
"Apa yang tengah kami pikirkan, Sayang? Ini terlalu cepat untuk kita bisa tidur bersama!" Aku menjawab sembari memukul pelan dadanya.
Akan tetapi dia malah menggenggam tanganku kemudian mengecupnya berkali-kali. Sampai aku merasakan perasaan aneh dalam diriku.
"Sayang, apa kamu menyukainya?" tanyanya sembari mengigit perlahan jari telunjukku.
"Kenapa kamu mengigitku?" tanyaku sembari menarik tanganku.
"Apa kamu tidak menyukainya?" Tanyanya. Padahal aku juga menyukainya.
"Aku lupa. Aku masih punya makanan yang bisa kita makan!" Aku berkata sembari menutupi rasa malu.
Kemudian aku melangkah, ke dapur untuk membawa satu makanan kering yang masih tersimpan rapih di dalam lemari.
Setelah membuka kotak makanan aku mendekatinya. Senyuman langsung terkembang dari bibirku. Mengenang masa lalu tentang makanan ini bersama Zii, kami terbiasa balapan makan terbanyak. Ah, Zii semua masa lalu kita hanya akan menjadi kenangan.
"Buatmu!" Aku menyimpan makanan di atas meja tepat di depannya.
"Di mana kamar mandinya?" Dia bertanya.
"Di sebelah pintu yang berwarna coklat!" Dia berlalu.
Sedangan aku masih saja sibuk memotong makanan. "Sayang. Aku makan duluan, ya!" teriakku.
"Jangan dimakan dulu. Tunggu aku! Awas saja kalau kamu ngambil duluan!" teriakan terdengar jelas.
"Kenapa? Bukankah hukum ladies first selalu berlaku! Aku makan, ya!" kataku sembari meraih makanan yang terbuat dari terigu bercampur daging panggang.
"I sad NO!" teriaknya.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya dia datang dari belakang dan mengejutkanku yang tengah membayangkan Zilong.
Cup!
"Satu kecupan buat perempuanku tersayang." Dia menempelkan bibirnya di pipiku. Aku terkejut sesaat, tapi langsung ku balas dengan senyuman.
"Nakal kamu," sahutku pendek untuk menutupi debaran jantung yang tak beraturan lagi.
"Bagaimana kalau kita balapan makan Roti ini!" ajaknya sembari menarik makanan.
Aku tak menjawab. Terlalu sakit kalau mengenang semua hal aku bersama Zilong. Dada ini terasa sesak, menahan segala cerita yang menyakitkan. Kini, tanganku bergerak merangkul Alucard yang sudah duduk tepat di sampingku. Tak apalah dia melihatku seperti anak kecil yang tengah bermanja.
Menerima pelukanku yang tiba-tiba. Dia menoleh sembari menarikku agar lebih dekat dengannya. Aku benar-benar merasa nyaman pada saat ini. Namun, aku merasa bersalah apabila mengingat Zilong, "Maafkan aku, Zii. Aku bermain di belakangmu," kataku dalam hati sembari mengeratkan pelukan.
"Apa kamu terluka karena mengenang Zilong?" tanyanya seraya mengecup pucuk kepalaku. Mendapat perlakuan seperti itu, dada ini semakin tersiksa.
Napas lembut Alucard makin terasa di wajahku. Dia membalikkan tubuhnya ke arahku. Kemudian, dia memiringkan kepalanya.
"Aku merindukanmu, Miya Shuzuhime!" ujarnya sembari meraup lembut bibirku. Tangannya merambat membelai lembut punggungku.
Lelehan air mata terus mengiringi ketika aku dan dia saling memagut. "Maafkan aku, Zii!" lirihku dalam batin sembari menikmati sensasi indah bersama kekasih yang mulai aku sayangi.
Tanganku kini membelai lembut lehernya sembari memainkan rahangnya yang mulus tak berbulu.
"Miss you, Honey!" ujarku.
Permainan kami semakin panas. Entah kenapa malam ini aku dan dia seperti hilang kendali? Dia mendorong pelan tubuhku di atas kursi dan mulai menjelajahi area sensitifku. Aku terbawa nada desahannya yang terdengar indah ketika dia menggigit sedikit daun telingaku.
"Alucard, aku menyayangimu!" Suara parau dari bibirku membuatnya tersenyum, tanpa pikir panjang dia memagut bibirku lagi.
Begitupun, denganku yang sudah tak terkendali untuk tidak menyentuhnya. "Rasa apa ini?"
