
"Uh meski aku larang kalian tetap mengikuti" kesal nara yang melihat mobil salah satu mobil milik anak buahnya yang mengikutinya.
Nara pun memutuskan untuk membiarkannya dan menghentikan mobilnya di sebuah jalanan sepi.
"Huftt, semangat demi putra kecilmu" gumam nara seraya turun dari mobil.
"Aku rasa lebih baik kita sama-sama yang menyelinap kak" ucap nara pada sean seraya cengengesan.
Sean yang mendengarnya pun geleng-geleng kepala tapi tetap membantu nara. Untung saja sean sudah mengerti karakter nara, jika tidak? Ah bisa di pastikan nonanya itu akan gemetaran di depan gerbang.
Sean segera memerintahkan anak buahnya untuk mengintai alamat yang di berikan oleh zian. Sedangkan nara dan sean, keduanya menyusun rencana dan bersiap melakukan misi menyelamatkan deon.
Saat anak buah nara memberikan informasi bahwa mansion itu aman dan hanya ada deon di dalamnya, nara beserta yang lainnya langsung menuju lokasi dan menyelinap.
Namun, tiba-tiba anak buah nara tertangkap dan hanya nara lah yang tersisa. Tubuh nara yang kecil mungil, serta pakaiannya yang entah bagaimana bisa senada dengan warna tembok mansion itu, membuat nara berhasil masuk ke dalam kamar tempat deon berada.
Nara yang melihat kamar deon pun cukup terkagum karena kamar tersebut cukup termasuk kriteria deon.
"Halo nona nara"
Tiba-tiba sebuah suara membuat nara terkejut dan menoleh ke belakang.
Sedangkan pria yang mengejutkannya itu hanya tersenyum tipis dengan wajahnya yang tampak tak memiliki dosa apapun.
Pria tampan itu menghampiri nara dan merengkuh pinggangnya bagaikan sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu.
Jarak yang cukup dekat membuat nara dapat merasakan nafas hangat yang menerpa wajah nya serta wangi khas zian yang sangat-sangat menarik dan sulit di ungkapkan.
"Apa kau terpesona dengan saya, nona?"
Seketika nara pun tersadar dan hampir jatuh, akan tetapi zian menarik pinggang nara membuat bibir keduanya bersentuhan.
Sejenak keduanya terdiam.
Nara berani berucap demikian, namun lain di mulut lain juga di hati. Ia sangat-sangat gugup dan hampir terpesona dengan pesona zian yang sangat-sangat memikat.
Zian hanya tersenyum tipis dan kembali menyatukan bibir keduanya membuat nara tersentak kaget.
Zian yang tak mendapatkan balasan pun menggigit bibir nara membuat sang empu membuka mulutnya hingga akhirnya zian pun dapat memperdalam ciu man itu.
Arghh rasanya bibir itu sangat manis!!
Sedangkan nara yang tersadar pun refleks mendorong zian membuat ciu man mereka pun terlepas.
Zian hanya tersenyum tipis dan menarik nara menuju ruang kerja nya.
"Lepaskan aku tuan!! Kau akan membawaku kemana hah tuan?"
Nara meronta-ronta ingin dilepaskan, namun bukannya di lepaskan tangannya malah di cengkram lebih kuat membuat meringis kesakitan dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar cengeng, udah tua juga" ejek zian yang melihat mata nara yang berkaca-kaca.
Padahal asalkan zian tau, cengkraman itu sangat-sangat kuat. Belum lagi memikirkan sang putra yang takut terluka membuatnya ingin menangis saat itu juga.
ceklek
Zian mendorong nara masuk duluan dan kemudian ia pun masuk dan mengunci ruangan itu. Usai ruangan itu tertutup, ia melemparkan sebuah berkas kontrak pranikah yang membuat nara heran seketika.
"Kita akan menikah lusa" ucap zian dengan santainya namun mampu membuat nara terkejut dan melotot seketika.
"Tandatangani itu maka putra mu akan aman"
Bersambung~
Zian nih sayy, janlup komennya~