram itu.
Zian menggelengkan kepalanya tanda tidak boleh dan dengan sigapnya ia menggendong tubuh kecil nara ala bridal style dan membawanya ke kamar miliknya.
"LEPASKAN AKU TUAN ZIAN" nara meronta-ronta minta di lepaskan, namun dalam sekejap nara langsung memeluk zian karena takut jatuh.
"Apa masih ingin di lepaskan nona kinara?" tanya zian dengan suara datarnya namun mampu membuat nara tak berkutik sedikitpun dan malah mengeratkan pelukannya.
Sesampainya di kamarnya, zian segera menaruh nara di atas ranjang king size miliknya dengan hati-hati layaknya menaruh berlian yang mudah pecah.
Entahlah, jujur saja zian heran dengan dirinya sendiri. Mengapa ia menjaga pembu nuh ayahnya adalah itu? Bukankah harusnya ia menyakitinya?
"Mungkin karena dia cantik, makanya jiwa casanova ku meronta-ronta" gumam zian dalam hati.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya nara seraya menarik selimut menutupi tubuhnya saat zian mengunci pintu kamarnya.
Zian mengerutkan keningnya namun di detik kemudian senyum smirk khas miliknya pun keluar dengan tangan yang sudah membuka kancing kemejanya sendiri.
Nara yang ketakutan pun langsung masuk ke dalam selimut membuat zian terkekeh dan langsung pergi ke dalam kamar mandi miliknya.
Nara yang tak merasa pergerakan apapun langsung mengintip dan mencari-cari keberadaan zian. Hingga suara gemericik air pun terdengar di telinga nara dan dapat membuatnya bernafas dengan lega.
"Huffft, kau masih aman sekarang nara" gumam nara bernafas lega dan turun dari ranjang milik zian.
Sejenak nara memperhatikan kamar zian yang tampak tidak seperti kamar pria pada umumnya dan jauh dengan tipe kamar seorang mafia.
Nara akui selera zian cukup bagus, desain kamar yang klasik dan juga kerapian tingkat tinggi membuatnya cukup terpukau dengan kamar seorang zian.
Usai memperhatikan kamar zian, nara pun berusaha mencari celah untuk keluar dari kamar itu. Tapi sayangnya tak ada sedikitpun celah yang dapat membuat nara pergi membuatnya mendengus kesal dan kembali duduk di ranjang milik zian.
klek
Pintu kamar mandi pun terbuka menampilkan zian yang hanya memakai handuk sebatas paha dan menampilkan perutnya yang sixpack.
Nara yang melihatnya pun seketika memalingkan wajahnya membuat zian terkekeh kecil melihatnya.
"Cepatlah pergi mandi, sesudah itu kita tidur"
Hah?? Kita??
Bersambung~