"Sayang, i love you so much!" ujarnya sembari membuka kancing bajuku. Aku malah membiarkannya, ketika baju yang aku kenakan telah buka. Napasku makin tak beraturan. Dia memulainya dengan lembut.
"Kita tidak boleh seperti ini, Sayang!" Aku berkata tapi tak menolak sentuhannya.
"Eem!" Dia benar-benar mengacuhkan perkataanku. Bibirnya kini bermain di leherku, lambat mengalun sampai tepat di dada yang telah terbuka.
"Kamu cantik, Sayang!" Suaranya makin parau.
"Aku menginginkanmu. Bolehkah?"
Aku mencoba menguasai diriku dengan menggelengkan kepala tanpa suara.
"Apa kamu tidak mau melakukannya untukku?" Rona sedih tergambar di wajahnya.
Melihat jawabanku, dia beringsut dari tubuhku. Kemudian dia meraih kembali pakaian yang tadi dilemparnya ke sembarang arah.
"Maafkan aku!"
"Lupakan saja!" jawabnya pendek. Walaupun, tak ada bentakan tapi kenapa ada rasa bersalah karena menolaknya.
Tangannya kini meraih makanan yang tadi belum sempat di makan.
"Apa kamu marah?" tanyaku dengan nada rendah.
"Aku tidak marah. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin aku terlalu terbawa suasana. Aku minta maaf!" jawaban dari bibirnya malah makin membuat hati ini terpaku.
"Jadi lomba makannya?" ucapku berbasa-basi.
"Makan saja sendiri!" jawabnya dingin lagi.
Apa aku harus melayaninya? Aku tak memungkiri rasa ini. Aku pun sama menginginkannya. Apalagi kondisiku yang tengah terluka.
"Apa boleh aku tidur di pahamu, sebentar saja?" Tanyaku.
Alucard tersenyum, kemudian menarik kepalaku sampai tepat di pahanya. Aku merasakan ada yang mengganjal di bagian sensitifnya. Dia tersenyum sembari memajukan kepalaku untuk menjauhi benda tersebut.
"Kenapa?" tanyaku menggoda.
"Gak apa-apa. Tidur saja ... kamu pasti lelah 'kan?"
"Ya!" jawabku.
Tangannya kembali membelai lengan dan wajahku. Aku terlena, terhanyut rasa ini makin menyiksa. Apalagi sekarang, dia membelai bibirku.
"Kamu mau menerima aku apa adanya?" tanyaku menegaskan karena tidak mau membohonginya.
"Aku akan selalu menerimamu, Sayang," tandasnya sembari mengecup dahiku.
Aku hanya bisa terdiam sembari menatapnya. "Thanks, Honey...," ujarku pendek.
Namun, setelah aku mengucapkan kata terima kasih. Wajahnya berubah menjadi sendu. Sesekali menunduk tanpa suara.
"Apa kamu tak suci lagi?"
Tanya ragunya, tapi membuatku mengangguk.
Dia melemparkan wajahnya, kemudian menaruh tangan di sandaran sofa.
"Apa Zilong yang pertama menjamahmu!" Dia berkata datar.
Aku mengangguk, tanpa berkata. Ini terlalu sakit, bila mengenangnya.
"Arrrgghh!" Dia berteriak sembari mengacak rambutnya.
"Kenapa gak cerita kalau kamu sudah melakukannya dengan pria lain?"
"Aku tidak bisa menolaknya!" ucapku berusaha menjelaskan supaya dia mengerti posisiku saat itu. Aku merasa bersalah hingga mengalirkan air mata yang tak bisa aku hentikan. Andai saja aku tahu, kalau Zii akan meninggalkanku, mungkin aku tidak akan menyerahkan kesucianku padanya. Aku hanya bisa pasrah menerima segala keputusan Alucard.
"Kenapa kamu menangis? Apakah sesal bisa menyelesaikan semua masalahmu?" Dia bertanya seraya menarik daguku.
"Aku salah, maafkan aku. Dahulu aku sangat mencintainya, aku yakin dia adalah kekasih setia. Tapi, nyatanya dia meninggalku begitu saja. Apa aku salah ketika aku memberikan sesuatu pada seseorang yang aku anggap sebagai belahan jiwaku!" pekikku. Aku memandanginya. Aku tidak peduli apa dia akan tetap bersamaku atau tidak. Aku sudah tidak peduli lagi.
Meskipun, aku berkata seperti itu, dia menatapku dengan wajah datar, kemuadian menarikku dalam pelukan. "Apa aku bisa memilikimu seutuhnya?"