
Aku terbelalak ketika api telah membara, sedangkan ada satu monster yang telah terbelit di sebuah tiang. Aku mengalihkan lagi mata ini untuk melihat apa yang terjadi dari balik rerumputan tinggi. Ternyata wangi bakaran daging itu dari salah satu monster yang telah hangus terbakar. Melihat hal ini, dadaku sesak dan perut yang tadi lapar kini seakan diremas. Mual dan pusing yang kini aku rasakan.
Dalam hati aku ingin berlari, namun Alucard memelukku. Dia membalikkan tubuh ini, agar aku tak melihat apa yang tengah terjadi. Perlahan kami bergerak untuk menjauhi tempat penyiksaan ini. Mungkin kami terkesan bunuh diri tapi aku yakin, dia membawaku agar aku tidak tergoncang dengan semua yang terjadi.
"Kita harus segera keluar dari hutan ini, Miya. Terlalu berbahaya untuk kita. Apalagi kamu masih dalam kondisi lemah, aku tidak mau kita terlibat dengan kebiasaan mereka!" Dia berkata sembari berjalan cepat tanpa melepaskan pelukan.
Ketika dia bergerak, ku arahkan tatapan ini padanya. "Terima kasih, karena kamu sudah mengerti keadaanku saat ini!" Aku berkata dengan suara yang sangat rendah. Apakah dia mendengar atau tidak, itu tidak akan menjadi masalah buatku. Namun, ternyata dia tersenyum setelah aku berhenti berkata.
"Aku akan selalu melindungimu, Miya. Entah sampai kapan? Untuk saat ini, aku hanya ingin membalas semua kebaikanmu. Setelah aku selesai membalasnya, aku akan pergi meninggalkanmu ..., " jawab Alucard terpotong oleh langkah beberapa Monster.
Kami bersyukur karena ketika datang beberapa monster rerumputan tinggi menghalangi kami.
Kruk!
Suara perutku yang telah lapar, tidak bisa diajak berdamai. Dia berbunyi di tengah kesepian. "Shuut!" Alucard berkata sembari menyimpan jari telunjuknya di atas bibir merahnya.
Aku mengangguk. Padahal aku tak berkata apapun hanya perutku saja yang bersuara nyaring. Kami semakin membungkukkan tubuh, ketika monster itu datang mendekat. Udara panas dari tubuhnya begitu terasa membakar. Suara langkah monster itu semakin terdengar. Aku mengeratkan pelukan padanya. Sekarang aku baru tahu, kalau di hutan ini, para monster ini berkumpul. Andai saja, aku mendengarkan dia pada waktu itu, pasti kejadiannya tidak seperti ini.
Keadaan semakin mencekam, ketika aku mendengar monster yang mendekat pada kami berteriak memanggil temannya dengan suara menggelegar. Aku bisa membayangkan fostur tubuhnya hanya dari suaranya saja.
"Miya, kalau mereka datang membawa pasukannya. Bersiaplah untuk melarikan diri, biarkan aku melawan mereka. Berlarilah secepat mungkin. Jika kamu sudah berlari, jangan melirik ke belakang!" Alucard memberikan arahan.
"Tidak, aku bukan pengecut! Aku akan bersamamu, sampai mereka mati atau tunduk pada kita!" Aku berkata tegas padanya.
Dia tersenyum sembari membelai pipiku. "Pergilah, aku tidak ingin melihatmu semakin menderita, Miya. Pergilah!"
Meskipun dia berkata seperti itu, tetap saja aku mengkhawatirkannya. Sebelum aku menimpali apa yang dikatakannya aku menatap lekat pada mata yang memancar aura lain. "Bangsa Moon Elf tidak akan lari dari pertempuran. Meskipun, kami harus menghilang untuk selamanya. Kami tidak akan takut, jadi jangan paksa kami jadi pengecut!" tegasku padanya. Dia tersenyum sekilas seraya menggangguk. Melihat senyumannya kenapa hati ini terasa hangat. Namun, sudahlah aku tidak mau memikirkan, apakah mulai nyaman bersamanya, atau dia datang pada saat yang tepat.
"Dengar, Miya. Aku tidak mau melihat kamu menderita. Aku tidak mau kamu mendapat kesulitan ketika berhadapan dengan monster-monster itu!" Dia berbisik dengan suara tegas.
