MY LITTLE MAFIA

MY LITTLE MAFIA
23



Beberapa bulan kemudian.


"Ternyata keamananmu tak sekuat yang saya kira tuan gio pramana" ujar deon seraya menarik pelatuknya membuat pria yang berada di depannya tewas seketika.


Reza yang melihatnya pun hanya diam dan menatap sang bos dengan iba. Sejak ia pergi dan mencoba menyelamatkan ibunya, deon semakin gila dalam dunia mafia. Dan kegilaan itu membuat devil blood berkembang pesat di buatnya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini tuan?" tanya reza kasihan pada sang bos.


"Sampai saya menyelamatkan ibu saya dari pria bajin*an itu" jawab deon dengan dinginnya.


Reza hanya bisa menghela nafas kasar dan memutuskan untuk diam. Ia yakin bahwa ibunya deon akan baik-baik saja di tangan pria itu bukan? Tapi entahlah, dia bukan peramal atau sebagainya.


Hanya satu yang bisa reza harapkan, semoga nara selamat dan hubungan deon dengan ayah kandungnya membaik.


Usai membereskan musuhnya, deon dan yang lainnya pun kembali ke markas baru mereka dengan beberapa anggota yang tahu dengan letaknya.


Deon duduk di kursi kebesarannya dan menunggu reza menyerahkan dokumen ilegal dengan harga yang cukup fantastis.


"Hm, saya rasa kelompok kita sudah dapat bersaing dan melawan kelompok BD dalam waktu dekat" ujar deon yang cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan.


Kemudian ia meraih foto sang ibu yang sedang menggendongnya versi kecil dengan senyum keduanya yang tampak bahagia.


"Tunggu aku bunda"


......................


"Tuan bolehkah aku makan?" tanya nara seraya memegang perutnya yang berbunyi cukup keras.


Zian yang sedang memeriksa laporan di kamarpun seketika menghentikan kegiatannya dan menganggukkan kepalanya.


Baginya, pernikahannya dan zian merupakan salah satu upaya tuk menyelamatkan sang putra yang sekarang entah berada di mana. Walau dirinya disiks* dan bahkan di jadikan layaknya seorang pelayan sekaligus seorang wanita malam, ia tak masalah sekalipun asalkan nyawa sang putra selamat.


Tetapi di balik kata ingin menyelamatkan sang putra, diam-diam nara menaruh perasaan terhadap pria yang merupakan ayah kandung dari putranya itu.


Dimata nara, zian tidak seburuk itu dan bahkan zian cukup baik. Hanya saja ada suatu hal yang tak nara ketahui membuat zian seperti itu.


Akan tetapi, nara tak peduli dan berjanji dalam hatinya agar bisa menemani zian dan membawanya ke jalan yang benar.


Usai nara pergi, zian mendongakkan kepalanya. Entah mengapa ia merasakan sakit ketika melihat wanita itu kelaparan. Akan tetapi, untuk memberikannya makan saja zian gengsi dan seolah-olah masih memiliki dendam yang cukup besar pada nara.


"Astagaa zian, bagaimana bisa kamu menaruh rasa kasihan padanya? Come on zian, kembali ke rencana awal dan menghancurkan nara" gumam zian menghalau semua perasaan yang berada dalam hatinya.


Zian yang entah mengapa memikirkan nara segera turun kebawah dan menghampirinya yang sedang makan dengan lahapnya seolah-olah dia takut akan tak makan di kemudian hari.


"Apa kau sudah kenyang?" tanya zian dengan nada datar pada nara yang baru saja selesai mencuci piring.


Nara menganggukkan kepalanya membuat zian tersenyum tipis tanpa sadar.


'Huaaa dia sangat tampan kalo sedang tersenyum' batin nara menjerit.


Zian yang sadar dengan hal itu pun segera menunjukkan wajah datarnya dan menarik nara menuju mobilnya.


"Tuan kita akan kemana??" tanya nara takut karena zian yang akan membawanya pergi.


"Ke hatimu" ucap zian tanpa sadar membuat nara yang mendengarnya pun tersipu malu.


Bersambung~