
Pagi harinya
"Bunda banguuun" teriak deon pada nara yang masih tertidur pulas.
"Eunghh"
Nara melenguh membuat tangan kecil deon yang mulanya menggoyangkan tubuh nara terhenti seketika.
"Pagi sayang" sapa nara seraya mengecup wajah deon dengan gemasnya.
"Pagi juga bunda, bunda tata daddy bunda di curuh…"
"Dasar kebo kamu, jam segini masih tidur? Ck wanita macam apa kamu?" Belum sempat deon berbicara, zian sudah memotongnya dengan perkataan yang cukup pedas membuat deon menatapnya dengan tatapan tajam.
Zian segera menghampiri deon dan menggendongnya. "Diamlah atau ibumu akan ku bvnvh, jikalau kau ingin balas dendam, setelah sarapan kau ikutlah denganku ke ruang latihan" bisiknya pada deon seraya membawanya pergi membuat nara menatap kepergian mereka dengan heran.
Apa yang terjadi?
Nara yang penasaran pun segera bangkit dan membersihkan diri sebelum akhirnya mencari keberadaan keduanya.
"Permisi bi, apakah kau melihat deon dan tuan zian?" tanya nara yang mulai lelah mencari keberadaan keduanya.
"Tuan ada di ruang makan lantai satu nona" ujar pelayan itu dengan angkuhnya membuat nara tak nyaman seketika.
"Baik, terimakasih" ucap nara seraya berlalu menuju ruang makan di lantai satu.
Sesampainya disana, nara langsung di sambut oleh deon yang tengah menunggunya.
"Kamu lama sekali, apa kau ingin membuatku kelaparan hah?" Zian membentak nara membuat deon menatap sang daddy dengan tatapan tak suka.
"Maaf" lirih nara yang entah mengapa takut dengan suara membentak zian.
Zian menatap datar dan menyuruh nara untuk melayaninya.
Beberapa saat kemudian…
Rasanya dia ingin menghancurkan ayahnya ini!!
"Janganlah kau terlalu memanjakan ibumu itu!! Biarkan dia merasakan hidup tertekan seperti dirimu!!" ujar zian seraya pergi ke ruang latihan membuat deon segera meminum pilnya dan menyusulnya ke ruang latihan.
Di ruang latihan.
"Bajing*n kau menyuruh ibuku seperti pelayan lainnya" maki deon penuh amarah seraya berusaha memukul zian.
Dengan sigap zian menghindar dan menangkas semua pukulan yang di berikan oleh deon.
"Hanya itu saja kemampuan mu? Lemah" ejek zian yang membuat amarah deon semakin meningkat.
Namun baru saja beberapa saat, deon sudah terbaring kaku dengan luka yang memenuhi wajahnya.
"Amarah akan membuat mu lemah!! Sepertinya kau tak sehebat yang daddy kira" ujar zian datar seraya pergi meninggalkan deon yang terluka.
Usai zian pergi, nara yang sebenarnya bersembunyi pun segera keluar dan mengobati luka deon.
"Kenapa kamu menantang daddymu nak? Jangan seperti ini, bunda tak ingin kau terluka" lirih nara seraya menangis karna tak sanggup melihat anaknya babak belur karena ayahnya sendiri.
"Tenanglah bund, ini hanya luka kecil. Bunda tau? Luka ini tak sebanding dengan luka yang bunda alami. Dan lebih baik bunda pergi dari sini dan jangan sampai bunda menjadi istrinya!!" ujar deon yang seolah-olah tau bahwa bunda kesayangannya itu akan menikah dengan ayah kandungnya esok.
Nara menggelengkan kepalanya dan mengusap rambut deon. "Apapun yang terjadi, bunda akan tetap bersamamu nak. Dan mungkin pernikahan itu akan sulit bunda hindari karena bunda telah mendatangi kontrak itu" ujar nara lirih membuat deon menghela nafas kasar.
Kemana otak genius nya saat ini? Come on lah otak!! Cepat berfungsi!!
Andai saja bundanya itu tak terlibat disini, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini bukan?? Argh sekarang belum menikah saja perlakuan daddynya pada bundanya sudah seperti ini, bagaimana telah menikah nanti??
Deon frustasi !!
Bersambung~