Kenapa hati ini semakin suka mendengar kata-katanya. Aku tidak tahu, apakah ini rasa cinta atau sekedarnya?
"Jangan pernah meremehkan kekuatan bulan yang ada dalam diriku!" imbuhku.
"Selamanya kamu tidak bisa melihat ketulusan dari seorang assasin sepertiku."
Aku diam sesaat untuk mencerna apa yang telah aku dengar, "apa kamu bersedia mati untuk kami!" tanyaku padanya.
"Apa aku harus mengulang semua perkataanku?" Dia berkata di samping telingaku. Aku memundurkan wajah untuk menjaga jarak dengannya.
Srek!
Suara langkah itu, semakin mendekat. Mendekat sampai kami bisa merasakan getarannya. Alucard menyuruhku untuk menjauh dari tempat ini, dengan menggerakan tangannya agar aku menjauh. Aku mengangguk, menyetujui apa yang diperintahkan olehnya.
Aku berdiri setelah ada pohon besar yang bisa melindungiku. Aku segera menaiki pohon dengan cepat, setidaknya dari sini pula aku bisa melihat kondisi di sekitar hutan yang penuh misteri.
Aku melihat satu monster mendekati tempat persembunyian Alucard. Dia tampak berang ketika melihat Alucard datang dengan pedang dan menyerangnya. Dia bertarung hebat seraya memainkan pedangnya sampai monster itu terkapar lemah. Walaupun, darah sudah membasahi rerumputan tapi dia terus menusukkan pedangnya tanpa ampun.
Aku hanya bisa melihat tanpa membantunya karena permainan pedangnya sudah bisa mengalahkan monster yang lebih besar dari tubuhnya. Setelah monster itu tidak bergerak sama sekali kemudian dia berjalan lagi, seperti mencari keberadaanku. Aku segera berlari mendekatinya namun dia berkata, "kenapa kamu ke sini lagi, Miya? Aku kan sudah bilang, kalau tempat ini terlalu berbahaya. Aku menyuruhmu untuk keluar dari hutan ini bukan untuk melihat pertarunganku!" Dia mendesis seperti tengah kesal karena keberadaanku.
"Tapi, aku tidak bisa melihatmu menderita seperti itu. Aku juga seorang Hero. Seorang Hero tidak layak menyerah sebelum bertarung, jadi jangan halangi aku untuk memenangkan pertarungan ini!"
Alucard mendesis kembali. Aku tidak tahu kenapa dia terus seperti ini. Seharusnya dia terlihat senang ketika aku dengan senang hati membantu dan meringankan pengorbanannya. Aku berkata padanya, "kenapa kamu tidak mau menerima bantuanku, Alucard? Padahal aku mengkhawatirkan keselamatanmu," aku berkata dengan mata berbinar berharap dia akan mengizinkan aku ikut bertarung melawan monster.
"Sudahlah, aku tidak butuh bantuanmu. Biarkan aku berjuang sendiri. Kamu pergi saja dari sini, jangan hiraukan keselamatanku!" Dia berkata tegas tanpa tersenyum ke arahku.
Srek!
"Mau lari ke mana? Kalian sudah terkepung!" Gertak satu monster sembari mendekati kami. Aku segera bersiap dengan panah yang akan melumpuhkan semua kekuatan para monster, sedangkan dia kembali mengayunkan pedangnya.
Aku mengira monster itu hanya ada satu, ternyata di belakang monster itu berdatangan 6 monster lainnya. Setelah mereka bersatu dan berdekatan, mereka mengelilingi kami dari segala arah. Aku dan Alucard saling menempelkan punggung, bersiap dengan segala kondisi. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya pada saat ini. Namun, aku pun harus bersiap menghancurkan monster di depan mata kami yang terlihat kelaparan.
Suara desisan dari semua monster yang mengelilingi kami, begitu terasa panas. Aura busuk menyeruak di hidung kami, aku segera bersiap dengan melesatkan anak panah. Namun, aku menunggu waktu yang tepat di mana aku bisa memilih kelemahan setiap monster yang terus mendesis. Ketika aku berpikir seperti itu, Alucard berbicara pelan padaku, "tunggu perintah dariku, jangan menyerang! Biarkan mereka bergerak terlebih dahulu."